Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 84 : Cerita Dilema


__ADS_3

Prita menghampiriku.


"Biar aku saja yang lihat keluar," ujar Prita.


Aku cuma diam saja. Prita langsung melangkahkan kaki keluar ruangan.


"Maaf Kakak, apa ada yang terluka?" tanyaku ke Kak Resa membuka obrolan.


"Tidak ada, hanya tergores saja, bekas cakaran pria itu," jawab Kak Resa pelan sambil tertunduk.


Terlihat jelas Kak Resa begitu takut akan Bram. Walau mereka berdua saudara sepupuan dan seumuran, tapi kak Resa sangat menghargai Bram.


"Makanya lain kali kalau kemana-mana itu beritau dulu. Kalau ada apa-apa sama kamu, aku yang bertanggung jawab ke Paman dan Bibi," ujar Bram masih dengan nada jengkelnya.


"Kak, mungkin Kak Resa tidak menyangka kejadiannya akan jadi seperti ini. Tidak bisa kita menyudutkan dari satu sisi saja," ujarku sambil diam-diam mencubit lengan Bram lagi.


Bram hanya bisa diam, apa karena cubitanku atau karena perkataanku benar menurutnya, ha..ha..ha..


********


Suasana hening sejenak.


Sreett....!


Pintu terbuka dan masuklah Prita dengan langkah yang tergesa-gesa ke arahku.


"Zanu! Cowok yang kecelakaan tadi meninggal! Keluarganya datang semua dan Kakak yang tadi menegurmu memintaku untuk membawamu ke sana!" ujar Prita dengan gelagat yang keheranan.


Aku terkejut dengan ucapannya Prita. Vincent telah pergi untuk selamanya....?!


"Innalillahi wainnalillahi roji'un..," ucapku, Bram dan Kak Resa hampir barengan.


Tiba-tiba Bram menarik tangan dan menggenggam jemariku.


"Zanu, pergilah ke sana. Lihatlah Vincent untuk terakhir kalinya," ucap Bram sambil menatapku.


"Iya Kak, aku tinggal dulu nggak apa-apa kan?" tanyaku.

__ADS_1


Bram mengangguk dan melepaskan genggamannya. Aku beranjak dari kursi dan melangkahkan kaki menuju pintu.


"Zanu, aku temani kamu ya," ujar Prita sambil mengikutiku dari belakang.


Aku hanya diam. Saat aku keluar ruangan, terdengar suara ribut dan tangisan di mana-mana.


Ada keluarga Vincent dan teman-teman semasa Sekolahnya dulu. Selebihnya aku tidak tau siapa, mungkin keluarga atau teman yang lainnya.


"Hai Zanu, apa kabar? Kamu ada di sini juga?" tanya Bambang heran.


Bambang adalah sahabatnya Vincent. Hadir juga Oki dan Ferdo yang ikut keheranan dengan kehadiranku.


"Alhamdulillah baik. Aku kebetulan ada di sini, mengunjungi seseorang yang berada di sebelah ruangan ini," jawabku sambil menunjuk ke arah ruangan Bram.


"Jadi kamu tau yang kecelakaan adalah Vincent?" tanya Bambang lagi.


"Iya, aku tau. Tadi sempat lihat keadaan Vincent dan bertemu Kakaknya juga," jawabku lagi.


Mereka semakin heran. Tapi itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba dari dalam ruang ICU, para perawat mendorong brankar. Terlihat jelas di atas brankar ada jenazah yang ditutupi kain putih dan dipastikan itu adalah Vincent.


Tak terasa air mataku menetes. Aku tidak tau harus mengatakan apalagi tentang perasaanku yang sebenarnya.


Mereka menoleh ke arahku. Adik Vincent menghampiriku dan menangis. Terlihat Aura termangu melihat adik Vincent memelukku. Seakan Aura ingin bertanya, kenapa aku jadi tau semua tentang keluarga Vincent?


Aku berjalan menghampiri ibu dan kakak Vincent. Mereka memelukku sambil menangis.


"Ibu, Zanu turut berduka cita..., yang tabah dan sabar ya Bu, semoga Vincent di terima di sisi Allah SWT," ujarku.


"Aamiin. Iya nak Zanu, terima kasih ya nak. Kasian Vincent, dia selalu bercerita tentang nak Zanu," jawab ibu Vincent yang berbisik di telingaku sambil melirik ke arah suaminya. Seakan takut, pembicaraan ini di dengar olehnya.


Ya, pemegang kendali dalam keluarga ini adalah bapaknya Vincent. Aku kaget mendengar perkataan ibunya, yang ternyata Vincent masih saja mengingatku walau dia sudah bertunangan.


"Bu, kapan rencananya almarhum dikebumikan?" tanyaku.


"InsyaAllah besok abis sholat Zuhur nak," jawab ibu Vincent.


"Zanu besok InsyaAllah melayat ke rumah ya Bu,"

__ADS_1


"Baik nak,"


Aku melangkahkan kaki menuju tempat Prita yang sedari tadi aku tinggalkan sendirian. Aku melambaikan tangan ke arah kakak dan adik Vincent.


Aura, keluarga besar dan teman-teman Vincent keluar dari ruang tunggu ICU mengiringi jenazah yang akan di bawa dengan ambulans. Sepertinya mereka semua sangat menyayangi Vincent, sehingga mau berbondong-bondong menuju ke rumah sakit ini.


Sekarang tinggallah aku dan Prita. Aku duduk di kursi yang sudah disediakan rumah sakit, tepat di samping Prita.


"Zanu, dia siapa? Kok sepertinya penting banget? Sampai Ketua tau dan mengizinkan kamu. Dan perempuan yang dekat kakak tadi siapa? Aku lihat sedari tadi dia menatapmu sinis, apa kamu menyadarinya?" tanya Prita.


"Sebelumnya aku minta maaf, tadi meninggalkan kamu sendirian. Yang meninggal itu adalah mantan pacar aku. Dulu, dia pernah membawaku kerumahnya dan dikenalkan dengan Ibu, Kakak dan Adiknya. Perempuan yang kamu lihat itu adalah tunangannya yang kemaren ini baru saja melangsungkan acara," jawabku.


"Trus, kenapa dia menatap kamu seperti itu? Dan cowok yang menyapa kamu tadi siapa lagi?" tanya Prita makin penasaran.


"Mungkin dia nggak tau kalau aku pernah pacaran dengan calonnya. Dan mungkin dia heran, kenapa aku bisa kenal dan di dekati keluarga mantanku itu. Sedangkan cowok-cowok tadi, teman gank mantanku. Mereka juga teman-temanku tapi beda kelas," jawabku lagi.


"Trus...," ujar Prita.


"Trus, Bram sudah tau tentang mantanku itu. Calon mantanku itu keponakannya istri Rektor kita. Panjang kali aku menjelaskannya ke kamu, semoga kamu paham," ujarku sambil tersenyum.


"Iya, aku paham sekarang. Cuma, kenapa kamu tidak bersama dia? Kenapa kalian bisa putus?" tanya Prita.


"Ceritanya panjang. Aku hanya bisa menjelaskan, kalau aku kasian dengannya dan aku merasa bersalah. Tapi, mungkin ini sudah jalan terbaik buat dia. Jika Allah sudah berkehendak, kita bisa apa. Semoga calonnya bisa kuat, karena perginya orang yang kita cintai itu sangatlah menyedihkan," ujarku dengan tatapan nanar ke arah lantai.


"Ya sudahlah Zanu, aku mengerti dan tidak akan bertanya-tanya lagi,"


"Tapi, sekarang aku juga sedang dalam keadaan dilema Prita. Aku takut kehilangan Bram. Entahlah, aku merasa dia akan pergi dan bisa jadi akan melupakanku," ujarku menghadap ke arah Prita.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Zanu? Aku lihat kalian berdua baik-baik saja dan malah semakin dekat. Percayalah, Ketua pasti hanya ingin bersamamu saja," Prita meyakinkanku.


"Ini feelingku, kalau kedepannya Bram bukanlah milikku lagi. Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanyaku dengan pernyataan kalimat terakhir Prita.


"Yah, karena Ketua mencintai kamu dengan tulus dan besar cintanya bisa di lihat dari cara dia menjagamu Zanu. Bahkan aku melihatnya sangatlah berlebihan. Jarang sekali aku menemukan lelaki seperti itu. Aku bahkan berharap Atif juga bisa seperti Ketua, tapi orangnya beda karakter. Lebih terkesan cuek walau sebenarnya peduli," Prita jadi ikutan curhat.


"Iya Prita, aku tau itu. Ketua sangat mencintaiku. Tapi saat ini keadaan memaksaku dengan Ketua untuk berpisah kedepannya. Walau sebenarnya Ketua sudah memintaku untuk menikah dengannya segera. Tapi, orang tuaku belum mengizinkan,"


"Hah?! Beneran? Wow! Apa yang kamu takutkan lagi Zanu? Toh nanti di saat yang tepat, Ketua pasti datang kepadamu. Sudahlah, sebaiknya sekarang kita masuk ke dalam. Pasti Ketua dan yang lainnya sedang menunggu kita," ajak Prita sambil berdiri hendak melangkahkan kaki menuju ruang ICU tempat Bram.

__ADS_1


Aku mengangguk dan ikut berdiri. Aku dan Prita berjalan menuju pintu.


...****************...


__ADS_2