
Aku mengamati cincin pemberian Bram.
"Kamu suka cincinnya Zanu? Coba kamu buka dan lihat di dalam cincin tersebut ada apa,"
Aku membuka cincinnya dan kulihat di dalam ada huruf Z & B.Ox.
"Z itu namamu dan B namaku," diterangkan Bram.
"Ox itu apa ya Kak?" tanyaku. Dari kemaren aku penasaran dengan huruf Ox.
"Ox itu nama keluargaku. Nanti juga kamu akan tau apa itu Ox. Yang pasti cincin ini kamu simpan dan di pakai terus ya. Kalau kamu ingat aku, lihat saja cincin ini, oke," ujar Bram.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tiba-tiba Bram mengacak rambutku. Aku menepisnya, tapi Bram ulangi lagi. Aku mendorong Bram untuk menjauh. Tapi Bram ulangi mengacak rambutku lagi sampai kusut.
"Ha..ha..ha... Memang mirip singa kalau rambutmu di gituin," ledek Bram.
Aku mau membalas Bram, tapi terlihat Prita dan Kak Resa sedang berjalan menuju ke sini.
Awas ya Kak, tunggu saja nanti!
"Hai Zanu, Ketua. Maaf mengganggu.. Selamat ulang tahun Zanu" ujar Kak Resa sambil memelukku.
"Selamat ulang tahun juga Zanu," ucap Prita ikut memelukku juga.
"Tau dari mana aku ultah Prita?" tanyaku.
"Ya tau dong, kan data-data mahasiswa baru, ada sama Kak Resa selaku senior kita?" jawab Prita.
"Iya Prita, semua data ada sama Kakak. Oiya, kita bawa kue ulang tahunnya buat Zanu. Kuenya dibelikan sama Ketua," ujar Kak Resa sambil melihat ke arah Ketua.
"Ayo, kita hidupin lilinnya dan kita rayakan secara sederhana saja," Bram tersenyum dan menghidupkan lilin untukku.
Aku seakan tidak percaya, ulang tahunku kali ini dirayakan bersama orang-orang yang baru aku kenal. Terutama Bram, yang tanpa sengaja hadir dalam hidupku walau baru hitungan minggu.
Aku meniup lilin serta diiringi nyanyian Happy Birthday dari Bram, Kak Resa dan Prita. Lalu aku make a wish.
Tuhan, terima kasih untuk hari ini dan terima kasih dihadirkannya seseorang yang bernama Bram. Jika memang Bram adalah jodohku, pertemukanlah kami di saat yang tepat. Tapi jika bukan jodohku, tetaplah Bram menjadi jodohku, Aamiin.
Maksa banget kamu Zanu.
Lalu sesi memotong kue. Suapan pertama pasti mendarat kemulutnya Bram. Begitu pula sebaliknya. Perasaanku jadi terharu dan senang.
"Kak, terima kasih ya. Terima kasih semuanya," bisikku pelan di telinga Bram.
Bram hanya membalas dengan senyuman. Lalu potongan kue selanjutnya untuk Kak Resa dan Prita.
Prita mengambil kesempatan ini untuk membagikan kue ke Atif, yang sedari tadi hanya berdiri saja menjaga aku dan Bram.
Bram kaget melihat aksi Prita.
Dengan cepat aku memberi kode ke Bram, meletakkan telunjuk di bibirku, agar Bram diam saja. Melihat kodeku, Bram terdiam.
"Prita, masa' cuma satu saja yang kamu beri kue, satu lagi dong, biar adil," ujarku.
__ADS_1
Prita langsung mengambil kue untuk diberikan ke body guard Bram satu lagi. Prita semakin nekat mengajak Atif ngobrol dan malah mengajak Kak Resa untuk gabung di tempat body guard berdiri.
Kedua body guard melihat ke arah Bram untuk memberikan kepastian, apa diperbolehkan atau tidak. Dengan cepat pula aku mencubit pinggang Bram untuk berkata iya.
Bram terpaksa menganggukkan kepala. Aku senyum penuh kemenangan. Yihaaa....!
********
Malam semakin larut.
Baru kusadari, ternyata tinggal aku dan Bram saja di sini, berduaan. Aduh..! Bagaimana ini?
"Zanu, kenapa pakai kode-kode segala?" tanya Bram memecah keheningan.
"Prita lagi PDKT sama Atif. Biarin aja, mana tau mereka bisa cocok kan," jawabku.
"Kalau aku cocok nggak sama kamu?" Bram mulai menggodaku.
Nah! Kena deh Aku! Jawab apa ya?
"Hmmm.. Sepertinya cocok," jawabku sambil tertunduk malu-malu.
Lagi Bram langsung membelai kepalaku dan mengacak-ngacak rambut. Kali ini aku diam saja, semakin aku melarang, nantinya Bram semakin menjadi-jadi. Capek ah..
"Zanu, aku mau bicara serius ke kamu. Aku sudah tau siapa yang ingin mencelakakan kamu. Besok aku ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Tapi ini masih pertimbangan, karena menyangkut nama baik kampus kita. Di sisi lain ini sudah termasuk kriminal karena percobaan untuk mencelakakan orang lain," ujar Bram.
Bram dengan seksama memperhatikanku. Lalu Bram memberikan foto yang aku berikan tadi. Foto yang membuat aku cemburu dan bertengkar dengan Bram.
Aku tidak mengerti maksud Bram memberikan foto tersebut. Dan seakan tau reaksiku, Bram langsung jelaskan.
Aku merasa lemas mendengar penjelasan Bram. Bagaimana tidak, kecemburuan Sari terlalu dalam terhadapku. Dan adiknya rela melakukan kejahatan yang hampir saja merengut nyawaku.
Sebesar itukah Sari menyukai Bram?
"Kakak tau dari mana kalau itu perbuatannya adik Sari? Kan bisa saja salah orang? Aku rasa bukan hanya Sari yang cemburu melihat Kakak mendekatiku. Banyak lagi yang ingin mendekati Kakak. Terlihat dari sorot mata mereka saat Kakak mendekatiku. Terutama senior-senior," jawabku ringkas.
"Menurutmu aku salah? Karena mendekatimu? Dari sekian banyak yang menyukaiku, bolehkah aku memilih satu saja? Tapi memang, aku yang salah sepenuhnya. Karena dengan kehadiranku, kamu jadi celaka. Apakah dengan cara menghindar, kamu bisa aman? Jika iya, aku harus rela menjauh demi keselamatanmu," ucap Bram lirih.
Yup! Memang benar, sejak kehadiran Bram, aku merasa seperti dibuntuti tatapan-tatapan yang kurang mengenakkan. Bahkan kemaren dan hari ini aku hampir celaka.
Tapi, jika Bram menjauhiku bagaimana? Aku sudah merasa nyaman di dekat Bram. Dan aku tidak mau kehilangan Bram! Tolong...
"Bagaimana pendapatmu? Jika memang harus di usut, kamu ditetapkan sebagai korban atau saksi, apa kamu siap?" tanya Bram lagi.
"Kak, menurutku lebih baik urusan ini di bawa ke Rektor dan Dekan. Mungkin dengan memberikan peringatan awal terlebih dahulu. Jadi jika terjadi sesuatu denganku lagi, maka terpaksa yang di tunjuk ulang sebagai tersangka adalah adiknya Sari. Tapi juga termasuk pengawasan terhadap Sari itu sendiri. Kakak tau dari mana yang mencelakakanku adalah adeknya Sari?" tanyaku.
"Hiking tadi pagi, Lutfa minta izin tidak ikut dengan alasan sakit perut. Kebetulan Lutfa juga sedang flu. Saat Atif memeriksa tenda yang sudah hangus, ternyata ada sapu tangan yang sudah terbakar sebagian. Di ujung sapu tangan tersebut ada nama Lutfa Lila. Kemungkinan dia juga masuk ke dalam tenda di saat kamu tidur. Dan memasukkan foto-foto tersebut ke dalam ranselku, supaya kamu cemburu," jawab Bram panjang lebar.
Sepertinya lagi trend ukir nama ya? Di sapu tanganlah, di handuklah dan di mana-mana seperti punya Bram. Tapi ada untungnya juga sih, nama Lutfa ada di sapu tangan itu, jadi tau siapa yang punya.
"Yaahh, menurutku keputusan yang tepat adalah memberikan kesempatan untuk dia tidak mengulanginya lagi. Nama baik kampus kita dan reputasi Kakak jadi tertutupi. Aku juga tidak mau bolak balik ke pengadilan sebagai korban, apalagi berurusan dengan polisi, ogah!"
"Kenapa memangnya berurusan dengan polisi?" tanya Bram penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Kak. Aku cuma tidak mau mempersulit diri saja," jawabku meyakinkan Bram.
Padahal aku tidak ingin mengingat itu lagi karena Abang adalah seorang Polisi. Sama saja aku ingat Abang. Aku juga sudah melupakan itu sejak hadirnya Bram.
"Kamu tidak bohong? Aku tau kamu berbohong, terlihat dari sorot matamu. Apa kamu ada hubungannya dengan seorang Polisi di masa lalumu?" tanya Bram seperti menyelidik.
"Tidak. Aku tidak ada hubungan dengan seorang polisi. Aku mengenal seorang cowok, profesinya memang seorang polisi. Dia beberapa kali main ke rumah dan berjalannya waktu aku dekat dan merasakan kenyamanan setiap berada didekatnya. Tapi dia memiliki perempuan lain untuk dinikahi waktu itu. Tapi ternyata takdir berkata lain, dia sudah meninggal Kak," jawabku terpaksa jujur kepada Bram.
"Bolehkah aku tau namanya siapa?"
"Namanya Angga,"
"Oh dia. Aku tau Angga itu, saat dia meninggal, aku ada di sana, hadir di pemakamannya. Dia punya sahabat namanya Ipank. Mereka satu angkatan dan satu tempat tinggal," ujar Bram.
Aku kaget! Kenapa Bram bisa tau mereka? Apakah Ipank itu yang pernah memberikan surat Angga kepadaku? Bisa jadi.
"Oh ya? Aku juga hadir bersama keluarga saat pemakamannya. Kakak tau dari mana tentang Bang Angga?" tanyaku penasaran.
"Hhmmm.. Setiap aku ke Prn, mereka berdualah yang jadi pengawalku. Karena sering bertemu, sedikit banyak aku tau tentang mereka," jawab Bram.
Lho? Mereka adalah pengawalnya Bram? Siapa sih Bram ini? Makin kesini aku makin penasaran, siapakah Bram yang sebenarnya? Ada urusan apa dia ke Prn?
"Zanu, itu hanya masa lalumu. Yang menurutku biasa saja karena tidak rumit dan tidak ada hubungan apapun. Setiap orang memiliki masa lalu, apapun itu, aku tetap menerimamu. Tapi di sini, pasti bukan tentang Angga yang ingin kamu bahas bukan?"
Aku hanya diam. Yup! Aku ingin bercerita tentang Vincent. Tapi menurutku saat ini belumlah tepat waktunya. Karena aku juga belum tau keadaan Vincent sekarang dan bagaimana cerita selanjutnya.
"Baiklah, mungkin kamu butuh waktu untuk bercerita lagi. Aku tetap sabar menunggu. Oiya, terima kasih ide kamu tadi. Lusa aku akan membahas ini dengan Rektor dan Dekan. Semoga ada jalan yang terbaik tentang masalah ini,"
Aku mengangguk. Tiba-tiba Atif menghampiri Bram.
"Ketua, Pak Jack sudah menjemput. Sekarang sedang menunggu di mobil," ujar Atif.
"Baik! Aku akan ke sana. Jangan lupa semua anggota harus berkumpul di rumah Pak Jack malam ini. Tunggu instruksiku selanjutnya," jawab Bram dengan tegas.
"Siap Ketua,"
Atif berjalan menuju Prita dan Kak Resa. Mereka mulai berpamitan satu sama lainnya. Kulihat Prita terlihat bahagia bisa dekat dan mengobrol dengan Atif.
Aku dan Bram berjalan menuju Prita dan Kak Resa.
"Prita, Kak Resa, aku pulang dulu ya sama Ketua. Aku terpaksa menginap di rumah temannya Ketua malam ini," ujarku.
"Baik Zanu. Kita sudah tau kok. Jangan bilang terpaksa, ini semua demi keselamatan Zanu sendiri," jawab Kak Resa.
"Sampai jumpa lagi besok ya Zanu," ujar Prita.
Aku mengangguk. Lalu kita berpisah, Prita dan Kak Resa menuju tendanya. Aku dan Bram menuju ke Pak Jack yang sedang menunggu.
Sedangkan dua bodyguardnya Bram mengiringi dari belakang. Tapi mereka tidak ikut, mereka berjalan kaki ke arah rumah Pak Jack yang tidak terlalu jauh jaraknya.
Setelah di dalam mobil, tiba-tiba Bram menggenggam jemariku. Lagi-lagi aku diam dan merasa deg-degan. Aku juga takut, kalau Bram akan bertindak lebih dari sekedar menggenggam jemariku. Tidak...!
"Zanu, selamat malam minggu ya," Bram berbisik ditelingaku dengan suara yang terasa merdu.
__ADS_1
Aduh....! Help me. Aku benar-benar bisa jatuh cinta Bram.
...****************...