
Sesampainya di ICU.
Di sebelah kamar Bram, terlihat Kakaknya Vincent dan Aura sedang duduk menunggu di depan ruang ICU. Ternyata saat itu juga Vincent langsung di bawa ke sini. Siapa sangka bertemu kembali dengan mereka.
"Hai Zanu, Vincent lagi di operasi. Do'akan ya semoga lancar," ujar kakak Vincent yang langsung menghampiriku.
Terlihat expresi Aura yang mengernyitkan dahi, seakan penasaran, kenapa kakak Vincent menghampiriku.
"Iya Kakak," jawabku singkat.
"Yuk, duduk sini," ujar kakak Vincent menawari aku duduk.
"Maaf Kakak, Zanu mau ke ruang sebelah," tolakku dengan halus.
"Ada siapa di sebelah? Mau menjenguk teman?" tanya kakak Vincent.
Belum sempat aku jawab, Prita menarik tanganku.
"Maaf Kak, kami mau ke dalam dulu ya," ujar Prita.
Suasana jadi sedikit canggung. Di tambah lagi Aura ikut bingung. Dia belum tau kalau ada Bram di ruang sebelah.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk ke arah kakak Vincent.
"Maaf Kak, Zanu ke sana dulu ya," ujarku basa basi sambil mengikuti Prita.
Prita membuka pintu dan kita langsung masuk. Aku tidak melihat lagi bagaimana expresi kakak Vincent dan Aura.
"Hei.., kalian dari mana saja?" ujar Bram.
"Hai Ketua, maaf menunggu lama. Ada sesuatu di luar sana," jawab Prita sambil duduk di sofa.
Aku menghampiri Bram dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Aku berusaha tersenyum dan menarik nafas dalam-dalam untuk menjelaskan yang sebenarnya ke Bram.
"Apa yang terjadi Zanu?" tanya Bram.
"Kak, Vincent kecelakaan," jawabku tersekat menahan rasa sedih atau menangis, aku tidak tau.
"Hah?!!" Bram kaget.
"Vincent kecelakaan dan koma. Sekarang ada di sebelah ruangan ini. Aku ketemu Kakaknya dan Aura," terangku.
Tanpa terasa air mataku menetes, maafkan aku Bram. Aku hanya sedih mengingat Vincent, bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang aku sukai di masa lalu. Tapi, aku mencintai Bram.
Bram menyeka air mataku dan membelai pipiku.
"Sudahlah, nanti kamu ke sebelah dan lihat bagaimana perkembangannya di sana. Sebelum ke sana, kita makan siang dulu ya sayang," ujar Bram dengan lembut.
__ADS_1
Oh! Bram tidak marahkah? Sebaik itukah Bram? Biasanya dia cemburuan.
"Kakak kenapa nggak marah atau cemburu?" tanyaku penasaran.
"Buat apa cemburu? Dia kan masalalu kamu dan sekarang kamu masa depan aku. Dia hadir duluan dalam hidup kamu dan aku kemudian. Yang penting kamu tidak balik lagi kan sama Vincent?" tanya Bram.
"Ya tidak, dia sudah punya orang lain. Dan aku punya...," aku berhenti bicara.
"Punya aku, selamanya," jawab Bram dengan cepat.
Aku menunduk malu dan haru. Bram menggangkat daguku dan melihat wajahku dengan banyak rasa yang tersirat dari tatapannya.
"Hhmmm..! Hhmm..!" Prita mendehem sambil mendekati aku dan Bram.
Aku kaget! Bram malah tersenyum.
"Bagaimana kondisi Ketua saat ini?" tanya Prita.
"Alhamdulillah, tinggal pemulihan. Besok InsyaAllah keluar dari RS ini," jawab Bram.
"Syukurlah.., jadi besok kita kuliah ya Zanu?" tanya Prita menghadap ke arahku.
"Besok aku belum kuliah. Nanti malam aku nginap lagi di sini dan besok pagi pulang ke rumah. Kamu ikut saja ke rumahku, besok kita bareng ke kota P," jawabku.
"Hhmm, sebenarnya besok aku mau pulang ke kota P bersama Atif. Jika Ketua mengizinkan," ujar Prita sambil melihat ke arah Bram untuk memastikan persetujuannya.
"Boleh. Besok saya minta di antar Pak Jack saja dan pergi bersama Zanu," jawab Bram langsung.
Sreett...!
Pintu tiba-tiba terbuka dan ternyata itu adalah Atif bersama Pak Jack yang membawa bungkusan untuk makan siang.
"Bos, ini makan siang buat semua yang ada di sini," ujar Atif sambil melirik sekilas ke arah Prita.
"Tolong kamu letakkan di sana. Ayo, semuanya silahkan makan siang," jawab Bram sambil menunjukkan meja dekat sofa.
Atif langsung bergegas menuju meja dan meletakkan bungkusan yang di bawa Pak Jack.
"Pak Jack, besok tolong antar saya ke kota P bersama Non Zanu. Dan Atif akan mengantarkan Non Prita," ujar Bram.
"Baik Bos," jawab Pak Jack singkat.
Atif, Prita, Pak Jack dan aku mengambil nasi bungkus yang berada di dalam kantong plastik. Sedangkan Bram memakan makanan yang sudah di antar perawat sewaktu aku dan Prita berada di luar tadi.
Aku membantu Bram makan terlebih dahulu dengan menyuapinya. Sedangkan nasi bungkus punyaku diletakkan di meja kecil.
********
__ADS_1
Tidak berapa lama, masuklah Kak Resa dengan kondisi yang terengah-engah dan pakaiannya yang sudah berantakan. Kita semua yang ada di ruangan jadi kaget dengan kehadirannya.
"Ketua, tolong aku!" ujar Kak Resa sedikit teriak, terlihat sorot matanya yang terlihat ketakutan.
Aku menghentikan suapan ke arah Bram. Bram bingung dan kaget melihat keadaan Kak Resa.
"Sini! Ada apa Resa?! Cepat katakan!" tanya Bram.
"Aku.. Aku mau di perkosa orang! Hu..hu..hu..," ujar Kak Resa sambil menangis tersedu-sedu.
"Hah! Apa maksud kamu?! Kamu dari mana?" tanya Bram heran dan benar-benar terkejut dengan penjelasan Kak Resa.
"Aku dari sana, hu..hu..hu..," ujar kak Resa masih menangis.
Aku memeluk Kak Resa dan menarik tangannya untuk duduk di dekat Bram. Supaya hatinya sedikit tenang, aku bergegas mengambil air minum dan memberikannya ke kak Resa.
"Ayo di minum dulu Kak. Terus tarik nafas dalam-dalam,"
Kak Resa lalu meminumnya. Atif dan Pak Jack menghampiri kak Resa, mereka juga sangat terkejut serta penasaran.
Setelah minum, kak Resa menarik nafas tiga kali. Dan dia diam sejenak untuk menenangkan diri. Kita semua was-was menunggu penjelasannya.
"Ketua, aku tidak bisa jelaskan ke semua yang ada di sini," ujar kak Resa sambil melirik ke sekeliling, seperti ada yang disembunyikannya.
"Kamu bisa jelaskan itu nanti! Sekarang di mana lelaki itu?!" Bram mulai geram.
"Dia berada di hotel Belis, kamar 108," jawab kak Resa sambil tertunduk.
Hotel Belis tidak terlalu jauh lokasinya dari rumah sakit ini.
"Atif dan Pak Jack, kalian tau bukan apa yang harus dilakukan! Bawa dia ke sini," perintah Bram.
"Baik Bos!" ucap mereka serempak.
Atif dan Pak Jack bergegas keluar dari ruangan. Entah apa yang ingin mereka lakukan, itu bukan urusanku.
Sekarang tinggallah Aku, Prita, kak Resa dan Bram. Untung Prita sudah menghabiskan makannya. Tapi aku belum makan juga dan Bram belum menghabiskan makanannya.
"Sekarang kamu cerita. Kenapa kamu tidak membawa orang untuk menjagamu dari jauh?" tanya Bram ke arah kak Resa.
"Maafkan aku Ketua, sebetulnya aku ada hubungan dengan pria itu. Aku diam-diam berkenalan dengannya selama ini," ujar kak Resa takut.
"Kenapa kamu harus menyusulnya ke hotel? Kamu sudah pasti di jebak. Lelaki yang baik, tidak akan pernah mengajak perempuannya ke hotel untuk sekedar bertemu, kecuali kalau ada pesta teman atau acara undangan. Kamu pintar sedikit Resa!" tegas Bram dengan nada sedikit kesal.
Aku mencubit lengan Bram dengan diam-diam. Tidak elok Bram bicara seperti itu ke kak Resa di depan aku dan Prita. Aku langsung memasang wajah geram ke arah Bram, sebagai kode kalau aku tidak menyukai ucapannya seperti itu.
Tiba-tiba terdengar dari luar suara ribut dan teriak histeris dari banyak orang. Kita semua di dalam ruangan di buat terkejut dan sedikit panik.
__ADS_1
Ada apa di luar sana? Kenapa semua pada panik dan sekali-sekali orang terlihat berlarian di depan pintu? Terlihat jelas melalui kaca kecil transparan yang ada di pintu masuk ruangan ini.
...****************...