Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 58 : Berenang


__ADS_3

Beberapa menit kemudian.


Tok,tok,tok!


tok,tok!


Prita langsung membuka pintu. Aku kaget lagi melihat aksi Prita. Kenapa Prita bukain pintunya? Siapa tau itu pria asing tadi?


"Ayo Zanu, ikut aku!" ujar Prita sambil menarik tanganku kembali sampai keluar toko.


"Mau kemana ini Prita?" tanyaku sedikit cemas.


"Ikut saja, nanti kita ceritanya," jawab Prita tegas.


Kulihat di depan Prita ada pria asing lain lagi dengan perawakan sedikit berumur, sekitar umur 30 an. Prita mengikuti pria tersebut.


Apa itu penjaganya Prita ya?


Kita diarahkan ke seberang toko. Di sana, ada mobil yang sudah dibukakan pintu. Prita bergegas masuk dan aku ikut juga. Pria asing tadi tidak ikut kita, dia memberi kode ke driver untuk segera pergi.


Setelahnya pria tersebut menghilang dari kerumunan.


Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Hari ini perasaanku seperti masuk dalam sebuah film pengejaran target. Ala-ala mafia. Kulihat Prita menarik nafas dalam-dalam. Sedikit demi sedikit Prita mulai tenang. Aku hanya diam saja karena sedang menunggu penjelasan Prita sampai dia siap.


"Zanu, pria tadi yang mengetok pintu ruang ganti adalah suruhannya musuh Papaku. Untung penjagaku sigap dan langsung membawa kita ke mobil ini. Aku takut Zanu, mereka pasti mulai mencari-cari tau keberadaanku," ujar Prita dengan wajah sedih dan hampir menangis.


"Jangan sedih Prita. Pasti Papa kamu sudah memperhitungkan semuanya. Lain kali, kamu jangan keluar dulu ya. Berada di kost dan kampus saja seperti biasa,"


"Iya Zanu. Hari ini aku nggak bisa belanja, hehehe..,"


"Nanti pesan saja sama aku kalau mau beli sesuatu,"


Prita mengangguk. Aku merasa mulai tenang, walau sebenarnya di hatiku masih ada yang terganjal.


Apakah pria asing tadi bakal mengenaliku ke depannya? Bisa jadi aku yang bakal di pantau karena dekat sama Prita?


Entahlah..


********


Aku dan Prita sudah sampai kost. Sepanjang perjalanan, kita hanya ngobrol sedikit saja dengan driver karena aturannya memang seperti itu. Driver tidak akan bicara apapun jika tidak ditanyakan Prita.


Ternyata alasan kenapa Prita tidak mau mengendarai mobil sendiri karena takut dibuntuti atau di tabrak musuh. Makanya Prita lebih memilih naik Bus karena bisa berbaur dengan orang banyak.


Untuk penjagaan, Prita memiliki bodyguard di beberapa titik yang tinggal sekitar kost kita.


Mantap kan? Aku punya teman dan cowok yang memiliki bodyguard sendiri di zaman ini, hahaiii! Jangankan bodyguard, kita saja belum punya handphone lho.. Bram sudah punya, nggak tau deh Prita. Mungkin punya juga, cuma disembunyikan.


Eh, kira-kira Bram memiliki bodyguard apa alasannya karena punya musuh jugakah? Kalau sekedar pengawalan untuk bisnis, sepertinya tidak.


Hhmmm... Aku masih penasaran, Bram itu siapa dan ada apa?

__ADS_1


"Yuk Zanu turun. Jangan bengong terus," ujar Prita menggagetkanku.


Aku kaget dan reflek turun dari mobil.


"Thank you, tolong cari tau siapa tadi yang di toko. Lakukan sesuai prosedur," ujar Prita ke driver tersebut.


"Yes Mam. Permisi," jawab driver singkat.


Drivernya langsung balik dan tancap gas, seolah-olah menghindari penglihatan orang sekitar.


Seperti ninja saja drivernya, hahaha...


Aku dan Prita masuk. Kita pisah di tangga dan langsung menuju kamar masing-masing. Hari ini aku merasakan lelah. Lelah fisik, lelah fikiran tapi bukan lelah hati.


Karena hatiku masih normal tapi sedikit terusik dengan sosok Bram. Entahlah, disaat baru masuk ruang hidupnya Bram, masalah langsung timbul.


Bram, kita sebenarnya berjodoh nggak ya?


Aku rebahan di atas kasur dan langsung tidur.


********


Sabtu pagi yang cerah. Aku dan Prita sedang off kuliah karena ada jadwal yang sedang di atur ulang. Jadi di pastikan kita bisa bersantai sejenak.


Sebelum turun ke bawah, aku menyiapkan dulu barang-barang yang akan di bawa pulang kampung. Rencana sabtu siang ini aku mau pergi.


Pagi ini sebelum mandi, aku ingin berenang. Rasanya sudah lama tidak bersantai di kost ini. Dan view yang terbaik itu adalah di dekat kolam renang dikelilingi bunga-bunga serta pohon kecil. Mami kost rajin sekali merawat tanamannya.


Setelah ganti pakaian renang, aku langsung turun ke bawah. Tak lupa aku lilitkan handuk di pinggang. Terdengar sayup-sayup suara yang sedang bercengkrama di samping.


"Lho, kenapa semua pada ngumpul di sini? Apa tidak kuliah?" tanyaku sedikit heran, kenapa jadi barengan.


"Kita meliburkan diri Zanu, cape' kuliah melulu, hihihi," jawab Kak Siska.


"Iya, enakan libur sambil berenang. Sayang kan kolam Mami dianggurin gini," Mira ikut menimpali.


"Oiya, bagaimana kabar Ketua Zanu? Dengar-dengar Ketua hari ini demo ya?" tanya Kak Kinan.


Oiya ya, kok aku lupa. Semoga urusan Bram lancar.


"Eh iya, Kakak tau dari mana?" tanyaku balik.


"Lho, Zanu nggak tau ya, kenapa kita pada nggak kuliah? Itu karena demo hari ini, sekarang sedang berlangsung di kantor Gubernur. Kita ogah ikut, mending berenang dan bersantai," jawab Kak Kinan.


Aku langsung melirik Prita. Secara Prita merupakan keponakannya Gubernur, pasti dapat informasi yang lebih akurat.


"Udahlah ngobrolnya. Yuk kita berenang," ajak Prita untuk mengalihkan tatapanku.


Satu persatu mereka nyebur. Sedangkan aku hanya berani masuk ke dalam kolam dan menggoyangkan tangan sambil memegang pelampung yang sudah ada di kolam.


Terdengar riuh mereka dan obrolan-obrolan ringan sambil berenang. Sedangkan aku malah memikirkan Bram.

__ADS_1


Sepertinya kali ini perasaanku tidaklah enak. Aku takut terjadi sesuatu akan Bram. Aku berusaha menepis pikiran dengan mendayungkan pelampung menuju ke tengah kolam.


"Ayo Zanu, bergerak ke sini. Kamu masuk saja ke dalam pelampung dan dayung mengarah ke kita," teriak Prita.


"Oke bentar, aku atur dulu pelampungnya," jawabku sambil mengatur posisi.


Aku langsung masuk ke dalam pelampung dari arah bawah dan menaikkan kaki ke atas. Saat aku sudah mendayung menggunakan tangan dan kaki, tiba-tiba pintu samping di buka oleh Bibi.


"Non, Non Zanu, ada telepon," ujar Bibi sambil sedikit berteriak karena posisiku sudah berada di tengah kolam.


"Dari siapa Bi?" tanyaku.


"Katanya dari Atif Non,"


Hah! Atif? Tumben dia menelepon aku? Atau Bibi salah ya? Bisa jadi Atif mau teleponan sama Prita?


"Salah nggak Bi? Buat Non Prita mungkin," tanyaku sambil menggerakkan tangan menuju pinggir kolam.


"Enggak Non. Ini memang buat Non Zanu, katanya sangat penting, jadi segera di jawab," jawab Bibi.


"Oke Bi, bentar ya,"


Bibi mengangguk dan balik masuk ke dalam. Aku menaiki marmer pembatas dan langsung menarik handuk yang terletak di kursi santai yang ada di dekat kolam.


"Zanu, ada apa?" tanya Prita dari tengah kolam.


"Atif menelepon aku. Sepertinya sangat penting," jawabku.


"Oiya? Tumben,"


"Aku ke dalam dulu ya, lagi ditungguin,"


Prita mengangguk dan langsung berenang menuju pinggir kolam. Sepertinya Prita juga ingin tau, ada apa Atif sampai menelepon Zanu.


Apakah ada hubungannya dengan Bram?


Aku bergegas menuju pesawat telepon yang ada di ruang tamu.


Perasaanku kenapa jadi deg-degan gini ya? Tak seperti biasanya.


"Hallo?" ucapku pelan.


"Hallo Non Zanu, aku Atif," jawab Atif di seberang telepon.


"Iya Atif, ada apa ya?" tanyaku dengan perasaan yang semakin tidak karuan.


"Sekarang juga Non Zanu harus ke RSUP," jawab Atif tegas.


"Hah?! Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Kakak? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku dengan perasaan yang was-was.


"Maaf Non, aku tidak bisa jelaskan. Nanti di RSUP tau pastinya. Sekarang Non ditunggu, selamat siang," jawab Atif dan langsung mematikan telepon.

__ADS_1


Klik!


...****************...


__ADS_2