
Prita tau dari mana aku duduk di sini? Apa Bram yang beritau? Lewat siapa?
"Haii Zanu! Apa kabarnya?" ujar Prita sambil berlari kecil ke arahku.
"Baik Prita. Duh senangnya jumpa kamu lagi. Tau dari mana aku di sini Prita?" tanyaku balik.
"Kak Resa yang bilang. Kalau kamu lagi butuh teman ngobrol. Kamu seperti lagi di pingit ya Zanu, he..he..he...," jawab Prita.
"Yaa begitulah.. Perkemahan ini jadi berlalu begitu saja buatku. Oiya, kamu udah makan belum? Aku lapar banget Prita, dari tadi siang belum makan,"
"Waduh, makan malam belum datang, tahan saja dulu ya. Aku juga belum makan. Eh, dibelakangmu siapa sih? Dari tadi diam tanpa expresi?" tanya Prita sedikit heran.
"Itu Ketua yang suruh buat dia jaga aku di sini. Nggak tau buat apa?" jawabku sekenanya.
"Keren dong! Kamu punya body guard. Cakep juga tuh cowok, masih muda ya?" goda Prita sambil melirik orang suruhannya Bram.
"Ah kamu! Emang kamu tidak ada cowoknya? Kan di kampus banyak cowok Prita,"
"Aku saat ini belum punya cowok. Tapi sepertinya aku suka deh sama body guard kamu ini. Kenalin dong Zanu," mata Prita masih melihat cowok tersebut.
"Kalau mau kenalan, lewat Ketua saja. Kalau aku kagak kenal dia siapa,"
"Nanti tolongin dong bilangin sama Ketua ya. Bantuin aku Zanu, biar punya cowok juga. Kalau kamu beruntung lho, dapatnya Ketua. Mana cakep, pintar, kaya dan perhatian pula sama kamu," ujar Prita sambil memelas.
"Lihat nanti, tapi aku nggak janji,"
Prita mengangguk. Tak berapa lama, datang senior membagi-bagikan nasi bungkus. Sebelum acara api unggun di mulai, kita semua makan malam dulu.
Prita mengambil satu nasi bungkus lagi. Ternyata dia memberikannya ke cowok yang menjagaku dari tadi. Nekat sekali Prita.
Cowok tersebut menolak, tapi entah bagaimana ceritanya akhirnya nasi tersebut berpindah tangan.
"Zanu, aku sudah kenalan, namanya Atif," ujar Prita nampak bahagia.
"Katanya minta kenalin lewat Ketua? Ternyata nyelonong aja. Berani juga ya kamu Prita langsung minta kenalan. Dia sudah diberitau belum nomor telepon kost kita? Entar dia ngilang, kamu kelabakan nyari, ha..ha.." ujarku sambil ketawa.
"Sudah. Aku langsung suruh telepon saat nanti perkemahan ini berakhir. Nggak tau yaa.. Dia bakal nelpon atau tidak. Kalau tidak ada kabar, kan bisa minta tolong kamu buat nanyain ke Ketua, ha..ha..ha...,"
"Ah kamu Prita, malu-maluin tau. Sudah ah! Berdo'a saja semoga dia mau ngubungin kamu,"
Prita mengangguk. Aku dan Prita langsung makan nasi bungkus. Begitu juga si Atif ikut makan, tapi tetap berada di belakangku.
Setelah kita selesai makan, senior mulai membagikan snack dan minuman. Dari jauh aku melihat Bram kembali bersama anggotanya tadi. Raut wajahnya seperti serius sekali.
Dia menghampiriku dan Prita.
"Zanu, kamu jangan kemana-mana, tetap di dekatku, oke!" ujar Bram tegas.
Aku menggangguk. Prita terlihat sedikit kaget mendengar ucapan Bram barusan.
__ADS_1
Bram memerintahkan anggotanya termasuk Atif untuk berjaga di belakang kita. Lalu Bram memerintahkan senior untuk mengumpulkan semua mahasiswa mendekati api unggun.
Seperti biasa, Bram memberikan arahan dan isi acara malam ini. Ada berbagai antraksi yang ditampilkan oleh masing-masing tenda. Sehingga suasana semakin terlihat akrab satu sama lainnya. Begitu juga antara senior dan mahasiswa.
Suasana malam ini terlihat riuh, menyenangkan dan sedih. Setelah mendengar ceramah salah satu senior, hampir semua yang mendengar langsung menangis. Karena senior ceramah tentang perjuangan orang tua yang telah membesarkan kita hingga sampai bisa kuliah. Aku juga ikut menangis. Jadi teringat Papa, Mama dan Zuri di rumah. Hiks...
Kulihat Bram di sampingku terlihat biasa-biasa saja. Dan terlihat banyak diam. Dari tadi jarang bicara kepadaku, tidak seperti biasanya.
Ada apa dengan Bram? Apa dia mulai menghindar karena ucapanku tadi ya? Please Bram, jangan cuekin aku begini..
"Nih, hapus air matamu Zanu," ucap Bram tiba-tiba menyodorkan sapu tangan kepadaku.
Eh! Ternyata dia masih pedulikan aku.
Aku mengambil sapu tangan yang diberikan Bram. Tersentak aku mengingat kenangan yang sama. Kenangan bersama Abang yang memberikan sapu tangannya saat aku menangis.
Ya..! Saat itu aku menangis karena sedang bercerita tentang kepergian Tito temanku. Setelahnya, Abang juga ikut pergi dari dunia ini. Hiks..
Air mataku makin bercucuran. Tak kuasa aku terus terusan mengusap mata. Dan Bram ternyata memperhatikanku.
Tiba-tiba jemari Bram ikut menghapus air mataku yang terus merembes.
"Kamu kenapa menangis terus dari tadi? Apa lagi kangen orang tuamu? Sudahlah, nanti orang tua juga ikut sedih. Aku tidak bisa melihat kamu menangis," ujar Bram dengan nada lembut.
Aku segera menghentikan tangisku. Bukan apa, aku malu dilihat teman-teman saat Bram mengusap-ngusap mataku! Sedangkan Bram terlihat santai seakan tidak peduli dengan mereka. Hadeh...
Aku menepis pelan-pelan tangan Bram. Di sampingku Prita malah mesem-mesem melihat kelakuan Bram barusan.
Aku ketawa mendengar ucapan Prita. Baru saja kenalan, tapi khayalan Prita sudah kemana-mana, ha..ha..ha...
Aku tidak bisa berhenti ketawa. Prita manut-manut. Bram malah tersenyum melihatku. Aduh..!
Malam semakin larut, acara terakhir adalah acara bebas. Ada yang makan-makan snack, bercerita, ngobrol dan bermain gitar. Ada yang tertawa dan ada yang diam saja.
"Zanu, aku ke tenda dulu. Mau beres-beres barang," ucap Prita.
"Lho, kan bisa besok,"
"Takutnya ada yang ketinggalan Zanu, nanti aku ke sini lagi, oke. Ketua, saya ke tenda dulu,"
"Iya silahkan Prita," jawab Bram sambil mengangguk.
Prita pergi berjalan menuju tendanya, tinggallah aku dan Bram berduaan. Di belakang kita tetap ya ada dua bodyguardnya Bram. Posisi mereka berdiri tidak terlalu dekat dengan aku dan Bram.
Aku sedikit grogi dan deg-degan setelah di tinggal Prita pergi. Apalagi suasana malam ini yang diterangi api unggun dengan cahaya remang-remang. Duh, jadi seperti pacaran beneran ini, pas pula malam minggu.
Bram melihat jam tangannya dan dia tersenyum.
"Zanu, kenapa kamu terlihat gelisah? Apa kamu takut di dekatku?" tanya Bram.
__ADS_1
"Ng..nggak kok. Kita pulang yuk.., udah tengah malam ini. Aku takut," jawabku dengan alasan. Padahal aku takut dan grogi berduaan dengan Bram.
"Ngapain takut. Ada aku di sini, di belakang ada yang jaga dan di lapangan masih banyak teman-teman kamu. Jangan-jangan kamu takut denganku?" tanya Bram.
Aku diam dan menunduk antara malu atau deg-degan.
Aduh! Bram memangnya mau ngapain lagi sih? Diam-diam seperti ini jadi membuatku takut akan Bram. Takut dia menarik hatiku lagi atau dia akan berbuat sesuatukah? Tolong...!
"Zanu! Aku ada sesuatu untukmu, bentar ya," Bram mengambil sesuatu di kantong celana jeansnya.
Hatiku makin ketar-ketir. Aku jadi berkeringat karena tidak terbiasa dengan suasana seperti ini.
"Lihat aku sebentar,"
Pelan-pelan aku melihat wajah Bram, lalu mataku melihat matanya Bram. Mata Bram yang syahdu dan indah.
Yup! Mata Bram memang terlihat indah karena bola matanya berbeda dengan orang kita. Bola matanya yang berwarna coklat terang. Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan mata Bram.
Di balik cahaya remang-remang dari api unggun, aku melihat dengan jelas wajah Bram yang menawan.
"Zanu, selamat ulang tahun. Semoga semua do'a yang terbaik menyertaimu. Aku ada hadiah untukmu," ucap Bram sambil membuka kotak kecil yang ada di genggaman tangannya.
OMG! Aku kaget bukan kepalang! Aku baru saja tau bahwa hari ini aku ulang tahun.
Dari mana Bram tau?
Aku diam tak bergeming di saat Bram menggapai tanganku dan langsung memasangkan cincin dengan permatanya yang sangat berkilau. Yup! dari cahaya dan bentukan cincin tersebut, terlihat harganya mahal.
"Ini pemberian pertamaku. Semoga nanti, ada cincin yang lain tersematkan di sini. Cincin yang akan mengikat kita nanti. Oke," ucap Bram dengan lembut.
Wah! Aku harus bicara apa sama Bram? Untuk melihatnya saja, hatiku sudah ketar-ketir. Aku merasa bahagia malam ini.
"Terima kasih Kak, sudah ingat ulang tahunku. Cincin ini pasti mahal, aku tidak bisa menerimanya Kak," ujarku karena merasa tidak enak, mendapatkan hadiah sebagus ini.
"Itu baru cincin. Apakah penting di lihat dari harganya? Aku senang bisa memberikan kamu sesuatu. Tolong di simpan baik-baik cincin itu,"
Aku mengangguk dan mengamati cincin tersebut. Kebetulan ukurannya sama dengan lingkar jari manisku.
"Zanu, Aku sayang kamu. Jika aku berani katakan ini cinta, aku ucapkan nanti di saat yang tepat. Karena aku tidak ingin mengganggu kuliahmu dulu. Biarlah hubungan ini berjalan seperti air mengalir, oke,"
Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Buatku ini terlalu cepat karena aku belum berkeinginan untuk pacaran. Atau memiliki pasangan yang ingin serius, masih jauh.
Tapi aku tidak ingin mengecewakan Bram dan tidak ingin kehilangan.
Zanu! Terima saja Bram untuk mengisi waktumu. Toh Bram juga tidak berani macam-macam. Dia baik dan memperhatikan kamu.
Jarang ada cowok seperti itu Zanu! Kalau kamu lepas, apa kamu yakin bisa dapat gantinya setelah beberapa tahun kemudian? Belum tentu!
Hatiku mulai berkomentar dan aku membenarkan.
__ADS_1
...****************...