
Beberapa menit kemudian.
"Zanu, kita pulang kerumahku sekarang," Bram menggenggam tanganku.
"Bentar Kak,"
Aku mendekat ke Prita dan berbisik di telinganya.
"Prita, aku pamit pulang ya. Aku senang kamu sudah siuman, semoga kedepannya kamu baik-baik saja dan bisa mengingatku. Aku pergi ya bersama Bram, dia menemaniku pulang," ucapku, tak terasa air mataku menetes. Ingin rasanya curhat tentang hubunganku dengan Bram saat ini.
Dengan cepat aku menyeka air mata, semoga Bram tidak melihatnya.
Tapi dugaanku salah, Bram melihatku dari dekat.
"Kamu kenapa menangis sayang?" tanya Bram.
"Tidak ada apa-apa Kak, aku cuma sedih lihat kondisi Prita," jawabku.
Bram menarik tanganku dengan pelan.
"Dok, aku dan Zanu izin pulang. Terima kasih Dok sudah membantu saya," ucap Bram sambil menyalami tangan dokter Wahyu.
"Iya Pak Bram, ini memang tugas saya," jawab dokter Wahyu.
"Mari Dok," ujarku.
"Iya Non Zanu,"
Aku dan Bram keluar dari ruang ICU dan menemui Atif yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Atif, tiga hari lagi kita ke Amerika. Kamu persiapkan semuanya termasuk kebutuhanmu selama di sana. Saya tugaskan, mendampingi Prita sampai ia sembuh. Dan asisten yang baru, saya sudah dapat penggantinya di sana. Ini hanya berlaku sementara," ujar Bram.
"Siap Bos. Saya ikuti semua perintah Bos," jawab Atif.
"Siang ini saya pergi ke Prn bersama Non Zanu, kamu hanya fokus di rumah sakit ini saja,"
"Oke Bos,"
Bram dan Aku berjalan ke luar dari rumah sakit menuju parkir mobil. Setelah menghidupkan mesin, mobil langsung melaju ke arah rumah Bram.
********
Sepanjang perjalanan, Bram terus menggenggam tanganku.
"Zanu, hari ini kamu langsung privat nyetir ya?" tanya Bram.
__ADS_1
"Belum tau Kak, mungkin mulainya besok," Aku belum bisa memastikannya karena Papa belum mengatakan kapan aku mulai privat.
"Aku temani kamu, pasti guru privatnya laki-laki kan?" tanya Bram lagi.
"Yaaa, nggak tau Kak,"
Terlihat Bram mulai cemburu. Bram memang tipikal laki-laki pencemburu, tapi ia bisa menutupinya dengan cara yang epik. Bahkan bisa juga dengan cara yang brutal, seperti saat Gilang ingin mendekatiku waktu itu.
"Oiya Kak, bagaimana kabar Gilang? Berapa lama ia di penjara?" entah kenapa aku tiba-tiba teringat akan Gilang.
Bram kaget mendengar pertanyaanku.
"Kenapa kamu malah menanyakan tentang dia?" tanya Bram dengan nada curiga.
"Tanya saja Kak, kenapa? Kakak cemburu?" aku menggoda Bram.
"Iya, aku cemburu. Aku cemburu dengan siapapun yang ingin mendekati kamu," jawab Bram dengan serius.
"Jika nanti kita berpisah, aku bersama yang lain, apa Kakak cemburu juga?"
"Itu pasti. Tapi...," Bram menghentikan ucapannya.
Suasana hening.
"Nanti Kakak menginap di mana selama di Prn? Ke Prn bukan hanya untuk menemaniku saja kan?" tanyaku.
"Seperti biasa, aku menginap di hotel. Ada urusan yang harus aku selesaikan sebelum berangkat. Rencanaku bisnis perikanan dan nelayan, pengurus utamanya aku serahkan ke Pak Jack. Jadi, aku harus menemui Pak Jack juga nanti di sana," jelas Bram.
"Oh..," hanya itu yang bisa kujawab.
"Oiya Zanu, karyawan yang bekerja di pabrik rotiku, yang dulu pernah mengganggumu, apa masih ingat?" tanya Bram.
Aku berusaha mengingat apa yang Bram katakan.
"Iya, ada apa Kak?" aku balik bertanya.
"Istrinya sudah melahirkan, aku belum sempat ke sana. Dan satu lagi, istrinya yang sakit, sekarang sudah sembuh. Mereka ingin sekali bertemu denganmu Zanu,"
"Oiya? Ternyata mereka masih mengingatku. Apa sebaiknya kita ke sana siang ini Kak?"
"Lho? Apa sempat? Kita tidak bisa pergi ke dua tempat. Jika kamu mau, pilih salah satu dari mereka yang ingin kita kunjungi hari ini," Bram memberiku pilihan.
Aku berfikir sejenak dan kuputuskan untuk menjenguk istrinya yang baru melahirkan. Karena istri karyawan Bram satu lagi, baru sembuh. Bearti biaya yang dikeluarkan perusahaan sudah berfungsi sebagaimana mestinya.
Sedangkan yang baru melahirkan, pasti mereka membutuhkan biaya untuk anak mereka kedepan.
__ADS_1
"Kita ketempat istrinya yang baru melahirkan saja Kak," aku sudah mengambil keputusan.
"Oke, kita harus cepat bersiap dan makan," jawab Bram.
Mobil masuk ke dalam gerbang rumah Bram. Kita berdua di sambut oleh Pak Tio dan satu pelayan perempuan.
"Selamat datang kembali Bos, Non," sambut Pak Tio.
"Terima kasih Pak Tio. Pak, tolong segera siapkan makan siang. Saya dan Zanu mau makan lebih awal, karena hari ini kita mau mengunjungi salah satu karyawan pabrik, setelah itu langsung ke Prn," perintah Bram.
"Baik Bos," jawab Pak Tio.
Aku dan Bram masuk ke dalam rumah melalui pintu yang berukuran besar. Sambil menunggu persiapan makan siang, Bram mengajakku ke taman belakang.
"Kak, bagaimana ranselku? Masih di kamar Kakak lho," tanyaku.
"Nanti aku minta tolong ke Pak Tio untuk ambilkan. Sekarang kita bersantai dulu di sini. Sini duduk di dekatku, aku ingin memelukmu sejenak," jawab Bram.
"Buat apa peluk-peluk segala Kak?" aku masih berdiri di dekat pot besar.
"Tidak tau Zanu, aku kok merasa semakin berat ya untuk berangkat dan meninggalkanmu. Apakah nanti jika aku sudah memberitaukanmu alasan dibalik semua ini, kita putus?" tanya Bram dengan mimik wajah serius.
Deg! Putus? Apakah kita benar-benar putus? Tapi untuk alasan apa?
"Maksud Kakak? Apakah Kakak tidak akan kembali lagi ke sini?"
"Itu yang tidak aku tau Zanu. Kemungkinan besar, kita tidak akan pernah bertemu kembali," Bram tertunduk menahan sedih.
Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Apakah benar-benar hubungan ini akan berakhir sampai di sini?
"Kenapa Kak? Apa alasannya?" aku penasaran.
"Zanu, kamu jangan kaget ya sayang. Mamaku tidak merestui hubungan kita berdua dan ada alasan lain kenapa bisa seperti itu. Berat dan sangat berat untuk diselesaikan. Maafkan aku Zanu, aku bisa saja menentang Mama, tapi ada hal yang lebih sulit dari sekedar kata menentang tersebut," Bram berbalik arah kehadapanku.
Duar!! Pernyataan Bram membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Seperti ada sesuatu yang hilang kurasakan, bagaimana bisa Mamanya tidak menyukaiku? Sedangkan aku belum pernah bertemu dengan Mamanya Bram.
"Kak, aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Kakak. Tapi kenapa mereka bisa-bisanya tidak menyukaiku?" aku ingin mendesak Bram untuk menjawab semuanya.
"Zanu, aku hanya bisa menjelaskan itu dulu. Aku yakin pasti akan menambah beban pikiran kita berdua dan pasti suasana jadi berubah. Sedangkan aku masih ingin melihatmu tersenyum menjelang tiga hari ke depan. Jangan rusak harapanku itu, walau hatiku sakit Zanu," Bram menatap mataku, lalu memelukku dengan erat.
"Kak, aku tidak bisa lagi pura-pura bahagia. Bagaimanapun, aku tidak mau membohongi diriku sendiri hanya untuk tersenyum di depan Kakak untuk tiga hari ke depan. Kakak egois! Lebih mementingkan perasaan sendiri! Pernahkah Kakak mengerti perasaanku bagaimana? Pikiran aku apa?!" aku menolak pelukan Bram. Aku merasakan gejolak amarah yang selama ini aku pendam.
"Zanu, please. Aku tidak tahan, aku tidak ingin berpisah denganmu Zanu. Tapi aku tidak bisa, please, jangan kamu bersedih di depanku Zanu," Bram berlutut di depanku sambil memegang tanganku.
Dan Bram menangis.
__ADS_1