
Tak!
Tak!
Aku menuruni tangga dan terlihat Bram sudah menungguku di bawah. Dengan mata yang berbinar dan terperangah, Bram memperhatikanku dari kepala sampai kaki. Terlihat ia begitu haru melihatku. Aku melihatnya mau menangis!
Ada apa? Baru kali ini aku melihat Bram menangis.
Dengan cepat Bram menyeka sudut matanya agar air mata itu tidak tumpah dan terlihat olehku.
"Kamu, kamu terlihat sangat cantik sayang, aku jadi pangling," ucap Bram gugup sambil menjulurkan tangannya untuk menyambutku turun dari tangga.
Aku tersenyum melihat Bram yang salah tingkah. Biasanya Bram hanya melihatku memakai baju kaos lengan pendek dan jeans, malam ini aku terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Bram malam ini terlihat sangat keren dan tampan dengan stelan tuxedo berwarna hitam yang dilapisi kemeja putih. Stylenya tidak terlalu formal karena tuxedo yang digunakan Bram memiliki ulir garis-garis yang samar dengan warna senada.
Dengan cepat Bram mengambil sesuatu dari kantong celananya. Aku memperhatikan tindakan Bram.
Ternyata di tangan Bram terdapat kotak berwarna pink berukuran sedang dan ia membukanya.
Cling!
Ternyata itu seuntai kalung yang memiliki liontin berbentuk oval. Dan aku pastikan kalau itu adalah kalung berlian dilihat dari kilauannya yang sama dengan cincin yang aku kenakan.
Tiba-tiba aku teringat, belum memakai gelang berlian pemberian Bram. Gelang itu masih ada di dalam ranselku.
"Ini untukmu Zanu, aku kenakan langsung ya," ujar Bram, ia membuka kaitan kalung dan memasangkannya ke leherku dari belakang.
Dekatnya wajah Bram ke leher belakangku, membuat perasaanku bergidik. Ditambah lagi helaan nafas Bram yang terhembus beberapa kali mengenai leherku.
Aku segera menepis perasaan itu dan berusaha tenang. Setelah selesai, Bram mengecup leherku dengan lembut. Seketika hatiku bergetar hebat dan mematung.
"Aku sangat mencintaimu Zanu," Bram mengucapkan kalimat itu tepat di telingaku dengan lirih dan penuh harap.
Tidak ingin larut dalam perasaan, Bram segera membalikkan tubuhku menghadap dirinya. Ia melihatku dengan seksama dan mencium keningku dengan perasaan kasih sayangnya selama ini.
"Kamu sangat cantik dan hanya kamu yang cocok dengan seorang bernama Bram. Aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain, kamu hanya untukku Zanu, ingat itu," Bram tersenyum dan langsung memelukku.
"Maafkan aku malam ini terlihat sedikit melow. Yok kita berangkat, nanti telat ke acara pestanya, tidak enak dengan Pak Jimmy," ajak Bram, melepaskan pelukannya.
"Iya, tapi gelangnya belum aku pasang Kak. Ada di ransel," jawabku.
"Oke, bentar, aku hubungi Pak Tio," Bram mengambil ponselnya dan menelepon Pak Tio.
"Tolong Pak, ambilkan ransel Zanu di kamar saya,"
__ADS_1
Klik!
Ponsel di matikan, kita menunggu kedatangan Pak Tio membawakan ransel.
Tidak berapa lama, Pak Tio datang membawa ransel dan memberikannya ke Bram.
"Terima kasih Pak," ucap Bram.
Pak Tio mengangguk dan ia langsung pergi keruang lain.
Aku membuka ransel dan merogoh kantong di dalamnya. Aku ambil kotak kecil dan kubuka. Bram meletakkan ranselku di sofa, lalu mengambil gelang dan memasangkannya ke pergelangan tanganku.
"Oke, sekarang kita pergi. Ranselnya biar saja di sini, nanti saat pulang baru di ambil,"
Bram menggandeng tanganku.
"Kamu sudah siap sayang? Malam ini kamulah bintangnya, tamu yang ditunggu-tunggu,"
"Apaan sih. Jangan bikin aku kege-eran lho," jawabku.
Bram tertawa. Ia membawaku ke teras depan, di sana sudah terparkir mobil keluaran terbaru. Aku tidak terlalu memperhatikan merk apa. Bram membukakan pintu mobil untukku dan setelah itu ia menuju bagian setir.
Mesin mobil dihidupkan, lalu kita berangkat keluar dari gerbang rumah Bram.
*********
Aku dan Bram masuk ke lobby hotel dan langsung menuju ke ballroom tempat diadakan pesta. Rangkaian bunga sudah terlihat dari awal masuk hotel sampai ke ballroom. Foto sang pengantin sudah terpampang segede gaban di depan pintu ballroom.
Pintu di buka oleh dua karyawan hotel. Aku jadi deg-degan, karena baru kali ini aku datang ke pesta semegah dan semewah ini. Untung Bram peka dengan kegelisahanku, ia langsung menggandeng tanganku saat masuk ke dalam.
Terlihat suasana pesta hiruk pikuk, kemilau lampu kristal menyeruak mengisyaratkan indahnya pesta di gelar. Para tamu undangan dengan berbagai fashion terkini, berkilau dan mewah, seakan ingin mengadu kegengsian si pemakainya.
Tiba-tiba suasana hening, hanya terdengar alunan musik yang lembut dan tenang.
Semua yang hadir menoleh dan memperhatikan kehadiranku bersama Bram. Seakan mereka terpesona akan sesuatu dan menurutku karena kehadiran Bram di sana.
"Nah, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Mr. Bram dan Nona Zanu. Silahkan," ujar tuan rumah yaitu Bapak Jimmy, menghampiri kita berdua.
Semua yang hadir bertepuk tangan.
Lho? Kenapa semua tepuk tangan? Apa Bram artis? Aneh.
Pak Jimmy menyalami Bram dan memeluknya. Terlihat ia sangat senang dan sumringah menyambut kehadiran Bram.
"Wow! Ini dia pasangan Mr. Bram, tidak salah pilih Bos kita ini. Selamat datang Non Zanu," Pak Jimmy menyalamiku, aku menyambutnya.
__ADS_1
"Mari ikuti saya Pak Bram, saya sudah siapkan tempat khusus," ajak Pak Jimmy.
Aku dan Bram mengikuti jalannya Pak Jimmy. Sepanjang jalan, para tamu memperhatikan dan berbisik-bisik.
"Oo.., itu pasangannya Pak Bram, cantik sekali," ujar salah satu dari mereka.
"Beruntung sekali dia,"
"Siapa sih perempuan itu? Mereka bertemunya di mana ya?"
"Mr. Bram bisa juga ya jatuh hati dengan perempuan ini,"
Dan akhirnya aku dan Bram dipersilahkan duduk di bagian terdepan. Pak Jimmy memanggil istrinya.
"Hallo Pak Bram, Nona Zanu. Selamat datang di pesta anak kami," ujar istri Pak Jimmy menghampiri kita berdua.
Aku dan Bram mengangguk dan tersenyum.
"Silahkan Pak Bram menikmati acara dan jika ingin makan, silahkan request dengan karyawan itu," istri Pak Jimmy menunjuk salah satu karyawan yang berdiri di belakang.
"Iya Pak, Ibu. Terima kasih sudah menyambut saya dan Zanu," jawab Bram.
"Justru kita yang berterima kasih karena Pak Bram bersedia meluangkan waktunya untuk menghadiri pesta anak kami," jawab istri Pak Jimmy.
"Benar, pesta terasa lengkap dengan kehadiran Pak Bram. Oke Pak Bram, Non Zanu, kita tinggal dulu. Kita berdua harus duduk di pelaminan menemani pengantin, he..he..he..," ujar Pak Jimmy.
"Silahkan Pak, Ibu," jawab Bram.
"Mari,"
Pak Jimmy dan istrinya naik ke pelaminan. Acara dimulai lagi dengan menyuguhkan tarian khas kota P. Aku dan Bram menikmati suasana pesta. Terlihat Bram begitu bahagia dan terus memperhatikanku.
"Kak, jangan di liatin terus, malu. Aku jadi nggak enak," aku berbisik ke arah Bram.
"Kamu cantik sekali Zanu. Aku tidak bosan melihatnya,"
"Iya, tapi aku jadi malu. Hampir semua ada di sini memperhatikan kita berdua,"
"Tuh, benar kan apa yang aku bilang tadi. Nanti kamu akan jadi pusat perhatian. Mereka ikut terpesona melihat kecantikanmu,"
"Jangan terlalu berlebihan memujiku Kak, nanti aku melayang, ha..ha..ha.. Mereka di sini cuma penasaran dengan Kakak. Justru mereka terpesona dengan kehadiran Kakak di sini,"
"Ya itu wajar. Karena mereka tau siapa aku. Dan mereka juga penasaran siapa yang menemani aku ke pesta ini. Biasanya aku tidak pernah membawa perempuan lain kecuali kamu Zanu," jawab Bram.
Aku cuma diam mendengar ucapan Bram. Aku bingung, apakah harus bahagia dengan pernyataan Bram atau aku sedih karena semua ini akan berakhir.
__ADS_1
Suara musik melow mulai dilantunkan. Pengantin turun dari pelaminan dan mereka berdansa mengikuti alunan musik.
...****************...