
Bram masih diam.
Sekali-kali aku melihat ke arah Bram. Aku tidak terbiasa dengan suasana seperti ini.
"Kak, aku mau turun di sini saja. Tolong hentikan mobilnya," aku mulai kesal dengan sikap Bram.
"Kenapa? Kamu tidak boleh turun di sembarangan tempat," jawab Bram sedikit ketus.
"Dari pada diam-diam gini. Aku tu nggak suka ya di diamin seperti ini. Kita harus bicara biar aku tau masalahnya di mana? Udah ah, aku mau turun!" jawabku kesal.
Tiba-tiba Bram menghentikan mobilnya secara mendadak. Aku terkejut melihat sikap Bram. Tidak biasanya Bram seperti ini.
Apa aku salah bicara ya?.
Bram menghela nafasnya secara pelan-pelan.
"Zanu, kenapa kamu memaafkan mereka yang sudah jelas-jelas mereka mengganggumu?! Aku tidak mau kamu diperlakukan seperti itu! Aku tidak bisa! Dan ini juga salahku meninggalkanmu tadi sendirian! Huh..!" ucap Bram ketus.
Oh, ternyata itu masalahnya. Ya Tuhan, aku kirain apa. Posesif amat Bram ini.
"Kak.., memang mereka itu salah. Tapi mereka juga benar karena di ruangan tadi tidak bisa sembarangan orang yang masuk. Mereka juga tidak tau Kakak itu siapa. Kasian mereka, mereka sedang memiliki masalah yang pelik. Di saat seperti itu, rasanya terlalu kejam Kakak memecat mereka. Lagi pula mereka tidak menyentuhku. Aku juga terlalu berlebihan karena rasa takutku lebih besar ketimbang menghindar. Dan aku tidak menyangka tanggapan Kakak seperti tadi," ujarku mulai melunak.
"Entahlah, aku hanya takut jika terjadi sesuatu sama kamu. Makin kesini aku makin berlebihan terhadapmu. Maafkan aku,"
"Iya, aku maafkan. Tapi Kakak harus janji, kalau ada masalah, jangan kedepankan emosi dulu. Di cerna baik-baik masalahnya apa, selanjutnya cari solusi. Terkadang ada juga masalah yang tidak bisa diselesaikan. Solusinya menghindar, melupakan atau di jalani saja,"
Bram mengangguk.
"Oiya.., tadi kenapa Kakak bilang aku calon istri? Nggak salah ngomong tuh?" tanyaku ke Bram.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan calon istri. Harusnya, aku mengatakan kamu adalah istriku," lirik Bram mulai menggodaku lagi.
Suasana hati Bram sudah kembali seperti semula. Senang rasanya melihat Bram bisa tersenyum lagi.
"Zanu, Lama sekali kamu selesai kuliah? Aku tinggal satu semester lagi selesai dan sudah cukup umur untuk menikah. Apa tidak bisa aku menikahi kamu secepatnya?" tanya Bram serius.
Deg! Kenapa pembicaraan ini malah ngelanturnya ke pernikahan? Aku baru kuliah dan baru mengenal Bram. Orang tuaku pasti tidak mengizinkan.
"Sabarlah Kak. Aku selesaikan kuliahku dulu. Lagipula, umurku masih belasan tahun. Terlalu dini aku memikirkan tentang pernikahan," jawabku.
"Kemungkinan besar setelah kuliahku selesai, aku akan ke Amerika. Aku tidak ada di sini lagi. Dan itu bearti kita akan berjauhan. Aku tidak bisa menjagamu terus dan tidak bisa bertemu dalam waktu yang lama. Jika sekarang aku menikah denganmu, maka kamu ikut aku ke Amerika. Tapi kalau belum bisa, aku akan menunggumu sampai kuliahmu selesai,"
Hah! Ke Amerika? Secepat itukah Bram akan pergi? Sekitar satu setengah bulan lagi Bram wisuda, bearti hanya itulah waktu yang tersisa untuk aku bisa melihat Bram?
Tiba-tiba air mataku menetes.
Entah kenapa aku jadi cengeng? Tidak tau, kenapa tiba-tiba ada perasaan sedih di hatiku.
Dengan cepat aku menyeka air mataku supaya Bram tidak melihatnya. Ternyata dugaanku salah.
"Kamu menangis? Kamu takut ya aku akan pergi jauh?"
Bram mendekatkan wajahnya dan melihat mataku. Ada sisa air mata di sudut mataku. Aku tidak bisa menghindar dari Bram.
Bram langsung menyeka sisa air mataku.
"Kamu jangan menangis. Walau nanti kita jauh, kita masih bisa komunikasi. Lewat telepon atau surat. Aku tidak akan macam-macam selama di sana, oke,"
"Iya Kak," jawabku singkat.
"Sekarang kita lanjutkan perjalanan ini istriku?" ujar Bram sambil mengacak-acak rambut depanku.
"Oke. Mari kita go...!" jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nah, gitu dong sayang! Aku jadi semangat lagi. Kita harus cepat sampai ke kost, nanti Atif kelamaan nungguin aku,"
Aku mengangguk.
*******
Bram menghidupkan mobilnya kembali. Mobil melaju ke arah kost aku.
Selama perjalanan, Bram memberikan beberapa teka-teki untukku. Terkadang jawabannya tidak masuk di akal bahkan ngasal.
Sebenarnya Bram berusaha menghiburku dengan memberikan lelucon dalam teka-teki. Paling tidak rasa sedih tadi terlupakan sejenak olehku.
Aku dan Bram tertawa mendengar celotehan-celotehan kami berdua.
Beberapa menit kemudian, kita sampai di kost. Mobil Bram langsung masuk ke halaman depan kost. Kita berdua langsung turun dan berjalan menuju ruang tamu.
Kebetulan pintu ruang tamu terbuka yang menandakan ada tamu yang datang. Di pastikan itu adalah Atif.
"Assalammu'alaikum," ucapku.
"Waa'alaikum salam," terdengar suara Prita dan Atif barengan.
Aku dan Bram masuk ke dalam. Terlihat wajah sumringah Prita saat menyambutku.
Hmmm, pasti Prita sedang berbunga-bunga. Keinginannya untuk bertemu Atif terkabulkan.
"Maaf Atif, kita sedikit terlambat ke sini," ujar Bram.
"Oh, tidak apa-apa Ketua," jawab Atif segan.
"Ada tiga box roti di bagasi mobil, tolong bawakan ke sini ya,"
"Baik Ketua,"
"Ketua dan Zanu, saya mau ke dalam dulu ambil minuman ya..," ujar Prita.
"Tidak usah repot-repot Prita, kan ada Bibi. Prita di sini aja," jawabku dengan cepat.
Prita hanya mengangguk.
"Begini Prita, kita dapat roti dari Ketua. Nah, kalau bisa roti-roti tersebut kita promosikan ke yang lainnya. Rotinya enak banget lho Prita, coba deh nanti," ucapku bersemangat.
"Oiya? Aku suka banget makan roti. Ada tuh roti favorit aku, biasanya suka dibeliin Mamaku dari Mall atau supermarket. Kalau nggak salah nama rotinya Kembang,"
"Hah?! Iya emang itu rotinya Prita. Kita di beri Ketua buat anak-anak kost sini," ujarku sedikit kaget.
"Lha.. Roti Kembang ya? Duh, senang banget lho bisa dapatin roti itu. Rotinya enak banget, sayangnya belinya hanya ada di tempat-tempat tertentu saja,"
"Justru itu, karena orang-orang belum tau semua tentang roti Kembang, kita bantu promosikan Prita," jawabku.
"Aman itu Zanu. Urusan begituan kecillah..,"
Aku tersenyum mendengar ucapan Prita. Sedangkan Bram hanya menyimak saja mendengar pembicaraanku dengan Prita.
Atif masuk dengan membawa tiga box roti dan meletakkannya di atas meja. Terlihat Prita antusias sekali melihat roti-roti tersebut.
Aku juga mengakui, kalau roti-roti buatan pabrik Bram ini memanglah enak. Semoga kedepannya lebih laris lagi.
"Terima kasih Atif," ujar Bram singkat.
"Sama-sama Ketua," jawab Atif.
"Oiya, urusan Atif sama Prita apa sudah selesai? Kalau sudah, saya pamit sama Atif untuk pulang," tanya Bram.
__ADS_1
"Sudah Ketua. Kalau ada keperluan lainnya, bisa saya telepon Prita atau mampir lagi ke sini," jawab Atif.
Prita tersenyum-senyum melihat Atif.
Kira-kira tadi mereka membicarakan apa saja ya? Kok aku jadi penasaran.
"Eits! Urusan kita yang belum selesai Ketua," celetukku tiba-tiba ke Bram.
Bram menoleh ke arahku.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Bram.
"Ayok sini kita keluar dulu," aku langsung menarik tangan Bram ke teras depan.
Bram kaget dan heran denganku. Atif dan Prita hanya tertawa kecil melihat tingkahku.
"Ada apa Zanu? Sepertinya penting sekali sampai kita harus ngobrol di luar," tanya Bram.
Aku menghela nafas sejenak.
"Kak, terima kasih ya untuk hari ini. Walau aku sedikit sedih dengan informasi Kakak tadi, tapi aku tetap senang bisa jalan-jalan bersama Kakak," ujarku sedikit malu-malu.
"Oh.., aku kirain apa. Iya, sama-sama. Kamu jangan sedih-sedih lagi ya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, oke," jawab Bram.
Aku mengangguk dan tersenyum. Bram mulai mengacak rambutku lagi. Sepertinya itu sudah menjadi ciri khasnya Bram terhadapku.
"Kak, kenapa suka sekali mengacak dan membelai rambutku?" tanyaku penasaran.
"Itu cara mengungkapkan perasaanku, kalau aku sayang sama kamu. Atau kamu mau lebih lagi dari itu?" lirik Bram mulai sedikit genit.
"Maksudnya? Emang ada cara lain lagi gitu?" tanyaku heran.
"Kamu tu ya Zanu, emang lugu dan nggak mengerti apa-apa. Udah ah, jangan difikirkan. Ayok kita masuk ke dalam, nanti mereka menunggu kita lama," ujar Bram.
"Nggak! Jawab dulu pertanyaanku barusan, baru boleh masuk ke dalam," aku mulai cemberut.
"Zanu.., maksud aku tadi cara lain yaitu di cium. Kamu mau aku cium? Nggak mau kan? Makanya jangan suka tanya-tanya, kalau itu tidak perlu aku jawab," Bram geleng-geleng kepala melihatku.
"Ya ogah ah..! Awas ya kalau Kakak berani-berani cium aku," aku sedikit mengancam Bram.
Bram malah tersenyum melihatku.
"Udahlah. Hari sudah mulai sore, kasihan Atif dari tadi menungguku," Bram menarik tanganku.
Aku hanya diam dan mengikuti Bram masuk ke dalam ruang tamu.
"Ayok Atif kita pergi sekarang. Prita, saya sama Atif pamit dulu ya. Kapan-kapan kita bisa mampir lagi ke sini," ujar Bram ke Prita.
"Baik Ketua, terima kasih ya," jawab Prita.
"Yok mari Dek Prita dan Non Zanu, saya ikut pamit juga," ujar Atif.
Aku dan Prita mengangguk. Bram dan Atif keluar ruangan langsung menuju ke mobil. Atif langsung masuk ke dalam mobil bagian kemudi.
"Zanu, aku pulang dulu ya, bye," ujar Bram dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ketua, terima kasih ya rotinya,"
Bram mengangguk ke arah Prita. Lalu Bram melihatku sejenak sambil tersenyum. Aku membalas senyuman Bram.
Mobil melaju keluar dan hilang dari pandanganku.
Bram, aku sebenarnya masih kangen lho..
__ADS_1
...****************...