
Seperti biasa, aku pulang ke rumah dengan Bus.
Selama perjalanan, aku bawa tidur menyelimuti tubuhku dengan jaket Bram.
Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar. Terasa hari ini sangat melelahkan dan berat buatku.
Aku berfikir berulang kali dan mengingat apa yang sudah terjadi semenjak bertemu dengan Bram. Waktu terasa begitu cepat berlalu, tanpa jeda untuk aku menyadari apa yang sudah terjadi.
Zanu yang dulu, jadi berbeda dengan Zanu yang sekarang. Aku merasa berjalan jauh masuk ke dunia yang sangat berbeda saat bersama Bram.
Bisa jadi ini langkah salah yang bisa berakibat fatal dan penyesalan. Kehidupan Bram yang high class di tambah bumbu gengster atau ala mafia, bisa membahayakan diriku sendiri.
Dan aku jalani ini apa hanya karena cinta saja?
Atau karena hanya ketakutanku sendiri mengenai satu kata kehilangan?
Atau aku masih terlalu dini mengenal ini semua? Bagaimana caranya keluar dari zona ini, zona yang membuatku nyaman tapi membahayakan?
*********
Aku bangun dari tempat tidur dan keluar menuju ke lantai bawah. Kulihat Papa dan Mama sedang menonton tv. Inilah kesempatan aku untuk bicara.
"Papa Mama, Zanu mau bicara serius," ujarku dengan sangat hati-hati.
"Iya nak, Zanu mau bicara apa? Tentang kuliahnya ya? Atau Zanu butuh mobil secepatnya?" ujar Papa.
Kulihat raut wajah Mama yang penasaran. Aku duduk di sofa antara Papa dan Mama.
"Bukan itu. Begini Pa, Ma, ada cowok yang suka banget sama Zanu, dia itu senior tingkat akhir di kampus. Namanya Bram. Beberapa bulan lagi dia mau wisuda. Setelah wisuda, dia langsung ke Amerika ke tempat orang tuanya tinggal," ujarku dan diam sejenak untuk melihat reaksi Papa dan Mama.
"Cowok yang pernah mampir ke rumah kita malam minggu itu ya nak?" tanya Mama.
"Iya Ma. Itu orangnya," jawabku.
__ADS_1
"Hhmmm, Mama perhatikan orangnya baik dan sopan,"
"Trus Zanu, lanjutkan," ujar Papa singkat.
"Dia, dia mau melamar Zanu Pa, jika Papa Mama tidak keberatan. Tunangan dulu juga tidak apa-apa," ujarku dengan rasa takut.
Hah!! Papa dan Mama kaget bersamaan mendengar ceritaku.
"Zanu. Kamu itu baru selesai SMA, baru juga masuk kuliah. Bukannya Papa sudah wanti-wanti jangan pacaran dulu, fokus kuliah. Papa cari uang bukan untuk kamu pacaran tapi biar kamu jadi orang!" ujar Papa dengan sedikit amarah.
"Pa, dengarkan dulu penjelasan Zanu. Hubungan kamu sama dia sudah sampai mana nak?" tanya Mama dengan suara lembut.
"Nggak sampai kemana Ma, Zanu masih baik-baik saja. Tapi Zanu akui, dia memang baik sama Zanu. Cuma waktunya saja belum tepat," jawabku.
"Nah itu kamu tau Zanu. Kenapa harus tanya lagi ke kita? Semua laki-laki begitu Zanu, baik karena ada maunya. Pokoknya Papa tidak mau tau, kamu harus selesaikan kuliah dulu dan kerja!" ujar Papa masih dengan amarahnya.
"Pa.., Zanu kita ini kan hanya menyampaikan keinginan laki-laki itu. Ya wajar Zanu tanya kita. Laki-laki itu ingin menikahi anak kita Pa, bukan buat pacaran. Coba deh, Papa cerna baik-baik omongan Zanu," Mama membelaku dan memang benar yang Mama katakan.
"Iya Pa, dia mau menikahi Zanu. Tapi jika Papa belum terima, dia meminta tunangan dulu. Biar dia bisa tenang selama berada di Amerika," aku mencoba bicara pelan dan tenang.
"Nggak ada tunang-tunangan Zanu! Jika nanti dia ternyata bukan jodohmu, Papa dan Mama jadi malu di mata orang-orang. Kalau dia benar-benar serius sama kamu, dia harus menunggu sampai kamu selesai kuliah dan kerja. Barulah Papa akan menerima dan memberi restu, ingat itu Zanu! Beri contoh yang baik juga buat adik kamu!" ujar Papa dengan amarahnya.
Papa melangkah pergi langsung ke kamarnya. Mungkin mau menenangkan pikiran dulu.
"Sudahlah Zanu, apa yang Papa kamu bilang itu benar. Kita tidak bisa memberi harapan ke orang lain tanpa kepastian. Mama yakin, jika dia berjodoh dengan Zanu, pasti dia akan datang suatu saat nanti. Tapi jika bukan, maka dia akan pergi. Dan Zanu harus membuka hati untuk laki-laki lain. Sekarang fokus saja kuliahmu nak," ujar Mamaku memberi nasehat.
"Baiklah Ma.., tapi selama dia masih di sini, apakah boleh Zanu jalan sama dia?" tanyaku.
"Hhmm.. sebenarnya nggak boleh nak. Karena takutnya terjadi hal-hal yang merugikan kamu sebagai perempuan. Tapi jika kamu bisa jaga diri baik-baik dan tidak melakukan hal yang senonoh, nggak apa-apa. Jalani saja tapi jangan sering bertemu," jawab Mama.
Lega rasanya bisa mendengar perkataan Mama barusan. Mama tidak terlalu mengekangku tapi harus bisa membatasi diri.
"Terima kasih ya Ma,"
__ADS_1
"Nak, apa kamu suka laki-laki itu? Mama lihat orangnya benar-benar baik. Dan cakep ya, ha..ha..ha..," ujar Mama sambil becanda.
"Ah Mama. Tau aja mana yang cakep. Dia memang baik Ma, tapi akhir-akhir ini suka posesif. Tidak tau kenapa dia jadi seperti itu. Yang pasti, Zanu suka banget sama dia Ma, semoga saja dialah jodoh Zanu ya Ma,"
"Aamiin, semoga dia yang terbaik buat Zanu. Mama hanya bisa mendo'akan, cuma Zanu yang lebih tau orangnya seperti apa. Mama juga berharap adikmu Zuri mendapatkan jodoh yang baik pula, biar Mama bisa tenang dan nggak sedih melihat kalian menderita," ujar Mama lirih.
"Mama jangan sedih dong. Zanu akan fokus kuliah dan kerja, supaya bisa hidup berkecukupan dan bisa ajak Mama Papa jalan-jalan,"
"Kamu jangan pikirkan Mama sama Papa dulu. Pikirkan hidupmu ke depan Zanu, karena hidup ini tidak seindah yang kita bayangkan. Apalagi setelah menikah, banyak hal yang harus kita perhatikan. Terutama masalah ekonomi, itu pemicu utama rusaknya satu keluarga. Nanti kamu akan paham jika sudah mulai dewasa," ucap Mama lagi.
"Ya udahlah Ma, Zanu sudah tau semua nasehat Mama. Tinggal prakteknya saja. Oiya, besok Bram mau kesini Ma, ajak Zanu ke acara tunangannya Vincent,"
"Hah?! Vincent mantan kamu dulu kan? Cepat sekali menikahnya? Kenapa Bram bisa tau sama Vincent?" tanya Mama.
"Panjang ceritanya Ma. Besok boleh nggak Zanu pergi sama Bram?" tanyaku balik.
"Boleh, asal jelas mau kemananya," jawab Mama.
"Tapi izin ke Papa bagaimana ya Ma? Takutnya Papa tidak mau memberi izin dan malah marah-marah,"
"Nanti Mama akan jelaskan ke Papa dan membujuknya. Semoga hati Papa sedikit melunak,"
"Oke. Terima kasih Ma. Zanu ke atas dulu ya, mau siapkan baju buat pesta besok," ujarku.
"Bajunya yang keren dikit ya, biar anak Mama terlihat cantik dan pas di gandeng Bram jadi nggak malu-maluin,"
"Mama, mulai lagi deh.., ya pasti pakai pakaian bagus Ma," jawabku sambil beranjak naik ke lantai atas.
Bram, maafkan aku. Orang tuaku tidak menyetujui adanya tunangan atau pernikahan untuk kita.
Ku harap kamu bisa menunggu sampai waktunya tiba.
...****************...
__ADS_1