Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 25 : Tenda


__ADS_3

Tik.. Tik.. Tik..


Suara jarum jam terdengar jelas ditelingaku. Aku cukup lama merenung. Dalam Bus mulai terasa panas karena AC nya belum dihidupkan.


Tak berapa lama, sopir Bus masuk dan menghidupkan mesin plus AC. Tapi yang aku tunggu-tunggu juga belum muncul. Aku masih gelisah dan mulai jengkel karena lama menunggu Bus jalan.


"Oke Pak! Kita berangkat!"


Terdengar suara yang tak asing ditelingaku. Saat aku melihat ke arah pintu masuk Bus, ternyata itu benar-benar Bram!


Perasaanku tiba-tiba bergetar dan gelisah. Tapi bercampur perasaan senang.


"Baik Bos! Kita berangkat...," jawab supir Bus.


Bram berjalan menuju bangku kosong yang ada disampingku. Lalu dia melihatku.


"Aku duduk di sini boleh ya?" tanya Bram datar.


"Eh, boleh. Silahkan Ketua," jawabku heran.


Kenapa dia minta izin segala, kalau memang dari awal sudah dipesankan melalui Kak Resa. Mungkin dia jaga image, supaya semua yang ada di dalam Bus tidak berpikir yang bukan-bukan antara aku dan dia. Pintar memang Ketua ini.


Bram duduk tepat disampingku. Aku cuma diam dan pura-pura melihat ke arah luar jendela. Karena cuma itu yang bisa aku lakukan saat ini. Sekaligus berusaha meredakan getaran dihatiku agar tidak canggung.


Bus melaju mengikuti Bus lainnya yang sudah duluan berangkat. Udara di dalam Bus mulai terasa sejuk. Tak lupa Pak supir Bus menghidupkan musik yang sedikit melow, supaya penumpang tidak merasa ngantuk.


"Zanu, kenapa dari tadi kamu diam saja? Kamu keberatan aku duduk di sini?" tanya Bram yang mengagetkan lamunanku.


"Bukan Ketua. Boleh kok.. Cuma, kenapa Ketua malah ada di Bus ini? Tidak gabung dengan senior lain?" aku balik bertanya.


"Semua senior sengaja di bagi-bagi dalam setiap Bus. Supaya bisa memantau keadaan dalam Bus selama perjalanan. Dan pilihanku di Bus ini, biar bisa bersama kamu, oke," jawab Bram tegas.


Aku tertunduk diam dan malu.


Duh....! Mimpi apa ya aku semalam, bisa-bisanya dia sekarang ada disampingku, berdekatan pula.


Sekali-kali lenganku bersentuhan dengan lengannya karena laju Bus yang tidak teratur. Setiap sentuhan itu membuatku panas dingin. Apakah dia juga merasakan hal yang sama?


"Zanu, kamu mulai merenung lagi? Kita ngemil yuk.., biar tidak ngantuk," ujar Bram.


Aku bergegas mengambil kantong yang berisi makanan. Sekaligus mengalihkan grogi yang sedang aku alami.


"Ini Ketua,"


Aku menyodorkan kantong didepannya. Dia tersenyum dan tiba-tiba berbisik ditelingaku.


"Tolong ambilkan ya, aku mau jeruk," ujarnya lembut.


"Eits! Sekalian di kupas, biar aku langsung bisa memakannya"


Kenapa dia jadi manja gitu? Sepertinya dia mengambil kesempatan untuk bisa mengobrol denganku. Oh Tuhan, bagaimana ini? Akankah ada drama lain setelah ini?


"Tidak sekalian disuapin Ketua? Biar kenyang!" ujarku dengan nada ketus.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan,"


Dia tersenyum-senyum manja. Aku melihatnya kok merasa geli ya. Jauh berbeda jika dia bicara ke orang lain. Cuek dan datar. Lha ini...?

__ADS_1


"Nih! Suap sendiri. Aku juga mau makan," jawabku.


"Jangan marah-marah Zanu, nanti makin cakep," godanya sambil mengambil jeruk ditanganku.


"Apaan sih! Udah ah! Aku mau makan juga,"


Aku mengambil kantong yang ada ditangannya. Kubuka, mengambil roti dan memakannya.


Enak sekali roti ini..


"Bagaimana rasanya? Enak kan roti yang aku berikan?" tanya Bram.


"Iya.. Beli di mana ini?" tanyaku balik.


"Ada deh! Kalau kamu suka, bisa minta setiap hari sama aku. Biar kita bisa bertemu setiap hari, ha..ha..ha..."


"Modus nih ya..,"


"Sudah.., kamu makan saja rotinya. Jangan bicara dulu, nanti bisa keselek,"


Aku diam dan terus mengunyah roti tersebut. Ini sama seperti roti yang pernah dia berikan saat aku ujian UMPTN. Cuma waktu itu saking laparnya, aku tidak bisa menikmati rasa roti tersebut seperti saat ini.


Setelahnya, aku merasa udara mulai dingin. Rencananya mau ambil jaket dalam ransel. Belum juga mulai, Bram melihatku dengan seksama.


"Kamu kedinginan kan, nih pakai jaketku saja," ucapnya sambil menyodorkan jaket kearahku.


Kenapa dia tau aku kedinginan? Sudah disiapin pula jaketnya. Oh., ternyata drama korea itu, ada benarnya di dunia nyata, seperti yang aku alami sekarang, wuih..!


Mau tidak mau aku mengambil jaketnya dan kupasangkan ketubuhku.


"Zanu. Nanti pulang dari berkemah, aku antar pulang ya?" tanya Bram.


"Boleh,"


Suasana hening. Sudah banyak penumpang yang tertidur karena perjalanannya cukup panjang. Ditambah lagi dinginnya AC, bisa membuat kita mengantuk. Begitu juga denganku.


Aku tidak tahan lagi, ingin segera tidur. Plekkk! akupun tertidur.


********


Dua jam telah berlalu. Samar-samar aku mendengar suara yang sedikit ribut. Pelan-pelan kubuka mata dan betapa kagetnya aku, ternyata kepala aku sedang berada di atas bahu Bram.


OMG! Bagaimana ini? Aku panik dan merasa sangat malu. Aku angkat kepalaku pelan-pelan, sambil melirik ke arah Bram. Semoga dia tidak melihatku.


Dugaanku ternyata salah, tiba-tiba dia melihat dan menatap mataku. Deg! Sorot mata tersebut mirip seperti sorot mata Abang. Terlihat sorot itu sendu dan syahdu.


Cukup lama kita saling melihat. Aku kelabakan dan menunduk malu.


"Kamu sudah bangun Zanu? Kita segera sampai. Kamu nanti bersama Prita ya. Aku langsung mengurus panitia dan kemungkinan sangat sibuk. Tapi jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan. Langsung minta bantuan ke Resa. Biar nanti dia langsung hubungi aku," ujarnya tegas.


"Ba..baik Ketua," jawabku gugup.


"Ingat Zanu, kamu prioritas pertamaku. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Perkemahan ini berhubungan dengan banyak orang dan berada di daerah yang belum kita ketahui pasti. Jaga diri kamu baik-baik Zanu," pesan Bram.


Aku menggangguk dan langsung menyodorkan jaketnya.


"Terima kasih Ketua,"

__ADS_1


Dia tersenyum dan mengambil jaket tersebut.


Bus berhenti, tandanya kita sudah sampai ke tempat yang dituju. Bram langsung berdiri dan mengambil ranselnya.


"Zanu, aku duluan. Ingat pesanku tadi..," ujarnya lembut.


Aku mengangguk dan tersenyum. Bram langsung keluar pintu Bus dan dia hilang dari pandanganku.


Senior mulai mengkoordinir semua yang ada di dalam Bus. Kita di larang keras berpisah dari yang lainnya. Tak lupa sebelum turun dari Bus, senior meminta kita untuk berhitung, supaya jumlahnya sama saat pulang nanti.


"Zanu! Asik benar tadi selama di jalan. Tidak ada sedikitpun kamu menoleh ke arahku. Di lihat kek atau ditanyain kek. Mentanglah ya asik berduaan," ledek Prita sambil senyum-senyum.


"Aduh Prita.. Jangankan peduli sama kamu, aku saja sibuk dengan perasaan sendiri. Deg-degan tau! Sudahlah.., kita turun yuk," ajakku ke Prita.


Aku dan Prita turun dari Bus. Terlihat tempat yang kita tuju, lokasinya sangat luas. Seperti lapangan bola, di kelilingi pepohonan tinggi. Terlihat dari jauh masyarakat sekitar sedang melihat-lihat rombongan kita datang.


Terlihat di sana sudah berdiri tenda-tenda besar yang sangat banyak. Terlihat kokoh dan tersusun rapi. Ada juga pagar terbuat dari kayu, sebagai tanda batas setiap Fakultas.


Tak lupa pula ada papan yang bertuliskan Fakultas masing-masing, supaya tidak tersesat atau bingung saat mencari tendanya.


*******


"Oke adik-adik, kita dari jurusan Hukum Pidana khusus perempuan ada lima. Nanti ada jurusan lain bergabung ke kita lima orang juga. Jadi satu tenda ada sepuluh mahasiswa baru dan empat senior. Kalian harus hafal siapa saja teman kalian dalam satu tenda. Dan jika ada suatu keperluan, kalian bisa lapor ke kita berempat. Masing-masing tenda sudah menjadi tanggung jawab senior yang ditugaskan. Bisa dipahami!!" ujar senior dengan suara lantang.


"Bisa!!" teriak kita bersama.


"Untuk tambahan, jika kalian mau mandi, berwudhu atau mencuci sesuatu ke sungai, kalian wajib melapor atau memberitahukan teman dan senior kalian. Jadi kalau waktunya terlalu lama, teman atau senior kalian bisa menyusul untuk mencari tau," ujar senior satu lagi.


"Oke, sebelum memulai aktifitas, kita berdo'a terlebih dahulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Semoga di beri kelancaran kegiatan kita dan selamat sampai pulang ke rumah. Berdo'a dimulai,"


Suasana hening dan kita semua berdo'a. Selesai berdo'a, kita diarahkan menuju tenda. Cukup jauh juga berjalan kaki menuju lokasi tenda yang di maksud.


"Prita, ketat amat ya aturannya. Kan cuma berkemah doang," ujarku sambil berjalan.


"Memang harus begitu Zanu. Pernah dengar dulu sebelum angkatan Ketua, ada mahasiswa yang hilang dan kesurupan. Jadi, setiap Universitas yang akan mengadakan kegiatan di luar kampus, harus memperhatikan secara detail sebelum berjalannya kegiatan. Banyak senior-senior dikerahkan untuk dijadikan panitia. Anggota BEM sedikit, tidak akan bisa mengurus semuanya," jawab Prita panjang lebar.


Pantesan, Bram tadi serius berpesan kepadaku untuk selalu berhati-hati. Aku merasa Bram pasti terbebani dengan tugas-tugasnya yang begitu banyak. Ditambah lagi, dia pernah bilang ada tugas lain di luar kampus. Apakah dia ada kerja sampingan ya..?


"Eh Zanu! Di sini dilarang keras buat kamu,"


"Maksudnya?"


"Dilarang melamun!! Bisa tidak sih kamu itu jangan melamun di tempat-tempat seperti ini? Kalau ada apa-apa sama kamu, aku jadi sedih lho,"


"Oke Prita. Tolong kamu ingatin ya kalau melihatku sedang melamun," ujarku sedikit memelas.


Aku merasa bergidik dan takut. Ternyata berkemah tidak seindah yang kubayangkan. Eh tapi, aku kan punya Bram.


Aku yakin Bram tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu kepadaku. Ceilee...


"Zanu! Itu tenda kita, yok jalannya yang cepat. Aku mau ambil posisi yang terbaik di dalam tenda," ujar Prita sambil menarik tanganku.


Kita berjalan sedikit berlari menuju tenda. Di depan tenda sudah ada empat tempat obor yang terpancang kuat. Kemungkinan, penerangan kita hanya mengandalkan obor, api unggun, senter dan lilin.


Aku, Prita dan yang lainnya masuk ke dalam tenda dan mulai menyusun barang bawaan masing-masing. Aku dan Prita mengambil posisi arah pintu masuk tenda.


Ya Tuhanku, jagalah Bram dan mudahkan segala urusannya, aamiin.

__ADS_1


Do'aku dalam hati untuk Bram.


...****************...


__ADS_2