Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 23 : Ospek Terakhir


__ADS_3

Hari ini ospek ke empat, ospek terakhir buat mahasiswa baru.


Seperti biasa, aku dan Prita pagi-pagi sudah bersiap-siap ke kampus. Kita masih menggunakan Bus, belum mau numpang mobil atau motor dulu.


Ospek ke empat ini, kita mendapatkan tugas membuat teka teki dan menebak teka teki teman. bagi yang tidak bisa menjawab harus mendapatkan sepuluh tanda tangan senior yang memakai jas almamater.


Dan seperti biasa, Bram tampil ke depan untuk menjelaskan tugas apa yang akan diberikan kepada mahasiswa baru.


Tetap ya, dengan gaya cool, datar dan tanpa expresi. Jauh berbeda jika dia sedang didekatku.


Aku ketiban kalah alias tidak bisa menjawab teka teki mahasiswa dari Fakultas lain. So, sebagai hukuman aku harus mendapatkan sepuluh tanda tangan senior.


Begitu juga Prita, ternyata sama nasibnya denganku. Saat kegiatan teka teki masih berlangsung, yang kena hukuman langsung diminta untuk meminta tanda tangan senior.


Dan ternyata itu tidak semudah yang dibayangkan. Setiap senior mempunyai cara masing-masing untuk memberikan tanda tangannya.


"Zanu, kamu dapat tugas apa?" tanya Prita.


"Ngumpulin sepuluh batu. Kamu tau tidak di mana lihat batu?" tanyaku balik.


"Hah! Batu? Tuh banyak," Prita menunjuk batu yang di maksud ada di bawah pohon.


"Itu kerikil dan ukurannya kecil, tidak boleh sama senior. Kalau kamu di suruh apa Prita?"


"Hhhmm, jangan ketawa ya. Menirukan gaya monyet, hiks..," ucap Prita kecut.


"Ha..ha..ha.., ternyata jadi juga ya kamu praktekin. Tuh, akibat ngeledekin aku kemaren kan, ha..ha..ha...," aku ngakak terus.


"Udah ih, aku malu. Tapi mau bagaimana lagi. Sekarang aku mau cari senior lagi buat tanda tangan ke delapan. Sana Zanu, kamu cari batunya. Aku jalan dulu ya," ujar Prita.


Aku mengangguk. Mulailah aku telusuri jalan satu persatu untuk mencari batu. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya aku menemukan batu di belakang gedung Rektorat.


********


Saat aku memungut batu, aku melihat ada senior yang memakai jaket almamater sedang ngobrol bersama Sari. Tiba-tiba mereka menoleh ke arahku.


"Oh, jadi ini ya Sari, cewek yang suka dekatin cowok kamu Bram? Biasa aja tuh!" ucap senior dengan suara lantang.


"Iya, berani-beraninya dia! Masih baru di kampus kita ini, udah berulah. Tuh lihat, batu saja di pungut, ha..ha..ha...,"


Sari meledekku dengan suara yang keras. Aku tidak memperdulikan kata-kata mereka karena aku masih fokus mengumpulkan batu yang harus sama ukurannya.


"Eh, kamu! Lagi ngumpulin tanda tangan kan? Untuk mendapatkan tanda tanganku nanti, kamu harus ikuti syarat dariku. Enaknya kita apain ya Sari?" tanya senior tersebut sambil melirik Sari.


Sepertinya mereka ini berteman. Lagi pula, aku juga ogah minta tanda tangan senior ini.


"Sorry ya Kak, aku tidak mau minta tanda tangan Kakak tuh," ujarku.


"Sombong kamu ya!! Kita beri dia pelajaran saja Sari," teriak senior itu.

__ADS_1


Sari mengangguk dan tiba-tiba dia membuang semua batu yang sudah aku kumpulkan ke berbagai arah.


"Ingat ya! Aku tandain kamu!! Berani-beraninya kamu dengan senior! Kamu di sini masih bau kencur!!" ucap senior penuh emosi sambil menunjukkan telunjuknya kewajahku.


Aku cuma diam. Walau sebenarnya ada perasaan kesal dihatiku.


Andai saja aku ada keberanian, ingin rasanya aku menampar mereka satu persatu. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.


"Hei!! Lora, Sari!! Kalian berdua memang keterlaluan! Untung saja aku lewat dan melihat kelakuan kalian!"


Aku, Senior dan Sari menoleh ke arah sumber suara.


Deg! Ternyata itu Bram! Untunglah dia cepat datang.


"Lora! Mulai hari ini, kamu dikeluarkan dari anggota BEM! Dan kamu Sari, jangan pernah sekali-kali dekati aku lagi! Sekali lagi kamu mengganggu Zanu, aku tidak tinggal diam. Ingat itu!!" ujar Bram dengan suara yang sangat lantang.


Baru kali ini aku melihat Bram bicara penuh amarah dan emosi.


Kulihat Sari dan senior tadi terdiam dan menunduk. Mereka tau bahwa apa yang mereka lakukan terhadapku memang salah.


"Maaf Bram, aku tadi hanya...," Sari berusaha menjelaskannya ke Bram.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, ini yang kedua kalinya kamu mengganggu Zanu. Apa aku harus menunggu yang ketiga kali? Baru aku bertindak?"


Sari diam seribu bahasa.


Aku mengambil kertas yang sudah terisi beberapa tanda tangan senior dan memberikannya ke Bram.


Bram mengambilnya. Lalu dia mengambil pulpen di kantong jas almamater.


Bram menorehkan tanda tangannya dan menulis sesuatu di kertas tersebut lalu memberikannya kepadaku.


"Zanu, kamu bawa kertas ini dan berikan ke senior yang menyuruh tadi. Kamu tidak usah kumpul batu-batu itu, tugas kamu sudah selesai,"


"Baik Ketua," jawabku.


Lalu aku bergegas berjalan menuju tempat tadi, di mana senior yang memberikan tugas kepadaku sedang menunggu.


Aku sempat melihat sekilas, Bram berbicara sesuatu ke Sari dan Lora. Lalu Bram melangkah pergi ke gedung Rektorat.


Terima kasih Kak Bram, sudah menyelamatkan aku hari ini. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika Bram tidak ada.


Kenapa ya, selalu ada Bram? Dia selalu ada di saat aku dalam kesulitan.


********


Sebelum aku menyerahkan kertas yang kupegang, aku melihat dulu apa yang dituliskan Bram di sana.


"Ibram Aaron Smith Ox" dan kata "Close" di ujung tanda tangannya.

__ADS_1


Wow! Namanya seperti nama orang bule. Apa dia ada keturunan orang luar ya? Pikirku.


Akhirnya aku tau juga nama kepanjangannya. Tanpa harus mencari tau lagi. Dengan wajahnya yang aduhai tersebut, besar kemungkinan dia memang memiliki keturunan orang luar.


Ah! Suatu saat nanti aku juga bakal tau bagaimana sosok dia yang sebenarnya, cepat atau lambat.


"Kak, ini kertasnya," aku menyodorkan kertas yang kupegang tadi ke senior.


"Lho, bukannya tugas kamu tadi saya suruh ambil batu? Mana batunya?" tanya senior keheranan.


"Di lihat dulu kertasnya Kak," jawabku.


Senior membuka kertas yang aku berikan tadi. Terlihat expresi kagetnya saat melihat isi dari kertas tersebut.


"Oke. Kamu tidak perlu minta tanda tangan lagi, sudah selesai. Silahkan masuk barisan dan bergabung dengan teman-teman kamu di sana," ujar senior.


"Baik Kak,"


Aku berjalan menuju barisan. Kulihat Prita sudah di sana. Dia tersenyum melihatku.


"Bagaimana Zanu, sudah lengkap semua kan tanda tangannya? Kok kamu lama sekali? Tugas yang diberikan senior emangnya berat-berat?" banyak Prita melontarkan pertanyaan.


"Tadi ada kejadian kecil saat aku mengumpulkan batu. Aku bertemu Sari dan senior temannya dia. Aku diledekin sama mereka. Untung ada Ketua lewat sana," jawabku.


Prita kaget dan mengernyitkan dahi.


"Terus? Selanjutnya apa yang terjadi?" tanya Prita penasaran.


"Ketua marah besar sama mereka berdua. Terus dia minta kertas tugasku. Ketua langsung tanda tangan dan bikin tulisan close. Udah, cuma itu saja," jawabku.


"Terus, tugas kamu bagaimana? Kan harusnya mendapatkan tandangan sepuluh senior?" tanya Prita heran.


"Nah itu dia. Ajaibnya, saat senior melihat isi kertasku, aku langsung di suruh masuk barisan. Senior bilang sudah selesai. Padahal baru lima tanda tangan yang terkumpul. Aneh kan?" jawabku.


"Wuiihh..! Keren juga ya, cuma tanda tangan Ketua, kamu bebas tugas. Mantap sekali Ketua kita ini!"


Prita geleng-geleng kepala.


"Yah..., jangankan kamu, aku juga heran. Kenapa semua pada nurut ya sama Ketua?"


"Rani kan pernah bilang, kalau Rektor kita, pamannya Ketua. Tapi, menurutku wajar sih Ketua di segani banyak orang. Walau orangnya datar dan tegas, tapi dia itu peduli dan baik," jawab Prita.


"Mungkin,"


Aku dan Prita diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Terima kasih Kak Bram, sudah membantuku hari ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2