
Minggu pagi hari ini sedikit mendung.
Aku berlari-lari kecil menyelusuri jalan besar yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Kali ini aku keluar sendirian tanpa di temani Zuri. Kulihat sudah banyak orang seliweran berolah raga. Tidak ada yang special yang bisa kulihat di sini, tapi udara sejuknya pagi membuat tubuhku menjadi segar dan bersemangat.
"Kak, kakaknya Zuri ya?" tanya seseorang yang menghampiriku.
Aku lihat seorang cowok yang perawakannya tinggi dan cakep, cuma masih kelihatan umurnya kecil di bawahku. Terlihat dari expresinya yang masih selengekan, ala-ala anak ABG.
"Iya, saya kakaknya Zuri. Ada apa ya? Kok tau sama Kakak?" aku balik tanya dan penasaran tingkat tinggi.
"Saya temannya Zuri. Kok nggak barengan sama Zuri Kak?" tanya ABG itu lagi.
"Zurinya masih tidur. Kamu satu Sekolah sama Zuri?" aku mulai kepo.
"Beda Kak, saya Sekolah di kota P. Sengaja ke sini untuk menemui Zuri siang ini," jawabnya rada-rada malu.
"Oiya? Sejak kapan kamu kenal sama Zuri?" tanyaku.
"Hampir satu tahun yang lalu. Cuma kita jarang ketemu. Oiya nama saya Damar Kak," ucap ABG ini.
"Salam kenal Damar. Kamu tau Kakak dari mana ya? Kan belum pernah ketemu?" tanyaku sedikit heran.
"Melalui foto yang diperlihatkan oleh Zuri," jawabnya sopan.
Aku tersenyum.
Bisa-bisanya adikku Zuri punya cowok. Apakah cowok ini yang dulu pernah Zuri katakan, kalau dia mau pacaran? Cakep juga pilihan Zuri.
"Kak, tolong sampaikan ke Zuri ya, saya sudah ada di sini. Nanti ketemuan di mana, saya telepon ke rumah Kakak," ujarnya lagi.
"Kamu ketemu Zuri di rumah saja. Kakak tidak izinkan kalau bepergian ke tempat lain. Dan Kakak tidak mau Zuri berbohong nantinya, hanya untuk ketemu kamu, oke," jawabku tegas.
"Eh, iya Kak, baik. Tapi saya tidak berani ke rumah, takut Papanya Kakak marah. Zuri pernah bilang tidak diizinkan pacaran,"
"Sebagai laki-laki, kamu harus berani. Lagi pula, kamu dari kota P mau ke sini, kan sudah terlihat bahwa kamu berani? Masa' cuma beberapa meter dari sini ke rumah Kakak, jadi takut? Sia-sia dong perjuangannya,"
Damar terdiam sebentar. Terlihat dia bingung dengan perkataanku. Mungkin dia mau menimbang dulu apa yang harus dia lakukan.
"Baik Kak, nanti saya coba langsung ke rumah untuk bertemu Zuri," ujar Damar.
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya cowok pemberani. Udah dulu ya, Kakak mau jalan lagi. Nanti Kakak sampaikan pesannya sama Zuri,"
"Terima kasih Kak,"
"Sama-sama,"
Aku bergerak dengan berlari-lari kecil meninggalkan Damar sendirian yang masih terpaku berdiri di sana.
*********
__ADS_1
Setelah berkeliling cukup jauh, akhirnya aku sampai juga di rumah. Terasa badanku mulai capek, berkeringat dan lapar.
Aku langsung masuk ke rumah dan mengambil air minum dingin dalam kulkas. Lega rasanya tenggorokanku di lewati air.
Lalu aku membuka freezer dan mengambil nugget. Aku mau masak buat sarapan, terasa perutku minta di isi.
Setelah selesai masak, aku langsung makan di meja makan.
*T*erasa rumah ini kok sepi ya? Pada kemana sih? Apa semuanya lagi nyari sarapan? Perasaan tadi mobil nggak ada di garasi.
Aku mempercepat makanku. Abis itu aku mandi, supaya nanti Bram datang, aku sudah siap. Setelah selesai makan, aku meletakkan piring ke dapur.
Kring...! Kring...!
Suara telepon rumah berdering. Aku bergegas mengambil telepon yang ada di dekat ruang tamu.
"Hallo," ujarku duluan.
"Hallo, apa ini Zanu?" tanya suara di seberang.
"Iya, ini Kakak kan? Jadi kita pergi hari ini?" tanyaku langsung to the point.
"InsyaAllah jadi. Ini aku masih dalam perjalanan. Setelah sampai, aku sewa hotel dulu. Nanti aku kabari lagi," jawab Bram.
"Iya, aku tunggu,"
"Bye Zanu,"
Saat aku melangkahkan kaki ke lantai atas, terdengar suara mobil dari luar.
Sepertinya Papa sama Mama pulang.
Aku berbalik arah menuju pintu depan dan membukakan pintu. Ternyata Zuri ikut, terlihat turun duluan dari mobil.
"Hei Kakak, sudah sampai duluan ya?" tanya Zuri.
"Iya, baru aja selesai sarapan. Tadi sarapan di mana?" tanyaku balik.
"Biasa..., di tempat langganan kita yang berada di pinggir pantai itu lho," jawab Zuri sambil masuk ke dalam.
"Zuri, Kakak mau bicara sama kamu. Nanti nyusul ke atas, Kakak mau mandi dulu," ujarku sambil sedikit berbisik.
"Oke. Ada apa sih Kak?" tanya Zuri.
Aku cuma diam dengan membiarkan Zuri bengong tanpa mendapatkan jawaban. Aku langsung beranjak menuju kamar atas dan langsung mandi.
*********
"Kak, ada apa sih? Sepertinya penting banget," ujar Zuri yang tiba-tiba sudah nemplok di atas tempat tidur.
Aku menutup pintu kamar mandi. Aku berjalan ke lemari pakaian.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, nunggu Kakak pakai baju dulu? Rambut juga masih basah," jawabku agak manyun.
"Aku penasaran Kak. Karena tidak biasanya Kakak seperti ini, pasti ceritanya penting banget. Maafin Zuri kalau nggak sabaran,"
Aku diam sambil mengusap-usap rambutku dengan handuk kecil. Sejenak suasana jadi hening, aku meletakkan handuk kecil di atas gantungan yang ada di luar kamar. Setelah itu aku masuk lagi dan mengambil sisir.
"Kamu punya teman namanya Damar ya?" tanyaku sambil menyisir rambut di dekat Zuri.
Zuri terkejut! Dan terlihat kelabakan sambil diam.
"Ka.. Kakak tau dari mana?" tanya Zuri penasaran.
"Tadi pagi Kakak ketemu dia tidak jauh dari rumah kita. Dia menegur Kakak duluan dan sempat menanyakan kamu," jawabku, masih menyisir rambut.
"Trus Kakak jawab apa?"
"Yah, Kakak bilang kalau kamu masih tidur. Dia berpesan nanti siang mau ke rumah," jawabku.
Zuri kaget! Dan terlihat cemas.
"Aduh, gimana nih Kak? Kalau dia ke rumah, pasti Papa marah. Kasian, dia jauh-jauh datang ke sini untuk menemui Zuri. Seharusnya kita janjian di luar. Kalau mendadak gini, kan runyam urusannya,"
"Zuri, kamu tidak boleh berbohong sama Papa dan Mama. Biasakan kalau teman-teman kamu itu ketemunya di rumah. Biar Papa sama Mama tau, siapa saja yang lagi dekat sama kita, apalagi cowok. Sudahlah, kamu tunggu saja dia di rumah. Kalau Papa marah, dihadapi saja, jangan dihindari. Coba deh, kamu ceritakan ke Mama tentang ini, Kakak yakin Mama bisa bantuin untuk jelaskan ke Papa," ujarku panjang kali lebar.
"Kakak nanti temani Zuri ya.., please...," pinta Zuri.
"Maaf Zuri, kali ini Kakak nggak bisa bantu. Kakak mau keluar sama Bram untuk menghadiri pertunangan Vincent," jawabku.
"Hah!! Vincent tunangan? Kok cepat sekali? Bukannya umurnya masih muda Kak?" Zuri terkejut mendengar ucapanku.
"Yah..., panjang ceritanya Zuri. Dia terpaksa harus mengikuti kemauan orang tuanya. Mau bagaimana lagi,"
"Iya sih, tapi kan dia cowok. Bisa nolaklah. Hari gini masih saja ada perjodohan, macam zaman Siti Nurbaya saja," ujar Zuri.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu Zuri. Mungkin menurutmu itu tidak baik, tapi kan mana tau ini jodohnya yang terbaik. Lagi pula, dia bukan siapa-siapanya Kakak. Hanya saja pernah singgah di kehidupan Kakak sebentar,"
"Kakak bisa bicara seperti ini, karena Kakak sudah menemukan gantinya. Bahkan jauh lebih baik dari Vincent. Coba, kalau Kakak masih jomblo, pasti ceritanya jadi lain. Aku tau, dulu Kakak suka banget sama Vincent. Setidaknya saat ini pasti ada sedikit rasa sedih, benar kan Kak?" tanya Zuri.
"Enggak, Kakak tidak sedih sama sekali. Karena Kakak sudah menemukan seseorang yang benar-benar bisa membuat Kakak selalu jatuh cinta. Kakak hanya kasian melihat Vincent, itu saja,"
"Yah, syukurlah kalau begitu. Menurutku Kakak beruntung bisa menemukan sosok yang Kakak mau dan keberuntungan itu juga yang diinginkan setiap perempuan. Pasti senior Kakak itu banyak yang naksir kan?" tanya Zuri lagi.
"Udah ah, nggak usah di bahas lagi. Kakak mau bersiap-siap dulu. Kamu harus hati-hati kalau sudah dekat cowok. Berteman saja dulu, jangan di bawa serius, karena umurmu masih kecil. Belum pantas mengenal cinta-cintaan gitu," nasehatku.
"Baik Kakakku sayang.., Semoga nanti aku berjodoh dengan cowok yang sayangnya sama seperti Kak Bram,"
Aku hanya diam mendengar omongan Zuri. Kulihat jam di dinding kamar, sudah hampir menunjukkan jam sebelas siang.
Aku harus bersiap-bersiap.
...****************...
__ADS_1