Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 137 : Teman Vs Teman


__ADS_3

Kriiinggg!


Alarm berbunyi nyaring, menunjukkan pukul setengah enam. Aku bergegas bangun dan memulai aktifitas seperti biasanya.


Setelah bersiap-siap untuk ke kampus bersama Bram, aku turun ke bawah. Aku mendapati teman-teman kost sedang sarapan.


"Zanu, kamu mau ke kampus ya? Bareng Kakak aja," tawaran Kak Siska.


"Iya Kak, mau ke kampus juga. Tapi Ketua mau jemput, hari ini menemaninya sidang, kapan-kapan saja kita bareng ya Kak," aku menolak secara halus.


"Oiya ya, semoga lancar sidangnya. Siang ini kita mau ke rumah sakit bareng, nanti kita sampaikan sama Mami kalau hari ini Zanu nggak bisa menjenguk ya,"


"Iya Kak, tolong sampaikan maaf Zanu. Lusa InsyaAllah Zanu ke sana, sekalian lihat kondisi Mami setelah operasi kan," jawabku sambil mengambil piring yang sudah berada di atas meja.


Tiba-tiba aku ingat, semalam Bram mengajakku sarapan di kantin kampus. Aku meletakkan kembali piring ke tempat semula, semuanya memperhatikanku.


"Lho, kamu nggak sarapan Zanu?" tanya Kak Kinan yang sedang mengunyah.


"Nggak jadi Kak, Ketua mau mengajak sarapan di kantin," jawabku sedikit malu.


"Ciieee, enak ya bisa barengan sarapan sama Ketua," goda Kak Rosi.


"Kita kapan ya pemirsah?" Kak Siska ikut nimbrung menggodaku.


"Sepertinya Kakak-kakak sekalian harus segera mencari pasangan deh," celetuk Rani.


"Cariin dong.., yang mirip-mirip Ketua," ujar Kak Siska.


"Ada tuh banyak, cuma Kakaknya mau nggak dekatin duluan? Kakak maluan gitu sih, jadi si cowoknya nggak peka, yaa nggak bakal jadianlah," Mira ikut nimbrung yang sedari tadi hanya diam sibuk mengunyah.


"Udah, udah, pembicaraan ini kita cut dulu. Entar telat lho ke kampus," Kak Kinan jadi sewot, orangnya memang seriusan menanggapi sesuatu, tapi asli baik orangnya.


Semua pada mingkem, diam dan kita sudah tau bagaimana sifatnya Kak Kinan. Satu persatu dari kita sudah selesai sarapan dan langsung bersiap-siap hendak berangkat ke kampus.


"Dada Zanu, have fun ya. Kakak tinggal dulu," Kak Siska melambaikan tangannya.


"Kita duluan ya Zanu," ujar Rani dan Mira.

__ADS_1


Aku mengangguk dan berjalan ke teras depan, menunggu jemputan Bram. Satu persatu teman kost berangkat menuju ke kampus dengan kendaraan masing-masing dan ada yang menumpang.


Selang tidak berapa lama kemudian, Bram datang. Iya turun dari mobil dan berjalan ke arahku. Kali ini Bram memakai kemeja putih dan celana jeans warna hitam.


"Lama menunggu sayang?" tanya Bram dengan sumringah.


"Nggak, baru saja duduk di sini menunggu," jawabku.


"Yok, kita ke kampus. Tapi sarapan dulu ya, kamu belum sarapan kan?" tanya Bram lagi.


"Belum," jawabku sambil mengikuti Bram dari belakang.


Bram dan aku masuk ke mobil dan mobil melaju ke arah kampus.


*********


Kita langsung menuju ke kantin. Di kantin terlihat beberapa orang yang menggenakan warna yang sama seperti Bram yaitu putih hitam. Diyakini jika mereka sama-sama ikut sidang hari ini seperti Bram.


"Hei Ketua, apa kabar? Kita jarang ketemu, kemana saja Ketua?" ujar salah satu teman Bram yang menghampiri meja kita.


"Baik. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Bagaimana persiapan sidangmu hari ini? Sudah siap tempur?" tanya Bram.


"Oke," jawab Bram singkat.


Teman Bram langsung pergi, terlihat expresinya yang sedikit canggung saat pertama kali melihatku. Aku belum pernah bertemu dengan teman Bram barusan.


"Siapa itu Kak?" tanyaku.


"Itu Ibas, anak teknik elektro. Dulu saat baru-baru masuk kampus, aku dekat dengannya. Tapi semenjak aku jadi ketua BEM, kita jarang ketemu. Orangnya baik dan supel, tidak banyak tuntutan dan enjoy. Kamu dengar kan tadi, dia pengen cepat selesai kuliah supaya cepat punya uang sendiri. Padahal dia anak orang perpunya," keterangan Bram menurutku lengkap dan akurat.


"Baguslah orangnya seperti itu Kak, tidak mau menyusahkan orang tua. Aku juga pengen seperti itu, kuliah cepat dan langsung dapat kerja,"


"Good! Aku bisa punya kesempatan untuk menemuimu. Janji ya, kamu tidak memikirkan nikah dulu, fokus kuliah saja," ujar Bram.


"Sampai kapan aku kuliah terus Kak? Kalau sudah dapat kerja, ya pasti aku bakal menikah. Entar ketuaan umurku, tidak ada yang mau," ledekku.


"Aku mau, jika kesempatan itu ada," jawab Bram cepat.

__ADS_1


"Udahlah Kak, kita jangan membahas ini lagi. Kalau kita memang berjodoh, apapun yang terjadi dalam hidup kita pasti bertemu kembali," jelasku tanpa mau bertele-tele lagi.


Bram diam. Ia berdiri dan beranjak menemui pelayan, entah apa yang ia bicarakan. Sekembalinya ke meja, Bram menawariku menu yang akan di pesan untuk sarapan. Aku dan Bram sepakat memesan nasi goreng seafood dan teh manis. Bram memanggil pelayan dan memesan apa yang kita makan pagi ini untuk sarapan.


"Hei Zanu, di sini juga?"


Aku kaget dan melihat ke arah sumber suara. Bram juga ikut menoleh, terlihat raut wajahnya yang seperti mau marah.


"Heh iya," jawabku cuek. Aku lupa-lupa ingat siapa pria itu.


"Kamu pasti lupa ya sama aku? Masa' sama teman satu jurusan, sekelas, kamu bisa lupa? Aku Ricard, kamu masih ingat kan?" ujar Ricard dengan santainya seakan tidak peduli dengan kehadiran Bram.


"Oh Ricard. Maaf Ricard, aku mau sarapan dulu," jawabku sambil melihat Bram sudah ancang-ancang ingin memarahi Ricard.


"Oke, sama, aku juga mau sarapan di sini. Bye," Ricard melangkah pergi ke arah meja lain di dalam kantin. Dia bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Bram yang mulai cemberut atau bisa dikatakan cemburu.


"Nggak sopan ya Ricard itu, bicara tanpa lihat-lihat orang yang sedang bersamamu," ujar Bram.


"Sudahlah Kak, biarin saja. Mungkin orangnya seperti itu," bukan aku ingin membela Ricard, tapi berusaha meredam emosi Bram jika diperpanjang.


"Nggak bisa dong. Aku di sini sebagai pacarmu, seenaknya menegurmu tanpa basa basi atau apa gitu," Bram mulai terlihat cemburu.


"Lho? Apa bedanya dengan teman Kakak tadi, yang hanya bicara sama Kakak saja tanpa melihat atau menegurku?" entah mengapa kali ini aku tidak mau mengalah. Jarang-jarang aku bertengkar dengan Bram seperti ini.


"Iya, tapi kan kita sama laki-laki, nggak enaklah temanku melihat kamu Zanu. Nanti dikira tidak sopan," Bram membela diri.


"Jadi ceritanya Kakak cemburu ya Ricard hanya bicara denganku saja?"


"Tidak, buat apa aku cemburu,"


"Halah, bilang aja cemburu,"


Bram diam dan merasa bingung mau menjawab apa. Tak lama, pelayan kantin membawa pesanan kita berdua dan langsung meletakkannya di atas meja. Setelah selesai, pelayan pergi dari meja kita berdua.


Aku dan Bram mulai menikmati sarapan pagi ini. Bram masih diam dan sekali-kali melihatku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2