
Hari pertama berkemah dengan tenda nomor sepuluh.
Setelah beres-beres di dalam tenda, kita semua berkumpul di lapangan. Guna menunggu instruksi dari Ketua BEM.
Semua yang hadir sudah berbaris rapi. Di depan barisan sudah berjejer orang-orang penting. Ada Ketua dan Wakil Ketua BEM, Dosen pembina, pemuka adat, pemuda masyarakat setempat dan para senior sebagai panitia kegiatan.
Seperti biasanya, Ketua BEM memberikan pidato mengenai kegiatan perkemahan hari ini dan dua hari ke depan. Dilanjutkan kata sambutan dari Dosen pembina guna mengurus perizinan supaya kegiatan berjalan lancar.
Kemudian diteruskan oleh pemuka adat beserta perwakilan dari pemuda yang ada di wilayah ini.
Endingnya sebelum barisan dibubarkan, kita semua di suruh membersihkan lapangan dari sampah-sampah yang berserakan. Sebagai simbol awal dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
"Ayo semua! Jangan lupa daun-daun kering juga diambil. Letakkan semua sampah yang kering di pinggir sungai. Biar nanti kita bakar," ujar senior.
Semuanya bergegas bergerak mengumpulkan sampah-sampah yang ada. Termasuk aku dan Prita.
"Prita, kita langsung ke sungai yuk?" ujarku sambil menyeret kantong plastik berisikan daun kering.
"Ayuklah...,"
Kita jalan menuju sungai. Ternyata sungainya terletak di balik pepohonan yang besar-besar. Jadi, kita seperti melewati hutan kecil, barulah bisa menemukan sungai.
Untungnya, jalan menuju sungai sudah ada. Dan panitia juga sudah menancapkan obor di setiap jalan menuju sungai. Sangat diperlukan penerangan untuk suasana malam.
Tapi ngeri-ngeri sedap kalau di lihat dari suasananya.
"Wow! Indahnya...," ucapku antusias.
"Iya.. Bagus sekali pemandangan di sini ya Zanu. Arus sungainya tenang dan air jernih. Tapi cukup dalam," ujar Prita.
"Kamu sih enak Prita, bisa berenang,"
"Iya. Tapi kamu bisa kok main di pinggir sungai itu, masih dangkal,"
Banyak bebatuan besar terletak sepanjang pinggir sungai. Setelahnya ada hutan yang terlihat sedikit menyeramkan. Ya, sungai ini dikelilingi hutan.
Mencuci baju di sini sepertinya mengasyikkan.
Setelah meletakkan sampah di pinggir sungai, aku dan Prita kembali ke tenda. Hari sudah menjelang Zuhur. Senior mulai membagikan nasi bungkus ke setiap tenda.
Ada yang langsung makan siang dan ada pula yang sholat terlebih dahulu. Aku dan Prita memutuskan untuk sholat duluan.
*******
Senior kita datang.
"Setelah makan kalian bereskan bekasnya dan masukkan ke dalam plastik. Nanti ada yang bertugas mengumpulkan sampah nasi bungkus. Setelah itu tepat jam dua, kita berbaris lagi menurut nomor tenda masing-masing," ujar senior.
"Baik Kak," jawab kita serempak.
Setelah bersiap-siap, kita langsung menuju barisan. Tapi kali ini semuanya di suruh duduk.
"Mau ngapain lagi sih ini? Perasaan tidak kelar-kelar berbaris," ujarku.
"Baru segini Zanu, belum lagi nanti. Sudahlah, nikmati saja. Namanya perkemahan, bukan perkumpulan, hi..hi..hi...," jawab Prita.
"Ah kamu. Kalau perkumpulan tidak harus berhari-hari. Tapi aku bosan berbaris terus. Kan tinggal berikan tugas saja melalui senior, biar langsung kita kerjakan,"
"Tidak semudah itu Zanu. Coba deh kamu protes langsung ke Ketua, mana tau usulmu di dengar. Kalau kita mana bisa, malah nanti dapat hukuman,"
"Ogah. Nambah lagi tugasnya dia. Kan kasihan,"
"Cieee, mulai perhatian nih ceritanya..," goda Prita.
Aku senyum-senyum sendiri.
Bram muncul di depan. Terlihat dia memakai jaket almamater. Aku terus melihatnya dari jauh. Entah mengapa aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Baik adik-adik semua. Hari ini tugas kalian hanyalah bermain. Yaitu tarik tambang. Nanti lawan main akan ditentukan dengan cara menarik kertas yang sudah disediakan. Setelah permainan ini selesai, kalian bersiap-siap untuk mandi sore di sungai. Untuk ke sungai harus bergiliran dan di beri waktu satu jam selesai,"
Setelah menutup arahannya, Bram langsung berjalan menuju ujung jalan, tempat Bus kita lewati tadi pagi. Aku memperhatikan Bram dari jauh.
Di ujung jalan, sudah ada mobil Bram. Dia masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari sana.
Sejak kapan ya mobil Bram ada di sana? Yang antar ke sini siapa? Kan tadi pagi satu Bus bareng aku? Dia mau kemana? Bukannya dia harus berada di sini?
Banyak pertanyaan yang hinggap dikepalaku.
Mungkin dia ada urusan lain di luar sana.
Senior kita mulai mengatur strategi untuk mengalahkan lawan. Kebetulan lawan kali ini dari tenda nomor dua. Untungnya group kita memiliki badan yang lumayan besar kecuali aku yang tidak terlalu. Jadi posisiku diletakkan bagian depan.
Semua peserta tarik tambang sudah mempersiapkan diri. Jadi, untuk mempercepat waktu, bagi yang kalah duluan, mereka diberi waktu satu jam untuk mandi.
Pertandingan berlangsung alot dan sengit. Suasana semakin seru, riuh dan sorai peserta terdengar seperti berada di pasar. Semua merasa bahagia, karena permainan ini sering kita mainkan di saat masih kecil. Jadi sekaligus mengingatkan masa kecil sambil bersenang-senang.
********
"Oke, kita semua sudah tau pasti siapa pemenangnya! Selamat untuk tenda nomor sepuluh kategori tarik tambang untuk perempuan. Hadiahnya besok ditiadakan bersih-bersih di luar tenda dan mendapatkan bingkisan dari kampus," ujar senior.
Horeee....! Kita bersorai gembira.
Bahagianya bisa menang. Ini dikarenakan kita kompak dan teratur. Strategi yang diarahkan senior ternyata sangat bermanfaat.
Aku dan teman-teman dari tenda nomor sepuluh maju ke depan untuk menerima bingkisan. Terlihat wajah sumringah dari kita semua termasuk senior.
Setelah menerima bingkisan, kita bergegas ke tenda untuk mengambil peralatan mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Tidak pakai lama, aku dan Prita berjalan ke arah sungai menyusul yang lainnya. Kebetulan urutan terakhir untuk mandi hanya beberapa orang, sekitar lima belas.
Aku dan yang lainnya mulai membuka baju dan ganti dengan kain sarung. Pakaianku beserta handuk diletakkan di balik batu besar, yang letaknya tidak terlalu jauh dari sungai.
Aku mulai mandi. Karena aku tidak bisa berenang, cukup berada di pinggir sungai. Sedangkan Prita dan yang lainnya berenang ke tengah. Cukup heboh mendengar suara dan teriakan mereka.
*********
Aku sudah selesai mandi. Saat menuju batu besar, betapa kagetnya aku, ternyata tidak ada pakaian dan handukku di sana.
Aku terus mencari disela-sela batu lainnya dan tanpa kusadari aku sudah berada di dalam hutan.
Duh, bagaimana ini? Bagaimana cara keluar dari sini? Hari mulai gelap dan aku mulai kedinginan.
Aku takut! Siapa yang mengambil pakaianku ya? Pasti ada yang jahil.
Prakk..! Aku tersandung batu dan jatuh. Kakiku kena patahan kayu dan langsung menusuk mata kakiku. Walau tidak terlalu dalam, tapi terasa sangat sakit dan mengeluarkan darah.
Dengan sigap aku menarik kayu tersebut. Sakitnya minta ampun. Darah yang keluar mulai banyak. Tak habis pikir aku berusaha merobek kain sarung yang kukenakan.
Setelah berhasil, aku membalut luka dengan robekan kain. Supaya darah yang keluar bisa berhenti untuk sementara waktu.
Aku duduk sambil memeluk lututku. Terasa tubuhku bertambah dingin. Aku juga tidak sanggup berjalan dengan luka seperti ini.
Bram, andai saja kamu ada selalu didekatku. Semoga ada yang menemukan aku di sini segera.
Tiba-tiba aku ingat Papa, Mama, Zuri, Vincent, Abang dan Bram.
********
Hari mulai gelap.
"Zanu! Zanu! Zanu! Kamu di mana Zanu?"
Samar-samar aku mendengar banyak teriakan dari jauh. Aku kaget! Alhamdulillah, mereka mulai mencariku!
"Aku di sini! Tolong...!!" teriakku sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Tidak beberapa lama, tiba-tiba datang Bram! Bram menyinari wajahku dengan cahaya senter. Bahagia rasanya hatiku bisa melihat Bram lagi.
"Zanu!! Untung aku menemukanmu! Kamu tidak apa-apa Zanu?" tanya Bram dengan raut muka yang sangat cemas saat melihat kondisiku.
"Kakiku Kak!" jawabku meringis saat kakiku bergeser sedikit.
"Sudah, kamu diam dulu ya. Sini aku sarungkan dulu jaket biar kamu tidak kedinginan," ucap Bram lembut sambil mengarahkan jaketnya ke tanganku.
"Ketua! Sudah ketemu belum?!" teriak salah satu orang yang mencariku.
Terlihat cahaya-cahaya senter di dalam hutan mulai mendekat.
Suara tersebut terdengar tidak begitu jauh dari aku dan Bram berada.
"Sudah! Kalian tunggu saja di sana, tidak boleh ada yang kemari! Biar aku yang urus!" ujar Bram dengan suara lantang.
"Baik Ketua!"
Suara teriakan-teriakan tadi langsung menjadi hening.
"Maaf, aku izin untuk membawamu dari sini. Tidak apa-apa kan aku membopongmu?" tanya Bram.
"Memangnya Kakak kuat?"
Sempat-sempatnya aku bertanya seperti itu.
"Kalau kamu orangnya, aku kuat. Tapi kalau orang lain, aku tidak mau," jawab Bram sambil menggodaku.
Aku mengangguk. Dan akhirnya Bram membopongku, berjalan keluar dari hutan tersebut. Aku melingkarkan tanganku ke leher Bram.
Ada perasaan yang sangat indah mengena di hatiku. Sepanjang jalan, aku terus melihatnya. Wajahnya bisa kulihat dengan jarak yang sangat dekat. Sekali-kali Bram menatapku dan dia hanya tersenyum.
Entah kenapa aku merasa sangat nyaman saat bersama Bram. Ah.., inikah yang dinamakan cinta sebenarnya? Inikah namanya rasa nyaman itu?
"Zanu, untuk sementara waktu kamu ditendaku ya. Biar nanti mudah diobati kakinya sama panitia. Dan aku juga bisa melihat keadaanmu setiap saat," ucapnya tegas.
Aku tidak bisa membantahnya. Karena aku tau, Bram pasti tau yang terbaik untukku saat ini.
"Apa kamu sudah merasa hangat? Kainmu pasti basah habis mandi tadi kan? Nanti biar Resa yang antar pakaian gantimu ke tendaku. Atau kamu mau pakai kaosku?" tanya Bram.
"Tidak usah Kak. Aku juga bawa kaos. Nanti tolong ke Prita saja bawakan ranselku. Jangan merepotkan Kak Resa terus," jawabku.
"Oke,"
Dia tersenyum. Dari tadi Bram membopongku, tidak sedikitpun aku melihatnya lelah, padahal jarak dari hutan ke tenda tidak terlalu dekat.
"Kak, terima kasih ya, sudah sering membantuku sampai sejauh ini. Maaf, aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti tentang hubungan kita," ujarku sambil melihatnya.
"Tidak apa-apa Zanu. Kamu tidak usah pikirkan apa-apa dulu. Kita jalani saja. Yang penting sekarang ini kamu sembuh dulu ya..," jawabnya dengan suara yang terdengar merdu ditelingaku.
Aku mengangguk.
"Zanu, makin lama kamu makin berat ya. Habis makan apa sih tadi?" tanya Bram sambil menggodaku lagi.
"Katanya tadi kuat! Kalau capek, ya sudah, minta yang lain saja menggendongku!" jawabku manyun.
"Ogah! Enakan mereka nanti! Kesempatan menyentuh kamu. Kamu hanya untukku dan akan tetap seperti itu, ingat!" ujar Bram dengan wajah yang sangat serius.
Aku diam.
Sebesar itukah Bram menyukaiku? Apakah ini saatnya aku boleh berharap? Entahlah..
Bangun Zanu! Kamu fokus kuliah dulu. Ingat Papa Mamamu Zanu! Jangan pacaran dulu. Bram pasti akan menunggumu Zanu.
Suara itu terdengar lagi dan itulah yang membuatku menjadi ragu.
...****************...
__ADS_1