Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 100 : Dansa


__ADS_3

Aku tercenung.


Tapi sudahlah, selama ini Bram selalu memberiku sesuatu. Apa salahnya kali ini aku mengabulkan permintaannya. Untuk sementara aku menepiskan dulu semua pertanyaan-pertanyaan itu, karena aku yakin suatu saat nanti Bram pasti akan menjelaskannya.


Perlahan aku mengangkat dan aku mencium jemari Bram. Di sambut dengan Bram yang menciumi keningku.


"Terima kasih sayang," ucap Bram dengan suara yang lembut ditelingaku.


Aku jadi tersipu-sipu malu. Andai saja benar-benar terjadi sebagai suami istri, pasti bahagiaku menjadi utuh.


"Zanu, saatnya kita makan malam. Ikut aku," ajak Bram.


Aku mengangguk dan mengikuti Bram menuju ke suatu tempat. Karyawan Bram membuka pintu berukuran besar yang terbuat dari kayu.


********


Sreett..!!


Terlihat sebuah taman yang indah, dihiasi lampu-lampu dan bunga. Kali ini bunganya tidak lagi berwarna merah tapi warna pink. Di tengah taman sudah ada meja bundar dan dua buah kursi. Terdapat juga lilin dan vas bunga di atas meja.


Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Ini keren banget!!


Saat keluar menuju taman, sudah ada beberapa karyawan Bram berpakaian seragam berbaris rapi.


"Selamat malam Bos dan Non Zanu," ucap mereka serempak.


"Selamat malam juga semuanya," jawabku sambil tersenyum.


Sudah terlihat di dekat meja ada Chef Brasnu dan Pak Tio. Aku dan Bram jalan berdampingan menuju ke tengah taman.


"Selamat malam, silahkan duduk Bos dan Non Zanu," ucap Pak Tio sambil menggeser kursi. Chef ikut membantu.


"Selamat malam juga Pak Tio dan Chef, terima kasih," jawabku.


Aku dan Bram duduk saling berhadapan. Pak Tio, Chef dan karyawan meninggalkan kita berdua. Mungkin mereka mau membawa makanan ke sini.


"Kak, indah sekali! Sejak kapan Kakak persiapkan ini semua?" tanyaku antusias sambil melihat kesekeliling.


"Sejak kita menuju kesini. Apa kamu senang Zanu? Nanti ada surprise setelah kita selesai makan malam,"


"Senang banget Kak, rasanya baru kali ini dalam hidupku mendapatkan surprise sekeren ini. Terima kasih ya Kak,"


Bram tersenyum.


Terdengar alunan musik mulai di putar, musik romance dari Kenny G.


"Zanu, apakah kamu mau berdansa denganku?" tanya Bram.


"Hah! Dansa? Aku nggak bisa Kak. Malu diliatin karyawan," jawabku.


"Aku ajarin gerakannya. Nanti kamu tinggal mengikuti gerakanku saja. Selama kamu berada di dekatku, jangan pernah pikirkan orang lain," ujar Bram dan langsung berdiri mengulurkan tangannya untuk mengajakku berdansa.


Aku ragu sejenak. Aku juga bingung mau mulai dari mana. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, aku menerima uluran tangan Bram.

__ADS_1


Tiba-tiba Bram menarikku dalam pelukannya dan merangkul pinggangku.


"Kak, bisa nggak sih nariknya pelan-pelan! Kaget tau!" ujarku manyun.


"Sudah! Jangan bicara dulu, sekarang letakkan kedua tanganmu di atas bahuku dan lihat mataku," perintah Bram.


Entah kenapa, aku mengikuti saja apa perintah Bram. Aku merasa seperti di hipnotis. Perlahan-lahan Bram menggerakkan kaki kanan dan kiri. Aku mengikuti gerakan kaki Bram dan akhirnya gerakan kita berdua jadi seirama mengikuti alunan musik.


"Kamu sudah bisa berdansa. Sebagai pemula kamu sudah lulus. Sekarang coba kamu pejamkan matamu dan resapi irama musiknya, lalu kamu buka matamu pelan-pelaan dan tatap aku," perintah Bram lagi.


Aku mengikuti perintah Bram. Kututup mataku dan kunikmati alunan musik. Entah kenapa aku merasakan perasaan tenang, syahdu, indah dan bahagia.


Aku membayangkan saat ini begitu dekat dengan tubuh Bram, tercium bau wangi khas Bram dan merasakan sentuhan Bram selama memelukku.


Aku membuka mataku pelan-pelan dan menatap Bram yang kebetulan sedang melihatku.


Zaappp...!


Seperti ada magnet yang kuat, seolah-olah menarik perasaanku untuk tetap di sini, dihati ini.


"Aku mencintaimu,"


Bibirku bergetar mengucapkan kalimat tersebut dan tanpa kusadari seberani itu langsung mengungkapkannya di depan Bram. Yang hanya berjarak sepuluh centi saja dari wajahku.


Aku tertunduk malu.


Bram menghentikan gerakannya, seakan dia kaget dengan ucapanku. Bram mengangkat daguku dan tersenyum.


"Apa yang kamu katakan tadi Zanu? Coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya," pinta Bram seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


Bram diam dan terus menatapku.


"Terima kasih Zanu. Kalimat itu yang ingin aku dengarkan selama ini, selama aku mengenalmu,"


Bram mengelus pipi dan mencium keningku. Berlahan Bram melepaskan pelukannya dan melihat manik mataku lebih dekat lagi.


"Zanu, ada masalah besar yang harus aku hadapi. Aku akan menyelesaikannya. Semoga kamu bisa menerima keputusanku," ucap Bram pelan.


"Percayalah, aku akan selalu mencintaimu. Dan tetap akan seperti itu. Maafkan aku jika nanti tindakanku salah. Semoga kamu bisa memaafkanku,"


Bram menatapku nanar, seakan ada yang menekan keinginan Bram untuk bersamaku. Dugaanku selama ini ternyata benar.


Siapkah aku jika kehilangan Bram? Sedangkan aku baru memulai kisah ini.


Aku hanya bisa diam dan tertunduk menghindari sorot kesedihan yang tersirat dari mata Bram.


"Zanu, nanti aku akan jelaskan setelah aku wisuda. Sekarang kita nikmati dulu malam ini," ujar Bram.


Aku hanya bisa mengangguk.


Sreeett..!


Terdengar suara pintu di buka seseorang, ternyata itu Pak Tio. Diikuti empat karyawan dari belakang sambil membawa nampan tertutup berwarna gold. Dan terakhir di ikuti oleh Chef Brasnu.

__ADS_1


Pak Tio menginstruksikan karyawan untuk menyusun dan meletakkan makanan di atas meja. Menyalakan lilin serta menuangkan minuman ke gelas.


Aku dan Bram menarik kursi dan duduk. Sebenarnya cerita kita tadi belumlah selesai, tapi mungkin sebaiknya kita tunda dulu.


"Bos, sesuai pesanan Non Zanu, Chef sudah membuat menu khusus yaitu beff steak. Ada minuman, puding dan buah-buahan. Selamat menikmati Bos, Non Zanu," ujar Pak Tio.


"Semoga suka dan sesuai di lidah Bos dan Non Zanu. Silahkan dicicipi," ujar Chef Brasnu.


"Oke, terima kasih Chef dan Pak Tio. Kalau soal rasa, saya tidak meragukan buatan Chef. Karena sudah cocok di lidah saya, semoga cocok juga dengan Zanuku," ujar Bram tersenyum sambil melirikku.


"Baik Bos, Non, kita berdua permisi dulu," ujar Pak Tio.


Bram dan aku mengangguk. Pak Tio dan Chef beranjak pergi melalui pintu kayu besar itu. Disusul empat karyawan dari belakang. Sekarang tinggal aku dan Bram kembali.


"Yuk sayang, kita mulai makan," ajak Bram.


Aku mengiyakan dan langsung memegang garpu dengan pisau untuk memotong steak.


Hhhmm.. Lezat sekali steak ini. Pengen nambah, tapi aku malu sama Bram.


"Bagaimana Zanu, enak bukan?" tanya Bram sambil mengunyah.


"Enak banget Kak, empuk. Dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Memang jago Chef Brasnu," pujiku.


"Chef Brasnu langganan dirumahku, jika ada acara penyambutan tamu atau klien, aku memanggilnya. Dan kalau aku rindu sesuatu buat dimakan, aku tinggal hubungi Chef," jelas Bram.


"Enak betul ya, tinggal panggil langsung makan. Semua sudah tersedia," celetukku.


"Sebenarnya aku ingin Chef Brasnu kerja di sini, sebagai Chef tetapku. Tapi dia tidak mau terikat walau di bayar berapapun,"


Aku memperhatikan Bram sambil minum.


"Aku justru ingin merasakan masakanmu Zanu. Itu juga kalau kamu bisa masak, he..he..he..,"


"Nah, itu dia. Aku belum bisa masak, kalau sekedar goreng-goreng bisalah,"


"Suatu saat nanti, aku yakin bisa merasakan langsung masakanmu Zanu," harap Bram.


Hah! Apa aku tidak salah dengar? Pernyataan Bram barusan membuatku bingung.


"Maksudnya Kak?" tanyaku.


"Yah, tidak tau. Aku yakin saja, entah itu terjadi atau tidak di masa yang akan datang, itu yang tidak aku ketahui,"


Glek! Bram sendiri tidak tau, apalagi aku.


"Sudah. Habiskan dulu makannya, nanti surprise buat kamu bisa gagal,"


"Oke,"


Aku dan Bram melanjutkan makanan yang tinggal separo. Masih ada puding dan buah-buahan yang harus di makan.


Sekali-kali Bram bergurau dan mengacak rambut depanku. Terlihat sekali Bram bahagia di saat bersamaku malam ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2