
Ricard? Apa dia keponakan Mami, kok bisa?
"Lho? Kamu kenapa berada di sini Zanu?" Ricard sama kagetnya dengan kehadiranku.
"Kalian saling kenal?" tanya Mami.
"Eh iya Tante, ini temannya Ricard satu jurusan. Kita sering ketemu di kampus," jawab Ricard sambil tersenyum malu-malu.
Apaan sih! Ketemu jarang dibilangnya sering, hadeh..
"Oh, baguslah kalau sudah saling kenal. Mereka berdua ngekost di tempat Tante,"
"Kalau Tante udah sembuh, Ricard main ke kost ya,"
"Tumben kamu mau ke kost Tante? Biasanya nggak pernah mau tuh, ada apa ya..?" Mami menggoda Ricard, seakan tau jika Ricard ingin mendekatiku.
Ricard tersenyum, ia langsung salah tingkah dan akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan.
"Ricard itu keponakan Mami satu-satunya. Mami nggak punya anak, jadi yang bisa jagain Mami ya si Ricard. Kasian dia, orang tuanya sudah bercerai saat ia masih kecil. Walau semuanya tercukupi sampai sekarang, tapi ia kurang kasih sayang dari orang tuanya. Kalau ada apa-apa, dia curhat ke Mami. Lihat dia tersenyum saja, itu sudah membuat Mami bahagia. Akhir-akhir ini dia senang dan senyum-senyum sendiri, tapi dia belum mau cerita sama Mami," Mami bercerita panjang lebar.
"Kasian juga ya Mami, pasti dia merasa kesepian selama ini. Apa orang tuanya tidak pernah menjenguk ya Mami?" tanya Kak Siska.
"Ada sekali-kali. Orang tuanya sudah memiliki keluarga masing-masingnya dan juga sudah memiliki anak. Dia pinter nyimpan duit, duitnya diputer bikin usaha. Setiap bulan dapat uang jajan, dikumpul sampai ratusan juta. Sekarang dia sudah punya perusahaan sendiri dengan umurnya baru segitu,"
"Wuih! Keren dong Mami, masih muda banget sudah punya perusahaan sendiri. Apalagi dari uang sendiri walau didapatkan dari orang tuanya. Kalau aku malah ngabisin duit, belum kepikiran nabung, hehehe..," Kak Siska salut dengan kesuksesan Ricard diusianya yang masih muda.
Entah mengapa aku ingat Bram. Bram juga seorang pengusaha muda, tapi ia melanjutkan apa yang diwariskan orang tuanya. Bukan dari hasil kerja dia sendiri, diawalnya. Pastinya antara Ricard dan Bram memiliki perbedaan yang sangat jauh walau mereka sama-sama memiliki perusahaan di waktu masih tergolong muda.
"Eh, hari sudah sore. Mami, aku sama Zanu pamit pulang ya," ujar Kak Siska.
Untung banget Kak Siska cepat pamitnya. Kalau tidak, aku bisa ketemu lagi sama si Ricard itu, males!
"Iya Mami, Zanu pamit juga ya. Cepat sembuh ya Mi, biar kita bisa ketemu lagi dan ngobrol di kost," ujarku menimpali.
__ADS_1
"Oke nak, terima kasih sudah menjenguk Mami. Do'akan segera sembuh, Mami juga nggak betah berlama-lama di sini. Hati-hati ya, salam untuk yang lainnya,"
"Baik Mami," jawabku dan Kak Siska serempak.
Kreett...!
Pintu masuk terbuka dan itu Ricard. Ia kaget saat melihat kita sudah bersiap-siap hendak pulang. Aku dan Kak Siska menghampiri Mami, kita salaman.
"Lho, cepat sekali pulangnya Zanu? Sudah minum belum?" tanya Ricard basa-basi. Sebenarnya ia ingin aku berlama-lama di sana, entah apa yang ia pikirkan.
"Kamunya yang kelamaan di luar. Kapan-kapan kamu ke kost Mami, bisa ngobrol panjang di sana," Mami menimpali.
Aku dan Kak Siska berlalu begitu saja menuju keluar. Tanpa berkata-kata dengan Ricard yang masih bengong menyaksikan kita keluar dari ruangan.
Sesampainya di tempat parkir, kita langsung masuk ke dalam mobil Kak Siska. Mesin dihidupkan dan mobil melaju ke tempat kost.
*********
Di dalam perjalanan.
"Yah, sepertinya Kak. Di kampus dia berusaha mendekatiku walau dia tau kalau aku sudah memiliki Ketua. Bahkan saat berjalan dengan Ketua, ia berani melihatku. Makanya Ketua sempat marah dan ingin menegur, tapi aku mencegahnya," penjelasanku.
"Apa dia tidak tau kalau kamu pacarnya Ketua? Apa dia tidak tau Ketua itu siapa? Aneh..,"
"Itu dia, Ketua curiga mengapa dia ngotot mau dekatin aku. Takutnya ada niat tertentu,"
"Kalau gitu kamu harus hati-hati dari sekarang Zanu. Nanti kalau dia main ke kost kita, tenang, Kakak akan jagain kamu," ujar Kak Siska.
Aku mengangguk. Syukurlah Kak Siska mau membantuku dan tau apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya jika nanti mampir ke kost kita.
Saat perjalanan pulang, aku melihat disepanjang jalan, banyak pedagang menjual rambutan. Lagi-lagi aku ingat Bram yang pernah singgah untuk membelikanku sekarung rambutan. Bahkan dia juga memberikan aku satu hektar tanah untuk ditanami rambutan.
Sekarang semuanya tinggal kenangan. Aku rindu Kak. Apa kabar Kakak sekarang?
__ADS_1
Akhirnya mobil sampai dan masuk ke garasi tempat kost. Kita turun, lalu melangkah masuk melalui pintu samping. Hari sudah menjelang magrib, aku langsung naik kelantai dua menuju ke kamar. Sedangkan Kak Siska kekamarnya yang berada di lantai bawah. Ku sempatkan mandi dan berganti pakaian, setelahnya wudhu dan menunggu adzan magrib.
*********
Besok paginya aku menolak secara halus tawaran Kak Siska untuk pergi bersama ke kampus. Bukannya tidak mau, tapi aku ingin menikmati hari dengan menaiki Bus. Ingin mengingat memori saat pertama kalinya aku kuliah di kampus dan pulang pergi bersama Prita dengan menaiki Bus.
Walau Prita akan menjadi istrinya Bram, aku tidak bisa membencinya. Karena dia tidak tau apa-apa dan aku yakin dia tidak akan pernah mau menerima Bram. Sudah ada Atif di hati Prita, dia juga tau jika Bram benar-benar mencintaiku.
Semoga kamu lekas sembuh Prita, walau dengan kesembuhanmu itu akan mempercepat pernikahanmu sendiri. Atau bisa saja takdir berkata lain, kamu bersama Atif dan aku bersama Bram. Itu terjadi jika Bram cepat menyelesaikan misinya sebelum Prita sembuh. Entahlah..., ini adalah kisah yang terberat dalam hidupku dan tidak tau harus berbuat apa.
"Hei Zanu! Kamu jangan merenung terus, busnya sudah sampai kampus. Apa kamu tidak turun?"
Aku kaget dan menoleh kearah suara yang menegurku. Dan itu ternyata Ibas yang hendak turun dari Bus.
Dengan cepat aku berdiri dan ikut turun. Kebetulan Fakultas Hukum dengan Fakultas Teknik Sipil berdekatan. Jadi satu arah dengan Kak Ibas, temannya Bram.
Untung dia mengingatkanku untuk turun. Kalau tidak, bisa jauh berjalan menuju ke Fakultasku.
Kak Ibas tepat berada didepanku. Aku tetap berjalan dibelakangnya tanpa mendahului. Dan ia menyadari itu dengan menoleh ke belakang.
"Hei Zanu, apa sudah ada kabar dari Bram?" tanyanya sambil mengiringi langkah di sampingku.
"Sudah Kak, kemaren nelpon ke kost dan bilang sudah sampai Amerika. Cuma itu, karena yang angkat telepon teman kost," jawabku.
"Oo.., syukurlah. Rencananya abis kuliah ini Kakak mau ke Amerika juga lanjut S2. Semoga bisa bertemu dengan Bram di sana. Nanti kamu bisa titip surat atau pesan ke dia, biar Kakak bantuin,"
"Hah?! Beneran Kak? Duh.. Terima kasih ya Kak sebelumnya. Nanti kalau jadi berangkat ke sana, beritau Zanu ya Kak," aku senang sekali mendengar kabar ini, akhirnya ada yang bisa menjadi penghubung komunikasiku dengan Bram.
"Iya, sama-sama," jawab Kak Ibas.
"Oiya, ngomong-ngomong bagaimana caranya Kakak bisa menemukan Kak Bram? Kan Amerika luas ya..," aku heran juga kenapa dia bisa tau. Mungkin Bram pernah bercerita tentang kediamannya di Amerika.
"Ya tau dong, aku rasa semua orang di Amerika juga tau Bram itu siapa. Tinggal cari alamat perusahaannya yang memiliki nama OX diujungnya, nah itu pasti punya dia. Gampang kan? Apa kamu tidak tau tentang itu Zanu? Betapa hebatnya seorang Bram dan kamu perempuan paling beruntung bisa memilikinya. Bukan dari segi materi saja, tapi Bram itu baik dan peduli sesama. Pokoknya paket komplitlah," penjelasan Kak Ibas.
__ADS_1
Iya, aku tau itu. Tapi, dia akan menjadi milik orang lain dan itu adalah sahabat aku sendiri. Apakah nanti aku bisa memiliki seorang lelaki seperti Bram? Aku rasa tidak ada gantinya karena aku hanya mencintai Bram.
...****************...