CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
141


__ADS_3

"Fe.... laaaaa"... suara Fathir sangat pelan sekali di tambah bibirnya sedang tertutup selang oksigen untuk membantu pernafasannya.


Fela masih menangis disamping tubuh Fathir. Fathir berusaha membuat gerakan. Fathir menggerakkan jari - jari tangannya dan Fela bisa melihatnya secara jelas.


"Fathir?" tubuh Fela menegang.


"Fathir kamu sudah sadar? Ya Allah... Terima kasih ya Allah.. " Fela tersenyum bahagia lalu menekan tombol bel untuk memanggil dokter.


Rafa, Catherine, Cathifa, Ela dan Fajar terkejut melihat beberapa dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan ICU.


"Ada apa Suster?" tanya Rafa.


"Bel panggilan berbunyi Pak. Tunggu sebentar ya nanti akan segera kami kabari" jawab perawat dan langsung masuk menyusul para dokter.


"Mas Fathir?" air mata Catherine mulai menetes.


"Bagaimana dengan Fela di dalam Mas" ucap Ela pada Fajar.


Dua lelaki yang ada di ruangan itu kini sedang memeluk istri mereka dan mencoba menenangkannya.


"Sabar yank kita terus bedoa semoga semua baik - baik saja" jawab Rafa.


"Fela akan kuat sayang apapun yang terjadi. Semoga Fathir baik - baik saja" ucap Fajar.


Tak lama Fela keluar sambil menangis. Catherine dan Ela langsung menyambut kedatangan Fela.


"Sayang apa yang terjadi?" tanya Catherine.


"Fela... " tanya Ela.


"Aunty Fathir.. Fathir sudah sadar" Air mata bahagia Fela kembali mengalir.


"Oh Ya Allah terimakasih.. " jawab Ela dan Catherine.


"Alhamdulillah.." jawab yang lain.


"Dokter sedang memeriksa keadaannya secara keseluruhan jadi aku di suruh menunggu di luar" ungkap Fela.


Catherine langsung memeluk Fela dengan erat.


"Terimakasih sayang kamu sudah membuat Fathir sadar" ucap Catherine.


"Bu.. bukan aku aunty aku hanya menangis. Allah lah yang membuat semua ini. Alhamdulillah ya Allah" sambut Fela.


Tak lama Dokter keluar.


"Bagaimana anak saya Dok?" tanya Rafa.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar Pak dan hasil pemeriksaan tadi bagus. Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya dan sebentar lagi sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap biasa" jawab Dokter.


"Alhamdulillah... " sambut Rafa.


"Kalau begitu saya permisi Pak" Dokter mundur dan melangkah menjauh.


"Terimakasih dok" ucap Rafa.


Seorang perawat datang menghampiri mereka..


"Pak, Bu.. pasien akan kita pindahkan ke ruang rawat inap. Bapak dan Ibu bisa segera bersiap - siap" ujar perawat.


"Baik Sus, terimakasih" jawab Catherine.

__ADS_1


Tak lama tempat tidur Fathir di dorong keluar dan dibawa ke ruang rawat inap super VIP.


Fela tak lupa mengabari para sahabatnya.


Fela


Guys, Fathir sudah sadar dan saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap super VIP.


Fael


Oke Fel nanti pulang kerja kakak mampir ya


Elfa


Aku juga


Shaby


Kita bareng ya Fael


Sitha


Aku bareng Ryntia nanti datangnya.


Fael


Shab, aku ke rumah dulu mau jemput Shyana


Elfa


Shyana biar aja datang bareng Ethan dan Jack. Kakak tenang aja.


Aku jangan lupakan ya Elfa


Elfa


Yoi Sis, kita bareng ke sana


Fela tersenyum membaca pembicaraan mereka di group.


Kini mereka semua sudah berada di ruang super VIP. Selang oksigen Fathir sudah dibuka, kini dia sudah bisa diajak bicara walau tidak boleh terlalu lelah.


Semua mengelilingi Fathir yang terbaring di tempat tidur.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang.. terimakasih sudah mau berjuang untuk kami semua" ucap Catherine sambil menangis.


"Ma.. maaa... jangan se.. diiih" jawab Fathir.


Fela masih terus menangis menatap Fathir. Fathir melirik ke arah Fela.


"Ka.. mu.. ja.. ngan.. na.. ngis.. " ucap Fathir.


"Aku menangis bahagia Fath, bersyukur kamu bisa segera sadar dan melewati masa kritis" jawab Fela.


"Kamu anak yang kuat Fath, Om yakin kamu pasti bisa melewati semua ini" ucap Fajar.


"Jangan pernah kamu lakukan ini lagi pada kami ya Nak, rasanya kami tak sanggup harus melihat kamu seperti ini" ungkap Rafa.


Fathir tersenyum bahagia memandang orang - orang tersayangnya satu persatu.


"Kak Fathiiiiir" panggil Cathifa. Dia langsung memeluk Fathir.

__ADS_1


"Thi.. fa.. " balas Fathir


"Aku sangat takut kakak pergi hiks.. hiks.. syukurlah Kakak selamat" ucap Cathifa manja.


"Sudah.. sudah.. Fathir tidak boleh terlalu lelah dan banyak bicara. Kamu harus istirahat lagi Fath. Yang penting kita semua sudah lega kamu bisa melewati masa kritis kamu. Kamu bisa kembali tidur kalau kamu lelah" ujar Rafa.


"Iya, sebaiknya kita agak menjauh agar Fathir bisa bernafas dengan lega.. Yuk yank kita duduk di sofa saja" ucap Fajar.


Fajar dan Ela berjalan menjauh dari tempat tidur Fathir diikuti oleh Rafa dan Catherine juga Cathifa. Saat Fela hendak menjauh Fathir menahannya.


"Fel ja.. ngan.. per.. gi" pinta Fathir.


Fela berhenti dan menatap ke arah Fathir sementara yang lain saling lirik dan tersenyum mengerti apa yang terjadi dengan Fathir dan Fela.


Fela menunduk malu dan kembali duduk di samping tempat tidur Fathir. Fathir mengangkat tangannya perlahan Fela langsung menyambutnya karena takut dengan keadaan Fathir yang masih lemah.


"Fath.. jangan banyak bicara dulu" cegah Fela.


"A.. ku.. mau de.. ngar.. la.. gi.. ka.. ta.. ka.. ta. ka.. mu.. ta.. di.. " pinta Fathir kepada Fela.


"Yang mana?" tanya Fela bingung.


"Fath.. jangan banyak bicara dulu" Fela mengulang kata - katanya.


Fathir tersenyum manis mendengar ucapan Fela.


"Bu.. kan.. yang.. i.. tu.. " balas Fael.


"Yang mana?" tanya Fela tak mengerti.


"Ka.. ta.. ka.. ta.. ka.. mu.. wak.. tu.. a.. ku.. be.. lum.. sa.. dar" pinta Fathir dengan suara yang terdengar masih lemah.


Fela mencoba mengingat - ingat apa yang dia katakan tadi. Saat Fela sudah ingat dia langsung terkejut dan tertunduk malu.


"A.. aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu. Kamu jangan pergi.. Apalagi pergi seperti ini. Aku sangat sedih melihat kecelakaan kemarin rasanya lebih baik aku yang seperti itu dari pada harus melihat kamu terbaring tak sadarkan diri" ungkap Fela kembali menangis.


Fathir tersenyum menatap Fela.


"Ja.. di.. ka.. mu.. de.. ngan.. Dok.. ter.. Ra.. sya.. gi.. ma.. na..?" tanya Fathir.


"Kamu salah Fath, aku tidak ada hubungan apapun dengan Dokter Rasya.. Kemarin kami bertemu.. yah memang dia mengungkapkan perasaannya padaku tapi aku tidak menerimanya. Dan saat mau pulang aku bertemu kamu. Kamu salah paham dan mengucapkan selamat padaku. Aku ingin mencegah kamu pergi tapi kamu sudah berlalu. Aku terlambat.. seandainya saja kemarin aku bisa mencegah kamu pergi mungkin kamu tidak akan mengalami kecelakaan itu" Fela menangis terisak.


Fathir membalas genggaman tangan Fela.


"Se.. mua u.. dah ren.. ca.. na Allah Fel' ujar Fathir.


" A.. ku.. ik.. las.. Fe.. ta.. pi.. kan.. se.. te.. lah.. sa.. dar.. a.. ku.. men.. da.. pat.. ka.. bar.. gem.. bi.. ra..?" tanya Fael sambil tersenyum.


"Ja.. ngan.. na.. ngis.. Fel.. " Fathir menghapus air mata di pipi Fela.


Semua yang ada di ruangan itu dapat mendengar pembicaraan sepasang kekasih yang saling mengungkapkan perasaan mereka. Mereka tersenyum akhirnya kesalah pahaman antara Fela dan Fathir selesai dengan baik.


Fathir menatap ke arah Fajar dan Ela.


"O.. Om.. a.. pa.. kah.. ka.. mi.. bi.. sa.. me.. ni.. kah.. ba.. reng.. Fa.. el.. dan El.. fa?" tanya Fathir masih dengan terbata - bata. Tapi semua yang ada di ruangan itu dapat mendengarnya dengan jelas.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2