Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 120 : Mobil Baru


__ADS_3

Bram berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku.


Semua melihat ke arah Bram. Aku menyambut tangan itu dan mulai mengikuti irama gerakan Bram.


Yup! Bram mengajakku berdansa. Gerakan kita berdua serasa exsotic dan bergelora, terlihat dari tatapan Bram yang tidak melepaskan padangannya dariku.


Semua mata tertuju ke Bram dan aku. Aku tidak kuasa menahan perasaan syahdu di hati, saat Bram memeluk erat pinggangku.


Ada beberapa pasangan lagi yang ikut gabung berdansa. Di saat alunan musik berubah menjadi melow, lampu langsung berubah menjadi remang-remang.


Bram mengarahkan tanganku ke atas bahunya dan tangan Bram sekali-kali mengelus punggung belakangku.


"Kak, kapan sidang?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Tiga hari lagi. Ada apa sayang?" tanya Bram.


"Bearti tiga hari lagi kita akan berpisah?"


"Iya, maafkan aku. Dan perpisahan ini bukan biasa, terlalu menyakitkan untuk kita berdua," jawab Bram.


"Yah, pasti Kakak jawab lagi , setelah sidang akan diberitau,"


Bram diam, ia mendekapku lebih erat lagi. Suara alunan musik membuat hati jadi luka, rindu dan cinta menjadi satu di malam ini. Entah apa yang ada di pikiranku dan Bram saat ini, rasa takut kehilangan itu lebih besar ketimbang rasa cinta itu sendiri.


Beberapa menit kemudian, musik berhenti. Semua yang berdansa perlahan kembali ke tempat mereka masing-masing. Aku dan Bram duduk dan menikmati makanan sambil mendengar alunan musik jazz.


"Kak, nanti aku boleh pinjam ponsel? Mau menghubungi Papa dan Mama," Aku rindu dengan orang tuaku.


"Boleh, nanti pulang dari pesta ya. Kamu mau memberitahu kalau mau menginap malam ini di tempatku?" tanya Bram.


"Bukan, pasti Papa dan Mama nggak ngizinin. Aku mau beritau kalau besok tidak pulkam dulu,"


"Oke. Maaf ya Zanu, kamu jadi berbohong ke orang tuamu gara-gara aku,"


"Tidak apa-apa Kak, mau bagaimana lagi. Asal aku aman bersama Kakak, walau sebenarnya salah,"


Musik sudah beberapa kali berubah-ubah, malam semakin larut dan satu persatu tamu pulang. Aku dan Bram juga ikut pulang, sebelumnya pamit dulu ke tuan rumah dan pengantin baru.


*********


Di dalam mobil.


Bram memberikan ponselnya. Aku menghubungi Papa lewat telepon rumah.


"Hallo Pa, apa kabar?" ujarku.


"Hallo nak, Alhamdulillah Papa baik, Mama dan Zuri juga. Kebetulan sekali kamu menelepon nak," jawab Papa.


"Ada apa ya Pa?" aku penasaran dengan jawaban Papa.

__ADS_1


"Besok kamu harus pulang ya, Papa sudah beli mobil baru buat kamu. Papa juga sudah daftarkan privat nyetir," Papa antusias sekali memberitahukanku.


Deg! Aduh, bagaimana ini? Aku harus pulang, tidak bisa menemani Bram.


"Ada apa Zanu?" tanya Bram pelan.


"Sstt..," aku berusaha menutup ponsel dan memberi kode ke Bram untuk diam.


"Wah, terima kasih Pa. Besok Zanu pulang,"


"Oke, kita tunggu ya," jawab Papa.


Klik!


Aku memberikan ponsel ke Bram. Dengan mimik wajah yang heran, Bram menepikan dan menghentikan mobilnya.


"Ada apa Zanu? Kamu besok pulang?" tanya Bram.


"Iya, maafkan aku Kak. Papa beli mobil baru dan sudah daftarkan aku privat buat nyetir,"


"Oiya? Selamat! Aku senang mendengarnya, besok aku antar, sekalian bisa menemani kamu nyetir," jawab Bram antusias.


Aku tidak menyangka Bram menanggapinya dengan senang. Padahal, dia berharap aku bisa menemaninya setiap hari.


"Kakak nggak kecewa? Besok aku nggak bisa nginap di tempat Kakak lagi,"


"Lho, walau tidak bisa nginap lagi ditempatku, aku bisa menemani kamu kan? Sama saja kita bisa bersama menikmati hari. Yang penting aku tidak mau kita jauhan," jawab Bram.


"Besok siang kita berangkat dari tempatku. Aku sudah persiapkan diri untuk sidang nanti, jadi aman,"


"Oke, terima kasih ya Kak,"


Bram mengangguk, ia menghidupkan kembali mesin mobil. Mobil melaju pulang ke rumah Bram.


********


Sesampainya di rumah Bram, kita di sambut oleh Pak Tio. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bram mengajakku ke kamar rahasianya yang bernuansa pink.


"Kamu tidur di kamarku ini," ucap Bram saat kita masih di ruang kerjanya.


"Kakak tidur di mana?" tanyaku.


"Aku tidur di kamar sebelahnya, ada kamar rahasia satu lagi,"


"Hah?! Kenapa banyak sekali kamar rahasia di rumah Kakak ini?" tanyaku heran.


"Karena banyak pekerjaan rahasia dan penjagaanku selama di rumah ini," Bram mulai mendekatiku.


"Bisakah kita tidak membahas ini lagi? Aku ingin melihatmu lebih dekat sebelum kamu tidur," Bram menatap dan membelai pipiku.

__ADS_1


"Bukannya tadi sudah saat kita dansa?" tanyaku.


Bram diam dan lebih mendekatkan diri ke arahku. Tiba-tiba Bram ******* bibirku dan memelukku erat. Aku tidak kuasa menolak, gejolak itu tiba-tiba hadir. Apakah itu gejolak cinta atau nafsu, aku tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan.


Aku dan Bram bergulat dalam ciuman yang bergelora. Ada rasa beban yang terlepas sementara, walau aku dan Bram sama-sama tau, kalau sebentar lagi kita akan berpisah.


"Zanu, aku tidak tahan dengan perasaanku, maafkan aku jika malam ini berbuat nekat," Bram terus melumati bibirku dan sekali-kali memelukku erat, seakan tidak ingin aku lepas.


Lalu ciuman itu mendarat ke leher dan di cuping telingaku, hingga sampailah ciuman itu hendak melaju ke bawah leher.


Tiba-tiba Bram menghentikan aksinya dan terdiam sambil menundukkan pandangannya dariku. Ia tidak berani melanjutkan gejolaknya sendiri, karena mungkin bukan seperti ini yang ia inginkan dariku.


Bram memelukku dan menangis!


Yup! Bram menangis! Ia membiarkan air mata itu mengalir sambil melihatku yang sedang bingung.


"Kak, ceritalah. Aku siap dengan apapun yang Kakak sampaikan, walau itu menyakitkan. Kenapa harus menunggu Kakak selesai sidang? Toh sama saja, kita tetap akan berpisah bukan?" tanyaku, ikut merasakan apa yang Bram rasakan saat ini.


"Kamu mungkin bisa bicara seperti ini, karena tidak tau permasalahan yang sebenarnya Zanu. Sedangkan aku, harus benar-benar siap untuk menyampaikannya dan pergi darimu. Aku hanya tidak ingin mengganggu kebersamaan kita untuk beberapa hari ini," Bram masih saja menangis.


"Trus sekarang aku bisa apa Kak? Kakak fikir aku tidak sedih? Aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha kuat, walau sebenarnya aku tidak bisa,"


"Zanu,"


"Sudahlah Kak, biarlah aku menjadi aku, yang tidak harus tau semuanya tentang Kakak. Aku fikir mencintai seseorang itu, kita harus tau semuanya, tapi ternyata aku salah,"


"Bukan begitu Zanu, aku hanya ingin mengurangi rasa beban sedihku. Aku tidak ingin membebani kamu dengan apa yang ada dalam hidupku,"


Aku hanya bisa diam dan diam. Aku tau, Bram sangat mencintaiku, tapi ia juga ingin cinta itu masuk dalam logika. Mungkin itu caranya Bram.


Aku mendekati Bram, menggenggam kedua tangannya dan menjinjit kakiku. Aku mencium kening dan kedua mata Bram, agar suatu waktu ia bisa menggingatku kembali. Lalu aku memeluk Bram dengan erat.


"Sayang, jika memang perpisahan ini menyakitkan untuk kita berdua, setidaknya ingatlah aku dalam hatimu yang paling dalam. Aku mencintaimu," ujarku pelan di telinga Bram.


Tidak terasa, air mataku menetes, Bram menyeka air mataku.


"Hari sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Besok pagi kita jalan ke kebunku yang lain, bagaimana?" Bram berusaha mengalihkan kesedihanku.


"Baiklah Kak,"


"Maaf ya, tadi aku hampir lepas kontrol menyentuhmu,"


"Iya Kak, maafkan aku juga tidak langsung menolaknya,"


"Ya sudah, good night dan mimpi indah ya," Bram membelai rambut dan mencium keningku.


Aku tersenyum dan menggangguk. Bram melangkah ke arah laci kecil, ia menekan tombol di dalamnya. Pintu yang berbentuk lukisan terbuka dan aku masuk ke kamar Bram.


Bram melihatku hingga pintu itu tertutup kembali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2