Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 34 : Perkemahan Berakhir


__ADS_3

Tin.. Tin.. Tin..


Pak Jack menekan klakson saat memasuki halaman rumahnya. Terlihat istri Pak Jack keluar dari pintu depan.


Kita turun dari mobil dan berjalan menuju teras depan. Aku mengikuti Bram duduk di kursi teras. Sedangkan Pak Jack dan istrinya langsung masuk ke dalam. Mungkin mereka mengerti kalau Bram ada kepentingan sebentar denganku. Mungkin.


"Zanu, kamu langsung tidur ya. Aku lagi ada urusan sebentar. Nanti aku juga tidur di sini. Besok kita bersiap-siap untuk berberes di perkemahan karena siangnya kita balik lagi ke kampus," penjelasan Bram.


"Baik Kak. Oiya, ini jaketnya Kakak, terima kasih sudah mau meminjamkannya," ucapku sambil membuka jaketnya Bram.


"Itu buat kamu saja. Punyaku masih ada dan ransel ini tolong di pegang dulu ya.. Besok mau di bawa,"


"Oke, aku ke dalam dulu ya Kak..," ujarku sambil berdiri dan berbalik arah.


"Tunggu Zanu," panggil Bram.


Bram berdiri dan menghampiriku.


"Good night...," ujar Bram sambil mencium keningku.


OMG! Aku terpaku diam saat melihat Bram. Dan perasaanku langsung berubah jadi tak tenang. Aku berusaha menenangkan hati dan menyadari apa yang terjadi.


Aku malu. Aku bergegas langsung masuk ke dalam. Tak kuasa rasanya aku melihat tatapan Bram.


Apakah aku harus marah dengan tindakan Bram atau aku senang?


Aku langsung masuk ke kamar. Dan duduk sejenak untuk menenangkan jantungku yang sedang berpacu.


Rilex Zanu! Tarik nafas dalam-dalam Zanu, Oke.


Menit demi menit aku mulai tenang dan fokus apa yang akan aku lakukan sekarang. Aku mulai beres-beres barang yang mau di bawa besok. Lalu aku ke luar kamar menuju kamar mandi. Setelah cuci muka, gosok gigi dan bersihin kaki, aku balik lagi ke kamar.


Sebelum sampai kamar, terdengar suara sayup-sayup orang yang sedang mengobrol di ruang tamu. Mungkin itu Bram bersama body guardnya sedang membahas sesuatu.


Aku menuju kamar dan rebahan di atas kasur. Sudah beberapa kali aku menguap, rasa kantuk mulai menerpaku. Kulihat sejenak cincin pemberian Bram. Cincin yang tersematkan satu permata yang indah sesuai dengan orang yang memberikannya.


Akupun tertidur.


********


Tok! Tok! Tok!


Ada yang mengetok pintuku. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul lima subuh.


"Non Zanu, sudah azan," terdengar suara Ibu Laura dari balik pintu.


"Iya Bu, bentar lagi saya keluar," jawabku.


Aku bergegas beres-beres tempat tidur. Lalu aku keluar dan langsung menuju kamar mandi. Ternyata di depan kamar mandi ada Bram.


Aduh..! Kenapa kita bisa ketemunya di kamar mandi sih..? Ngantri pula, hadeh...

__ADS_1


"Eh, Zanu baru bangun? Mau wudhu ya?" tanya Bram saat melihatku datang.


"Iya. Kakak mau ngapain di sini?" tanyaku singkat dan cuek.


Duh malunya, mana lagi kusut ini rambut sama muka. Bram nya malah cakep saja walau baru bangun tidur. Aku balik dulu nggak ya ke kamar?


"Samalah kita, tapi mesti ngantri dulu. Aku sakit perut nih, semalam makan nasi bungkus, cabenya kebanyakan," ujar Bram sambil pegang perut.


Walah, sepertinya aku mesti balik deh ke kamar lagi. Ini pasti lama urusannya, nunggu Bram kelar.


Tuuuttt....!


Terdengar bunyi irama yang panjang.


Ya Tuhan! Bram kentut! Duh, pasti dia malu. Mana bau lagi, ha..ha..ha...


Aku pura-pura nggak dengar, tapi aku beranjak sedikit menjauhi Bram. Eh, Bram malah tertawa.


"Bau ya. Ha..ha..ha..," tawa Bram.


"Iya bau ah! Aduh, siapa sih di dalam?" ujarku kesal sambil menutup hidung.


Bram malah tertawa lagi melihat responku.


Tuuuutttt.... Tttuuut... Bretttt...


Ha..ha..ha..ha..ha... !


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ternyata Pak Jack di dalam. Tidak pakai lama, Bram langsung masuk. Pak Jack tersenyum melihat Bram. Mungkin Pak Jack juga mendengar suara kentut Bram yang berbunyi cukup keras.


"Aku duluan ya," ujar Bram.


Aku mengangguk. Aku berbalik arah menuju kamar. Lebih baik menunggu di kamar, pikirku.


********


Setelah selesai sholat dan mandi, aku ke ruang makan. Tadi Ibu Jack sudah memanggilku untuk gabung bersama di meja makan.


Terlihat Bram sudah duduk di sana lebih dulu. Bram terlihat sangat fresh dan keren. Stelan baju kemeja biru lengan pendek dengan celana jeans hitam panjang. Dia tersenyum padaku dan mempersilahkan duduk disampingnya.


"Maaf tadi Zanu," ujar Bram malu-malu sambil nyengir.


Aku tersenyum. Lucu saja kalau di ingat tadi kelakuannya Bram.


Pak Jack dan Ibu, Laura juga ikut gabung di meja makan. Sarapan kita kali ini yaitu nasi goreng pakai telur dadar dan sosis. Airnya teh manis panas. Menu yang menggugah selera pagi ini.


Setelah selesai makan, aku dan Bram di antar Pak Jack ke perkemahan. Sedangkan body guard Bram baru mulai sarapan.


Aku dan Bram sudah sampai di perkemahan. Terlihat semuanya sedang sibuk berkemas. Tapi masih ada juga yang pergi mandi dan sarapan. Aku tetap berada di samping Bram kemanapun dia berjalan. Seperti biasa, ada banyak mata yang memperhatikan. Aku sudah mulai terbiasa.


"Zanu, nanti pulang kita satu Bus lagi. Tidak apa-apa ya?" ujar Bram.

__ADS_1


"Baik Kak," jawabku.


"Oiya, ranselku masih utuh kan isinya?" tanya Bram.


"Masih, kenapa memangnya Kak?"


"Tidak ada apa-apa. Isinya banyak data dan surat penting. Tapi kalau sempat kamu lihat juga tidak masalah," jawab Bram tersenyum padaku.


"Handuk Kakak, aku pinjam. Mungkin masih sedikit lembab abis di pakai buat mandi tadi,"


"Ambil saja, buat kenang-kenangan,"


Aku mengangguk.


Dari kejauhan aku melihat sepasang mata terus memperhatikanku. Dengan sedikit hati-hati aku mengamati sosok tersebut.


Ternyata itu Lutfa adiknya Sari! Aku takut, kira-kira apalagi ya yang ingin dia lakukan ke padaku? Apakah Bram sudah peringatkan atau bagaimana? Aku mulai gelisah.


"Kak, kita ke tenda Prita yuk. Ada yang mau aku bicarakan," ujarku ke pada Bram dengan gelagat yang tenang.


"Ada apa Zanu? Bentar lagi aku mau memberikan instruksi terakhir,"


Aduh! Bagaimana ya jelasinnya ke Bram. Kalau aku bisik-bisik, cewek itu pasti lihat. Aku sudah berusaha rileks dari tadi di dekat Bram.


Ah peduli amatlah ya!


Aku beranikan diri menarik tangan Bram ke balik pohon besar. Bram sedikit kaget dengan tingkahku. Tapi Bram tetap menurut tanpa perlawanan.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang pentingkah? Kenapa harus di balik pohon ini?" tanya Bram heran.


"Kak, aku melihat adiknya Sari, dari tadi memperhatikan aku terus. Aku takut Kak. Ntar kenapa-kenapa bagaimana ini?" aku mulai gelisah.


Bram menarik nafasnya dalam-dalam dan memperhatikanku dengan seksama.


"Kamu jangan khawatir. Aku sudah awasi dia dari jauh. Anggotaku juga sudah bergerak. Selagi aku ada di dekatmu, semua akan baik-baik saja, oke," ujar Bram meyakinkanku.


"Tapi, aku takut Kak. Nanti di kampus bagaimana? Aku baru kuliah lho..," aku mulai menangis.


"Itu juga sudah aku urus. Rektor dan Dekan semua sudah tau. Jadi tunggu besok, akan di proses secepatnya. Sudah ya, jangan menangis," Bram tiba-tiba langsung memelukku.


Entah kenapa kali ini aku membiarkan Bram. Beberapa menit kemudian, Bram melepaskan pelukannya. Dan dia tersenyum.


"Yuk kita ke sana, tidak enak dilihat yang lainnya kita berdua-duaan di sini,"


Bram langsung berjalan ke perkemahan dan di ikuti olehku dari belakang.


Tidak beberapa lama kemudian, semuanya berkumpul di lapangan. Kecuali panitia. Karena panitia ditugaskan untuk membongkar semua tenda yang akan di bawa Bus kampus.


Setelah mendengar instruksi Bram, semuanya di bubarkan. Sebelum pulang diharuskan mahasiswa membersihkan lapangan dengan cara mengumpulkan atau memungut sampah yang ada.


Setelah semuanya beres, saatnya untuk menunggu kedatangan Bus penjemputan. Aku tetap berada di samping Bram. Dan kemungkinan akan satu Bus lagi bersama Bram.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2