
"Silahkan dinikmati Kak, Bang," ujar pelayan cafe.
"Terima kasih," jawabku serempak dengan Redu.
Pelayan cafe mengangguk dan berlalu dari sana. Redu langsung mengambil jus yang baru diletakkan. Setelahnya ia menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan cerita kepadaku.
"Begini Zanu. Angga tidaklah sepenuhnya mengalami kecelakaan. Kemungkinan ada perencanaan pembunuhan terhadapnya. Entah apa tujuannya, aku belum tau," ujar Redu sendu.
"Hah?!! Kok bisa?"
Pernyataan Redu membuatku sedikit shock dan seakan tidak percaya apa yang dikatakannya. Mengapa ada yang ingin membunuhnya?
"Bisa saja Zanu. Apa saja bisa terjadi jika ada orang yang berniat jahat ke kita. Tentang ini hanya kita berdua saja yang tau. Aku tidak mau membuat kegaduhan," jawab Redu.
"Kenapa eh, maaf. Apakah aku boleh panggil Abang saja? Rasanya tak elok memanggil dengan kata kamu," aku menyadari kesalahanku yang sedari tadi memanggilnya dengan panggilan yang terlihat tidak sopan.
"Silahkan Zanu, aku tidak keberatan,"
"Oiya, kenapa Abang bisa kepikiran kalau Abang Angga sengaja di bunuh?"
"Dari segi ilmu kedokteran, memang terlihat kejanggalan. Dan kalau dari segi ilmu berkendara, juga terdapat keanehan. Sebelum kejadian, Angga sempat bercerita kalau dia dibuntuti seseorang. Waktu itu aku hanya menanggapinya biasa saja, karena dia seorang polisi pasti mengalami dimana ada saja orang yang tidak menyukainya," jawabnya.
"Bukannya Abang baru berada di sini ya? Dapat dari mana Abang info tersebut?" tanyaku lagi.
"Kebetulan teman Abang seorang dokter bertugas di sini, beliaulah yang memeriksa kondisi tubuh Angga saat kecelakaan. Teman Abang sudah menyampaikannya ke atasan Angga, bahwa terdapat zat yang membuat Angga kehilangan kesadaran untuk jangka waktu tertentu. Jadi kemungkinan besar, saat Angga berkendara, ia hilang kendali karena pengaruh zat tersebut. Disaat itulah tiba-tiba ada truk besar tepat berada dibelakang mobil Angga, lalu menabraknya hingga terpental beberapa meter diluar jalur jalan,"
"Kenapa Abang tau juga tentang itu?" aku semakin penasaran.
"Terlihat dari cctv di jalan raya. Kebetulan ada teman Abang kerja di bagian memantau cctv tersebut. Dia yang memperlihatkan rekaman itu, walau tidak terlalu jelas. Dan ada saksi lain, temannya Angga membeli minunan. Sepertinya temannya numpang mobil Angga saat dia mau berangkat ke kota M untuk melamar tunangannya itu. Teman Angga memberikan botol minuman tersebut, kemungkinan dia memasukkan sesuatu didalamnya,"
"Ya Tuhan. Tega sekali orang itu! Kesalahan apa yang sudah dilakukan Abang, sehingga ia menjadi target pembunuhan," aku sedih mendengar penjelasan Redu.
"Selama Angga bertemu kamu, apa ada dia cerita sesuatu atau ada temannya yang kamu kenal?" tanya Redu.
Aku berusaha mengingat kalimat demi kalimat atau sesuatu yang berhubungan dengan Angga.
__ADS_1
"Aha! Ada Bang. Dia temannya Bang Angga satu kontrakan, dulu pernah memberikan surat untukku saat pemakaman. Katanya titipan dari Bang Angga sebelum berangkat ke kota M waktu itu,"
"Siapa namanya? Apakah surat itu benar-benar dari Angga? Masih ada kan surat itu sama kamu?" tanya Redu.
"Aduh, maaf aku lupa siapa namanya. Nanti aku coba ingat-ingat lagi. Kalau suratnya masih aku simpan di laci Bang. Memangnya kenapa dengan surat tersebut?" tanyaku balik.
"Mungkin aku bisa menemukan petunjuk di sana. Kalau boleh kapan aku bisa lihat surat itu Zanu?"
"Sekarang saja Bang, setelah makan di sini. Karena besok subuh aku sudah ke kota P, kuliah sampai sabtu depan. Jadi waktu untuk ketemu lagi takutnya kelamaan," jawabku.
"Kamu kesini bawa kendaraan sendiri Zanu? Kalau tidak bawa, biar sekalian aku antar,"
"Boleh. Tapi takutnya nanti tunangan Abang berpikir aneh denganku,"
"Tidak apa-apa, nanti biar aku jelaskan. Sekarang kita santap makanan ini dulu,"
"Baik Bang,"
Aku dan Redu mulai mengambil makanan masing-masing yang sudah tersedia sedari tadi. Sambil makan, sekali-kali kita mengobrol tentang kehidupan masing-masing. Terlihat Redu dan aku mulai tidak canggung lagi.
*********
Setelah menikmati makanan dan minuman, kita berdua pergi keluar dari cafe, menuju kerumahku dengan mengendarai mobil Redu.
Tidak banyak yang kita bicarakan selama dalam perjalanan. Dia hanya membahas tentang tunangan dan karirnya saja. Dimana tunangannya tersebut menyusul untuk liburan, karena Redu baru saja ditugaskan ke daerah ini. Jadi sekalian ia ingin menyelidiki kematian saudara kembarnya.
Mobil berhenti di depan rumahku. Setelah turun, aku mempersilahkan Redu duduk di teras rumah. Bukannya apa, mobil Papa tidak kelihatan, jadi dipastikan Papa sama Mama masih di luar. Kemungkinan hanya tinggal Zuri di dalam rumah.
Aku mengetuk pintu dan benar ternyata Zurilah yang membukakan pintu.
"Hai Kak, udah balik aja. Bagaimana tadi pertemuannya?" tanya Zuri tanpa tau jika aku bersama Redu.
"Ssst...! Sini kamu," ajakku kesudut pintu ruang tamu.
"Ada apa sih Kak? Aku tutup dulu pintunya," Zuri hendak menyentuh daun pintu.
__ADS_1
"Nggak usah Zuri. Kita kedatangan tamu. Pasti kamu kaget kalau melihat sosoknya," ujarku pelan sambil mengintip ke luar pintu.
"Owalah Kak, bilang dong kalau Kakak sama temannya ke sini. Siapa sih?" tanya Zuri.
"Kamu nggak akan percaya deh. Sini aku kenalin," aku menarik tangan Zuri menuju ke teras depan.
Zuri mengikutiku dengan mimik wajah penasaran. Sesampai di depan Redu, betapa kagetnya Zuri melihatnya.
"Aaa...! Aaa...!" teriak Zuri dengan expresi takut. Ia mudur beberapa langkah ke belakang. Aku hanya memperhatikan expresi Zuri.
"Abang Angga? Bukannya, bukannya udah nggak ada lagi?!" Zuri masih histeris. Ia menutupi wajahnya berulang-ulang dan mencubit lengannya sendiri. Untuk memastikan, jikalau itu bukan mimpi.
Redu dan aku hanya tersenyum melihat tingkah Zuri. Kemudian Redu berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah Zuri yang masih berada diposisinya.
"Perkenalkan saya Redu. Pasti yang kamu maksud itu saudara kembar saya bukan?"
"Hah?! Saudara kembar? Kok bisa?" Zuri masih belum mempercayainya. Tanpa basa basi, Zuri menekan tangan Redu secara berulang-ulang.
"Eh! Zuri, ngapain gitu. Udah ih malu. Abang Redu ini beneran saudara kembarnya Bang Angga," aku menarik tangan Zuri.
"Nggak apa-apa Zanu," ujar Redu sambil tersenyum.
"Namaku Zuri Bang," ucap Zuri sambil menunduk. Ia merasa expresinya barusan memang agak memalukan, apalagi belum mengenal sama sekali.
"Oiya, Abang ngobrol aja dulu sama Zuri ya, aku mau ke lantas atas untuk mengambil surat itu," ujarku.
"Iya Zanu, silahkan,"
"Kak, aku kok ditinggal," Zuri mulai salting.
"Udah ah, bentar aja kok," jawabku sambil bergegas ke dalam, tanpa menggubris lagi omongan Zuri selanjutnya.
Sesampainya di dalam kamar, aku membuka laci dan menemukan diary biruku. Tersadar jika diary itu sudah lama tidak kutulis.
Aku mengambil amplop berisikan surat dari Bang Angga. Ku buka dan membacanya kembali.
__ADS_1
...****************...