CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
52


__ADS_3

"Ya.. dan Anda sudah sangat terlambat Tuan. Saat ini mereka sudah berada di Bandara dan tiga puluh menit lagi mereka akan terbang ke Indonesia" tegas Jimmy.


"Apa??? "... Ethan sangat terkejut mendengar perkataan Jimmy.


Tanpa menghiraukan panggilan Jimmy, Ethan langsung bergegas meninggalkan ruang kerja Jimmy. Dia setengah berlari menuju parkiran mobil. Langsung naik ke mobil dan menyalakan mobilnya menuju Bandara.


Sial.. sial.. siaaaaaal.. Ethan memukul setir mobilnya berulang kali.


Berapa sombongnya dia selama ini menganggap Elfa hanya sebagai seorang Koki dan dia sering meremehkan pekerjaan Elfa yang hanya bisa memasak tanpa mencari informasi terlebih dahulu mengenai latar belakang Elfa.


Sebenarnya dia tidak salah seratus persen karena memang informasi mengenai anak - anak keluarga Fajar Barrakh di rahasiakan sangat rapat setelah tragedi penculikan anak mereka saat kecil.


Itu yang membuat Ethan kesulitan untuk mendapatkan informasi lebih tentang Elfa. Walau dia sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Keluarga Barrakh memang benar - benar sudah siaga.


Di TBF Hotel nama Elfa tidak ada dalam struktur organisasi perusahaan. Dia tidak menjabat apapun di Hotel itu. Ethan sudah memeriksanya sebelumnya.


Lagi - lagi ucapan Jimmy terngiang di telinganya dan dia merasa sangat malu.


Flashback On


"Dia lulusan terbaik Magister Bisnis di UCL. Memasak adalah hobbynya sehingga dia tidak pernah mau menerima gaji di Restoran TBF Hotel. Dia sangat menyukai dunia perhotelan dan memasak sehingga dengan senang hati dia mengerjakan apapun yang bisa dia lakukan untuk hotel ini tanpa mengharapkan imbalan. Dan perlu Anda ketahui juga tanpa gajipun dia sudah sangat kaya karena sejak muda dia sudah membangun beberapa usaha Restoran milik dia sendiri. Anda jangan menganggap remeh seorang Rielfa Barrakh. Kekuatan dalam genggaman tangannya bisa meruntuhkan kesombongan Anda kalau dia mau. Tapi hal itu tidak dia lakukan karena baginya memegang janji lebih berharga dari pada harus menunjukkan siapa dirinya sebernarnya. Anda terlalu meremehkan dia" ...


Flashback Off


Ethan sungguh sangat malu mendengar kata - kata itu. Selama ini dia sudah memandang Elfa sebelah mata. Dia begitu merendahkan Elfa.


Ethan merasa salut dan semakin memuji kepribadian Elfa. Ternyata Elfa wanita dengan segala prestasi dan kelebihan. Selain dia mempunyai latar belakang akademis pendidikan yang baik dia juga sangat mandiri.


Elfa mempunyai beberapa bisnis lain di bidang makanan. Dan memiliki kekayaan yang banyak baik milik dia sendiri ataupun dari orang tuanya.


Tapi mengapa penampilannya sangat sederhana? Tidak.. tidak.. dari mobilnya harusnya Ethan sadar. Mobil yang dipakai Elfa kemarin adalah mobil keluaran terbaru. Jam tangan yang Elfa pakai, sepatu.. semuanya barang branded yang harganya tidak sembarangan. Tapi mengapa selama ini terlepas dari pantauan Ethan.


Memang selera berpakaiannya tidak sesuai dengan pendidikannya. Biasanya wanita tamatan bisnis akan tampil glamor dan berpenampilan trendy. Feminim dan sexy dan executive.

__ADS_1


Bukan seperti dia yang selalu berpenampilan seperti cowok. Memakai celana jeans butut, walau pakai jilbab dia tetap menambah topi di kepalanya. Dan tas ransel yang selalu dia pakai dibelakang dan sepatu ketsnya.


Sangat berbeda dengan kembarannya. Ahaaa... Ethan jadi ingat kembaran Elfa yang sempat dia salah sasaran. Fela lebih feminim dan gaya. Mungkin karena dia bekerja di Butik Mamanya.


Dua wanita dengan penampilan berbeda. Membuat Ethan pusing memikirkannya.


Sekarang yang ada di dalam otaknya dia harus secepatnya sampai ke Bandara untuk menahan Elfa pergi.


Tapi untuk apa? Apa alasan dia berbuat seperti ini. Apa yang harus dia katakan ketika menahan Elfa di Bandara? Tiba - tiba Ethan jari bimbang.


Mengapa dia begitu ingin menahan Elfa pergi, apa yang membuatnya berfikir sampai sejauh ini? Atas dasar apa Ethan ingin menghentikan Elfa.


Apakah hanya semata - mata karena masakannya? Atau karena Elfa nya sendiri tidak.. tidak.. karena diri Elfa keseluruhannya.


Karena tawa Elfa, marah Elfa, kesal Elfa, canda Elfa, senyumannya dan keceriaannya, masakannya, dan semua tingkah lakunya yang perlahan - lahan membuat Ethan terbiasa dan nyaman dengan keberadaan Elfa di sisinya.


Pada akhirnya Ethan merasa membutuhkan Elfa, buktinya sehari saja di tinggal Elfa dia sudah tidak selera makan dan tidak bisa melakukan apapun.


Otaknya terus memikirkan Elfa, sedang apa, dimana dan bersama siapa? Semua Elfa.. Elfa.. dan Elfa.. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain Elfa.


Ethan segera berlari menuju keberangkatan luar negeri dan langsung menerobos masuk ke ruang tunggu VIP dengan menunjukkan kartu Identitasnya sebagai CEO Diamond Corp dan pemilik salah satu pesawat pribadi di Bandara itu.


Masih dengan nafas yang menggebu, Ethan berusaha menetralkan nafasnya. Dia menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke seluruh penjuru ruang tunggu VIP. Tapi Ethan tidak melihat sosok Elfa di sana. Dia juga tidak melihat sosok Celine.


Apakah dia sudah terlambat? Ethan segera melangkah menuju ruang informasi dan bertanya.


"Maaf Nona apakah pesawat Barrakh Airlines sudah terbang?" tanya Ethan dengan jantung yang tidak karuan.


"Tunggu sebentar saya cek dulu ya Pak" balas wanita yang duduk di meja informasi.


Ethan mengetukkan jarinya di meja sambil menunggu. Saat seperti ini begitu sangat menyiksanya.


"Ehm.. Pesawat Barrakh Airlines sudah berangkat lima menit yang lalu menuju Indonesia Pak" jawab wanita itu.

__ADS_1


"Terimakasih atas informasinya" jawab Ethan langsung berubah dingin.


Dia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan jantungnya rasanya mau berhenti karena sangat kesal pada dirinya sendiri.


Ethan segera pergi dan keluar dari ruang tunggu dan langsung menuju mobilnya yang.


Didalam mobil Ethan berteriak sekerasnya.


"Aaaaaaakh........ " teriak Ethan sambil memukul setir mobil.


"Bodoh.. bodoh.. bodoh...." ucapnya.


Dia kesal terhadap dirinya sendiri yang terlalu lambat bertindak. Terlambat menyadari perasaan yang dia rasakan di dalam hatinya sehingga dia merasa kehilangan dan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bertemu dengan Elfa.


Fikirannya sedang kacau, tubuhnya juga tiba - tiba lemas dan pusing. Dengan keadaan seperti itu Ethan memaksakan tubuhnya untuk mengemudikan mobil kembali pulang ke rumah orang tuanya.


Ethan sampai ke rumah dengan wajah yang sangat pucat. Dia berjalan perlahan - lahan masuk ke dalam rumah.


Mrs. Mohammed yang melihat putranya seperti itu langsung menghampiri.


"Sayaaang kamu kenapa?" tanya Mrs. Mohammed dan memeriksa tubuh anaknya.


"Badan kamu panas sekali. Kamu demam ini. Ayo kita ke kamar kamu" ajak Mrs. Mohammed khawatir.


Ethan tidak bisa lagi menolak perintah Mamanya. Dia berjalan di papah Mrs. Mohammed sampai ke kamarnya.


"Apa uang yang terjadi?" tanya Mrs. Mohammed.


"Dia... dia sudah pergi Mommy... "


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2