
Bram mendekat.
"Hei kamu siapa? tanya Bram ke Ricard.
"Saya Ricard temannya Zanu. Kamu siapa?" tanya Ricard heran.
Hadeh! Kacau ini!
"Saya cowoknya Zanu, ada apa ya kamu mendekati Zanu?" tanya Bram lagi.
Duh! Bisa panjang urusannya.
"Sudahlah Kak, dia cuma mau menanyakan kantin. Dia baru masuk hari ini, jadi belum tau kampus," aku terpaksa berbohong.
"Saya mau mengajak Zanu ke kantin, kalau yang ditunggunya tidak bisa datang," ujar Ricard nekat.
Deg! Aku ketahuan bohong, gimana ini? Apa Bram marah? Kenapa pula si Ricard ini ada sih!
"Maaf, orang yang ditunggunya adalah saya. Ayo Zanu kita pulang," Bram menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana.
Terlihat Ricard diam, ia dihampiri beberapa temannya dan membisikkan sesuatu. Ricard hanya memandangku dari jauh, entah apa yang ia pikirkan.
Bram masih menarik tanganku menuju parkir mobil, ia hanya diam.
Setelah masuk mobil, Bram menghidupkan mesin mobil dan langsung menyetir keluar dari kampus. Selama perjalanan Bram masih diam.
"Maaf Kak," ujarku menoleh ke arah Bram.
"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Bram.
"Tentang tadi," jawabku.
Bram diam kembali. Sesampainya di kost aku, Bram menghentikan mobilnya.
"Kamu turun dan ambil beberapa helai bajumu. Aku tunggu di sini," perintah Bram.
"Lho? Buat apa?" tanyaku heran.
"Kamu malam ini menginap dirumahku, apa kamu lupa?"
"Oh iya, bentar," aku keluar dari mobil Bram. Kubuka pintu pagar dan masuk lewat pintu samping. Saat aku masuk ke dalam kost, aku bertemu Kak Siska sedang makan di meja makan.
"Hai Zanu, kamu pulang ya?" tanya Kak Siska.
"Iya Kak, tapi pergi lagi," jawabku.
"Kerumah sakit lagi? Bagaimana Prita?"
"Prita belum sadar juga Kak. Malam ini aku menginap di rumah Ketua,"
"Hah! Rumah Ketua? Apa Kakak nggak salah dengar Zanu? Beneran ini?!" Kak Siska antusias mendengarnya.
"Iya beneran Kak. Ketua minta ditemani sebelum ia sidang," aku mengambil air minum di dalam kulkas.
"Kenapa harus sekarang? Kan bisa setelah sidang Zanu? Memangnya Ketua mau pergi?"
__ADS_1
Deg! Itu yang tidak aku jelaskan kesiapapun.
"Maaf Kak, kurang tau. Zanu ke atas dulu ya Kak, mengambil pakaian,"
"Oke Zanu,"
Aku naik ke lantai atas menuju kekamarku. Aku mengambil beberapa baju kaos dan celana panjang. Tak lupa pula aku membawa stelan baju tidur dua lembar. Di tambah perlengkapan pakaian dalam dan makeup.
Setelah semuanya masuk ransel, aku keluar kamar, mengunci pintu dan turun ke bawah. Di dapur masih ada Kak Resa.
"Kak, aku pergi dulu ya. Kalau Mami menanyakan aku, terserah Kakak mau menyampaikannya bagaimana, oke,"
"Oke Zanu, jaga diri baik-baik ya,"
"Bye Kak,"
"Bye,"
Aku keluar dari pintu samping, berjalan menuju ke mobil Bram. Terlihat Bram sedang menelepon seseorang.
Aku masuk dan meletakkan tas ransel di bangku belakang. Menunggu Bram selesai menelepon. Bram mematikan ponselnya dan melihat kearahku.
"Sudah di bawa semua keperluanmu?" tanya Bram.
"Sudah," jawabku singkat.
Bram menghidupkan mesin mobilnya dan mobil melaju ke arah rumah Bram.
********
Apa kita harus diam-diaman gini ya? Nanti di rumah Bram bagaimana?
Saat masuk ke gerbang halaman rumah Bram, tanaman bunga-bunga sudah berubah berwarna pink. Tidak kutemui lagi bunga berwarna merah itu.
"Kak, kenapa semua bunganya di ganti warna pink?" tanyaku memberanikan diri untuk bertanya.
"Itu untukmu Zanu, sebelum aku pergi, aku ingin semua bunga dirumahku berwarna pink. Dan perabot warna hitam sudah kuganti warna krem dan warna soft lainnya," jawab Bram dengan datar.
"Tapi, tapi kan Kakak mau pergi. Buat apa susah-susah merubah semuanya? Nggak ada juga yang lihat sesudahnya,"
"Ada, semua yang ada di rumah ini aku ingin melihatnya, nanti juga kamu akan tau," lagi-lagi Bram menjawab datar.
Mobil berhenti di halaman rumah. Kita di sambut oleh Pak Tio, asisten rumah tangganya Bram. Kali ini tidak ada karyawan lain yang menyambut, seperti di awal aku ke sini.
"Selamat datang kembali Non Zanu," sapa Pak Tio sambil membukakan pintu mobilku.
"Hallo Pak, terima kasih,"
Pak Tio tersenyum. Bram berjalan di samping dan langsung menggandeng tanganku.
"Pak Tio, apa makan siangnya sudah disiapkan? Tolong bawakan ransel Non Zanu ke dalam kamar saya,"
Lho? Kenapa aku tidur di kamar Bram? Lha, dia tidur di mana?
"Baik Bos, makan siang sudah disiapkan," Pak Tio mengambil ranselku yang berada di bangku belakang mobil.
__ADS_1
Bram membawaku langsung ke ruang makan. Memang benar, semua isi di dalam rumah Bram sudah berubah warna, bentuk dan bunga dalam pot juga berubah berwarna pink.
Kusadari tiba-tiba aku melihat seseorang diam-diam shoot aku dan Bram memakai kamera sedari masuk ke dalam rumah ini.
Kenapa orang itu shoot aku dan Bram ya? Apa dia suruhan Bram? Aneh.
"Zanu, kita makan siang dulu. Nanti sore aku mau mengajakmu ke kebunku, oke," ujar Bram.
Aku mengangguk.
Bram dan aku duduk di kursi makan. Semua menu makan siang sudah tersaji di atas meja. Tampak orang tadi masih saja shoot aku dan Bram dari jarak dekat.
"Kak, dia ngapain?" tanyaku.
"Itu yang aku maksudkan tadi Zanu, dia kutugaskan untuk mengabadikan kebersamaan kita selama kamu ada di sini, untuk kenang-kenangan kita berdua," jawab Bram.
"Maksudnya apaan? Kita akan berpisah? Kenapa ini jadi kenangan?" tanyaku.
"Sudahlah, nanti kita bicarakan. Sekarang kita makan siang dulu, aku sudah lapar," jawab Bram.
Aku diam. Bram mengambilkan nasi untukku dan menawarkan aku beberapa menu. Aku terpaksa menurutinya, walau sebenarnya hatiku masih diselimuti rasa penasaran akut.
********
Bram dan aku selesai makan. Bram menarik tanganku dan membawaku ke kamarnya melalui pintu rahasia.
"Kak, ngapain bawa aku ke kamar?" tanyaku dengan perasaan takut Bram akan melakukan sesuatu ke padaku.
"Aku mau menunjukkan sesuatu kepadamu Zanu," jawab Bram.
"Iya, tapi kenapa harus di kamar? Kan bisa di tempat lain," aku berusaha untuk menolak.
"Kamu lihat dulu itu apa, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bejat ke kamu Zanu, percayalah," Bram menatap ke arahku, supaya aku yakin dengan ucapannya.
Aku tidak bisa berlama-lama menatap mata Bram, karena tatapan itu seakan membuatku luluh dan tidak berkutik. Akhirnya aku menurutinya.
Bram membuka laci kerja untuk membuka pintu kamar itu. Setelah pintu terbuka, Bram menarikku masuk ke kamarnya. Suasana di kamar ini masih seperti pertama kali aku melihat kamar Bram.
Diatas tempat tidur aku melihat kotak yang sangat besar berwarna pink. Bram menyuruhku duduk di dekat kotak tersebut.
"Zanu, itu untukmu. Bukalah," ujar Bram.
"Ini apa Kak? Besar sekali kotaknya," buatku terlalu besar hadiah yang diberikan Bram.
Apa ini boneka?
"Kamu buka saja, semoga kamu suka dengan pemberianku. Berlian yang aku berikan kepadamu masih kamu pakai kan?" tanya Bram.
"Hanya cincinnya yang kupakai Kak, tapi gelangnya ada ku bawa," jawabku sambil memamerkan cincin manis tangan kirimu ke hadapan Bram.
"Nanti malam kamu pakai ya sayang, sekarang bukalah kotak itu,"
Aku penasaran, apakah ini sesuatu yang bisa di pakai? Atau di simpan?
...****************...
__ADS_1