Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 111 : Privat Jet


__ADS_3

"Dia mau ngapain Kak?"


"Mungkin mau minta maaf ke kamu,"


"Kalau tidak?" tanyaku kembali.


"Rasanya tidak mungkin Zanu. Perjanjian waktu itu bersama orang tuanya, aku rasa dia mengerti dan tidak akan berulah lagi,"


"Lho? Siapa tau dia masih dendam kepadaku? Kenapa Kakak santai gitu menanggapinya, aku takut,"


"Sayang, apa yang kamu takutkan? Kamu lupa, kalau aku sudah menugaskan bodyguard khusus buat kamu? Jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Bram santai.


Aku hanya mangut-mangut.


Mobil berhenti sebentar di tempat kost aku, mengambil barang bawaan untuk menginap di rumah sakit.


Tidak butuh waktu lama, aku kembali lagi ke mobil Bram sambil menenteng ransel. Tak lupa aku menitipkan pesan untuk Kak Siska lewat Bibi.


Semoga mereka mau menjenguk Prita, supaya aku tidak boring di ruang ICU.


Mobil meluncur lagi ke tempat tujuan.


*********


Kita sudah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Bram langsung ke ruang ICU.


Terlihat Atif, dokter Cahyo beserta jajarannya dan bodyguard-bodyguard Bram.


"Selamat siang Pak Bram," sapa dokter Cahyo sambil menyalami Bram.


"Siang juga Dok. Bagaimana perkembangan Prita? Apa ada kemajuan atau masih koma Dok?" tanya Bram.


"Masih koma Pak. Saya tidak menyangka kalau Non Prita koma lagi. Mungkin ada pengaruh dari otaknya. Maaf, saya juga belum paham sampai sana,"


"Sebentar Dok, saya mau menelepon keluarga Prita dulu," Bram melangkah ke sudut ruangan sambil menekan tombol ponselnya.


Kita semua yang hadir hanya diam dan menyaksikan Bram bicara.


"Pak, Prita koma. Saya ada ide dan saya harap Bapak menyetujuinya," ujar Bram.


Hening sejenak.


"Oh tidak Pak, biar saya saja yang urus. Kebetulan informasinya sudah saya dapatkan,"


"Baik Pak,"


Klik!

__ADS_1


Bram mematikan ponselnya dan langsung menghampiri dokter Cahyo.


"Dok, saya mau membawa dokter Wahyu ke sini langsung dari Amerika. Saya sudah berbicara dengan beliau tadi pagi. Tapi saya harus hubungi kembali untuk keberangkatannya ke sini. Jadi, Prita langsung di tangani," ujar Bram.


"Wah! Bagus sekali Pak Bram. Dokter Cahyo memang ahlinya dan Dokter terbaik di dunia. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan beliau lagi,"


Terlihat sekali dokter Cahyo antusias dengan kedatangan dokter Wahyu. Semoga Prita tertolong dan bisa segera di rawat di Amerika. Karena ilmu dan peralatan di sana tentulah lebih canggih lagi.


"Bentar Dok," ujar Bram lagi.


Bram balik lagi ke sudut ruangan dan menelepon seseorang.


Kenapa tidak langsung saja telepon semua, jadi nggak harus bolak-balik gini, hadeh... Mana kedengaran lagi dia nelpon, ada-ada saja Bram. Aku dan yang lainnya malah bengong menyaksikan Bram.


"Hallo Dokter Wahyu, saya ada keperluan penting," ujar Bram.


"Begini Dok, teman saya Prita koma kembali. Jadi saya minta Dokter untuk bisa ke sini. Apakah Dokter bersedia?" tanya Bram.


Suasana hening. Detik demi detik berlalu.


"Alhamdulillah, syukurlah Dok. Tidak.. Tidak perlu Dok. Nanti Dokter di jemput oleh utusan saya dengan privat jet. Jadi Dokter tidak perlu repot-repot pesan tiket. Semua keperluan Dokter selama di sini saya sediakan. Terima kasih Dok sudah bersedia mau ke sini,"


Hah! Privat Jet?!! Apa Bram punya pesawat sendiri? Sekaya itukah dia? Atau dia cuma nyewa?


Klik!


Siapa lagi yang di telpon Bram? Sibuk bener.


"Hallo! Kamu urus privat jet dan jemput Dokter Wahyu. Informasi dan alamat beliau sudah ada sama Sir William. Secepatnya kamu urus! Nanti hubungi aku jika Dokter sudah take off," tegas Bram.


Klik!


Bram diam sejenak, seperti ada yang dipikirkan. Jangan bilang dia mau menelepon orang lagi. Kita di sini semua pegal menunggu Bram yang belum selesai-selesai dari tadi.


Aku sudah tak sabar dan capek berdiri. Tanpa pikir panjang aku duduk di kursi khusus pengunjung. Sedangkan yang lain termasuk dokter Cahyo masih betah berdiri menunggu Bram.


Aku mah ogah!


Bram berbalik dan kembali lagi menghadap dokter Cahyo.


"Maaf Dok lama menunggu info dari saya. Alhamdulillah, Dokter Wahyu mau ke sini dan semua urusannya sudah saya serahkan semua di sana. Sekarang kita hanya tinggal menunggu," Bram sempat melirikku yang sedang duduk sendirian.


Malah aku mau tiduran di sini!


"Syukurlah Pak Bram. Oiya, saya permisi dulu mau keruangan lain, karena saya ada pasien baru. Nanti saya ke sini lagi untuk melihat kondisi Non Prita,"


"Mari silahkan Dok," Bram tersenyum dan berbalik arah menuju ketempat aku duduk. Sedangkan dokter Cahyo langsung keluar dari ruang ICU.

__ADS_1


"Kak, lama bener nelponnya! Tuh lihat yang lain, kasian mereka berdiri dan bengong dari tadi," ujarku sedikit kesal.


"Sabar Zanu. Semuanya memang harus segera dihubungi dan yang terpenting kehadiran dokter Wahyu sangat dibutuhkan Prita saat ini," Bram ikut duduk didekatku.


"Yang bayar privat jet sama Dokternya siapa Kak?" aku kepo.


"Privat jet tidak bayar Zanu dan Dokter aku yang bayar,"


"Hah?! Kakak yang bayar? Yang sakit kan Prita, kenapa Kakak yang bayar? Prita kan bukan orang tak berpunya, pasti sangguplah dia membayar semuanya," aku heran, kenapa Bram bela-belain membantu Prita.


"Tidak apa-apa Zanu, berbuat baik dengan orang lain itu pahalanya besar. Dia kan teman kamu. Masa' kamu tidak ada empati? Lagipula, paman Prita sudah minta tolong kepadaku untuk menjaga Prita dan mengurus keperluannya," Bram menoleh kearahku.


"Iya sih, tapi..... Ah sudahlah, aku mau melihat Prita dulu ke dalam. Mana tau ada keajaiban datang, Prita bisa siuman kembali," jawabku sekenanya.


Bram mengangguk dan responnya biasa saja.


Aku berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruang ICU. Tiba-tiba muncul dari kejauhan Kak Siska beserta rombongan.


"Hei Zanu! Kita sudah di sini lho...," teriak Kak Siska kegirangan dari kejauhan.


Aku berpaling ke arah suara. Tidak menyangka semua penghuni kost datang termasuk Mami yang punya kost.


"Aduh..., aku kirain tadi siapa," Aku menghampiri mereka dan menyalami Mami kost.


"Bagaimana nak Zanu perkembangan Prita hari ini?" tanya Mami.


"Prita koma lagi Mi, kita semua di sini sedang menunggu dia siuman," Aku mempersilahkan yang lainnya duduk di kursi yang sudah disediakan.


Bram berdiri dan menyalami Mami Kost.


"Hallo," sapa Mami ke Bram. Mami terpana melihat Bram.


"Hallo juga Bu. Maaf saya tinggal sebentar ya, silahkan mengobrol dulu sama Zanu," ujar Bram.


Mami dan yang lainnya mengangguk. Bram pergi bersama Atif ke luar, entah apa yang ingin mereka bicarakan.


"Nak Zanu, itu siapa? Cakep amat! Pacar kamu ya nak?" Mami kost masih belum puas jika sesuatu yang mengganggu pikirannya belum terjawab.


"Iya Mi," jawabku singkat.


"Wow! Hebat ya kamu nak Zanu, bisa dapatin cowok itu. Mirip-mirip dikitlah dengan mantan Mami dulu, he..he..he..," Mami tersipu-sipu malu.


"Ciee, Mami ingat masa lalu nih ceritanya. Itu Ketua kita Mi di kampus, Dia Ketua BEM. Dia itu cinta mati sama Zanu," ujar Kak Siska.


Aku tersenyum-senyum mendengar ucapan Kak Siska. Walau sebenarnya di hatiku berkecambuk dengan keadaan sekarang.


Benarkah Bram cinta matiku?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2