CEO Mencari Cinta

CEO Mencari Cinta
140


__ADS_3

Keesokan harinya mereka semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Pagi itu Fela tampak kacau balau. Biasanya dia selalu tampil modis dan cantik tapi hari ini tidak ada riasan di wajahnya dan dia memakai baju kaos lengan panjang, celana jeans dan Kinan senada.


"Sayang kamu baik - baik saja?" tanya Ela penuh perhatian.


"Aku baik Ma" jawab Fela tanpa semangat.


"Mau Papa antar ke rumah sakit?" Fajar menawarkan bantuan.


Fela menatap wajah Papanya tidak percaya.


"Kamu mau ke rumah sakit kan melihat Fathir?" tanya Papanya lembut.


"Papa..." Fela memeluk erat Papanya dan menangis.


"Jangan nangis sayang.. kita semua sayang banget sama Fathir terlebih kamu. Tapi kalau hanya menangis itu tidak akan merubah keadaan bahkan jadi mempersulit. Kamu akan kelelahan dan lemah terus pingsan seperti semalam. Gak ada manfaatnya untuk Fathir kan? Mending kamu sekarang makan yang banyak biar kamu kuat dan berdoa agar Fathir segera sadar. Kalau kamu sehat dan kuat kamu kan bisa merawat Fathir saat dia sadar nanti" bujuk Fajar dengan lembut.


"Terimakasih Pa, Papa sudah mau mengerti keadaanku" jawab Fela.


"Papa dan Mama sayang kalian semua tidak ada pilih kasih. Kami senang melihat kalian senang dan kami akan sedih melihat kalian sedih seperti ini" sambung Fajar.


Ela mendekati putrinya dan mengelus lembut kepalanya.


"Kamu harus kuat sayang, Fathir butuh kamu untuk memberikan semangat agar dia segera sadar. Mau Mama kasih satu rahasia? Dulu waktu Aunty Catherine melahirkan Fathir dia sempat koma dua hari. Pada saat itu Uncle Rafa selalu berada di sampingnya dan mengucapkan hal - hal yang indah agar dia mendengarnya. Orang koma itu bukannya tidak bisa mendengar, mereka bisa mendengar semua yang kita ucapkan. Jadi sekarang kamu makan yang banyak biar kamu kuat untuk menemani Fathir di rumah sakit dan ucapkan kata - kata indah yang membuatnya lebih semangat untuk sadar kembali" ungkap Ela


"Dan ucapkan 'Aku juga sayang kamu'" bisik Ela.


"Mama... Mama koook" sambut Fela.


"Kami tau apa yang terjadi dengan anak - anak kami sayang, kami tau apa yang saat ini sedang kalian hadapi. Walau kalian sudah besar kami tetap memantau hidup kalian, kebahagiaan kalian" potong Ela.


Fela gantian memeluk Mamanya.


"Makasih Mama.. makasih Papa... " ujar Fela berulang - ulang.


Saat ini dukungan dari keluarga lah yang membuat dia kuat dan semangat untuk menjalani hari ini. Hari yang berat karena Fathir masih kritis.


"Kalau begitu sekarang kamu makan ya biar Papa dan Mama yang temani kamu ke rumah Sakit. Papa gak nyangka Rafa yang dulu sempat menjadi rival Papa memperebutkan Mama kamu bisa menjadi besan Papa sebentar lagi" goda Fajar.

__ADS_1


Sontak Ethan, Jack dan Dokter Shyana terkejut mendengar perkataan Fajar. Kalau anggota Geng F3STER C sudah biasa saja menanggapinya karena itu sudah menjadi rahasia umum bagi mereka masa lalu dari semua orang tuanya.


"Aaaah Papaaaaa" jawab Fela tersenyum malu.


Fael, Elfa dan Celine kini kembali tersenyum melihat Fela sudah bisa tersenyum kembali walau hanya tipis.


"Kalau Fathir sudah sadar kabari kami ya Kak. Kami akan segera meluncur ke Rumah Sakit" ujar Elfa.


"Iya Fel, kakak juga akan segera ke Rumah Sakit" sambut Fael.


"Iya Kak, Elf. Semuanya makasih ya, kalian benar - benar sudah berhasil membuatmu kuat dan semangat kembali" ungkap Fela.


Semua tersenyum menjawab ucapan Fela barusan. Mereka sarapan bersama dengan hikmad dan tenang.


Setelah selesai makan Fajar dan Ela pergi ke Rumah Sakit bersama Fela. Mereka juga ingin memberikan semangat kepada Rafa dan Catherine karena kecelakaan putra sulung mereka. Pasti saat ini mereka sangat terpukul sekali.


Sesampainya di Rumah Sakit mereka langsung bertemu dengan Rafa, Catherine dan Cathifa adiknya Fathir.


"Gimana Fathir Aunty?" tanya Fela.


"Tapi dia sudah dipindahkan dari ruang pemilihan ke ICU sampai masa kritisnya selesai. Kalau dia bisa melewati masa kritis ini dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap" ungkap Rafa.


"Fathir pasti kuat dia laki - laki yang kuat. Kita terus berdoa ya" sambut Fajar.


"Apakah bisa melihatnya ke dalam?" tanya Ela.


"Bisa tapi harus bergantian" jawab Catherine.


"Biarkan Fela masuk ya Ket, dia ingin bertemu dengan Fathir" Pinta Ela.


"Silahkan sayang.. Kamu masuk aja langsung" perintah Catherine kepada Fela.


"Makasih aunty" jawab Fela.


Fela segera masuk ke ruang ICU sebelumnya dia harus memakai pakaian khusus untuk masuk ke ruang ICU.


Fajar, Ela, Rafa dan Catherine menatap kepergian Fela.

__ADS_1


"Fela kenapa? Mengapa dia kalau seperti itu?" tanya Catherine penasaran.


"Ya karena anak kamu, masak kamu gak ngerasa sih dari kemarin anakku udah nangis bombay melihat anak kamu gak sadarkan diri" jawab Ela.


"Aku kira Fela menangis karena dia menyaksikan langsung kejadian tabrakan itu" balas Catherine.


"Sudah dua hari putriku itu berubah jadi pendiam di rumah. Kami menyuruh Elfa untuk mencari tau apa penyebabnya Fela jadi seperti itu. Ternyata Fathir mengutarakan perasaannya kepada Fela tapi Fela belum menyadari perasaannya kepada Fathir. Fela belum dapat memastikan apakah dia juga menyukai Fathir sebagai sahabat atau sebagai seorang wanita kepada pria" ungkap Ela.


Catherine dan Rafa terus mendengarkan cerita Ela.


"Sampai pada sore kemarin, Fela sedang janjian dengan Dokter Rasya di sebuah Restoran dan ketepatan Fathir juga sedang meeting di sana dengan client ADS Corp. Fathir salah sangka, dia mengira kalau Fela menolaknya karena Fela sudah pacaran dengan Dokter Rasya. Fathir pergi begitu saja saat Ela sudah mulai sadar bahwa dia juga menyukai Fathir tapi semua terlambat Fathir sudah masuk ke dalam mobilnya dan berlalu. Setelah itu terjadilah kecelakaan itu" sambung Ela.


"Ya Tuhaaan.. ternyata itu yang terjadi diantara mereka? Perasaan mereka saling berbalas?" tanya Rafa.


"Aku tidak mengira kita akan besanan Raf" ujar Fajar.


"Hahaha iya ya.. Doakan saja putraku selamat dan sehat. Kami akan datang ke rumah kalian untuk melamar Fela" balas Rafa.


Sementara di dalam ruang ICU. Fela berjalan mendekat ke tempat Fathir berbaring. Fela menatap wajah Fathir yang pucat, kepalanya penuh perban dan seluruh tubuhnya di pasang kabel dan jarum.


Sebenarnya Fela tak sanggup melihat Fathir seperti itu tapi dia harus kuat agar bisa memberikan semangat kepada Fathir.


Fela menyentuh tangan Fathir perlahan.


"Assalamu'alaikum Fath.. ini aku Fela" suara Fela terdengar bergetar. Sekuat tenaga dia menahan agar tidak menangis tapi air matanya tak bisa terbendung.


"Fath.. maafkan aku yang tak sempat mencetak kamu pergi kemarin. Aku terlambat Fath.. Terlambat menghampiri kamu dan terlambat mengetahui perasaanku. Setelah kamu pergi baru aku merasa kehilangan. Dan... dan.. pada saat aku melihat kamu terdiam kaku tak sadarkan diri penuh dengan lumuran darah membuat aku semakin takut kehilangan kamu. Kamu jangan pergi Fath meninggalkanku sendiri. Ada kata yang belum sempat aku ucapkan dan harusnya kamu dengar kemarin. Aku.. aku juga mencintai kamu Fath, perasaan kamu tidak bertepuk sebelah tangan. Aku juga menyayangi kamu lebih dari sahabat. Bangun Fath.. aku ingin kamu tau kalau aku menunggu kamu di sini" Fela menangis sambil terisak di atas lengan kiri Fathir. Air matanya mengalir mengenai tangan Fathir.


Fathir merasa dingin perlahan - lahan dia mendengar dari kejauhan suara Fela yang sedang menangis. Lama kelamaan suara itu semakin dekat dan sangat jelas. Fela menangis untuknya.


"Fe.... laaaaa"...


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2