Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 80 : Ku Katakan Saja


__ADS_3

Nekat sekali Prita.


"Jangan kaget gitu Zanu. Kita cuma ciuman, tidak lebih dari itu. Tapi, karena ini ciuman pertama aku dan Atif, aku merasa seperti ada yang hilang," ujar Prita.


Sejenak aku mengingat sesuatu, di saat Bram menciumku dan saat itu aku hanya diam tanpa expresi apa-apa. Memang benar yang dikatakan Prita, seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi kan antara aku dan Prita beda konsep. Prita dan Atif, mereka saling suka dan menikmati ciuman tersebut. Sedangkan aku, seperti di curi oleh Bram karena melakukannya tanpa kusadari atau tidak membalas ciuman Bram.


Ah! Sudahlah Zanu! Mereka ciuman atas dasar suka sama suka. Jangan kamu pikirkan, lebih baik pikirkan dulu bagaimana hubunganmu dengan Bram selanjutnya.


"Aku bukannya kaget, tapi pikiranku sudah jauh melalang buana. Aku kirain kamu sudah tidur sama Atif, jadinya telat sampai sini," jawabku.


"Ih kamu! Nggak semudah itulah. Kalau aku mau, minta dinikahin aja sama Atif sekarang, biar bisa gituan. Cuma, kasian Atifnya, pasti tidak diizinkan Ketua. Beda sama kamu Zanu, kapanpun kamu mau, Ketua pasti sudah siap untuk menikahi kamu," ujar Prita.


Deg! Aku teringat kembali tentang pernikahan yang diinginkan Bram. Sedangkan Papa belum menyetujuinya, bahkan untuk tunangan saja Papa menolak. Harus sampai kapan aku menghindari pertanyaan Bram? Sebaiknya, aku harus memberitau Bram secepat mungkin, supaya dia tidak terlalu berharap akan hubungan ini.


"Hei Zanu! Kenapa kamu bengong? Udahlah, aku udah jelasin semuanya. Oiya, setelah dari hotel, kita berdua mencari sarapan. Jadi kita makan dulu, makanya telat," ujar Prita lagi.


"Kita masuk yuk ke dalam," ajakku.


"Lho? Bukannya ketua masih di dalam sama Atif? Atif belum keluar, bearti belum selesai tugasnya. Entar kamu masuk ke dalam, kelihatan semua tubuh Ketua, ha.ha.ha...," ledek Prita.


"Oh iya, aku lupa, ha.ha.ha...," aku ikut tertawa.


"Nanti, kalau kamu sudah menikah sama Ketua, baru boleh lihat semuanya. Yuhuuu..., pasti kamu betah dekat Ketua terus. Nempel nggak mau lepas," Prita meledekku lagi.


"Apaan sih kamu, ngapain bahas yang begituan. Kita belum saatnya memikirkan itu. Aku masih fokus kuliah, aku tidak mau membawa pikiranku ke hal yang aneh-aneh. Bisa jadi aku terjerumus jika hanya memikirkan itu saja,"

__ADS_1


"Tapi umur segini, kita sudah bisa menikah Zanu. Tidak ada yang salah. Wajar dong kita memikirkan dan membayangkan wajah, tubuh kekasih kita. Bearti kita normal, tertarik dengan lawan jenis. Jika melakukannya tanpa ikatan pernikahan, ya itu baru salah," ujar Prita dengan semangatnya.


Sreett...!


Belum lagi aku menjawab ulasan Prita barusan, tiba-tiba Atif keluar dari ruangan ICU. Itu menandakan kalau Atif sudah menyelesaikan tugasnya.


"Kita ke dalam dulu yuk," ajakku ke Prita.


"Tidak usah Zanu, aku di sini saja bersama Atif. Kamu temani dulu Ketua, mana tau ada hal penting yang ingin kalian bicarakan," Prita menolak.


"Tuh kan! Kamunya yang nggak mau lepas dari Atif. Kamu mulai nempel ke Atif. Udahlah, kalian menikah saja deh, daripada berdua-duaan terus. Apapun bisa terjadi dan akhirnya yang ada penyesalan. Sayang kan kuliah kamu," ujarku lagi.


"Aku jalani saja Zanu. Aku juga butuh Atif bukan karena sebagai kekasih saja, tapi juga sebagai seseorang yang mampu menjagaku dengan situasi sekarang," balas Prita.


"Oke, terserah kamu. Yang pasti, jaga diri kamu sebaik mungkin. Aku ke dalam dulu ya, tolong jangan pergi dulu kemana-mana tanpa sepengetahuanku. Apalagi kamu membawa Atif ikut serta pergi dari sini, bisa panjang urusannya dengan Ketua,"


"Ih kamu, mulai lagi. Bye," balasku.


Atif berjalan menghampiri aku dan Prita. Aku langsung saja ke dalam ruangan.


Taraaa! Kulihat sosok Bram yang fresh dan semakin tampan. Dia tersenyum ke arahku. Aku mendekati Bram dan langsung duduk, tercium aroma bunga yang sangat wangi di balik pakaian yang dikenakannya.


"Hai sayang, aku sekarang sudah wangi dan tubuhku terasa semakin kuat. Sepertinya besok aku sudah bisa pulang. Malam ini kamu menemani aku lagi kan di sini?" tanya Bram sambil menggenggam jemariku.


Deg! Aku harus memberitahukan Bram saat ini juga. Mumpung aku ada keberanian untuk mengatakan itu, sekarang.

__ADS_1


"Kak, aku mau bicara serius kali ini. Aku harap, apa yang aku jelaskan nanti, Kakak bisa memahami dan menerimanya. Sebenarnya dari kemaren-kemaren aku ingin menyampaikan semua. Tapi melihat kondisi Kakak saat ini, aku tunda," jawabku sambil memandang mata Bram.


Terlihat di sana, ada tatapan penasaran akan kelanjutan ceritaku.


"Tentang apa Zanu? Tidak seperti biasanya. Baiklah, apapun yang akan kamu katakan, aku berusaha untuk bisa menerimanya, silahkan," ujar Bram.


"Begini Kak, aku sudah menyampaikan maksud Kakak terhadapku ke Papa dan Mama. Aku juga sudah jelaskan secara detail keinginan Kakak,"


Kulihat Bram diam seribu bahasa dan masih menunggu lanjutan dari ceritaku.


"Papa tidak setuju Kak. Jangankan untuk menikah, untuk kita tunangan saja, Papa tidak mau. Sedangkan Mama hanya bisa mengikuti perkataan Papa. Papa ingin aku kuliah dulu sampai selesai dan mendapatkan pekerjaan. Jika umurku di anggap sudah matang untuk berumah tangga, barulah Papa bisa memberikan restunya," ujarku lagi.


Bram masih diam. Sepertinya dia sudah menduga sebelumny dengan apa yang ingin aku sampaikan. Bram menghela nafas dan bunyinya terasa berat.


"Oh! Begitu ya.., pupus sudah harapanku untuk memilikimu secepatnya. Terus kenapa kamu bisa menginap di sini tadi malam? Jangan bilang kalau kamu tidak pulang dari kemaren," balas Bram.


"Aku izin Papa dan Mama langsung Kak. Mana mau aku pergi begitu saja tanpa memberitahukan Papa dan Mama. Alhamdulillah, hati Papa luluh mau mengizinkanku saat tau kondisi Kakak," jawabku.


"Tapi tidak mungkin Papamu mengizinkan begitu saja. Jika secepat itu Papamu memberi izin, itu bearti masih ada celah untuk aku memilikimu Zanu. Coba kamu ceritakan secara detail," Bram penasaran.


"Sebenarnya yang minta izin ke Papa dan Mama itu adalah Pak Rektor beserta istrinya. Mereka datang langsung ke rumah dan meminta bantuan ke Papa, supaya aku bisa menginap di sini sampai Kakak siuman. Dengan satu syarat, jika Kakak sudah siuman, maka aku harus pulang. Dan syarat tersebut di terima oleh Pak Rektor. Jadi, sekarang Kakak kan sudah siuman. Aku tidak bisa menemani Kakak malam ini lagi. Tapi, Papa masih memberi toleransi, aku boleh mengunjungi Kakak sekali-kali ke rumah sakit ini," ujarku.


Tiba-tiba aku melihat tatapan Bram berubah. Yang tadinya semangat, sekarang menjadi sedih dan sendu. Aku sebenarnya tidak tega menjelaskan semua ini ke Bram. Karena pasti Bram mengaharapkan keinginannya bisa dikabulkan.


Bram diam sejenak dengan nanar dan tak bersemangat lagi. Apakah pikiran Bram mulai terganggu?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2