
Setelah semuanya selesai, aku dan Bram menghampiri parkir mobil. Terlihat semua anggota Bram sudah standby di sana. Banyak pelayat yang berbisik-bisik dan memandang, seakan takjub dengan kehadiran Bram.
Di mobil sudah ada Pak Jack. Sedangkan Laura, aku tidak melihatnya sedari tadi. Kemana Laura?
"Pak, Laura kemana ya? Apa tidak ikut kita?" tanyaku penasaran.
"Laura sudah di antar pulang Non, tadi saat Non sama Bos di dalam," jawab Pak Jack.
"Kirain ikut Pak. Saya lupa ucapkan terima kasih karena sudah menemani selama di rumah sakit kemaren,"
"Nanti saya sampaikan Non. Laura besok mau Sekolah, jadi buru-buru pulang mau belajar bersama di rumah temannya,"
"Oke Pak, terima kasih," ujarku.
"Sama-sama Non,"
Bram dan aku masuk ke dalam mobil. Kali ini Bram duduk bersamaku di barisan belakang.
Tap!
Pintu mobil di tutup. Mobil bergerak dan melaju. Dua mobil anggota Bram mengikuti dari belakang.
Selama perjalanan, Bram menggenggam jemariku. Seakan tidak ingin di lepas.
"Zanu, nanti aku izin ke orang tuamu untuk kita pergi ke kota P bersama. Jika diizinkan, setelahnya aku pergi dulu, ada yang ingin aku urus. Sekalian kamu bisa beresin barang yang mau di bawa. Abis zuhur aku jemput ke rumah ya," ucap Bram.
"Oke. Kalau boleh tau urusan apa sih?" tanyaku.
"Aku ingin mengurus nelayan, masalah perkembangan keluarga mereka. Dan ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani," jawab Bram.
"Dengan keadaan seperti ini? Amankah?" tanyaku kembali.
"InsyaAllah aman. Aku harus selesaikan semua di sini sebelum kita berangkat ke kota P. Kamu jangan khawatir, banyak yang jagain aku," ujar Bram sambil mengedipkan matanya.
"Ya sudah, hati-hati dengan bahu Kakak. Jangan sampai kena sesuatu,"
"Siap Non Zanu," Bram meledekku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bram.
Tidak beberapa lama, mobil berhenti tepat di depan rumahku. Sudah dua hari aku tidak pulang, rasanya kangen ingin berjumpa dengan Papa, Mama dan Zuri.
Aku dan Bram turun. Sedangkan yang lainnya menunggu di mobil.
Aku mengetuk pintu. Dan yang keluar ternyata Zuri.
__ADS_1
"Kak Zanu!" teriak Zuri sambil memelukku.
Aku ikut memeluk Zuri.
"Papa sama Mama ada kan?" tanyaku.
"Ada. Masuk dulu Kak," jawab Zuri.
"Kenapa semuanya ada di rumah? Apa kamu nggak Sekolah?" tanyaku lagi sambil kakiku melangkah ke dalam rumah.
Bram menyusul dari belakang. Aku dan Bram langsung duduk di sofa.
"Lho? Kakak nggak tau ya kalau hari ini tanggal merah? Ya semua pada libur lah...," jawab Zuri.
"Oh..., pantas," ujarku singkat.
Zuri mengulurkan tangan menyalami Bram dan aku.
"Kak Bram ke sini lagi, pasti ada sesuatu ya?" tanya Zuri ke Bram.
"Iya nih, tau aja," jawab Bram.
"Kakak sudah sembuh? Kok cepat sekali pulangnya?" tanya Zuri.
"Zuri! Nggak boleh gitu. Maunya kamu lama-lama gitu di rumah sakit?" ujarku.
Yang diucapkan Zuri benar adanya.
"Kakak belum sembuh seratus persen. Kakak minta rawat jalan. Karena banyak urusan yang harus diselesaikan," ujar Bram dengan senyuman khasnya.
"Oo gitu Kak..," jawab Zuri.
"Oiya, tolong panggilkan Papa sama Mama. Kakak mau bicara penting," ujar Bram ke Zuri.
"Siap! Bentar ya Kak,"
Zuri berjalan ke dalam. Tidak berapa lama, muncullah papa dan mamaku. Bram berdiri dan langsung menyalami kedua orangtuaku.
"Silahkan duduk nak Bram," ujar Papa sambil duduk di sofa bersama Mama.
Aku mulai deg-degan melihat respon papa. Aku takut papa tidak mengizinkan, karena papa termasuk keras dalam hal ini.
Kulihat keberanian Bram untuk menyampaikan maksudnya.
"Om, Tante, sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih sudah mengizinkan Zanu untuk menemani saya selama di rumah sakit," Bram berhenti sejenak.
__ADS_1
"Sesuai amanat, hari ini saya mengantarkan Zanu ke rumah dengan selamat. Dan hari ini juga saya minta izin lagi untuk pergi bersama Zanu ke kota P. Besok saya dan Zanu mulai kuliah. Nanti saya antarkan Zanu ke kostnya. Jika Om dan Tante izinkan, InsyaAllah siang ini saya jemput Zanu ke sini," ujar Bram dengan percaya diri.
Suasana hening sejenak. Aku melihat papa berfikir dengan expresi diamnya. Mamaku seakan pasrah apapun keputusan papa.
"Nak Bram, apa benar kamu ada niat untuk menikahi anak saya?" tanya Papa di luar dugaan.
Deg! Aku dan Bram kaget. Begitu juga dengan Mama. Jawaban Papa melenceng dari pertanyaan Bram.
Bram diam sejenak, mengatur expresinya setenang mungkin, walau aku tau ada sesuatu yang Bram sembunyikan. Tapi aku tidak tau persis apa itu.
"Iya Om. Saya ada niat untuk menikahi Zanu," jawab Bram singkat.
Jleb! Jawaban Bram membuatku takut. Takut akan sesuatu hal.
"Tapi kamu tau bukan, kalau saat ini Zanu baru kuliah. Saya ingin Zanu tidak memikirkan tentang pernikahan lebih dulu. Saya tidak keberatan kamu saat ini mendekati anak saya. Tapi saya minta kamu menjaga anak saya dengan baik dan tidak berbuat apa-apa yang bisa mencelakakannya atau mempermalukannya. Kamu pasti tau apa yang saya maksud," ujar Papa tegas.
"Iya Om. Saya tau, kuliah Zanu tidak bisa di ganggu. Saya akan bertanggung jawab dengan keamanan Zanu. Saya juga berjanji akan menjaganya dengan baik," jawab Bram.
"Jika kamu memang ada niat ingin menikahi anak saya, saya tegaskan, jangan pernah menyakiti hati anak saya. Jika kamu tidak mampu, lebih baik tidak usah mendekati anak saya dari sekarang,"
"Baik Om. InsyaAllah saya mampu Om,"
Suasana hening kembali. Aku masih menunggu keputusan papa untuk memberi izin.
"Bagaimana kondisi nak Bram?" tanya Mama tiba-tiba memecah keheningan.
"Alhamdulillah mulai sehat Tante. Saya masih rawat jalan. Luka-luka mulai kering, tinggal bekas luka jahit di bahu saja Tante," jawab Bram.
"Oh.., harus diperhatikan benar nak. Tidak boleh beraktifitas yang berat-berat. Dan jangan lupa minum obatnya. Biasanya dokter memberikan obat untuk luka agar cepat kering," nasehat Mama.
"Iya Tante. Pihak rumah sakit sudah mengutus perawat untuk mengecek kondisi saya setiap hari termasuk memberikan obat selama di rumah," jawab Bram.
"Oh bagus. Biar teratur dan bisa cepat sembuhnya,"
"Aamiin,"
Suasana hening lagi.
"Tadi kamu minta izin untuk mengantarkan anak saya sampai ke kostnya kan?" tanya Papa tiba-tiba.
"I..i..iya Om," jawab Bram agak terbata.
"Apa tidak kemana-mana dulu?" tanya Papa mulai menyelidiki.
"Rencana awal, saya mau mengajak Zanu ke rumah saya Om. Kebetulan, orang tua saya akan pulang. Jadi, sebelum Zanu saya perkenalkan, saya ingin Zanu lebih tau dulu di mana saya tinggal," ujar Bram.
__ADS_1
Deg! Ternyata Bram akan memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Secepat inikah? Apa Bram akan memberitau orang tuanya kalau dia akan menikahiku nanti? Atau bagaimana?
...****************...