
Papa berdiri.
Aku dan Mama masih sabar menunggu keputusan Papa.
"Zanu, kamu boleh menemani dia di sana. Tapi jika dia sudah siuman, kamu harus pulang. Sekali-kali kamu boleh mengunjunginya tanpa harus menginap. Tapi harus bersama Papa dan Mama. Ingat nak, kamu baru masuk kuliah. Besar harapan Papa dan Mama untuk melihatmu bisa sukses dan memiliki masa depan yang jauh lebih baik lagi. Walaupun dia orang yang sangat kaya sekalipun, kamu harus punya harga diri dan mahal. Agar tidak ada yang bisa menghinamu atau meremehkanmu nak. Ingat itu pesan Papa," ujar Papa dengan suara berat.
"Baik Pa. Terima kasih ya Papa sudah memberi izin ke Zanu. Zanu akan ingat kata-kata Papa barusan," jawabku dengan perasaan lega.
Papa mengangguk. Aku langsung mencium pipi Papa.
"Nah, sekarang Zanu bersiap-siap, sebelum magrib kamu sudah ada di sana. Jaga diri baik-baik," ujar Mamaku.
"Iya Ma. Tapi sebelum beberes, Zanu mau makan dulu Ma. Sedari tadi belum makan, badan Zanu sebenarnya lagi lemas,"
"Makanlah nak," ujar Papaku.
Aku beranjak dari sofa tamu menuju dapur. Tanpa ganti pakaian dulu. Aku mengambil piring, sendok dan nasi. Lalu aku duduk di meja makan, mengambil lauk dan langsung makan.
Lega rasanya hati dan perutku hari ini. Alhamdulillah, aku bisa menemani Bram.
********
Aku sudah mandi sore dan langsung packing beberapa pakaian yang akan di bawa termasuk jaket Bram. Tak lupa pula aku mengambil ponsel Bram dari tas pesta untuk di bawa.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Setelah semuanya siap, aku turun ke lantai bawah. Papa dan Mama sudah bersiap-siap untuk mengantarkan aku ke rumah sakit. Sedangkan Zuri tinggal di rumah karena dia tidak mau ikut.
Tanpa menunggu waktu yang lama, aku bersama Papa dan Mama berangkat menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Mama hanya memberikan beberapa nasehat saja. Sedangkan Papa lebih banyak diam. Aku mengerti kalau perasaan Papa belumlah seratus persen melepaskanku. Apalagi semuanya mendadak.
Akhirnya mobil masuk ke dalam rumah sakit dan Papa langsung memarkirkannya. Kemudian kita berjalan menuju ruang ICU.
Sesampai di ruang ICU, terlihat ada perawat penjaga di depan pintu masuk. Menanyakan perihal maksud kita ke sana. Untungnya Kak Resa keluar dan menjelaskan ke perawat tersebut.
Kita diberikan waktu hanya lima belas menit untuk berkunjung, kecuali aku yang memang akan menginap.
Saat aku diperbolehkan masuk, terlihat Bram masih belum sadar. Bram masih terkulai lemah seakan tidak berdaya. Papa dan Mamaku langsung melihat kondisi Bram. Terlihat raut wajah Papa dan Mama yang merasa iba dan kasihan.
"Nak, semoga dia lekas sembuh. Kamu harus support dia terus, maafkan Papa terlalu keras sama Zanu. Tapi tetap kamu harus kosentrasi kuliah. Jika dia benar-benar jodohmu nak, pasti nanti dia kembali," ujar Papaku.
Nyesss....! Ada perasaan bersalah dalam hatiku karena mungkin mengecewakan Papa. Tapi untung Papa mengerti.
__ADS_1
"Iya Pa. Bentar lagi juga dia akan wisuda dan pergi ke Amerika. Mungkin dengan begitu, Zanu bisa kosentrasi kuliah sampai selesai. Tapi untuk saat ini, dia belum bisa jauh dari Zanu Pa," jawabku.
"Oke, Papa sama Mama pulang dulu. Kalau ada apa-apa atau Zanu butuh sesuatu telepon saja ke rumah ya nak," ujar Papa.
"Baik Pa," jawabku.
Papa dan Mama pamit juga sama Kak Resa. Setelahnya Papa sama Mama keluar dari pintu ICU dan langsung pulang.
"Zanu, tolong tungguin Bram di sini. Kakak mau mandi sore dulu. Perasaan gatel-gatel deh abis kondangan pake gaun ginian," ujar Kak Resa.
Aku mengangguk dan langsung mengambil posisi duduk di samping tempat tidur Bram.
Kulihat Bramku dengan seksama. Denyut jantungnya terus berdetak stabil. Kuulurkan tanganku menyentuh jemari Bram. Masih terlihat bekas luka baret dan perban yang masih menempel bekas operasi di tubuh Bram.
Biasanya aku melihat Bram datar, kadang lucu, kadang marah, kadang tegas dan wibawa. Sekarang hanya diam saja tanpa expresi, sungguh jauh berbeda dari Bram yang sebenarnya.
"Kak, ini Zanu. Malam ini Papa sama Mama izinkan aku tidur di sini menemani Kakak. Bangun dong..., aku kangen lho roti pemberian Kakak. Aku juga kangen rambutku di acak-acak. Aku bahkan kangen Kakak menggodaku lagi. Ayolah, bangun dong, please...," aku berbicara sendiri.
Tanpa kusadari, air mataku menetes. Ada perasaan sedih yang luar biasa di hatiku. Bukan karena melihat keadaan Bram seperti ini saja, tapi karena mengingat sebentar lagi aku dan Bram akan berpisah jauh.
Berat hatiku untuk menyampaikan penolakan Papa kepada Bram. Bahwa kita tidak diperbolehkan untuk tunangan. Sedangkan Bram sangat mengharapkan itu. Apakah nanti bisa mengganggu mental Bram? Sekarang saja Bram belum siuman, jika sudah pulih nanti dan aku menyampaikan itu, apa Bram bisa down? Entahlah..
Sreett...!
"Gimana Zanu, udah siuman Bram?" tanyanya.
"Belum Kak,"
"Kakak keluar sebentar, mau memanggil Atif untuk menempatkan anggotanya di pintu ICU buat berjaga-jaga. Nanti malam kita tidur di sini, ada dua kasur yang sudah disiapkan," ujar Kak Resa.
"Baik Kak,"
Kak Resa keluar dan tinggallah aku dan Bram kembali. Tiba-tiba aku teringat ponsel Bram yang di bawa tadi. Aku beranjak dari kursi dan mengambil ponsel dari dalam tas ransel.
Iseng-iseng aku membuka ponsel Bram. Ternyata banyak sekali telepon dan pesan masuk. Mungkin ponsel Bram sudah disilentnya sehingga tidak terdengar bunyi dering ponsel.
Iseng lagi aku membuka salah satu pesan. Dan betapa terkejutnya aku saat membaca isi pesan tersebut.
Sebuah ancaman yang ditujukan untuk Prita?!! Jika Bram tidak membebaskan Kakaknya Gilang!! OMG!! Bearti yang mengirim pesan ini adiknya Gilang yaitu Sacia. Pesan di terima sekitar tiga jam yang lalu.
__ADS_1
Aduh..., bagaimana ini nasib Prita di kost? Bagaimana caranya aku memberitau Prita? Aku saja tidak hafal nomor telepon kost sendiri.
Aha! Aku harus hubungi Atif. Karena cuma Atif yang tau dan hafal nomor kost kita. Dengan cepat aku mencari nomor Atif di ponsel Bram. Cukup lama menekan tombol ponsel ini untuk mencari nama Atif.
"Hallo, Atif. Kamu sekarang juga ke ruang ICU. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan," ucapku ke Atif di seberang telepon.
Menit demi menit berlalu. Akhirnya Atif datang dan langsung masuk ke ruang ICU. Aku langsung to the point menyampaikan.
"Atif, Prita dalam bahaya. Tadi siang kamu bilang mau hubungi Prita bukan? Apa jadi?" tanyaku serius.
"Jadi Non. Prita baik-baik saja katanya dan saya sudah sampaikan untuk berhati-hati selama di kost," jawab Atif.
"Apa kamu sudah jelaskan semua ke Prita?" tanyaku lagi.
"Belum Non, tadi keburu Prita mau makan siang,"
"Sekarang juga kamu hubungi Prita, biar saya yang bicara,"
Atif mengangguk dan langsung mengambil ponselnya. Tidak berapa lama, terdengarlah suara Prita yang menyahut. Atif langsung memberikan ponselnya kepadaku.
"Selamat sore Bang, ada apa menelpon lagi Bang?" tanya Prita.
"Hei Prita, ini aku Zanu. Kamu lagi ngapain sekarang?" tanyaku sedikit was-was.
"Lho Zanu? Kok bisa kamu pegang ponselnya Atif?" Prita balik nanya.
"Prita, dengarkan aku baik-baik. Sekarang juga kamu berkemas dan pergi ke Prn, ke tempatku. Hubungi bodyguard kamu dan minta antarkan ke sini. Segera...!" tegasku.
"Lho? Ada apa sih Zanu? Ini terlalu buru-buru, besok kita kuliah," ujar Prita.
"Kalau aku jelasin sekarang, panjang ceritanya. Jadi kalau kamu mau aman, turuti saja kataku. Lagipula apa kamu tidak mau ketemu Atif? Atif ada di sini dan untuk beberapa hari kedepan dia tidak bisa kemana-mana," masih sempat-sempatnya aku menggoda Prita.
"Okelah, nanti aku kabari lagi kalau jadi ke sana," ujar Prita.
"Biar Atif yang arahkan kamu ke sini. Cepat ya Prita, aku tunggu,"
"Oke,"
Klik!
__ADS_1
Aku mematikan ponsel dan memberikannya ke Atif.
...****************...