
Semua sudah siap.
Kita semua keluar dari rumah sakit. Segala urusan administrasi rumah sakit sudah di urus oleh salah satu manager Bram yang ada di Prn.
Bram mulai lancar berjalan. Tangannya selalu menggenggam tanganku sepanjang perjalanan menuju parkir mobil.
Seperti biasa, anggota Bram mengiringi dari belakang. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil. Anggotanya juga ikut membantu Bram masuk ke dalam mobil.
Bram duduk di depan dekat Pak Jack sebagai driver. Sedangkan aku dan Laura di belakang. Semua anggota Bram memakai dua mobil lain dan berjalan mengiringi mobil ini dari belakang.
Seperti iring-iringan pejabat aja, hadeh...!
Mobil melaju ke arah rumah Vincent. Jarak tempuh dari rumah sakit ke rumah duka hanya sekitar lima belas menit saja.
Dari kejauhan terlihat sepanjang jalan ramai dengan para pelayat. Antrian kendaraan butuh beberapa menit untuk bisa melewati kerumunan di jalan. Di daerah sini, memang keluarga Vincent termasuk keluarga terpandang. Jadi tidak heran jika yang ingin melayat sangatlah banyak.
Parkiran mobil terpaksa mencari jarak yang lebih dekat dengan rumah duka. Dikarenakan kondisi Bram yang tidak bisa berjalan terlalu jauh. Semua anggota Bram sibuk mengatur orang-orang supaya memberi jalan untuk mobilnya.
Ini pejabat bukan sembarang pejabat, yuhuuu...
Setelah kondisi aman dan terkendali, kita semua keluar dari dalam mobil. Otomatis, semua melihat ke arah kita terutama Bram. Tidak usah dijelaskan mengapa begitu, karena pasti sudah tau jawabannya.
Bram membisikkan sesuatu di telinga Pak Jack. Sesaat kemudian, Pak Jack, Laura dan semua anggota memisahkan diri dariku dan Bram.
Lho? Ada apa?
"Yok Zanu, kita langsung saja ke dalam," ajak Bram sambil membopong tanganku.
"Yang lain pada kemana? Kok nggak ikut kita?" tanyaku heran.
"Mereka menyusul. Aku juga tidak mau dikawal-kawal saat orang berduka gini," jawab Bram.
"Oh..,"
Saat di teras rumah Vincent, Bram melihat Bibi dan Aura. Aku tidak melihat Pak Rektor di sana, hanya istrinya saja alias Bibi Bram.
"Hei nak Bram, dari mana saja? Sudah dua hari tidak ada kabar, bagaimana sekarang kondisinya?" tanya Bibi antusias.
"Alhamdulillah sehat Bi, tapi masih pemulihan. Aku minta rawat jalan saja. Paman nggak ikut Bi?" tanya Bram basa basi sambil salam tangan Bibi.
Aku ikut salam sama Bibi. Bibi menyambutnya dengan senyuman.
"Paman ada pekerjaan penting, jadi diwakilkan saja sama Bibi. Kamu kok nekat, belum sehat benar sudah jalan saja," jawab Bibi.
__ADS_1
"Ada hal penting yang mau di urus Bi. Lagipula aku bosan di rumah sakit," ujar Bram.
"Kamu kerjaaan mulu yang di urus, sekali-kali bawa Zanu jalan. Ya kan Nak?" ujar Bibi sambil mengedipkan mata kepadaku.
Aku tersenyum malu mendengar ucapan Bibi.
Sedari tadi aku melihat Aura diam walau raut wajahnya terlihat sedih. Matanya sudah sembab akibat kebanyakan menangis, mungkin.
"Aura, salam Abang Bram sama Zanu. Jangan diam-diam gitu. Udah dong sedihnya, semua sudah takdir Allah, kita cukup mendo'akan saja," tegur Bibi ke arah Aura.
Aura beranjak dan mengulurkan tangannya menyalami Bram dan aku.
"Turut berduka cita ya Aura. Semoga kamu tabah dan sabar," ucapku sambil mengelus bahu Aura.
Aura mengangguk tanpa expresi. Aku memaklumi karena butuh waktu untuk bisa siap menerima kenyataan. Apalagi Vincent dan Aura sudah bertunangan.
"Kita kedalam yuk, orang tua Aura juga ada di dalam. Kita berdo'a bersama. Apa kamu di sini sampai almarhum dikebumikan?" tanya Bibi ke Bram.
"Tidak Bi, kita cuma sebentar saja. Karena mau ke kota P, besok mau kuliah. Zanu juga belum sempat pulang dari dua hari yang lalu," jawab Bram.
"Ooo, jadi nak Zanu yang menemani kamu selama di rumah sakit? Pantesan cepat sembuh yaaa," ledek Bibi.
"Ah Bibi, kalau bukan Zanu siapa lagi? Aku tidak mau merepotkan yang lainnya, karena aku maklum semua pada sibuk,"
"Itulah, maaf Bibi sama Pamanmu tidak bisa menjenguk. Ayok kita ke dalam," ajak Bibi.
Terlihat di dalam rumah Vincent penuh dengan pelayat. Terlihat jelas orang tua, kakak dan adik Vincent larut dalam kesedihan. Ditengah-tengah ruangan, sudah ada Vincent yang sudah di kafani.
Ah..., teringat sekilas sekitar tiga tahun yang lalu. Di mana Vincent membawaku ke rumah ini. Di ruangan ini, memperkenalkanku ke keluarganya dengan sangat bahagia.
Sekarang sudah menjadi kenangan yang terbawa sampai ke alam lain.
Vincent, aku tau kamu masih mencintaiku. Maafkan aku waktu itu tidak membalas cintamu.
Aku seperti bersalah saat ini menerima Bram dalam hidupku, seakan menghindari Vincent. Tapi bagaimana lagi, Bram dan perjodohan Vincent hadir dalam waktu yang hampir bersamaan.
Jikapun Vincent tidak dijodohkan dan Bram belum hadir, aku dan Vincent tetap dipisahkan. Dipisahkan oleh maut. Siapakah yang bisa melawan takdir?
"Sayang, jangan bengong di sini," Bram berbisik di telingaku.
Aku kaget! Dan berusaha sadar melihat situasi saat ini.
*********
__ADS_1
Bram berjalan menuju barisan para Bapak-bapak, sedangkan aku duduk di barisan Ibu-ibu. Semuanya kosentrasi membaca surah yasin dan do'a lainnya.
Setelah selesai, Bram berjalan menghampiriku.
"Zanu, kita langsung pulang ya? Vincent akan dikebumikan abis sholat zuhur, sekalian menunggu keluarga mereka yang lainnya," ujar Bram.
Aku mengangguk. Sebelum kita pulang, aku dan Bram menghampiri keluarga Vincent. Belum lagi aku bicara, tiba-tiba Ibu Vincent memelukku dengan sangat erat.
"Nak...., Vincent sudah pergi. Kalau dia ada salah sama kamu, tolong dimaafkan ya nak," ujar Ibu Vincent dengan berurai air mata.
"Iya Bu. Selama ini Vincent baik sama saya. Turut berduka cita ya Bu, semoga Ibu dan keluarga bisa tabah dan ikhlas," ucapku.
"Nak, kapan-kapan main kerumah ya. Ada yang mau Ibu sampaikan," ujar Ibu sambil berbisik ditelingaku.
Aku setengah kaget dengan ucapan Ibu Vincent. Ada apa ya?.
"InsyaAllah Bu," jawabku sambil tersenyum.
Ibu Vincent melepaskan pelukannya. Belum lagi aku melangkah, kakak Vincent memelukku juga.
"Zanu....," hanya itu yang keluar dari mulut kakak Vincent.
"Zanu turut berduka cita ya Kak," jawabku.
"Iya Zanu, terima kasih sudah datang," kakak Vincent melepaskan pelukannya.
Di susul sang adik Vincent. Adiknya langsung menangis.
"Kakak, kenapa tidak main lagi kerumahku? Katanya dulu mau main sama aku," tanyanya.
"Iya, maaf kakak lupa. Besok ini, InsyaAllah kakak main lagi ke sini ya," bujukku sambil mengusap air matanya.
Ternyata adik Vincent ingat dulu aku pernah mengajaknya bermain, tapi kesempatan itu lewat begitu saja. Dikarenakan hubunganku singkat bersama Vincent. Aku merasa bersalah kembali.
Terakhir aku berhadapan dengan ayahnya Vincent. Ayah Vincent tidak tahu menahu tentangku.
Aku menyalami dan hanya menyampaikan kalimat turut berduka cita. Hanya sebatas itu, karena mungkin Bapak Vincent sudah melihat kedekatanku dengan istri dan anak-anaknya. Jadi semua ucapan sudah terwakilkan semua.
Aku dan Bram sudah selesai dan izin pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Saat hendak keluar, aku melihat Aura menatapku sinis. Aku berusaha tetap tersenyum sambil menganggukkan kepala, seakan aku mengatakan pulang duluan.
Respon Aura tetap diam. Ada apa ya? Apakah tadi dia terus memperhatikanku saat Ibu Vincent memelukku? Apakah dia masih penasaran, ada hubungan apa aku dengan Vincent?
__ADS_1
Entahlah...
...****************...