Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 79 : Atif Dan Prita


__ADS_3

"Pagi Non," sapa salah satu bodyguard Bram.


"Pagi juga. Apa kalian melihat Atif?" tanyaku.


"Maaf Non, kita kurang tau. Dari semalam belum kelihatan. Sudah dihubungi, nomornya tidak aktif," jawab bodyguard dengan expresi takut.


"Yang bertanggung jawab selain Atif siapa?" tanyaku lagi.


"Pak Jack Non. Saya akan panggilkan,"


Aku mengangguk. Bodyguard bergegas menuju parkiran mobil. Aku dengan sabar menunggu. Tidak butuh waktu yang lama, bodyguard tadi datang bersama Pak Jack menghampiriku.


"Pagi Non, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Jack dengan sopan.


"Pagi juga Pak. Pagi ini saya belum melihat Atif, Ketua menanyakannya. Apa Bapak tau dia ke mana?" tanyaku.


"Hmmm.. Begini Non. Atif nginap bareng bersama Non Prita. Non Prita minta ditemani karena takut. Saya belum tau juga kabar hari ini. Nomornya sudah saya hubungi tapi tidak tersambung," jawab Pak Jack.


Oh! Jadi Prita nginap bareng sama Atif? Wow! Berani sekali? Jangan su'uzon dulu Zanu, mana tau mereka pesan kamarnya dua. Lagi pula itu urusan mereka. Mereka sudah besar dan punya kehidupan masing-masing. Kecuali salah satu dari mereka adalah saudaraku, lain ceritanya. Aku pasti ngamuklah yaw...!


"Okelah Pak, nanti kalau Atif sudah kelihatan, tolong secepatnya beritau dia kalau Ketua menunggu di dalam. Dan ini sangat penting," ujarku masih dengan perasaan kecewa.


"Baik Non,"


Aku tersenyum. Sesudahnya aku berbalik arah menuju ke dalam melewati ruang IGD dan langsung melangkahkan kaki ke ruang ICU.


********


Sreett...!


Deg! Ternyata Bram sudah bangun! Duh bagaimana ini? Pasti dia menanyakan aku dari mana. Atif di mana. Prita juga nggak ada. Haaduuuuuhhh.....! Kenapa jadi aku yang ribet gini sih..!


"Zanu, dari mana? Aku bangun kamu tidak ada," ujar Bram mengagetkanku.


"Eh, Eh, dari luar saja Kak," jawabku gugup.


"Aku tau, kamu sedang mencari Atif kan di luar?" tanya Bram menyelidiki.

__ADS_1


Lho? Kenapa Bram tau?


"Iya, Atif dan Prita belum juga muncul," aku terpaksa jujur walau belum sepenuhnya.


"Apa kamu sudah menghubungi Atif?" tanya Bram lagi.


"Sudah Kak. Tapi nomornya tidak aktif,"


"Ya kita tunggu saja. Mungkin Atif ada keperluan di luar sana,"


Alhamdulillah.., Bram memahami situasi saat ini. Perasaanku sedikit lega.


Aku ingat ponsel Bram. Kusodorkan ponsel ke arah Bram. Dia tersenyum dan menggerlingkan matanya ke arahku.


"Apakah di ponsel ini kamu menemukan sesuatu yang menarik?" tanya Bram.


"Tidak ada. Aku tidak membaca pesan yang masuk, kecuali kemaren dari Sacia adiknya Gilang. Itupun aku tidak sengaja membacanya. Kakak baca saja pesan-pesan yang masuk, mana tau ada pesan yang penting. Karena dari kemaren, pesan yang masuk sudah numpuk sekitar seratus atau lebih," ujarku.


"Iya, nanti aku akan cek satu persatu setelah mandi. Aku menunggu Atif untuk meminta bantuannya,"


Bram mengangguk dan langsung menekan tombol ke nomor Atif. Ternyata nomornya masih tidak aktif. Kulihat Bram mengernyitkan dahi.


"Tumben, biasanya Atif tidak pernah ponselnya non aktif," ujar Bram.


Sreett...!


Aku, Bram dan Kak Resa melihat ke arah pintu masuk. Ternyata itu Atif dan Prita! Kita kaget melihat kehadiran mereka berdua.


"Maaf Bos, saya terlambat ke sini. Saya bangun kesiangan, karena lelah sekali mengurus teman-teman dan bodyguard Prita semalam," ujar Atif sambil menunduk.


"Iya, tidak apa-apa Atif. Tapi saya minta ponselmu selalu diaktifkan. Karena kalau ponselmu mati, saya harus menghubungi siapa?" jawab Bram datar.


"Iya Bos, sekali lagi maafkan saya. Semalam tidak sempat mengisi baterai ponsel," jawab Atif.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lupakan saja. Saya minta tolong kamu membersihkan badan saya dengan air hangat memakai handuk kecil. Rasanya gerah karena tidak mandi semalaman. Saya tidak mau dibersihkan perawat," ujar Bram.


"Oh.., baik Bos. Saya akan bantu,"

__ADS_1


Kulihat dari tadi Prita diam seribu bahasa. Apa terjadi sesuatu dengan Prita? Apa benar mereka berdua tidur di satu kamar hotel? Atau tidur terpisah? Aduh, jiwa kepoku mulai meronta-ronta.


"Sst..sst..! Prita, ke sini," panggilku dengan suara sedikit berbisik.


Prita mengalihkan pandangannya kepadaku. Dia menghampiriku tapi dengan expresi datar. Seperti ada yang salah dengan Prita hari ini.


Belum juga aku sempat ngobrol bersama Prita, Bram minta tolong kita semua yang berada di ruangan untuk keluar dulu kecuali Atif.


"Zanu, kamu jangan kemana-mana ya," ujar Bram.


"Oke,"


Aku, Prita dan Kak Resa keluar. Kak Resa keluar menuju parkiran mobil, seakan tau kalau aku mau bicara dengan Prita. Sekarang tinggallah aku di luar ruangan ICU bersama Prita.


"Prita, dari tadi kamu diam saja. Apa ada sesuatu? Coba ceritakan, kenapa kamu sampai terlambat ke sini? Tidak mungkin alasannya hanya karena Atif lelah. Aku tau Atif bukanlah orang yang mengenal lelah, jujurlah," tanyaku ke Prita.


"Zanu, aku dan Atif tidur satu kamar di hotel. Memang Atif lelah karena seharian dari kemaren sudah mengurus semuanya. Dan memang benar, walaupun Atif lelah, dia tetap bangun pagi sekali. Harusnya dia bersamaku sudah dari tadi sampai ke sini. Tapi...," Prita berhenti bicara, seakan ada sesuatu yang dia pikirkan.


Apakah Prita takut untuk mengatakannya? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan? Sepertinya aku harus bersiap-siap mendengarkan kemungkinan yang terburuk bisa terjadi.


"Bicaralah Prita. Tidak apa-apa, percayalah sama aku. Aku pasti merahasiakan semua ini, jika memang kamu memintaku untuk merahasiakannya," aku meyakinkan Prita.


"Tapi, aku antara menyesal dan tidak setelah melakukannya. Bagaimana ini Zanu? Aku takut, tapi aku malah menikmatinya. Aku tidak bisa menghindari perasaanku sendiri, aku benar-benar jatuh cinta kepada Atif. Tapi menurutku ini terlalu cepat terjadi. Aku bahkan takut Atif berpikir yang bukan-bukan terhadapku dan bisa meninggalkanku kapan saja dia mau," terang Prita.


"Kamu dari tadi bicaranya muter-muter. Bisa nggak sih langsung to the point? Biar aku langsung tau masalah kamu itu bagaimana dan bisa cari solusi. Kalau panjang kali lebar, kelamaan. Kenapa kamu malah tidur berdua di hotel bersama Atif? Kan Atif bisa sewa satu kamar lagi? Apa saja bisa terjadi kalau kamu berduaan gitu," ujarku ikut menerangkan.


"Aku takut tidur sendirian di saat hatiku masih dihinggapi perasaan was-was karena peristiwa kemaren. Kamu mungkin tidak mengalami trauma, di mana senjata tajam ada tepat didepanmu Zanu. Di mana kamu berpikir hanya satu pilihan saja yaitu mati. Jadi, aku terpaksa minta tolong Atif untuk menemani. Memang aku yang salah Zanu, Atifnya nggak mau ngapa-ngapain," ujar Prita.


"Trus, masalah kamu apa?! Muter lagi kan pembahasannya? Dahlah.., aku tu lelah bolak balik tadi nyariin kamu sama Atif. Nungguin dari subuh malah. Ayo! Mau dilanjutkan apa tidak?" tanyaku mulai sedikit kesal.


"Sabar Zanu. Begini, aku tadi menggoda Atif. Dan entah setan apa yang hinggap, kita berdua berciuman," ujar Prita sambil menunduk.


"Hah?!!"


Aku kaget!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2