Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 143 : Goodbye


__ADS_3

Bram dan aku terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Zanu, sekali lagi maafkan aku," Bram menggenggam tangan sambil mengelus pipiku. Ia menyeka bekas air mataku tadi.


"Aku tau perasaanmu Zanu. Pasti ini keputusan yang sangat berat untuk hubungan kita. Jika nanti aku tidak kembali lagi, kamu boleh mencari gantiku. Semoga kamu mendapatkan lelaki yang baik, menyayangimu sepenuh hati dan selalu menjagamu. Aku..," kalimat Bram tersekat disaat aku menutup bibirnya dengan telunjukku.


"Jangan lanjutkan lagi Kak, biarkan aku menikmati waktu kebersamaan kita di detik-detik terakhir ini. Biar aku tenangkan hatiku dengan berjalannya waktu dan biarkan aku memutuskan sendiri apa yang terbaik untukku," ujarku dengan nada pelan. Aku sudah pasrah dan berusaha menerima keputusan ini, walau di lubuk hatiku yang terdalam, aku belum bisa menerimanya.


"Baiklah jika itu maumu Zanu. Sambil menunggu orang tuaku datang menjemput, bagaimana kalau kita berdansa di sini?" tanya Bram.


"Boleh, tapi musiknya mana?"


"Sebentar, aku ke dalam dulu ya," Bram langsung berjalan meninggalkanku.


Tidak berapa lama, Bram kembali dengan diiringi suara musik yang menggema diseluruh taman ini. Musik melodi yang indah terdengar di telinga.


Bram menghampiriku sambil tersenyum, ia menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. Dan tangan satu lagi ia letakkan di atas bahunya. Setelah itu Bram menarik tubuhku dengan erat di dalam dekapannya. Aku dan Bram mengayunkan kaki mengikuti irama musik.


Aku sekali-kali menyenderkan kepala ke dada Bram. Dan Bram mengelus rambutku. Satu musik sudah habis dan kita hentikan sejenak berdansa, karena Pak Tio datang menghampiri kita berdua.


"Maaf Bos, Non, saya mengganggu. Ibu dan Bapak sudah pulang Bos. Dan sekarang sedang menunggu di ruang tengah. Semua barang-barang sudah siap untuk di antar ke bandara," ucap Pak Tio.


"Baik Pak, terima kasih. Saya dan Zanu segera ke sana," jawab Bram.


Pak Tio mengangguk dan langsung pergi keluar dari taman.


Bram melihat ke arahku, seakan ia berat meninggalkanku begitu saja. Waktu terasa begitu cepat berlalu, sudah begitu banyak cerita yang sudah kita lewati berdua. Walau hubunganku bersama Bram hanya dalam hitungan bulan.


"Zanu, nanti ada yang mengantarkanmu pulang ke kost. Maaf, aku tidak sempat mengantarkanmu. Tidak apa-apa kan sayang?" tanya Bram. Terlihat raut wajah Bram yang mulai sedih.


"Iya Kak, tidak apa-apa. Aku mengerti kok situasinya,"


"Zanu, bolehkah aku mengecup bibirmu untuk terakhir kalinya?" tanya Bram.


Aku mengangguk dan menunggu sentuhan bibir Bram. Dengan pandangan syahdu, pelan-pelan Bram mendekatkan bibirnya ke bibirku. Bibirnya terpaut diam selama dua menit, tanpa ada nafsu atau gelora. Yup! Kecupan itu hanya sebagai simbol perpisahan buat Bram. Dan ia meneteskan air mata.


Bram menangis!

__ADS_1


Aku tidak percaya menyaksikan Bram dengan keadaan seperti itu. Ini kedua kalinya ia menangis di depanku. Dengan cepat aku menyeka air matanya, aku tidak mau melihat Bram cengeng.


Lalu Bram memelukku sangat erat!


"Sayang, jaga dirimu baik-baik. Do'akan aku bisa kembali kepadamu," ucap Bram. Ia melepaskan pelukannya dan menarik tanganku masuk ke dalam menuju ke ruang tengah.


Terlihat ia berusaha menghindari rasa sedih dan secepatnya ia mengakhiri ini semua. Karena Bram tidak ingin larut dan membiarkan waktu berjalan.


*********


"Hallo nak Zanu, how are you?" sapa Maminya Bram saat kita berdua datang.


"Baik Papi, Mami," jawabku sambil menyalami kedua orang tua Bram.


"Bagaimana, apa kamu sudah siap ditinggalkan Bram? Maafkan kita harus mengambil keputusan ini ya nak," Mami Bram menghampiriku dan terlihat rasa bersalahnya terhadapku.


"Iya Mami, InsyaAllah Zanu bisa menerima dan melupakannya," jawabku sambil berusaha untuk tersenyum.


"Mami harap, kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Walau mungkin jarang, karena keadaan dan tempat kita berjauhan,"


"Iya Mami," jawabku singkat.


"Mom, aku akan kembali untuk Zanu. Aku akan selesaikan semuanya di Amerika, tidak akan kubiarkan orang lain mengendalikan hidupku," ujar Bram penuh semangat.


"Iya harus! Cinta sejati itu harus kamu jemput," jawab Mami sambil melirik kearahku.


Pak Tio masuk ke ruang tengah dan berbincang dengan Papi Bram. Pak Tio memberitahukan, jika semuanya sudah siap dan tinggal berangkat.


"Bagaimana Papi, Mami kondisi Prita? Apa dokter dan Prita sudah di bandara?" tanya Bram.


Deg! Mendengar ucapan Bram mengenai Prita, entah kenapa hatiku terasa hancur. Tidak pernah terbayangkan olehku jika Bram akan menikah dengan Prita.


"Mereka sudah bersiap-siap nak. Menunggu mobil polisi siap untuk mengawal ambulans, Prita akan dibawa dengan itu supaya prosesnya lancar selama diperjalanan," jawab Papi.


"Iya, sambil menunggu mereka berangkat, kamu cek ulang barang bawaan. Takutnya ada yang ketinggalan," ujar Mami.


"Tidak ada Mami, semua sudah aku masukkan. Oiya, Atif bagaimana? Barang bawaannya sudah siap?" tanya Bram.

__ADS_1


"Dia sempat bilang sudah ke Mami. Kenapa sih Atif itu ikut juga bersama kita? Dia kan bisa menyusul dengan menaiki pesawat lain?" Mami heran dengan keputusan Bram. Karena di sini posisi Atif hanyalah sebatas pengawal pribadi Bram, bisa saja ia menggunakan pesawat lain.


"Tidak Mi, dia harus ikut. Apapun alasannya, sudah Bram pikirkan dengan baik," tegas Bram. Ternyata Bram belum memberitahukan siapa Atif dan apa tugasnya selama bersama Prita.


Kenapa harus dirahasiakan Bram ya? Apapun itu pasti Bram memiliki alasan yang tepat.


"its okey," jawab Mami.


Pak Tio datang lagi dan memberitahukan jika rombongan dokter dan Prita sudah berangkat menuju bandara. Dan sekarang saatnya Bram ikut berangkat juga menuju ke sana.


Mami memelukku. Sedangkan Bram menarik tanganku untuk mengikutinya menuju keluar rumah. Sesampainya di teras depan, sudah terlihat dua mobil yang sedang menunggu penumpangnya.


Aku menyalami Papi dan Mami. Saat giliran Bram, ia memelukku, mencium pipi, kening dan mengacak poniku.


"Aku mencintaimu Zanu," bisik Bram ditelingaku.


Tes!


Entah mengapa air mataku menetes, kurasa aku terlalu cengeng.


"Eits! Kamu tidak boleh menangis," Bram melepaskan pelukannya.


Aku menyeka dengan cepat air mata yang sudah mengalir, aku tidak mau dilihat kedua orang tua Bram.


"Nak Zanu, Papi dan Mami pamit dulu ya. Jaga diri baik-baik dan terima kasih sudah mau mengisi hari-hari bersama anaknya Mami, Bram. Bye Zanu," ucap Mami.


"Iya Mami,"


Orang tua Bram langsung melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil, terlihat mereka disetir oleh driver. Sedangkan mobil satu lagi untuk Bram, ia menyetir sendiri.


Bram mulai berbalik hendak menuju ke mobilnya. Dengan cepat aku memeluknya dari belakang. Rasanya aku belum sanggup melepaskan Bram pergi yang entah kapan ia akan kembali.


"Sudahlah Zanu, kamu lupakan aku," Bram menoleh ke arahku dan ia melihatku menangis.


Lalu Bram pergi begitu saja ke dalam mobilnya tanpa menoleh lagi ke arahku. Aku tau, Bram sudah tidak sanggup lagi dengan perasaannya sendiri.


Kedua mobil itu pergi keluar dari gerbang rumah Bram, menuju ke bandara.

__ADS_1


"Good bye Kak," ucapku lirih dengan isakan tangis yang belum saja berhenti.


...****************...


__ADS_2