
Kita sudah sampai hotel.
Terlihat banyak kendaraan yang hilir mudik dan orang-orang yang mulai berdatangan. Di tempatku, apapun acaranya pasti yang datang bisa satu kampung. Apalagi yang punya hajatan orang yang terkenal atau kaya. Jangan ditanya.
"Sudah siap sayang?" tanya Bram kepadaku.
"Siap dong," jawabku sambil tersenyum.
Bram keluar dari mobil duluan dan aku menyusul. Butuh waktu sepuluh menit untuk Bram keluar, mengingat bahunya yang masih dalam pemulihan.
Bram di bantu Atif saat keluar dari mobil. Setelahnya Bram mengangkat tangan kiri untuk menggandengku saat masuk ke dalam hotel.
Di gerbang hotel, banyak mata tertuju kepadaku dan Bram. Tidak perlu dijabarkan lagi, mengapa mereka menatap seperti itu. Karena ku pastikan mereka melihat sosok Bram yang memang berbeda.
Saat menoleh ke belakang, aku kaget! Ternyata Atif dan tiga body guard lainnya sudah berjalan di belakang mengikuti kita.
Alamak!! Bisa nggak sih, biasa-biasa saja. Kalau gini kan aku juga merasa risih. Ini hanya acara tunangan, bukan acara kerajaan.
Zanu! Kamu itu ngomong langsung sama Bram. Bukan ngedumel sendiri.
"Kak, bisa nggak jangan pake pengawalan segala? Aku kok ngerasa diikuti, kita berdua saja masuk ke dalam. Aku malu jadi perhatian orang-orang, apalagi ini daerah tempat tinggalku," ujarku berbisik ke telinga Bram.
Bram hanya tersenyum melihatku. Bram melepaskan tangan kirinya dari tanganku. Seketika Bram angkat tangan dan menggoyangkan jari telunjuk keatas.
Taraaa....! Mereka otomatis langsung bubar dengan posisi masing-masing. Seolah-olah sudah di atur sedemikian rupa. Ya Tuhan! Apa nggak ribet ngurus beginian?
"Bagaimana sayang? Kita langsung masuk ya," ujar Bram dan langsung menggandeng tanganku kembali.
Aku hanya diam dan mengikuti Bram. Saat masuk ke dalam loby hotel, ada beberapa yang menyapa Bram. Seakan-akan mereka sudah mengenal Bram lebih dulu dari pada aku.
"Yang barusan, Bapak Jimmy, pengusaha batu bara dari kota S. Dan yang sebelumnya Bos pemasok sayur mayur terbesar di provinsi ini," ujar Bram, seakan tau apa yang aku pikirkan.
Aku hanya mangut-mangut mendengar Bram bicara. Tak terasa langkah kaki kita memasuki ballroom hotel.
Terlihat desain yang indah tapi sederhana tanpa embel-embel bunga yang memenuhi ruangan.
Karena mungkin ini baru acara tunangan, pesta di gelar tidak terlalu berlebihan. Hanya tamunya saja yang bukan kaleng-kaleng.
Terdengar alunan musik religi sedari tadi, yang menambah suasana menjadi sakral.
Kita berdua di persilahkan masuk dan mengambil tempat. Tapi Bram belum mau duduk dulu. Dia membawaku langsung menuju tempat Pak Rektor beserta istrinya yang sedang mengobrol di dekat both foto.
"Hai Bram. Kamu ternyata bisa datang ya. Ooo, apa karena ada seseorang di samping ini?" ucap Pak Rektor sambil becanda.
__ADS_1
Aku dan Bram menyalami Pak Rektor dan istrinya.
"Iya dong Paman. Harus ada yang menemani aku, biar bisa hadir di sini," jawab Bram sambil melirikku.
"Siapa namanya nak?" tanya istri Rektor.
"Nama saya Zanu Bu," jawabku dengan senyuman.
"Nama yang sangat cantik, sesuai dengan orangnya. Nggak salah pilih emang Bram," puji ibu Rektor sambil melirik Bram.
"Ah Bibi," ujar Bram.
"Lha iya, sepertinya hanya Zanu yang bisa meluluhkan hati seorang Bram. Selama ini sibuk urus ini itu, sekarang tidak bisa lagi seperti itu. Kamu harus luangkan waktu, karena sudah punya pasangan," ujar ibu Rektor lagi.
Aduh! Kenapa si Ibu malah ngobrolin Bram. Apa iya, Bram belum pernah punya pacar sebelum aku? Sesibuk itukah dia? Jadi, waktunya selama ini untukku, dibela-belain harus ada?
"Udahlah Bibi, jangan diteruskan. Aku jadi malu lho..," ujar Bram tersipu-sipu.
Baru kali ini aku melihat Bram malu-malu. Dan itu hanya bisa kulihat saat Bram mengobrol dengan Bibinya.
"Ya udah Ma, kita semua duduk. Acaranya bentar lagi di mulai," ujar Pak Rektor ke istrinya.
"Oiya, Resa ke mana Bi? Kok aku nggak lihat batang hidungnya?" tanya Bram ke Bibinya.
Aku, Bram, Pak Rektor dan istrinya beranjak menuju kursi tamu yang sudah tersusun rapi. Tamu mulai berdatangan. Ada beberapa yang menyapa Bram lagi dan Pak Rektor.
Aku akui, ternyata keluarga Bram sangatlah dikenal banyak orang. Ini baru di lihat dari Pamannya, gimana dengan keluarga Bram yang di Amerika sana ya?
*********
Acara akan di mulai. Terlihat Kak Resa berjalan menuju ke arah kita.
"Hai Zanu, udah lama nyampenya?" sapa Kak Resa.
"Hai juga Kak, belum lama kok," jawabku sambil tersenyum.
"Gimana Resa, sudah kenyang?" tanya Bram becanda.
"Belum, ha..ha..ha.. Entar lanjut lagi deh,"
"Sstt..sttt.., Resa. Duduk sini, udahan bicaranya. Acara mau di mulai tuh," ujar Ibu Rektor alias Ibunya Kak Resa.
Kak Resa diam dan mengikuti perintah ibunya. Kak Resa nyempil duduk di sampingku.
__ADS_1
"Zanu, kamu cantik sekali lho..," puji Kak Resa dengan suara pelan.
"Terima kasih Kak. Kakak juga hari ini terlihat sangat cantik dan anggun," ujarku.
"Cantikkan kamulah Zanu kemana-mana. Cocok banget sama Bram," bisik Kak Resa.
"Ah Kakak bisa aja," jawabku malu-malu.
Jreng! Jreng! Jreng! Terdengar suara drum yang di pukul tiga kali. Itu menandakan kedua belah pihak keluarga dan pasangan yang bertunangan, akan memasuki ruangan.
Terlihat yang masuk duluan adalah pihak laki-laki. Vincent berjalan paling depan yang di apit oleh kedua orang tuanya. Dan di belakang, aku melihat kakak serta adiknya Vincent. Mereka sempat menoleh ke samping dan terkejut melihatku ada di sini.
Tanpa ku sadari ternyata Bram sudah menggenggam jemariku. Entah apa yang dipikirkan Bram saat ini. Mungkinkah Bram cemburu?
Vincent ikut menoleh ke samping dan mendapatiku sedang melihat ke arahnya. Ada sekitar dua menit Vincent melihatku terus, seakan mengatakan dia masih mencintaiku.
Tatapan Vincent yang nanar itu ternyata membuat Bram menyadarinya. Genggaman tangan Bram semakin kuat bersamaan dengan expresi Bram yang datar dalam diam.
Rombongan itu langsung duduk di seberang tempat duduk pihak perempuan. Karena kursi sepanjang barisanku kosong, otomatis kita langsung berhadapan dengan Vincent dan keluarganya.
Terlihat Bram semakin gelisah dan merasa tidak suka dengan situasi seperti ini.
Kulihat adik Vincent melambaikan tangan ke arahku. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman.
Kakak perempuan Vincent melihatku sekali-kali dengan raut wajah sedih dan rindu. Begitu juga dengan Ibu Vincent yang sempat tersenyum ke arahku. Ternyata mereka masih mengingatku. Kecuali Bapaknya Vincent, yang belum pernah bertemu denganku.
Ya Tuhan, situasi seperti apa ini? Aku bisa melihat langsung Vincent dari jarak dekat dan aku duduk di samping Bram. Dua laki-laki yang sama-sama mencintaiku saat ini.
Untungnya di pintu masuk, keluarga pihak perempuan mulai kelihatan. Jadi tatap menatap dengan keluarga Vincent tidak berlangsung lama.
Terlihat yang perempuan cantik dan anggun berbalut kebaya berwarna biru muda. Raut wajahnya yang syahdu, terlihat jelas kalau calon Vincent orang baik dan dari keluarga baik pula.
Beruntung Vincent punya istri seperti dia. Semoga Vincent tidak menyia-nyiakan calon istrinya ini dan bisa belajar mencintainya. Seperti aku belajar mencintai Bram.
Keluarga perempuan berjalan ke arah kita dan mulai satu persatu duduk. Sehingga barisan depan sedikit menutupi yang duduk bagian belakang. Aku tidak bisa melihat Vincent secara keseluruhan lagi.
"Zanu, kita kapan? Aku ingin juga melamarmu seperti ini," ucap Bram lirih dan serius.
OMG!! Akhirnya keluar juga kalimat tersebut. Bagaimana aku menjelaskannya ke Bram? Kalau Papa belum bisa menerima lamaran apapun saat ini.
Bantu aku untuk menjawabnya, hiks..
...****************...
__ADS_1