
Sreeett....!
Bram membuka pintu kaca segede gaban yang terhubung ke ruang makan. Aku mengikutinya dari belakang.
Dari ruang makan, Bram berjalan lagi menuju ruang lain. Jika di lihat dari isi didalamnya, aku pastikan ini ruang kerja Bram dan pustaka mini. Karena banyak buku-buku yang tersusun rapi mengelilingi setiap dinding ruangan.
Hhmm.. Sepertinya Bram hobby membaca juga.
Ada juga satu meja kerja besar dan kursi berwarna hitam. Di belakang meja kerja terdapat lukisan abstrak campuran warna hitam dan merah berukuran cukup besar. Lagi-lagi di atas meja terdapat pot kecil berisi bunga berwarna merah.
Kenapa Bram membawa aku ke sini ya?
"Sayang, kamu aku tinggalkan di sini dulu. Aku mau mandi. Kamu boleh lihat-lihat semua yang ada di sini. Kamu suka membaca kan? Ambil saja buku apa yang kamu suka," tawar Bram.
"Lho, Kakak mandi di mana? Nggak lihat ada pintu lagi di sini?" tanyaku heran sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Ada. Pintu rahasia. Nanti kamu juga akan tau. Udah ya, aku tinggal sebentar. Eitss! Jangan ngintip aku mandi," goda Bram.
"Siapa juga yang mau ngintip, entar mataku bintitan,"
"Itu cuma mitos. Yang ditakutkan itu kamu ketagihan ngintip, ha..ha..ha..," ujar Bram sambil menekan tombol yang ada di dalam laci meja kerja.
Klik!
Terdengar bunyi sesuatu dan ternyata lukisan di belakang meja kerja bergeser secara otomatis.
Waahh! Canggih sekali! Itu pasti pintu masuk yang di maksud Bram.
"Taraaa! Itu pintunya Zanu. Pintu itu terhubung langsung ke kamarku," ujar Bram.
Aku hanya termangu tanpa kata.
"Pintu rahasia ini hanya kamu dan Pak Tio yang tau. Apa kamu mau melihat kamarku?" tanya Bram.
"Nggak usah Kak. Sudah sana, langsung mandi. Keburu sore ini," jawabku menolak.
Kalau sampai aku masuk ke kamar Bram, apa saja bisa terjadi. Bisa-bisa nanti Bram menyentuhku lebih dari sebelum-belumnya.
Ih..! Aku nggak maulah, walau aku cinta sama Bram. Belum tentu juga Bram jadi suamiku nanti.
__ADS_1
"Oke. Pasti kamu takut aku apa-apain kan? Aku ke dalam dulu ya," ujar Bram sambil masuk ke dalam melalui pintu tersebut.
Belum aku jawab ucapan Bram, ternyata Bram sudah menghilang dari pandanganku.
Huft!
Aku berjalan selangkah demi selangkah ke arah rak buku. Kuperhatikan satu persatu judul buku yang ada di sana. Bukunya global dan umum, tidak ada yang aneh.
Aku beranjak lagi ke rak buku lain. Kutemukan beberapa buku kuliah Bram dan tentang proyek yang berhubungan dengan teknik sipil.
Tiba-tiba mataku tertuju ke lemari kecil dekat meja kerja. Ada beberapa buku tersusun rapi di sana. Ku dekati laci dan kulihat judul buku satu persatu.
OMG! Ternyata buku-buku tersebut berisi tentang senjata dan strategi perang. Ada juga tentang strategi bisnis. Dan aku menemukan buku yang berjudul mafia. Hah!
Siapakah Bram? Kenapa buku-buku ini berisikan tentang sesuatu yang berbeda? Apakah Bram seorang mafia? Penjahat berkedok pengusaha? Mafia berkedok Mahasiswa? Atau penyusup?!
No! Rasanya tidak mungkin Bram adalah seorang penyusup!
Aku melepaskan buku-buku dan meletakkan kembali ke tempatnya semula. Aku beranjak lagi ke arah meja kerja. Laci yang di buka Bram tadi belum tertutup rapat.
Aku penasaran dan langsung menarik lebar-lebar laci tersebut.
Siapakah Bram sebenarnya? Benarkah ucapan yang dikatakan Gilang dan Vincent dulu? Bagaimana ini? Aku sudah masuk dalam kehidupan Bram.
Perlahan aku menutup lacinya rapat-rapat. Lalu aku melihat foto-foto yang ada di atas meja. Aku memegang salah satu bingkai foto dan kupastikan itu foto kedua orang tua Bram.
Terlihat jelas kalau Bapaknya Bram seorang bule dan Ibunya orang kita. Ibunya sangat cantik berparas ke bule-bulean dan Bapaknya terlihat tampan walau sudah terlihat berumur di foto yang aku pegang.
Wajar saja kalau Bram berparas bule dan tampan karena diturunkan oleh kedua orang tuanya. Tapi kulit Bram tidaklah berwarna putih melainkan kuning langsat, sehingga terlihat sedikit exsotic antara warna kulit dan parasnya.
Tidak heran banyak perempuan yang menyukai Bram.
Lalu aku melihat foto-foto lainnya dan aku terkejut melihat fotoku ada di sana. Di salah satu bingkai berwarna gold. Tertera juga namaku di bawah bingkai.
Kalau tidak salah, itu fotoku saat bersama Bram ketika melihat sunset di pantai. Aku tidak menyangka Bram langsung mencetak fotoku.
Tapi sayang, aku belum memiliki foto Bram, hiks..
"Hhmmm...!!"
__ADS_1
Aku kaget! Reflek memutar tubuhku ke belakang dan kepalaku tertunduk ke dada Bram!
Terkesiap aku langsung melihat mata Bram begitu juga sebaliknya. Aku dan Bram terdiam beberapa detik.
Tanpa kusadari, tangan Bram sudah memeluk pinggangku dengan erat.
"Untung kamu tidak jatuh," ujar Bram tiba-tiba sambil melepaskan tangannya.
Aku diam dan masih terpaku melihat Bram. Bram mundur beberapa langkah.
"Zanu?! Hei! Ada apa? Kamu lagi merenung ya? Maafkan aku jika mengagetkanmu," Bram menjentikkan jemarinya ke wajahku.
Perlahan pandanganku langsung kualihkan ke bawah lantai. Antara kaget, malu dan takut menjadi satu.
"Sayang, aku sudah selesai mandi. Bentar lagi magrib. Apa kamu mau mandi juga? Biar fresh. Kamu bawa baju ganti kan?" tanya Bram sambil mengamatiku.
"I..iya.., aku mau mandi juga. Ranselku ada di ruang tengah," jawabku.
"Ya udah, kamu mandi saja di kamarku, nanti aku bawakan ransel dan kuletakkan di kamar. Aku akan menunggumu di ruangan ini sambil menyelesaikan tugas,"
Oh.. Untunglah, aku takut jika Bram ikut ke dalam kamar.
"Zanu, aku tau apa yang kamu khawatirkan. Yakinlah, aku tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyakitimu atau mempermalukanmu. Aku akui, terkadang ada gejolak yang datang dalam diriku. Ingin memelukmu, menciummu dan mendekapmu. Tapi, aku akan selalu ingat, bahwa kamu adalah perempuan paling berharga dalam hidupku saat ini. Oiya, di dalam kamar mandi ada handuk baru, kamu bisa pakai. Aku keluar dulu mengambil ransel, oke," ujar Bram.
"Baik Kak..," jawabku.
Bram melangkah keluar meninggalkanku sendiri. Aku gugup dan merasa serba salah.
Kamu juga harus tau Bram, aku terkadang ingin selalu bersamamu. Tapi itu tidak mungkin akan terjadi, kecuali kalau kita sudah menikah nanti. Bolehkah aku berharap lebih Bram?
Dengan gontai aku melangkahkan kaki memasuki kamar Bram.
Wow!
Kamar Bram terlihat luas dan mewah. Ada sedikit berbeda kutemukan di kamar ini yaitu ada nuansa warna gold. Anehnya, di kamar ini aku menemukan vas yang berisikan bunga berwarna pink. Dari sekian banyak bunga di rumah Bram, kenapa hanya di kamar ini ada bunga berwarna pink?
Apakah bunga itu pemberian seseorang? Atau ini bukanlah kamar Bram? Entahlah..
...****************...
__ADS_1