
Terlihat Pak Tio dan dua pelayan perempuan datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Semua yang di bawa mereka letakkan di atas meja. Ada tiga gelas berisi jus, ada air mineral botol, kue dan buah-buahan yang sudah di potong.
"Silahkan dinikmati Dok," ujar Pak Tio.
"Terima kasih Pak Tio," jawab dokter Danang.
Pak Tio mengangguk dan langsung berlalu dari gazebo bersama dua pelayan tersebut.
"Apa perawatnya sudah di bawa ke sini Dok?" tanya Bram.
"Sudah Pak Bram, mereka ada di ruang tamu. Oiya, Pamannya Pak Bram ternyata orang yang dulu pernah membantu saya selama kuliah. Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan Bapak dan Ibu," cerita dokter Danang.
"Oiya?! Kebetulan sekali kalau begitu ya Dok," jawab Bram.
"Coba dari awal saya tau kalau Pak Bram keponakannya Pak Brahmantyo, jadi saya bisa silahturrahmi. Setelah saya selesai kuliah, Bapak pindah tugas dan rumah. Sudah sepuluh tahun baru saya ketemu,"
"Iya Dok, maaf saya tidak tau kalau ada kisah di balik itu," jawab Bram sambil menekan tombol yang ada di pinggir meja.
Tak pakai lama, Pak Tio muncul lagi.
"Pak Tio, tolong panggilkan perawat yang sedang menunggu. Bawa mereka ke sini," perintah Bram.
"Baik Bos,"
Pak Tio langsung bergegas ke dalam.
"Dok, tugas perawatnya apa saja?" tanya Bram serius.
"Mengecek kondisi Pak Bram setiap hari, menyiapkan obat dan membuat laporan perkembangan kesehatan Pak Bram yang nantinya akan saya terima setiap minggu," jelas dokter Danang.
"Baik. Silahkan Dok di minum dulu," tawar Bram.
Dokter Danang meminum jus yang ada didepannya.
Aku nggak ditawarin Kak?
Dari tadi aku hanya diam dan menyimak saja pembicaraan antara Bram dan Danang.
*********
Tidak berapa lama kemudian datanglah dua perawat yang di maksud. Mereka di antar Pak Tio.
Glek! Perawatnya cantik-cantik. Aku tiba-tiba merasa gelisah saat melihat mereka senyum penuh arti. Sepertinya rasa cemburu mulai menyergapi hatiku.
Perawat inikah yang akan merawat Bram setiap hari?
__ADS_1
"Selamat siang Pak Bram," sapa mereka berdua serempak.
"Siang juga," jawab Bram singkat.
"Jadi Pak Bram, mereka inilah nanti yang bertugas untuk merawat Bapak sampai pemulihan. Mereka Sally dan Tasha," jelas dokter Danang.
Bram mengangguk dan tidak terlalu memperhatikan mereka berdua.
"Kak, aku ke toilet dulu ya," bisikku ke telinga Bram.
"Oke, jangan lama-lama," jawab Bram.
Aku mengangguk dan bergegas berjalan menuju toilet yang berada di ujung ruangan dekat kolam renang.
Aku melewati dua perawat tersebut. Salah satu dari mereka menatapku sedikit sinis. Aku cuek saja.
Setelah sampai di toilet, aku sempat mengamati cermin. Kulihat wajahku masih berseri-seri dan rambutku juga tidak kusut.
Setelah itu aku masuk ke dalam toilet dan pipis. Sayup-sayup aku mendengar orang yang sedang ngobrol di luar toilet. Aku kepo dong...
"Siapa sih perempuan tadi dekat Pak Bram?" tanya perempuan A.
"Mungkin pacarnya Pak Bram. Cantik ya," jawab perempuan B.
"Biasa aja tuh! Perempuan seperti itu banyak. Lagipula itu perempuan sepertinya belum kerja, lihat kita nih, sudah jelas kerjanya, ya kan..," ujar perempuan A.
"Yah, bukan apa-apa sih.., Kan kalau orang sekaya dan secakep Pak Bram, milih dikitlah buat pendampingnya,"
"Udahlah Sally, jangan mikir yang aneh-aneh. Kita di sini ditugaskan buat kerja. Kita nggak bisa macam-macam di rumah ini, dimana-mana ada bodyguardnya. Yok ah kita ke sana," ujar Tasya.
Aku mendengar langkah mereka menjauh dari toilet. Pasti mereka sekarang di gazebo.
Aku keluar dari toilet dan bercermin lagi. Kuamati diriku di dalam cermin.
Aku cantik kok, dasar emang dia aja nggak suka aku dekat Bram. Atau jangan-jangan itu perempuan suka sama Bram? Hmmm.. Tidak bisa kubiarkan ini.
Aku berjalan menuju gazebo. Kulihat Bram asik mengobrol dengan dokter Danang. Sedangkan dua perawat tadi duduk di dekat gazebo.
Aku berjalan santai melewati mereka dan kulihat perempuan bernama Sally melihatku dengan muka manyun. Sedangkan yang bernama Tasya tersenyum kepadaku.
Aku langsung duduk di dekat Bram.
"Kak, aku nggak suka perawat yang bernama Sally itu, ganti saja sama perawat laki-laki," bisikku di telinga Bram.
Bram tersenyum mendengar bisikanku.
"Dok, saya minta ganti perawat yang laki-laki. Yang bernama Sally di ganti saja," ujar Bram langsung ke dokter Danang.
__ADS_1
Glek! Cepat sekali Bram mengambil keputusan?! Basa basi dulu kek, ngobrol dulu atau gimana. Huh! Pasti dokter Danang kaget mendengar omongan Bram setelah aku berbisik ditelinganya.
"Eh, iya Pak Bram. Nanti saya ganti," jawab dokter setengah kaget.
Begitu juga dengan dua perawat tersebut, apalagi yang bernama Sally. Pasti dia tidak menyangka akan digantikan secepat itu.
Rasain! Jangan sekali-kali kamu memusuhi aku. Aku kok jadi jahat gini ya..?
"Oke Pak Bram, saya permisi dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktunya. Permisi mbk Zanu," ujar dokter Danang sambil menyalami aku dan Bram.
"Sama-sama Dok," jawab Bram singkat.
"Hati-hati Pak Bram, jangan kerja terlalu berat atau beraktifitas berat yang bisa mengganggu kesehatan. Semoga lekas sembuh Pak,"
"Baik Dok. Saya akan ingat pesannya,"
Dokter Danang dan dua perawat tadi langsung berjalan menjauhi gazebo. Terlihat olehku Sally menatapku lagi dengan tatapan sinis.
Setelah semuanya pergi, tinggallah aku dan Bram.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu sampai tidak suka dengan perawat yang bernama Sally?" tanya Bram sambil membelai pipiku.
"Tadi saat aku di toilet, dia bersama temannya membicarakan tentang aku," jawabku.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Bram lagi.
"Masa' dia bilang aku nggak cocok sama Kakak? Seharusnya pasangan Kakak itu bukan aku. Tapi mungkin dianya yang mau sama Kakak," jawabku manyun.
"Ahai...! Ternyata kamu cemburu ya, kalau sampai aku didekatin si Sally itu?" tanya Bram.
"Nggak tuh! Biasa saja! Lagipula kan Kakak bisa minta perawat laki-laki, kenapa mesti perempuan?" tanyaku.
"Zanu, mereka itu kan di bawa oleh Dokter Danang. Pastilah mereka berdua sudah melewati tes dan yang terbaik dari perawat lainnya. Aku nggak mungkin nolak begitu saja, sama saja aku tidak menghargai rekomendasi Dokter Danang," jelas Bram.
"Iya sih, tapi kan...," aku berhenti bicara.
"Tapi karena kamu cemburu. Sudahlah, kita lupakan saja. Toh aku kan sudah minta ganti perawatnya. Hari ini aku tidak jadi berenang, tapi tubuhku terasa gerah," ujar Bram.
"Ya bawa mandi. Ini kan sudah sore,"
"Oke, sebelum mandi, kita makan kue ini dulu ya,"
Aku mengangguk.
Aku dan Bram mengambil kue dan buah-buahan. Tak lupa kita seruput jus yang di bawa Pak Tio tadi.
Sekali-kali Bram mengacak poni dan memperhatikanku. Seakan Bram ingin mengatakan jika dia tidak ingin melewati moment ini terlalu cepat.
__ADS_1
...****************...