Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 51 : Penghuni Baru


__ADS_3

Aku sudah mendapatkan satu buku novel.


Setelahnya aku menyebrang menuju wartel (telepon umum). Aku mau menelepon Bram. Rasanya aku benar-benar kangen dengan Bram.


Aku masuk ke wartel dan memencet nomor Bram. Detik demi detik aku menunggu sambungan.


"Hallo, selamat sore. Ini siapa?" tanya Bram di seberang.


"Hallo Kak, ini Zanu," jawabku.


"Hei Zanu. Wah, udah mulai telepon aku ya sekarang, pasti kamu lagi kangen kan?" tanya Bram lagi.


"Hhmm.. Kakak, lagi apa?" aku menghindari pertanyaan Bram karena malu.


"Lagi meeting, tapi nggak apa-apa kalau kamu yang telepon. Ada apa?"


"Oh, maaf aku ganggu Kakak. Udah dulu ya," jawabku tergesa-gesa.


"Besok aku ke kost kamu ya,"


"Baik Kak,"


Telepon terputus dan aku langsung ke luar wartel. Setelah membayar tagihan wartel, aku langsung berjalan menuju kost.


Aku masuk ke dalam kost. Di teras depan aku melihat ada mobil yang terparkir. Sepertinya ada tamu. Aku langsung menuju pintu samping.


Belum juga kakiku melangkah ke samping, tiba-tiba Kak Siska nongol dari dalam ruang tamu memanggilku.


"Zanu, sini bentar. Kakak minta tolong nih," ujar Kak Siska.


Aku menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, Kak Siska. Ada apa ya Kak?" jawabku sambil menghampiri.


"Ini, tolong Zanu bawa tamu kita lihat kamar atas yang kosong. Kakak yang ngobrol sama Kakaknya," jawab Kak Zanu.


"Kenapa tidak sekalian bawa Kakaknya juga Kak?" tanyaku penasaran.


"Kakaknya itu cowok Zanu, nggak mungkin dong Kakak bawa masuk. Apalagi lihat-lihat kamar,"


"Oiya udah Kak, biar aku yang bawa adiknya,"


Aku mengikuti Kak Siska ke ruang tamu. Saat ke dalam, aku terkejut. Begitu juga tamu cowok tersebut.


Ternyata itu tamu yang menabrak aku di depan toilet dan ketemu di toko sewa novel tadi. Dia lagi mengantar adiknya untuk melihat kost kita.


"Kenalkan Zanu, ini Gilang dan adiknya Sacia," ujar Kak Siska.


Aku mengangguk dan kulihat mereka berdua tersenyum padaku.


"Akhirnya saya tau namanya," celetuk cowok tersebut.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Kak Siska heran.


"Tadi kebetulan ketemu di toko sewa novel," jawab cowok itu cepat.


Apaan sih cowok ini? Bisa-bisanya aku ketemu dia lagi.


"Ayuk Sacia saya antarkan untuk melihat-lihat kamar di atas," ujarku cuek dengan gelagat cowok tersebut.


"Eh iya, mari Zanu," jawa Sacia sedikit kaget.


Aku dan Sacia melangkah menuju tangga. Kulihat sekilas cowok itu terus melihatku. Semoga Kak Siska bilang ke itu cowok untuk jangan menggangguku, karena aku sudah punya Bram.


********


Setelah berkeliling, aku dan Sacia langsung turun ke bawah. Ternyata Sacia suka dengan kamarnya dan kalau jadi Sacia akan tinggal bersebelahan dengan kamarku.


Sacia ternyata anak Fakultas Ekonomi. Dia dari awal tidak ikut ospek karena ada keperluan keluarga di luar kota. Dan dia memutuskan untuk kost di daerah sini.


Sebelumnya dia tinggal dengan Kakaknya di rumah sendiri yang dibeli orang tua mereka. Sedangkan orang tua mereka berada di Singapura.


Kakaknya Sacia ternyata kuliah di Fakultas Kedokteran semester tujuh, sama dengan Bram. Rumah mereka terletak tidak terlalu jauh dari Fakultas Kedokteran, tapi jarak dari sana ke kampus sini terbilang cukup jauh. Makanya Sacia memutuskan untuk ngekost.


"Kak, kamar dan kostnya aku suka banget. Jadi, aku mau ngekost di sini saja," ujar Sacia kepada Kakaknya.


"Oke, kalau itu maumu Dek. Oiya Siska, Ibu kostnya mana ya?" tanya Gilang.


"Bentar, saya hubungi Mami kost. Rumahnya nggak jauh dari sini," jawab Siska langsung ke ruang tengah untuk menelepon Mami kost.


Ya udah, aku diam ajalah..


"Dek Zanu jurusan apa?" tanya Gilang.


Waduh! Pake nanya-nanya lagi.. Harus ku jawab?


"Hukum," jawabku singkat.


"Wah, harus jago nih menilai orang," ujarnya cengengesan.


Apaan sih nih orang? Emang aku Psikolog? Detektif? Atau pendeteksi wajah orang?


Aku diam saja. Anggap saja tidak mendengar.


Dia juga ikut diam, karena melihat responku yang biasa-biasa saja.


"Zanu, kalau dari kost ke halte berapa menit?" tanya Sacia memecah keheningan suasana di sini.


"Paling lama sepuluh menit Sacia. Nanti saat kuliah kita bareng saja sama Prita," jawabku.


Sacia tersenyum. Tiba-tiba handphone si Gilang berbunyi, dia bergegas menggangkat dan langsung melangkah keluar.


Kak Siska masuk ke ruang tamu dan mengatakan kalau Mami kost sedang menuju ke sini. Jadi di suruh tunggu beberapa menit saja.

__ADS_1


Tidak beberapa lama Gilang masuk kembali dan langsung duduk di dekat adiknya. Kulihat dia sesekali melihatku secara diam-diam.


Siska menyampaikan ke Gilang, untuk menunggu Mami kost yang sedang dalam perjalanan menuju ke sini.


Setelah Kak Siska bicara, terdengar suara mobil yang berhenti di teras depan. Dan di pastikan kalau itu mobilnya Mami kost.


Dan ternyata benar! Mami kost masuk dengan senyum ramahnya.


"Hallo semua, saya Ibu kost di sini. Salam kenal," ujar Mami sambil salami mereka berdua.


"Salam kenal juga Bu. Oiya, Adik saya mau ngekost di sini. Tadi sudah lihat-lihat kamarnya. Dan Adik saya suka Bu," ujar Gilang.


"Alhamdulillah.., Di sini kostnya nyaman nak dan semua fasilitas lengkap. Sekali seminggu Ibu memantau anak-anak di sini," ujar Mami untuk meyakinkan keadaan kost miliknya.


"Iya Bu, saya percaya. InsyaAllah besok Adik saya mulai ngekost di sini. Sekarang mau persiapkan barang-barang bawaannya dulu. Dan ini saya langsung bayar lunas di awal Bu," Gilang langsung mengeluarkan uang dari dompetnya dan langsung di serahkan ke hadapan Mami.


Mami menerimanya.


"Baik nak, nanti saya akan suruh Bibi untuk merapikan dan bersih-bersihin kamarnya. Nama adeknya siapa nak?" tanya Mami.


"Adek saya namanya Sacia Bu, baru semester satu. Sedangkan saya Gilang. Sebelumnya, Adek tinggal bersama saya, tapi karena lokasi kuliahnya sedikit jauh, kita insiatif untuk mencari kost di sekitar sini," jawab Gilang.


"Memang sebaiknya ngekost di sekitar sini nak. Terkadang ada saja problem saat kuliah. Bus demo, angkot demo, tugas ketinggalan dan lain sebagainya. Semoga Sacia betah ya tinggal selama di sini,"


Sacia mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah Bu, kita pamit dulu, sudah mau magrib. Mungkin abis adik saya pulang kuliah, besok langsung ke sini. Permisi Bu," ujar Gilang sambil berdiri dan salam sama Mami.


"Iya nak, hati-hati di jalan. Besok langsung saja Sacia pakai kamarnya,"


Sacia tersenyum lagi. Aku dan Kak Siska hanya diam saja melihat mereka keluar dari pintu ruang tamu.


"Oiya, Siska dan Dek Zanu, kita pamit dulu. Terima kasih sudah menyambut kita dengan baik," ujar Gilang kemudian.


Aku dan Siska tersenyum dan ikut mengantarkan mereka ke teras bersama Mami.


Akhirnya mobil mereka melaju keluar kost dan menghilang dari pandangan kita.


"Nak Siska dan Zanu, Mami langsung pulang. Besok Sacianya di sambut dan di antar ke kamarnya, kalau bertemu. Kalau tidak, titipkan pesan sama anak-anak yang lain, biar mereka tidak kaget dengan kedatangan tamu baru," ujar Mami kost.


"Oke Mami," ujarku dan Kak Siska hampir barengan.


Mami langsung pamit dan bergegas menaiki mobilnya. Lalu mobil tersebut pergi.


Aku dan Kak Siska langsung masuk ke dalam. Ku kunci pintu ruang tamu, setelahnya aku langsung ke kamar.


Kulihat novel yang aku pinjam tadi tergeletak di atas kasur. "Ratu", judul novel yang singkat tapi memiliki makna bearti.


Tak sabar rasanya membaca novel tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2