Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 108 : Pertemuan


__ADS_3

"Haii! Dice! Ratna!" teriakku spontan.


Dice dan Ratna menoleh, seakan mereka tidak percaya dengan kehadiranku.


"Zanu?!!" mereka teriak keheranan.


Kita bertiga berpelukan dan loncat-loncat, saking girangnya. Dua pria yang ikut mereka hanya bengong. Dan semua yang ada di cafe ikut memperhatikan kita.


Kita tetap santai..


"Apa kabar kalian berdua? Kenapa bisa bareng? Apa kuliahnya sama?" banyak pertanyaan yang aku lontarkan.


"Satu-satu Zanu pertanyaannya," ujar Dice.


"Eh, mereka siapa? Cowok kalian?" bisikku di telinga Dice. Belum sempat Dice menjawab, tambah lagi pertanyaanku yang lain.


"Aduh Zanu, biar aku jawab satu persatu," bisik Dice.


Kulihat mereka berempat sedang bingung, mungkin mau mencari tempat.


"Sudah! Kelamaan jawabnya. Yuk! Ikut aku," ajakku sambil menarik tangan Dice dan Ratna.


"Mau di bawa ke mana kita? Ini sudah penuh lho cafenya," Ratna makin bingung denganku.


"Sudah, ikuti saja. Bawa sekalian dua teman kalian itu,"


Ratna memberi kode ke kedua teman pria supaya mengikuti mereka dari belakang. Aku berjalan duluan dan mengarahkan mereka ke ruangan yang bersekat kaca. Kulihat Bram terus memperhatikanku dari dalam.


Aku dan teman-teman masuk. Mereka semua heran dan kaget. Apalagi saat melihat Bram.


"Ayo silahkan duduk," aku menawarkan mereka berempat.


Bram tersenyum melihat teman-temanku. Syukurlah, Bram mau tersenyum dan tidak datar seperti biasanya.


"Hai. Saya Bram. Senang berjumpa dengan kalian," Bram menyalami mereka satu persatu.


OMG! Bram langsung memperkenalkan diri!.


Respon mereka seperti takut, segan, heran dan grogi saat Bram menyalami mereka.


"Kalian teman-temannya Zanu ya? Teman dari kapan?" tanya Bram ramah.


Ratna menyenggol lengan Dice. Dice sedang bengong melihat Bram. Aduh...! Aku geli melihat tingkah mereka.


"Eh.., i, iyaa, kami berdua berteman dengan Zanu sedari SMA," Ratna menjelaskannya dengan gugup.

__ADS_1


"Oh.. Teman lama. Dua lagi siapa? Apa teman Zanu juga?" Bram melirik dua pria tadi yang ikut Ratna dan Dice.


"Bu..bukan, mereka teman kami satu kampus," Dice langsung siuman saat di tanya mengenai teman prianya.


Ah, paling juga mereka berdua pacaran. Seperti aku dan Bram.


"Kalian belum memperkenalkan diri, jangan sungkan-sungkan, santai saja,"


"Saya Dice, ini Ratna. Itu Akel dan Samsul," Dice berusaha terlihat rilex saat di lihat Bram.


Aku sengaja membiarkan Bram berbicara dengan mereka terlebih dahulu. Supaya Bram bisa beradaptasi dengan teman-temanku.


"Salam kenal Akel dan Samsul. Saya Zanu temannya Dice dan Ratna. Dan ini pasangan saya," aku mulai bicara sambil memegang lengan Bram.


Mereka berempat tersenyum. Suasana masih sedikit canggung. Tidak berapa lama, datang karyawan membawa peralatan makan di atas meja. Mungkin Bram sudah memberitahukan karyawan kalau ada tambahan tamu di ruangan ini.


"Oiya, silahkan pesan mau makan apa. Saya sama Zanu sudah," Bram memberikan dua buku menu ke hadapan Dice dan Ratna.


Mereka berempat memilih menu yang akan di pesan. Sepertinya temanku masih canggung dan malu-malu.


Apa aku salah ya membawa Dice dan Ratna ke sini? Bram sudah semaksimal mungkin menyambut mereka.


Setelah mencatat pesanan, mereka memberikannya ke karyawan yang sedari tadi menunggu.


"Ssstt... Zanu, kita ke toilet yuk," Dice berbisik memberi kode agar aku keluar ruangan ini.


"Ayo," aku mengangguk.


"Kak, aku ke toilet dulu bentar sama Dice and Ratna,"


"Iya, jangan lama-lama. Pesanannya nanti datang," pesan Bram.


"Oke,"


Aku, Dice dan Ratna bergegas ke toilet, rasanya tidak sabar mendengar cerita tentang mereka berdua.


"Zanu! Itu cowok kamu keren banget! Ketemu di mana? Gila...!" Dice heboh sendiri. Belum juga sampai toilet.


"Iya Zanu, kita berdua jadi nggak PD. Duh, aku jadi salting, susah ngomongnya!" Ratna tidak kalah hebohnya.


"Aduh, bisa nggak kita jangan bahas ini dulu? Aku tu kangen banget lho sama kalian berdua. Kenapa tidak ada kabar sesudah perpisahan Sekolah?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan, karena aku yakin tidak akan selesai membahas ini. Sedangkan aku pengen tau tentang mereka berdua.


Kita sudah sampai di toilet, bukannya buang air kecil, malah lanjut mengobrol.


"Kita berdua kuliah di Fakultas negeri juga. Aku ngekost di dekat kampus. Sedangkan Ratna rumah ortunya di kota P ini, kan kamu sudah tau," penjelasan Dice.

__ADS_1


"Kamu kost di mana Zanu? Pacar kamu kenapa bisa ada di ruang kaca itu? Perasaan belum pernah ada pengunjung pesan tempat di ruangan itu," Ratna penasaran. Aku juga penasaran kenapa Bram bisa memakai tempat itu?


"Kost aku di pasar baru, lihat saja ada tempat kostnya gede berpagar tinggi. Kapan-kapan mampir ke kost aku. Aku nggak tau kenapa pacar aku bisa menempati ruang kaca itu. Nggak peduli juga, yang penting aku makan, lapar soalnya,"


"Dua cowok tadi pacarnya kalian ya?" tanyaku.


"Masih PDKT sama kita-kita, aku mau berteman aja dulu. Nggak tau kalau Dice," Prita melirik Dice.


"Aku baru jadian sebelum pergi ke cafe ini, he..he..he..," jawab Dice malu-malu.


"Kok kamu nggak ngasih tau?" tanya Ratna.


"Lha, ini baru ngasih tau. Rencananya sekarang saat kita makan, tapi keburu bertemu Zanu, buyar deh, ha.ha..ha..,"


"Ngomong-ngomong pacar Zanu satu angkatan? Dice masih penasaran tentang Bram.


"Dia seniorku, tapi beda jurusan. Bulan ini dia mau wisuda," jawabku sambil menghidupkan keran air.


"Abis wisuda, kerja, lamar kamu, he.he..he..," celetuk Ratna.


"Sudah deh, kita sudahi dulu obrolan ini. Nanti kalian singgah ke kost aku, kita bisa ngobrol banyak. Aku lapar, nggak sabar mau makan," perutku mulai keroncongan.


"Ayok, kita keluar. Kasihan cowok-cowok itu menunggu kita," ajak Ratna.


Kita bertiga berjalan keluar toilet langsung melangkah ke ruang kaca. Terlihat Bram asik ngobrol.


Syukurlah, mereka tidak canggung lagi.


"Maaf agak lama ke toiletnya," aku duduk di dekat Bram.


"Tidak apa-apa, makanannya juga belum datang," jawab Bram santai.


"Oiya, kalian sedang bicara tentang apa? Asik benar," tanyaku.


"Ini, Akel sama Samsul ngobrol tentang PKL untuk tahun depan. Kebetulan bahan yang mereka cari ada di tempatku. Aku menawarkan mereka di pabrik roti, kalau berminat bisa langsung datang ke sana," jawab Bram.


"Iya Zanu, kita berdua sudah ancang-ancang tempat PKL yang bagus. Untung Abang Bram memberikan referensi yang sesuai dengan jurusan kita berdua," Akel serius menjelaskan.


"Nanti kalian berdua sebutkan saja nama saya. Saya akan beri note ke sana,"


"Terima kasih Bang" ujar Samsul dan Akel.


Empat karyawan datang membawa nampan berisi makanan pesanan kita berenam. Mereka menyusunnya dengan rapi sesuai pesanan. Setelah semuanya sudah di hidangkan, kita semua mulai makan. Sekali-sekali diiringi obrolan ringan mengenai kampus, kuliah dan jurusan.


Tanpa di sadari, suasana malam ini berbaur satu sama lainnya. Tidak ada lagi kecanggungan dan malu-malu di depan Bram.

__ADS_1


Terima kasih untuk malam ini Bram.


...****************...


__ADS_2