Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 46 : Cinta


__ADS_3

Aku, Bram dan Prita sudah selesai makan. Kita berbincang-bincang dan tertawa sejenak sambil menyeruput minuman.


Bram tidak banyak bicara, hanya sedikit saja menimpali pembicaraanku dengan Prita. Sekali-kali Bram mengangkat ponselnya dan menelepon balik.


"Tolong siapkan semua, saya akan ke sana sekitar satu setengah jam lagi," ujar Bram memberitau seseorang di seberang sana melalui ponselnya.


Lalu Bram menutup pembicaraan. Aku dan Prita bergegas menghabiskan minuman.


"Sudah ya? Kita pergi lagi? Atau kamu ada keperluan lain?" tanya Bram.


"Nggak ada. Tapi katanya mau ajak aku ke sesuatu tempat? Jadi kan?" tanyaku balik.


"Ya jadi. Sekarang saja kalau tidak ada keperluan lagi. Aku ke resepsionis dulu bayar makanan ini," ujar Bram sambil berdiri.


Aku mengangguk. Aku dan Prita ikut berdiri dan mulai melangkahkan kaki ke arah pintu luar kantin. Sedangkan Bram membayar makanan.


Lima menit kemudian, Bram datang menghampiri aku dan Prita. Kita jalan bertiga beriringan menuju parkir mobil.


Kebetulan, parkir mobil tidak terlalu jauh dari kantin. Jadi tidak perlu bersusah payah berjalan kaki. Suasananya kali ini agak sedikit canggung, karena Prita merasa tidak enak hati berada di antara aku dan Bram.


Bram tau kegelisahan Prita yang terkadang sedikit mundur saat berjalan, seakan memberi ruang untuk aku dan Bram berjalan berduaan. Memang Prita cukup perhatian terhadapku.


"Prita, nanti Atif saya suruh ke kost jam empat sore. Pas saya antar Zanu pulang ke kost, sekalian saya pulang bersama Atif," ujar Bram memecah keheningan.


"Baik Ketua," jawab Prita singkat malu-malu.


Aku senyum ke arah Prita dan berjalan mengiringi langkahnya.


"Zanu, thank you sudah tanyakan Atif ke Ketua. Tapi aku malu lho," bisik Prita ke telingaku.


"Nggak apa-apa. Tapi kamu senang kan...?" bisikku sambil menggoda Prita. Prita mengangguk dan tersenyum.


Akhirnya kita sampai juga di parkiran. Terlihat Bram menuju mobil yang berbeda dari biasa yang dia pakai.


OMG! Itu kan mobil sedan Mercedes Benz keluaran terbaru?! Ganti lagi? Benar apa yang dikatakan cewek-cewek di toilet tadi ternyata Bram memang orangnya tajir.


Tapi bukan karena dia tajir yang membuatku menyukainya. Dari awal aku tidak tau siapa Bram sebenarnya. Aku lebih menyukai sikap dan cara Bram terhadapku selama ini. Jadi, tidak ada alasan sedikitpun aku menyukai Bram karena dia tajir. Big no!


Aku, Bram dan Prita masuk ke dalam mobil. Terlihat Prita kaget melihat mobil Bram yang terlihat berkilau dan keren. Prita mengedipkan matanya ke arahku dan aku menyambutnya hanya dengan senyuman.

__ADS_1


Mobil Bram melaju menuju kost aku dan Prita.


*******


Akhirnya kita sampai ke kost. Bram menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Ketua, terima kasih sudah mengantarkan saya sampai sini," ujar Prita.


"Sama-sama Prita," jawab Bram singkat.


"Yuk Zanu, aku duluan. Hati-hati di jalan," Prita langsung turun dari mobil.


"Oke Prita," aku melambaikan tangan melalui jendela mobil ke arah Prita.


Prita langsung berjalan dan masuk ke dalam kost melewati pintu samping. Mobil Bram belum juga berjalan, ternyata Bram sedang menelepon seseorang.


"Kamu sore ini jam empat hampiri ke kost Prita. Saya mau antar Zanu berkeliling sebentar ke PTO, nanti kamu pulangnya bersama saya," ujar Bram melalui ponselnya.


Itu pasti Atif, gumamku. Bram mau mengajak aku ke PTO? Itu tempat apa ya?


Bram menutup pembicaraan dan mulai menjalankan mobilnya menuju tempat yang tidak aku ketahui sama sekali.


Kenapa Bram menanyakan itu ya? Apa sikapku selama ini kurang meyakinkan Bram? Atau dia belum mempercayaiku?


"Hhmm... Aku senang Kak. Hanya saja aku selama ini sedikit risih dengan penglihatan orang-orang setiap aku berjalan sama Kakak," jawabku sedikit hati-hati.


"Memangnya kenapa? Itu kan resiko kamu memiliki cowok seperti aku. Tapi benar juga sih, gara-garaku, kamu hampir celaka dari cemburunya perempuan lain. Tapi kamu tidak keberatan bukan, kalau aku ingin selalu dekat denganmu?" tanya Bram menoleh sebentar kearahku sambil menyetir.


"Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali," jawabku singkat.


"Bagus. Kamu jangan pedulikan orang lain lagi hanya karena aku yang mendekatimu. Justru aku akan sangat cemburu jika ada laki-laki lain yang mendekatimu. Dan hanya hal itu yang aku pikirkan jika terjadi,"


Aku tersenyum mendengar ucapan Bram.


"Tapi Kak, aku tidak mau Kakak nanti menjadi posesif terhadapku. Biarkan aku menjadi diri sendiri. Aku butuh berinteraksi dengan teman-teman termasuk teman cowok kedepannya," jawabku tegas.


"Iya, aku tau itu. Bentar lagi aku selesai kuliah dan bekerja, otomatis kita akan sangat jarang bertemu. Bisakah kamu setia sampai nanti aku datang?" tanya Bram dengan serius.


"InsyaAllah Kak, kalau kita jodoh pasti bertemu lagi. Aku juga tidak mudah untuk berpindah ke yang lain. Kecuali jika Kakak sudah bersama yang lain. Tapi itu mungkin butuh waktu yang lama untuk aku bisa move on," jawabku.

__ADS_1


"Tapi Zanu, aku tidak mau mendengar kalimat itu, jika jodoh pasti bertemu, sama halnya kalimat yang kamu lontarkan ke Vincent. Kamu jodoh aku dan jodohku harus kamu!" Bram mulai memaksakan kehendaknya.


"Lho? Tidak bisa gitulah Kak. Semua takdir sudah ada yang mengatur, kita tidak bisa berbuat apa," jawabku.


Tiba-tiba Bram menghentikan mobilnya. Aku kaget!


Ada apa ini? Apa aku salah bicara atau Bram marah kepadaku?


Kulihat Bram menghela nafasnya dan terdiam sejenak.


Jangan bilang aku disuruh Bram turun dari mobilnya, haduh...! Bagaimana ini?


Bram membalikkan tubuhnya ke arahku. Dia melihatku dengan seksama. Aku cuma diam saja, takut salah bicara.


"Zanu, salahkah aku berharap untuk memilikimu? Aku tau, jodoh kita sudah ada yang mengatur. Tapi setidaknya aku akan selalu berusaha, untuk kamu menjadi milikku. Jika kamu mau, hari ini juga aku akan menikahimu. Tapi aku menghargai keinginan dan cita-citamu. Kamu tau kenapa aku seperti ini?" tanya Bram sambil menatapku dalam-dalam.


Aku hanya bisa diam terpaku dan menggelengkan kepala sedikit. Aku takut dengan apa yang akan ku dengar dari mulut Bram. Aku sudah luluh dengan semua apa yang sudah Bram lakukan.


"Karena aku sangat mencintaimu. Ini cinta, aku tidak pernah mencintai siapapun sehebat ini. Aku juga tidak pernah peduli dengan siapapun selama ini. Dan semuanya aku temukan di dirimu. Selama ini aku mendapatkan apa saja yang aku inginkan, hanya bersamamulah aku jadi sedikit mengalah. Dan aku bahagia melakukan itu. Jadi aku minta, janganlah pergi dariku dan jangan katakan kalimat jika kita berjodoh pasti bertemu," ujar Bram menatapku nanar.


Terlihat harapan besar dari setiap ucapan Bram. Aku baru mengalami ini dalam hidupku dan baru mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya.


Selama ini aku tau cinta itu hanya melalui dongeng atau novel saja. Tapi ternyata saat inilah aku merasakannya langsung, bersama orang yang berada didepanku yaitu Bram.


Tiba-tiba Bram mengangkat tangannya dan mengelus rambutku bagian samping. Dia tersenyum melihatku.


"Maaf, jika ucapanku tadi bisa membuatmu jadi berfikir jauh. Aku tidak mau membebani kamu dengan keinginanku. Maafin aku ya?" tanya Bram.


"Iya Kak, tidak apa-apa. Oiya, kita jadi pergi nggak nih?"


"Ya jadi dong sayang," ucap Bram sambil menghidupkan kembali mobilnya.


Wah! Ini kata sayang yang ke dua diucapkan Bram. Agak asing bagiku mendengarkan kata sayang dari Bram, tapi mungkin kedepannya aku mulai terbiasa.


Raut wajah Bram terlihat bahagia. Aku sekali-kali memperhatikannya dan terlihat Bram tersenyum sumringah setiap aku melihatnya.


Bram, ajarkan aku untuk benar-benar mencintaimu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2