Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 117 : Biliar


__ADS_3

Berlahan aku membuka kotak.


Dress!


Yup! Dress berwarna putih, panjang, dihiasi taburan swarovski diamond dan lengan pendek.


Tanganku gemetar saat menyentuhnya, aku merasakan ada sesuatu yang ingin Bram utarakan. Dress ini seperti gaun pengantin, tapi dugaanku belum pasti.


"Aku yakin, kamu pasti terlihat sangat cantik dan anggun. Tidak sabar aku ingin melihatmu memakainya malam ini," Bram sumringah dan terlihat bahagia. Aku tidak pernah melihat Bram sebahagia ini, selama dekat denganku.


"Hhmm, Kak. Ini seperti gaun pengantin?" tanyaku.


Bram diam dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepertinya Bram enggan untuk menjawabnya.


"Sudahlah Zanu, aku minta kamu memakainya saja malam ini. Nanti yang makeup in kamu sudah ada. Tolong mengerti dengan perasaanku," Bram melihatku kembali dengan ratapan penuh harap.


Jika Bram tidak bisa menjawabnya, bearti ini benar gaun pengantin. Tapi kenapa harus malam ini aku mengenakannya? Apa Bram ingin melihatku sebelum ia berangkat ke Amerika?


"Baiklah Kak, aku akan memakainya,"


"Terima kasih Zanu," jawab Bram.


"Sekarang ikut aku, ke ruang biliar, kita main di sana. Rasanya sudah lama sekali aku tidak main biliar, temani aku ya?" Bram mengajakku.


"Tapi aku nggak bisa Kak,"


"Tenang, nanti aku ajarin," Bram menarik tanganku keluar dari kamar.


Aku hanya menuruti Bram menuju ke suatu ruangan yang luas. Ada berbagai macam alat olah raga, tempat biliar dan tempat nongkrong yang menghadap ke taman.


Bram menuju ke meja kecil dan memakai glove (sarung tangan khusus permainan biliar), lalu ia mengambil stick biliar. Setelah itu Bram meletakkan triangle di atas meja billiar dan mengisinya dengan bola. Terakhir ia mengambil cue ball berwarna putih dan meletakkannya di salah satu sudut triangle.


"Ayo sini, aku ajarin kamu cara mainnya. Ini stik kamu," Bram memberikan stik billiar kepadaku.


Aku mengikuti arahan Bram sambil memegang stik yang diberikan. Seketika Bram berada tepat dibelakangku, memegang kedua tanganku ke depan dan belakang. Bram menoleh kearahku.


Aku jadi deg-degan dan hatiku langsung bergetar, saat Bram menatapku.


"Kamu harus kosentrasi, lihat bola putih itu. Kamu ayunkan stik ke bola putih arahkan ke bola-bola yang sudah di susun segitiga," Bram mengalihkan pandangannya ke atas meja biliar.


Perasaanku belumlah normal, detak jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku hanya pasrah dan tidak bisa berkutik.


Bram membantuku mengayunkan stik ke arah bola.


Plak!


Bola putih memantul ke arah bola-bola warna warni, ada dua bola yang masuk ke dalam lubang.


"Yee, masuk juga," ujarku kegirangan.


Bram memperhatikanku dan tersenyum.


"Apa kamu bisa memasukkan semua bola?" tanya Bram sambil meraut ujung stik biliar dengan chalk (kapur stik).


"Kita lihat saja nanti," jawabku percaya diri.


"Sekarang giliranku," Bram mengarahkan stik ke bola putih untuk memasukkan bola merah ke lubang yang jaraknya hanya beberapa centi.

__ADS_1


Plak!


Bola merah itu masuk. Terlihat senyum kemenangan dari raut wajah Bram. Bram mengulanginya lagi dengan memasukkan bola warna kuning. Tapi gagal.


"Hore..! Gagal," ledekku.


"Sekarang giliran kamu Zanu," Bram memberikan ruang untukku memukul bola.


Aku belumlah bisa, tapi hanya mencoba berusaha dan kosentrasi. Sama seperti mengikuti arahan Bram tadi.


Plak!


Bola kuning itu ternyata masuk! Keren juga aku ya...


"Horeee! Sekarang giliranku kan?" Aku tersenyum melihat Bram yang manut seakan tidak percaya bahwa aku bisa memasukkan bola tersebut.


Bram mengangguk.


Aku mulai lagi memasukkan bola satu persatu. Entah karena keberuntungan atau kebetulan, semua bola bisa kumasukkan. Jadi akulah pemenangnya!


"Yihaaa!! Aku menang!" Aku melonjak kegirangan.


"Bagaimana?" kukerlingkan mata ke arah Bram.


Bram diam sambil tersenyum. Tanpa kusadari, Bram selalu memperhatikanku saat bermain.


Dia menghampiriku dan membelai rambutku dengan tatapan yang penuh harapan. Tapi tatapan itu sedikit berbeda dari sebelumnya, saat ia memutuskan secepatnya pergi ke Amerika.


"Apa kamu capek? Kita ke taman yuk, sekalian lihat kebun miniku," Bram meletakkan stik billiar, lalu ia menarik tanganku ke pintu menuju taman yang ada di ruang itu.


Sreett!


Di ujung lorong, terlihat kebun buah-buahan yang tertata sangat rapi.


"Kamu mau buah apa?" tanya Bram.


"Rambutan,"


"Kebetulan rambutan lagi berbuah, ayo kita ke sana," ajak Bram sambil menarikku ke kebun bagian kanan. Terdapat pintu kecil dari kayu, bertuliskan rambutan. Bram membuka pintu itu dan sampailah kita ke jalan kecil yang dikelilingi pohon-pohon rambutan.


Aku seperti berada di negri dongeng!


Pohon rambutannya tidak terlalu tinggi tapi berbuah lebat. Ada sekitar sepuluh pohon yang di atur memanjang ke belakang. Bram mengambil keranjang kayu di bawah pohon.


Aku mulai memetik satu persatu rambutan itu sambil jingkrak-jingkrak kesenangan. Sedangkan Bram membawa keranjang dan memperhatikanku.


Tidak terasa keranjang sudah penuh. Aku merasakan capek, habis berlarian ke sana kemari.


"Apa kamu masih mau lagi? Aku ambilkan keranjang ke dua," tanya Bram.


"Nggak, satu itu saja. Ada buah apa lagi?" tanyaku sambil memijit betisku.


"Kenapa kakimu Zanu?" Bram malah fokus dengan kakiku.


"Capek Kak," jawabku sambil tersenyum.


"Ayo sini Kakak gendong dari belakang, kamu pegang keranjang ini," ujar Bram.

__ADS_1


"Nggak ah, aku bisa jalan sendiri," aku menolak secara halus.


"Kalau kamu paksakan nanti sakit. Sini, naik di belakangku," Bram menawarkan bahu belakangnya untuk dinaiki.


Aku ragu dan malu. Bram masih menunggu reaksiku. Aku terpaksa naik di belakang bahu Bram sambil membawa keranjang.


"Peluk bahuku Zanu, biar nggak jatuh," perintah Bram.


Aku mengikuti saran Bram. Dan sekarang aku benar-benar dekat dengan wajah Bram. Kita melewati lorong tadi menuju ke taman. Lalu Bram mendudukkan aku di kursi taman dengan pelan-pelan.


Bram duduk dihadapanku dan menarik salah satu kaki.


Bram memijit kakiku!


"Ini yang sakit ya?" tanya Bram sambil terus memijit.


"I..iya.., tapi udahlah Kak, aku malu," jawabku.


"Nggak usah malu-malu Zanu, kakimu harus segera di pijit supaya tidak salah urat nanti. Lebih susah lagi sembuhnya. Oiya, ke kebun lainnya besok saja ya. Sekarang kamu istirahat, karena nanti malam aku mau mengajakmu ke pesta," ujar Bram.


"Pesta? Pesta siapa? Kok tiba-tiba?" tanyaku heran.


"Pesta anaknya Pak Jimmy, pengusaha batu bara. Kamu masih ingat tidak?"


"Yang mana ya? Pernah ketemu di mana?"


"Kita pernah ketemu saat tunangannya Vincent bersama Aura," Bram memijit kakiku yang sebelahnya lagi.


"Oiya, aku ingat. Anaknya perempuan ya? Pesta di rumah?" tanyaku lagi.


"Iya perempuan, pestanya di hotel. Nanti kamu pakai gaun putih yang aku berikan tadi," jawab Bram.


"Tapi, apa gaunnya tidak terlalu polos, putih semua? Nanti dikirain tamu, aku pengantinnya, he..he..he..,"


Tiba-tiba Bram terdiam dan melepaskan pijatannya. Ia duduk disampingku. Entah kenapa, Bram memelukku dengan erat.


"Zanu, sebenarnya aku ingin melihatmu seperti pengantinku," ujar Bram lirih di telingaku.


Deg! Jadi benar dugaanku tadi, ini yang dimaksud Bram membelikan aku gaun putih itu. Perasaanku semakin tidak karuan, ada apa sebenarnya?


Bram melepaskan pelukannya.


"Nanti kamu pakai heel warna pink dan clutch yang senada. Sudah aku siapkan semua, aku ingin malam ini kamu terlihat paling cantik di antara semua perempuan di pesta itu,"


"Ah lebay, pasti yang ke pesta cantik-cantik semua. Apalagi yang punya hajatan bukan orang sembarangan, pasti tamunya juga nggak kaleng-kaleng," ujarku.


"Lho, kita juga bukan tamu sembarangan sayang. Percaya deh, nanti semua mata akan tertuju padamu. Kamu akan tau siapa Bram," Bram menarik cuping hidungku.


"Ih, sakit.., jangan sombong deh. Memangnya Kakak siapa? Sama sajalah dengan tamu yang lain,"


"Sudah, yok kita masuk ke dalam, sebentar lagi magrib. Abis sholat, kita langsung bersiap-siap," ajak Bram.


"Kakimu sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Bram sambil mengamati langkah kakiku.


"Agak mendingan, terima kasih ya Kak,"


Bram mencium keningku dan menarik tanganku ke dalam ruang biliar tadi dan langsung menuju ke ruang tengah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2