Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 96 : Handuk


__ADS_3

"Hallo Chef, maaf lama menunggu," sapa Bram dengan menyodorkan tangannya.


"Hallo juga Pak Bram. Tidak apa-apa, perkenalkan saya Chef Brasnu. Senang bisa bertemu langsung dengan Pak Bram," sapa Chef sambil menyalami Bram.


"Oiya, perkenalkan ini Zanu," Bram memperkenalkanku.


"Salam kenal Non Zanu," Chef mengulurkan tangannya.


"Iya Chef," jawabku singkat sambil menyambut uluran tangan Chef.


Kenapa pula Chef memanggilku Non?


"Chef, tolong buatkan saya dan Zanu menu untuk nanti malam, steak daging lada hitam ya," ujar Bram langsung tanpa basa basi dulu.


"Siap Pak Bram. Untuk makanan penutup Bapak mau dibuatkan apa?" tanya Chef dengan semangat.


"Zanu, kamu mau apa?" Bram bertanya kepadaku.


"Hhmm.., puding saja Kak, puding leci atau mangga," jawabku.


"Baik Non, nanti saya buatkan," ucap Chef.


"Oke Chef, terima kasih. Jangan lupa nanti siapkan juga berbagai macam buah-buahan di atas meja. Saya dan Zanu permisi dulu," ujar Bram.


"Baik Pak Bram," jawab Chef.


Bram menarik tanganku keluar dari ruang makan. Kulihat Chef senyum-senyum melihat tingkah Bram.


"Kak, bisa pelan-pelan nggak? Main tarik aja," protesku sambil mengikuti langkah Bram dari belakang.


"Sini, aku mau menunjukkan taman belakang dekat kolam renang," jawab Bram.


"Iya, tapi kan bisa pelan. Emangnya di sana ada apa?" tanyaku.


"Kamu lihat saja sendiri," jawab Bram.


Klik!


Bram membuka pintu kaca segede gaban. Kita melewati lorong berwarna putih dan pinggiran dindingnya ada tanaman bunga berwarna merah.


Blass..!


Terlihatlah pemandangan yang indah, segar dan sejuk setelah berada di ujung lorong.


Aku melihat kolam renang marmer biru, pohon palem tersusun di pinggir kolam, berbagai bunga ukuran besar dan kecil. Lagi-lagi berwarna merah.


Dinding samping kolam terdapat batu marmer warna kuning gading. Ada dua tenda berwarna putih dan gazebo dari kayu nuansa putih. Hanya di sini aku dapati warna lain selain warna putih, hitam dan merah.


Kolam sekaligus tamannya terlihat kontras dan indah. Ternyata di sudut dekat pohon yang rindang ada ayunan kecil nangkring di sana.


Tanpa sadar aku melepaskan tanganku dari Bram. Aku berlari menuju ayunan tersebut dan langsung duduk sambil mengayunkan tubuhku.


"Hei..! Hati-hati Zanu. Nanti terpeleset, ada banyak air di sini," peringatan Bram.


Aku cuek saja dan terus mengayun. Bram menghampiriku.


"Zanu, kamu mau berenang nggak?" tanya Bram.

__ADS_1


"Nggaklah, aku nggak mau. Asik main ayunan ini. Kakak saja ya," jawabku.


"Ya sudah, kamu main saja dulu. Aku ke sana ya," tunjuk Bram ke arah tempat berbentuk kotak.


"Ngapain Kakak ke sana?" tanyaku heran.


"Mau ambil handuk," jawab Bram sambil berbalik arah dan berjalan.


"Oh..," ujarku tanpa berpikir apa-apa.


*********


Beberapa menit kemudian..


"Zanu!" panggil Bram.


Aku melihat Bram dan kaget! Terlihat Bram hanya memakai CD saja! Sambil menenteng handuk kimono berwarna putih. Tubuhnya yang atletis membuatku jadi bergidik dan salah tingkah.


Ya Tuhan! Perasaanku kok jadi tidak karuan. Semakin Bram mendekat, detak jantungku kok semakin cepat.


Ada apa ini? Tolong...


"Hei..! Kamu kenapa Zanu? Bengong lagi ya? Atau lagi melamun?" tanya Bram sambil menjentikkan jemarinya ke wajahku.


"Eh, nggak Kak. Nggak ada," jawabku kelimpungan sambil melempar pandangan ke arah lain.


"Kamu kenapa? Apa kamu grogi melihatku seperti ini?" tanya Bram sambil mendekatiku lebih dekat lagi.


"Apaan sih! Jangan dekat-dekat! Sana...!" ujarku sambil mendorong tubuh Bram untuk menjauh.


Glek!


Tubuhku terasa bergetar dan aku mulai panik.


Menyadari akan hal itu, Bram menjauhiku mundur beberapa langkah.


"Zanu, aku mau berenang. Jadi ya pakaiannya gini. Apa kamu tidak bisa melihatku seperti ini Zanu?" tanya Bram.


"Iyaaaa....! Pakai apa kek, di tutup gitu!" jawabku sambil menutupi wajah.


"Zanu, Zanu..., kamu masih terlihat lugu ya sayang. Baiklah kalau gitu, aku akan lakukan apapun maumu," ujar Bram sambil menutupi tubuhnya dengan handuk kimono.


"Sudah. Kamu sekarang bisa melepaskan tangan dari wajahmu itu,"


Berlahan aku menurunkan tanganku dan aku melihat ke arah Bram.


Memang Bram sudah memakai handuknya, tapi entah mengapa tubuhku belum bisa diajak kompromi. Detak jantungku masih cepat dan pelan-pelan tubuhku berkeringat.


Zanu, santai aja kali.. Kan Bram sudah pakai handuk.. Jangan malu-maluin deh.


"Jadi gimana nih, aku boleh berenang nggak? Masa' aku berenang pakai handuk?" tanya Bram.


"Boleh, tapi aku tunggu di ruang tamu saja ya. Kakak berenang sendiri saja," jawabku.


"Lho? Ya nggak bisa gitu. Kamu di ajak berenang nggak mau. Temani aku dong,"


"Ogah!" jawabku manyun.

__ADS_1


Tiba-tiba aku melihat Pak Tio sedang berjalan menghampiri Bram.


"Permisi Bos, Non, maaf mengganggu waktunya sebentar. Ada tamu, Dokter Danang," ujar Pak Tio.


"Tolong bawa Dokter Danang ke sini," perintah Bram.


"Baik Bos,"


Pak Tio pergi menuju keruang depan. Sedangkan Bram berjalan menghampiriku.


"Zanu, ada Dokter Danang. Mungkin mau memeriksa kesehatanku. Kita ke gazebo itu yuk," ajak Bram sambil mengulurkan tangannya kehadapanku.


Aku menepis perasaan tadi. Aku turun dari ayunan dan menyambut uluran tangan Bram. Sentuhan tangan Bram kali ini entah mengapa seperti ada sesuatu yang bergejolak di hatiku.


Aku mengikuti Bram dari belakang dan sempat mengamati tubuh Bram. Pikiranku mulai melalang buana.


Aku dan Bram masuk ke dalam gazebo dan mengambil posisi duduk.


Deg! Terlihat dari dekat di balik handuk kimono Bram, dadanya yang atletis di tumbuhi bulu-bulu halus. Aku juga melihat bekas operasi di bahu Bram dan beberapa bekas luka sayatan.


"Sayang, kenapa kamu bengong terus. Belum selesaikah kamu memikirkanku?" goda Bram.


Aku kaget! Duh, malunya..


"Eh, nggak Kak. Dokter Danang sering ke sini ya?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Bram.


"Tidak juga, paling seminggu sekali. Kalau aku sehat, sebulan sekali," jawab Bram.


"Oh...,"


Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku diam dan menunggu reaksi Bram.


"Permisi Pak Bram, mbk Zanu,"


Tiba-tiba kita dikejutkan oleh kehadiran dokter Danang.


"Eh Dok, kaget saya," jawab Bram sambil tersenyum.


"Maaf Pak Bram,"


"Tidak apa-apa. Mari Dok silahkan duduk," tawar Bram.


Dokter Danang langsung mengambil posisi duduk di depan Bram dan aku.


"Pak Bram mau berenang ya?" tanya dokter.


"Iya Dok, sudah lama rasanya saya tidak berenang," jawab Bram santai.


"Maaf Pak Bram, Bapak belum diperbolehkan untuk melakukan aktifitas berat. Termasuk berenang. Karena bahu Bapak belum kuat untuk di bawa berenang, takutnya ada yang bergeser di dalamnya. Apalagi tulang rusuk abis di operasi sedang proses pemulihan. Dan itu butuh waktu yang agak lama," ujar dokter serius.


"Oh iya Dok. Saya lupa,"


"Untung saya segera ke sini ya Pak Bram, he..he..he," jawab dokter Danang.


Bram tersenyum.


Seharusnya aku tadi memperingatkan Bram, ini malah membiarkannya. Huh! Aku harus konsen untuk kesembuhan Bram.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2