
Itu Laura?
Laura adalah anaknya Pak Jack, kaki tangannya Bram.
Apakah Laura yang akan menemaniku malam ini? Sepertinya iya, siapa lagi kalau bukan dia?
"Selamat sore Bos dan Non Zanu," salam Laura dengan sopan.
"Sore. Terima kasih kamu sempatkan waktu malam ini untuk temani Non Zanu," ujar Bram.
"Sama-sama Bos, kebetulan saya besok libur. Apa kabar Non?" tanya Laura menghadapku.
"Baik Laura. Terima kasih ya," jawabku.
"Iya Non,"
Terlihat Laura meletakkan tas bawaannya di tepi sofa. Dan mulai mengumpulkan piring serta gelas yang berada di ruangan ini.
"Tidak usah repot-repot Laura. Biarkan saja, nanti ada perawat khusus yang akan membereskan itu semua. Kamu istirahat saja," ujarku sambil mencegah Laura.
"Tidak apa-apa Non, cuma menyusunnya di satu tempat," jawab Laura.
Aku cuma diam dan mendekati Bram.
"Sayang, biarkan saja. Sekarang kamu mau ngapain lagi? Hari sudah sore," tanya Bram sambil membelai pipiku.
"Tidak ada, paling bentar lagi aku mau mandi. Oiya, besok bagaimana ya, apa kita bareng melayat ke tempat Vincent?" tanyaku balik.
"Iya dong. Besok pagi ke sana, abis itu langsung ke rumahmu dan minta izin ke orang tua untuk membawamu ke kota P," jawab Bram.
"Yakin besok keadaan Kakak sehat? Kan masih rawat jalan,"
"InsyaAllah aku kuat sayang, kalau ada kamu di sampingku, semua jadi aman terkendali," jawab Bram sambil tersenyum serius.
"Ah, gombal! Mana ada lagi sakit, dekat pasangannya langsung sembuh, he...,"
"Lho, kamu nggak percaya ya?"
"Aku lebih percaya kalau dokter yang bicara nanti. Jangan dipaksakan bergerak Kak, jika memang masih sakit,"
"Percayalah, aku bisa berjalan besok dan kuat," harap Bram.
"Ya udahlah kalau gitu, semoga benar-benar sehat. Aku mandi dulu Kak, terasa lengket di kulit," ujarku sambil berdiri hendak melangkahkan kaki ke kamar mandi.
"Bentar," sela Bram.
__ADS_1
Aku melihat ke arah Bram dan sedikit heran.
"Laura, tolong kamu keluar dulu. Sekalian tolong beli buah di luar. Uang bisa kamu minta ke Pak Jack. Kalau kamu sudah kembali, tunggu saja di luar sampai Non Zanu memanggil," ujar Bram ke arah Laura.
Aku kaget! Kenapa Bram malah menyuruh Laura keluar ruangan?
"Baik Bos," jawab Laura singkat.
"Saya keluar dulu Non," izin Laura kepadaku dan berlalu menuju pintu luar.
Aku cuma bisa mengangguk dan masih dengan pikiran heran yang menghampiri kepalaku.
"Ada apa sih Kak? Kok malah menyuruh Laura keluar?" tanyaku.
"Lho, katanya kamu mau mandi? Selama kamu mandi, Laura tidak boleh ada diruangan ini. Nggak etis berdua diruangan ini sambil menunggu kamu selesai kan?" jawab Bram sambil tersenyum.
"Oohh...," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
Ternyata Bram memikirkan hal ini sampai sedetail mungkin. Benar juga sih tindakan Bram, supaya tidak ada fitnah nantinya.
"Udah sana mandi. Nanti giliran aku yang mandi minta bantuan Pak Jack. Kamu dan Laura harus keluar dulu, oke,"
"Siap Bos," jawabku singkat.
"Eiittss ! Kamu tidak boleh memanggilku seperti itu, aku tidak suka," protes Bram.
********
Uh! Lega rasanya habis mandi. Tubuhku terasa segar, sejuk dan wangi. Di tambah lagi keramas, wuiihh! Benar-benar segar!
Setelah keluar dari kamar mandi, Bram memintaku untuk menghampiri Laura dan meminta tolong ke Pak Jack untuk memandikan Bram dengan cara di lap dengan kain basah.
Aku menuruti perkataan Bram dan segera menuju keluar. Aku mendapati Laura yang sedang duduk sendirian sambil memegang kantong buah.
Aku menyampaikan pesan Bram. Laura langsung bergegas menghampiri bapaknya yang berada di luar gedung rumah sakit. Sedangkan kantong buah yang dibawanya tadi diletakkan begitu saja di kursi.
Aku masuk kembali ke dalam ruangan sambil membawa kantong buah. Terlihat Bram sedang menelepon seseorang. Kuperhatikan dengan seksama, sepertinya itu telepon penting.
Aku duduk dekat Bram sambil menunggu. Tidak berapa lama, Bram mengakhiri pembicaraan.
"Zanu, malam ini akan datang pihak kepolisian untuk mengurus kasus Resa. Pria itu sudah ditemukan. Jadi, karena ini urusan laki-laki, sementara kamu dan Laura menunggu di luar ya," ujar Bram.
"Lho, bukannya menunggu Damar dulu untuk memastikan siapa pelaku yang sebenarnya?" tanyaku heran.
"Sayang, kan bisa lewat telepon. Di luar sana, Damar, Atif dan yang lainnya langsung ke TKP. Dan benar info dari Damar, kalau pria tersebut ada di tempat kost yang dikelolanya. Mereka langsung ciduk dan menyerahkannya ke polisi. Polisi ke sini untuk minta informasi kelanjutan kasus Resa dengan persetujuanku. Resa sekarang sudah pergi ke kota P," jawab Bram panjang lebar.
__ADS_1
"Oh, ya udah. Sekarang aku keluar dulu. Laura sedang memanggil Pak Jack buat ke sini. Yang wangi ya...," candaku.
"Iya, tapi ada syaratnya," jawab Bram sambil mengedipkan mata.
"Sudah ketebak maunya Kakak apa. Ogah!! Malu sama Laura ntar," ujarku ketus.
"Lho? Tau dari mana? Kan aku belum bicara. Pasti nih kamu mikirnya yang aneh-aneh. Syaratnya, aku minta nanti kamu kupasin buah-buahan. Dan disuapin. Itu saja kok, itu juga kalau kamu tidak keberatan,"
Aku melongo dan malu ke diri sediri. Tapi feelingku memang Bram minta sesuatu, mungkinkah itu kiss?? Entahlah..
Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kaki ke arah pintu.
Terlihat di koridor rumah sakit, Laura dan Pak Jack berjalan ke arah pintu ruangan Bram.
"Permisi Non, saya langsung ke dalam dulu," ujar Pak Jack dengan sopan.
"Oh ya, mari Pak, silahkan,"
Tinggallah aku dan Laura sambil mengambil posisi duduk masing-masing di kursi yang sudah disediakan rumah sakit.
"Bagaimana Sekolahmu Laura? Sekarang sudah kelas berapa ya?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Mau naik kelas tiga Non. Alhamdulillah Sekolah saya lancar, lagi sibuk-sibuknya les," jawab Laura sambil tersenyum.
"Bagus itu Laura. Kamu harus semangat Sekolahnya, biar nanti mudah masuk perguruan tinggi negeri. Kalau nilaimu bagus, besar kemungkinan bisa masuk lewat jalur PMDK dan mendapatkan beasiswa," ujarku lagi.
"Tapi Non, saya tidak akan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," jawab Laura dengan raut wajah sedih.
"Lho? Kenapa?" tanyaku kaget.
"Saya dijodohkan Bapak sama teman anaknya," jawab Laura.
"Oh.. Sayang sekali. Apa kamu sudah bicarakan sama orang tuamu sebelumnya?" tanyaku penasaran.
"Sudah Non. Tapi Bapak tidak ada pilihan lain. Karena teman Bapak itu sahabat baik dari mereka kecil,"
"Apa kamu tau siapa laki-laki yang akan ditunangkan denganmu? Apa sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku lagi makin penasaran.
"Sudah Non. Sudah dua kali bertemu, dia tinggal di kota P. Namanya Damar,"
Hah!! Apa Damar yang di maksud adalah Damar yang pernah aku temui? Damar yang sedang mendekati adikku Zuri? Apa iya...
Aku diam dan tidak tau lagi mau bertanya apa. Kulihat Laura bingung melihat expresiku yang tiba-tiba terdiam.
"Hei! Laura! Kamu ada di sini juga? Ngapain?" tanya seseorang.
__ADS_1
Aku dan Laura terkejut mendengar suara yang lantang. Kulihat ke arah sumber suara dan betapa kagetnya aku! Rasanya tidak percaya kalau itu adalah orang yang dikatakan Laura!
...****************...