
Deg!
Itu bukannya Gilang? Ngapain dia kesini? Oiya, dia kan dokter, tapi kan belum selesai kuliahnya?
Mungkin dia lagi praktek Zanu! Dahlah, fokus saja sama kesehatan Bram.
"Selamat siang Pak Bram. Kami dari tim dokter rumah sakit ini mau memeriksa keadaan Bapak," ujar satu dokter yang berperawakan lebih tua dari yang lainnya. Mungkin ini dokter seniornya.
"Silahkan Dok," jawab Bram singkat.
Aku beranjak dari tempat tidur Bram. Tapi Bram masih menggengam erat tanganku.
"Kamu di sini saja, temani aku," ujar Bram sambil melirik Gilang.
Hadeh! Ngapain coba aku duduk di sini? Kan gangguin dokternya. Lagipula Bram ngapain juga pakai cemburu segala, memang sudah tugasnya Gilang sebagai seorang dokter.
Perasaan Prita dari tadi nggak nongol-nongol? Apa dia pulang?
Gilang, dua dokter dan perawat berjalan menghampiri tempat tidur Bram. Dokter senior mendekati Bram.
"Maaf ya Pak Bram, saya akan periksa bahunya," ujar dokter.
Bram mengangguk. Perawat ikut menghampiri Bram dan mulai membuka perban dengan perlahan. Kulihat Bram sedikit meringis, mungkin masih merasakan sakit.
Aku memperhatikan bahu Bram. Sedangkan Bram terus melihatku, ya, hanya melihatku!
Hanya dengan membuka perban saja, Bram sudah merasakan sakit? Trus saat dia memelukku tadi, apakah Bram sedang berusaha menahan sakitnyakah?
Oh Bram..
"Pak Bram, luka jahitannya masih basah. Tapi kondisinya bagus, nanti dua atau tiga kali dalam sehari perawat saya akan mengobati luka dan gantikan perbannya," ujar dokter senior.
"Baik Dok. Oiya, besok apa bisa saya keluar dari sini dan rawat jalan?" tanya Bram.
Kulihat Gilang memperhatikan luka Bram dan berdiri dekat perawat. Dokter satunya lagi sedang menjelaskan sesuatu ke Gilang dengan suara yang pelan.
"Sebenarnya belum boleh Pak Bram, karena lukanya baru hari ini di jahit. Tapi jika Bapak tidak merasakan sakit di bahu lagi atau bisa bergerak bebas, boleh," jawab dokter senior dengan raut wajah agak cemas.
"Hmmm.. gitu ya. Oke, saya lihat keadaan besok. Kalau saya bisa bergerak, saya akan out dari sini. Dan untuk pengecekan serta pengobatan selanjutnya bisa langsung ke rumah saya," ujar Bram tegas.
Dokternya mengangguk. Setelah selesai urusan ganti perban, dokter dan perawat izin untuk keluar.
"Semoga lekas sembuh Bram," ujar Gilang sebelum beranjak dari tempat tidur Bram.
__ADS_1
"Iya, terima kasih Gilang," jawab Bram singkat.
"Hai Zanu, jagain Bram dengan baik ya,"
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Dan Gilang keluar mengikuti dokter serta perawat tadi. Sekarang hanya tinggal Atif dan dua bodyguard Bram yang sedang berjaga di pintu masuk.
"Atif, kamu selidiki Gilang. Jangan gegabah," ujar Bram.
Aku kaget! Lho, kenapa Gilang harus di selidiki? Apa ada sesuatu yang tidak Bram suka? Kalau Bram cemburu, kenapa harus bawa-bawa Atif untuk mencari tau?
"Siap Bos," jawab Atif singkat.
"Atif, mana Prita? Kenapa dari tadi dia tidak nongol-nongol? Bukannya tadi sama kamu?" ujarku ke Atif sebelum Atif beranjak dari sini.
"Prita sedang di ruang lain Non, dia takut," jawab Atif.
"Takut? Aneh. Tolong ya Atif bawa Pritanya ke sini, karena bentar lagi saya mau pulang," ujarku.
"Baik Non," jawab Atif.
Atif masih berdiri di dekat tempat tidur Bram, tidak bergerak sedikitpun.
Lha, kok Atif masih diam ya? Bukannya aku sudah minta tolong panggilkan Prita? Aneh..
"Siap Bos, saya permisi," jawab Atif singkat dan langsung keluar dari ruangan bersama dua orang body guard tadi.
Suasana hening lagi.
"Sayang, Atif akan bergerak jika sudah aku perintahkan. Atif sudah di latih seperti itu," ucap Bram.
Aku tersenyum.
"Kak, kalau boleh tau, kenapa Gilang diselidiki? Apanya yang diselidiki ya? Memangnya dia kenapa?" tanyaku ke Bram.
"Kamu tidak akan mengerti. Nanti setelah penyelidikannya selesai, aku akan ceritakan. Sekarang kamu do'akan saja semoga aku bisa sembuh," jawab Bram.
"Oiya, pria tadi sebenarnya mencari Prita Kak," reflek aku bicara ini.
Bram menyerengitkan dahi.
"Maksudnya?" tanya Bram sedikit heran.
"Prita dikuliahkan di kota ini untuk menghindari musuh dari Bapaknya. Orang tua Prita tinggal di Amerika dan memiliki bisnis di sana. Pria tadi tujuannya hanya untuk mencari Prita Kak. Saat aku di ruang ganti, Prita sedang sembunyi di dekatku. Aku membantunya waktu itu dan sengaja kancing baju dibuka sedikit supaya terlihat sedang ganti pakaian. Begitu cerita sebenarnya," jawabku.
__ADS_1
Bram kaget mendengar ceritaku.
"Oh. Ternyata itu tujuan pria tersebut ke kota ini," ucap Bram sambil mangut-mangut.
"Dan Gubernur di kota ini adalah pamannya Prita Kak. Tapi tolong ya jangan beritau siapapun. Prita melarangku cerita ini itu ke orang lain, karena posisi dia bisa mengancam nyawanya kapan saja," ujarku memelas.
Bram terlihat lebih kaget lagi dari sebelumnya. Mungkin Bram merasa dapatkan info terbaru dariku yang ada kaitannya dengan peristiwa dialami hari ini.
"Hhmm.. Untung Gubernurnya baik, mau mengusut Dosen yang bermasalah itu. Sekarang tinggal mencari tau siapa yang menembakku," ujar Bram.
Aku tersenyum. Berharap Bram bisa menemukan siapa dalang di balik peristiwa penembakan itu.
"Zanu, besok kalau aku sudah bisa bergerak, kita pergi ke acara tunangannya Vincent," ucap Bram yang menggagetkanku.
Aku baru ingat, besok acaranya Vincent. Aku sebenarnya takut bertemu Vincent, takut aku menyukainya lagi atau takut Vincent sedih karena tidak bisa bersamaku, entahlah.
"Kak, apa sebaiknya Kakak istirahat dulu. Jangan memaksakan diri untuk bergerak. Aku rasa Vincent dan keluarga Rektor memaklumi keadaan Kakak sekarang kan..," ujarku.
"Acara besok tidak bisa dilewatkan begitu saja, karena aku sudah janji sama Vincent untuk membawamu ke acaranya," jawab Bram serius.
"Maksudnya gimana ya? Kenapa harus bawa aku?" tanyaku keheranan.
"Vincent ingin melihat kamu untuk terakhir kalinya. Aku sudah tau kisah antara kamu dan Vincent. Vincent sendiri yang cerita dan dia mengakui kalau sebenarnya dia sangat sayang sama kamu," jawab Bram lirih.
Deg! Kenapa Vincent malah cerita ke Bram? Aduh, bagaimana ini, pasti Bram akan cemburu.
Dan aku hanya memilih diam. Karena tidak tau harus menjawab apa.
"Aku juga tau, apa alasan kamu belum bisa menerima Vincent saat itu. Tapi sepertinya saat ini, akulah yang beruntung bisa memiliki kamu,"
"Kenapa Kakak bisa berpikir seperti itu?" tanyaku.
"Karena semakin bertambahnya waktu, kamu hadir terus dan mau dekat denganku. Iya kan...," goda Bram sambil melirikku.
"Udah ah, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di sini nggak ada orang," jawabku mulai gelisah.
"Tenang, aku nggak akan apa-apain kamu. Besok aku jemput kerumah, kita pergi jam satu siang,"
Aku mengangguk dan tersenyum.
Klik!
Pintu terbuka dan aku melihat Atif dan Prita masuk ke dalam. Kulihat Prita membawa sesuatu.
__ADS_1
...****************...