Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 62 : Cargalla dan Ox


__ADS_3

Prita dan Atif berjalan beriringan kearahku dan Bram.


"Hai Zanu, Ketua," sapa Prita dengan senyum sumringah.


"Hai Prita," jawab Bram sambil mengangkat tangan kanannya.


"Prita, dari mana saja? Kok lama bener diluar?" tanyaku.


"Tadi aku keluar sebentar mencari makanan. Untungnya di seberang RS ini ada rumah makan. Kita belum makan siang kan?" jawab Prita.


"Kenapa repot-repot Prita, saya bisa tugaskan yang lain untuk membelikannya," ujar Bram sambil melirik Atif.


"Tidak apa-apa Ketua. Tadi aku ditemani Atif," jawab Prita tersipu-sipu malu.


"Ehmm..! Ya sudah, kita makan siang rame-rame yuk," ujarku.


"Atif, tolong tanyakan ke perawat, apa aku boleh makan diluar makanan rumah sakit ini," ujar Bram.


"Baik Bos," jawab Atif singkat dan langsung bergegas keluar ruangan.


Prita meletakkan nasi bungkus di meja khusus untuk tamu. Aku beranjak dari tempat tidur Bram dan membantu Prita membereskan makanan dan minuman.


"Zanu, piring, gelas, sendok ada di dalam lemari itu. Kalau mau minum yang dingin-dingin ambil saja dalam kulkas," ujar Bram dari tempat tidurnya.


Aku mengangguk. Tidak berapa lama, Atif masuk bersama perawat yang sedang mendorong troli khusus tempat makanan.


Perawat meletakkan makanan di atas lemari kecil dekat tempat tidur Bram.


"Mari Pak Bram dimakan dan jangan lupa setelahnya minum obat," ujar perawat.


"Terima kasih Sus," jawab Bram singkat.


Perawat tersenyum dan langsung beranjak keluar ruangan membawa troli kembali. Atif langsung ambil posisi berdiri tegap dekat pintu tanpa expresi dan diam.


"Atif, ayo kita makan bareng. Sebelum itu pastikan semua teman-temanmu di luar, makanan mereka sudah tersedia apa belum," perintah Bram.


"Sudah Bos, sekarang mereka gantian makan sambil berjaga-jaga," jawab Atif.


"Ya sudah, kamu temani Prita makan,"


Atif mengangguk dan menghampiri Prita yang sedang duduk bersamaku di sofa. Terlihat Prita sangat bahagia bisa berdekatan dengan Atif.


Aku melihat ke arah Bram dan berpikir, rasanya tidak mungkin Bram bisa makan sendiri. Lebih baik aku menyuapi Bram makan.


Aku menghampiri Bram dan mengambil makanannya di atas meja kecil yang sudah diantar perawat tadi.


"Kakak, aku suapin ya," ujarku.

__ADS_1


"Nah gitu dong sayang. Aku tau pasti kamu mau membantuku," jawab Bram dengan senang.


Aku duduk di pinggir tempat tidur Bram dan membuka tutup makanan yang ternyata isinya nasi dengan semangkok sop daging. Lalu aku memasukkan sop ke dalam nasi.


"Berdo'a dulu Kak,"


Setelah Bram berdo'a, aku menyuapinya.


Duh, aku kok merasa seperti menyuapi suami sendiri ya?


"Maaf merepotkanmu. Tapi aku senang, kapan lagi coba, disuapin sama Zanu, he..he..he..," ujar Bram sambil tertawa.


"Iya.. Semoga lekas sembuh ya Kak. Nanti setelah Kakak selesai, giliran aku yang makan,"


Bram mengangguk. Sambil menunggu Bram mengunyah makanannya, aku menoleh dan memperhatikan Prita bersama Atif sedang mengobrol bersama sambil mereka makan.


Sepertinya mereka mulai akrab. Semoga saja pilihan Prita benar dan Atif bisa menjaga Prita dengan baik.


Ah..., terkadang kupikir, semuanya sudah diatur Tuhan. Pertemuanku dengan Bram dan pertemuan Prita dengan Atif. Seakan semuanya saling berhubungan satu sama lain.


Jalani saja Zanu.


"Zanu, kenapa berhenti? Apa yang kamu renungkan?" tanya Bram yang mengagetkanku.


Aku kelabakan, hampir saja piring yang aku pegang jatuh ke arah Bram.


"Sayang, coba kamu ceritakan, apa yang mengganjal dihatimu sekarang?" tanya Bram.


Apa ya? Rasanya banyak, tapi kali ini pikiranku jadi buntu. Waktu begitu cepat berlalu dan sekarang aku sudah dimiliki oleh Bram.


"Kak, sebentar lagi Kakak kan wisuda. Setelah wisuda apa langsung ke Amerika? Atau masih ada yang akan diurus?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Bram.


"Lho? Kenapa kamu mikirnya jauh sampai ke sana? Aku kan belum selesai skripsi dan wisuda masih beberapa bulan lagi. Kamu takut jauh dariku?" tanya Bram.


"Bukan gitu, nanti kalau kita jauhan, komunikasinya lewat apa?" tanyaku balik.


"Nanti aku belikan kamu ponsel, biar komunikasi kita lancar,"


"Tidak usah, Papaku masih bisa membelikannya. Kita diajarkan tidak boleh meminta ke orang lain. Papa bisa marah besar,"


"Oiya sudah, aku menunggu saja sampai kamu memiliki ponsel sendiri. Untuk sementara aku hubungi melalui telepon kost atau rumah, oke," jawab Bram.


Aku mengangguk.


"Oke, makanku sudah selesai. Sekarang giliran kamu yang makan," perintah Bram.


"Baik Kak,"

__ADS_1


Aku turun dari tempat tidur Bram dan meletakkan piring bekas makan ke atas meja kecil. Setelahnya aku beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Tidak lupa aku memberikan gelas berisi minuman ke Bram.


Aku melangkah ke tempat Prita dan Atif yang sedang makan. Mereka tidak banyak bicara, tapi ada raut bahagia di wajah mereka berdua. Sepertinya Atif mulai menerima keberadaan Prita sekarang. Mungkin Prita sudah meyakinkan Atif jika nanti mereka akan berjauhan.


Aku mengambil nasi bungkus di dalam kantong plastik dan langsung memakannya.


********


Atif dan Prita sudah selesai makan dan langsung beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Tinggal aku sendirian yang belum menghabiskan makananku.


"Atif, tolong ambilkan dua kursi dan letakkan didekat tempat tidurku ini," perintah Bram.


"Baik Bos,"


Atif mengambil dua kursi yang tersedia diruangan tersebut dan meletakkannya didekat Bram.


"Kamu sama Prita duduk di sini, aku mau bicara serius," perintah Bram.


Ada apa sih? Kok seperti mau sidang. Apa Bram mau menanyakan hubungan Atif dan Prita? Ah, tidak mungkin. Bram bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang lain.


Prita dan Atif duduk. Terlihat Prita bingung, mungkin ia berpikir, mengapa Bram ikut serta memanggilnya.


"Prita, saya langsung to the point saja. Apa kamu tau siapa pria yang mengedor pintu kamar ganti disalah satu toko pakaian kemaren bersama Zanu?" tanya Bram serius.


Aduh! Kenapa Bram malah menanyakan itu ke Prita? Nanti Prita marah kepadaku karena tidak bisa menjaga rahasianya. Gimana ini?


"Hmm, Ketua tau dari mana ya? Zanu yang beritau kan?" tanya Prita langsung tepat sasaran.


"Tidak. Saya tau langsung dari pria tersebut. Awalnya saya pikir, pria itu ingin mengganggu Zanu diruang ganti. Tapi ternyata ada fakta lain dan targetnya adalah kamu Prita. Kamu bisa cerita ke saya, nanti saya akan bantu dengan mencarikan solusinya," jawab Bram.


Untung banget, Bram tidak memberitahukan aku. Huffft..! Lega rasanya.


Aku menguping pembicaraan mereka disela-sela aku sibuk makan. Sebenarnya tanpa menguping, tetap bisa aku dengar. Karena jarak antara aku duduk dengan tempat tidur Bram berdekatan.


Prita menarik nafasnya dalam-dalam. Aku tau, pasti berat untuk Prita menjelaskannya, bukan karena dia tidak percaya kepada Bram, tapi mungkin takut akan banyak yang tau tentang dirinya. Karena nyawanya sedang terancam.


"Iya Ketua. Pria itu orang suruhan musuh Papaku di Amerika. Aku sengaja kuliah di sini karena ada keluarga dari pihak Papa. Aku juga tidak menyangka secepat itu mereka bergerak untuk mencariku," jawab Prita dengan hati-hati.


"Boleh saya tau, punya bisnis apa Bapakmu? Dan musuh Bapakmu apa punya bisnis yang sama juga?" tanya Bram.


"Papa punya bisnis yang bergerak dibidang pertanian, mencakupi diseluruh wilayah Amerika dan sudah bisa export ke Eropa walau belum menyeluruh. Saingan bisnis Papa selalu mencari celah untuk bisa menjatuhkan dan mereka ingin menguasai pasar di Amerika. Tapi selalu gagal. Terakhir mereka ingin menghancurkan bisnis Papa dengan cara menculikku. Karena mereka tau, aku dan kakakku adalah pewaris selanjutnya. Untuk menghilangkan kemungkinan terburuk, aku dan kakak ditempatkan di negara yang berbeda," penjelasan Prita.


"Hhmm.. Saya tau perusahaan Bapakmu itu. Cargalla. Perusahan terbesar saat ini di Amerika yang bergerak dibidang agrobisnis. Semua penunjang perusahaan tersebut termasuk pupuk, bekerjasama dengan perusahaan OX," ujar Bram.


Aku kaget mendengar ucapan Bram barusan.


OX itu kan terselip dinama Bram? Bearti Bram adalah...? Aku akan cari tau apa itu perusahaan Ox, setelah pulang dari sini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2