Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 148 : Hampa


__ADS_3

"Baiklah Kak, Zanu duluan. Jangan lupa beri kabar ya Kak, kalau nanti mau berangkat ke Amerika. Zanu titip suratnya," gedung Fakultasku sudah dekat.


"Iya Zanu, nanti Kakak hampiri ke kelas kamu kalau tidak bertemu di tempat lain," jawab Ibas.


Aku membalasnya dengan senyuman dan terasa hatiku plong, lega dan bahagia. Rasanya tidak sabar ingin bercerita ke Bram mengenai keseharianku di dalam surat. Dan bercerita tentang betapa aku sangat merindukannya.


Sesampainya di kelas, aku duduk dibarisan belakang. Entah mengapa perhatianku tertuju pada Ricard yang duduk di barisan paling depan. Tidak terlihat sama sekali ia menegur atau melihat kearahku.


Mungkin hari ini dia lagi badmood.


Kuliah hari ini berjalan seperti biasanya dan lagi-lagi aku belum memiliki teman. Selama di kampus, aku lebih banyak menyendiri. Bukannya sombong atau tidak mau berbaur dengan yang lainnya, tapi sudah terlanjur di awal aku selalu bersama Bram. Jadi antara aku dan teman-teman kampus tidak saling mengenal dan mereka tidak mau mendekat.


Mungkin ada diantara mereka yang kesal melihat kedekatanku dengan Bram. Atau mereka tidak mau mengusik kehidupan Bram dan bisa jadi mereka memang menjaga jarak dariku dikarenakan penjagaan dari Bram melalui bodyguardnya. Entahlah..


"Hei Zanu, kamu mau pulang? Aku antar yuk," ujar Ricard yang tiba-tiba sudah berada disampingku.


Aku kaget sekaligus bingung harus menjawab apa.


"Maaf, aku naik Bus saja Ricard," aku menolaknya.


"Baiklah, aku duluan ya," Ricard tersenyum dan langsung berjalan mendahului. Tidak ada sedikitpun raut wajah kecewa di wajahnya.


Aku melangkah ke luar kampus menuju halte. Setelah beberapa menit kemudian, Bus datang. Aku naik dan untungnya masih ada bangku kosong.


*********


Sesampainya di kost, aku melihat ada mobil asing yang terparkir di garasi kost. Pintu utama ruang tamu sudah terbuka dan terdengar suara gelak tawa dari dalam. Aku berpikir positif thinking, bisa jadi ada teman atau keluarga anak kost yang mampir. Aku bergegas berjalan ke dalam kost melewati pintu samping. Terasa sekali tubuh dan pikiranku lelah.


Saat memasuki dapur, terlihat Kak Sasa datang sambil membawa nampan air minum.


"Hei Zanu, lama sekali kamu pulangnya?" Ada tambahan mata kuliah?" tanya Kak Sasa sambil meletakkan nampan dan cuci tangan.

__ADS_1


"Nggak Kak, memang hari ini agak lama kuliahnya. Itu tamu siapa Kak?" tanyaku hendak pergi menuju ke tangga.


"Itu Ricard, dia memberitahukan kita kalau Mami sudah pulang tadi pagi. Sekarang sudah berada dirumahnya. Ternyata anaknya asik juga, kita ngakak terus dari tadi mendengar ceritanya," jawab Kak Siska antusias. Terlihat sekali ia senang dengan kehadiran Ricard.


"Oiya udah duli Kak, Zanu mau ke kamar. Capek banget badan, mungkin lagi masuk angin,"


"Zanu, besok rencana kita mau ke rumah Mami. Kamu ikut ya," ajak Kak Siska.


"Baik Kak, lihat jadwal kuliah Zanu. Kalau bentrok, maaf nggak bisa ikutan," jawabku.


"Oke, tidak apa-apa,"


Aku melangkahkan kaki menuju ke lantai atas. Masih terdengar gelak tawa teman-teman bersama Ricard yang berada di ruang tamu.


Sesampainya di kamar, aku meletakkan tas dan langsung berbaring di atas kasur. Terasa lega sekali bisa memanjakan tubuh ini di atas kasur yang empuk.


Aku ingat keluarga di Prn. Rindu sekali rasanya ingin bertemu. Dua hari lagi baru bisa balik ke rumah.


*********


Aku terbangun saat waktu menunjukkan jam lima sore. Kulangkahkan kaki menuju ke kamar mandi untuk wudhu, lalu sholat ashar.


Setelah sholat, mandi dan mengganti baju, aku turun ke lantai bawah menuju ke dapur untuk mengambil air minum.


"Hei Zanu, kamu ketiduran ya? Tadi Ricard nanyain kamu lho," ujar Kak Rosi yang tiba-tiba masuk ke dapur. Ia mengambil gelas yang berada di dekat aku berdiri.


"Iya Kak, hari ini teras capek sekali. Bawaannya pengen tidur aja. Ricard sudah pulang?" tanyaku basa-basi. Aku sudah tau kalau Ricard sudah pulang dikarenakan tidak ada lagi suara riang gembira anak kost.


"Sudah. Oiya, besok rencana kita semua mau mengunjungi Mami dirumahnya. Kita sepakat pergi ke sana jam empat sore. Rumah Mami tidak terlalu jauh dari sini, jadi kita bisa jalan kaki saja," Kak Rosi mengambil air minum yang ada di dalam teko.


"Oke Kak, lihat besok keadaan Zanu ya. Hari ini terasa tidak enak badan," jawabku.

__ADS_1


"Iya Zanu, tidak apa-apa. Semoga besok kamu bisa ikut, cepat sembuh ya," Kak Rosi berlalu sambil membawa gelas berisi air minum.


Aku juga sudah mengambil air dan membawanya ke teras depan melalui pintu samping. Terlihat kolam renang yang selalu kosong. Teringat kenanganku bersama Prita yang pernah bercengkrama dan berenang di kolam itu. Tidak menyangka sekarang sudah berlalu dan tidak akan mungkin terulang kembali.


Aku duduk di teras depan dan meminum air putih sambil melihat keluar. Terlihat angkot, bus dan kendaraan umum sibuk bolak balik di luar pagar kost Mami. Teringat akan Bram yang mengantarkanku sampai teras depan ini, mengobrol dan menunggu. Kenangan itu masih tajam diingatanku. Semakin diingat, semakin terasa sedih itu. Ditambah lagi Bram tidak ada komunikasi denganku hari ini.


Mengapa Bram tidak meneleponku lagi? Apa terjadi sesuatu? Atau dia sedang berusaha untuk melupakanku?


Hari mau masuk magrib, aku langsung ke dalam kost dan menunggu adzan di dalam kamar. Akhir-akhir ini aku malas berinteraksi dengan orang lain, terasa hati masih kosong.


*********


Waktu berganti, hari demi hari sudah terlewati dengan rutinitas yang sama setiap harinya antara kost dan kampus. Aku tidak bisa ikut menjenguk Mami, dikarenakan ada tugas kelompok di luar kampus. Aku juga tidak melihat Ricard berada di kampus.


Hari yang kutunggu-tunggu datang, aku pulang ke kota Prn. Seperti biasa, Papa menjemputku di terminal.


"Bagaimana kuliah Zanu nak?" tanya Papaku sambil menyetir.


"Alhamdulillah baik Pa. Kemaren Zanu ada tugas kelompok di luar kampus. Ternyata seru juga, banyak ilmu yang bisa Zanu dapatkan dari sana," jawabku antusias.


"Tugas apa itu?" tanya Papa lagi.


"Ke kantor Pengacara Pa, mencari data-data kriminal dan sekaligus solusi untuk menangani kasus tersebut. Zanu mendapatkan data kasus mengenai pembunuhan berencana,"


"Ih seram. Apa Zanu tidak takut menangani yang begituan? Belum lagi yang aneh-aneh kasusnya," Papa merasa bergidik mendengar ucapanku.


"Tidak Pa, kan didampingi Dosen. Nanti kita diberi kebebasan untuk berpendapat asal bisa menjawab pertanyaan -pertanyaan dari Pengacara. Jika jawaban kita salah atau tidak sesuai dengan isi undang-undang kriminal, Pengacaranya langsung menjelaskan termasuk solusinya. Buat Zanu malah mengasikkan Pa, otak jadi terasah dan menjadi tantangan yang keren,"


"Yah, selagi menurut Zanu itu aman, Papa tetap mendukung. Oiya, bagaimana kabar Bram? Apa sudah berangkat ke Amerika?" tanya Papaku mengalihkan pembicaraan.


Deg! Aku harus menjawab apa ke Papa? Tidak ada kabar lagi dari Bram yang sudah hampir seminggu di sana.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2