
Mobil berhenti tepat di depan rumah besar, ditopang empat pilar yang berdiri kokoh dan tinggi. Rumah dinas bernuansa warna putih dengan atap gonjong sebagai simbol ciri khas rumah adat provinsi ini.
Bram mengajakku turun. Awalnya aku menolak, karena merasa bukanlah orang penting yang bisa bicara dengan seorang Bapak Gubernur.
Bram memaksaku karena akulah orang yang memiliki informasi penting mengenai Prita. Akulah satu-satunya orang yang dekat dan lebih mengetahui tentang kehidupan pribadi Prita. Walau belum tau secara keseluruhan.
Akhirnya aku mengikuti Bram. Saat masuk melewati pintu besar, kita sudah di sambut empat ajudan sekaligus. Mereka langsung menyambut Bram dengan ramah.
Sepertinya mereka mengenali Bram, terlihat dari gestur cara bicara mereka. Bram juga memperkenalkan aku ke empat ajudan tersebut.
"Mari silahkan masuk Pak Bram. Bapak sudah menunggu di dalam," ujar salah satu dari mereka sambil mengarahkan kita berdua.
Dua ajudan membawa aku dan Bram ke dalam sebuh ruangan yang tidak terlalu besar. Kemungkinan itu ruang kerja Pak Gubernur.
Dua ajudan lagi menunggu di pintu masuk tadi. Selepasnya dua ajudan yang mengantarkan kita langsung keluar dari ruangan sambil menutup pintu.
"Selamat siang Pak," sapa Bram.
"Siang nak Bram, silahkan masuk dan duduk," tawar Pakgub ramah.
Aku dan Bram langsung duduk.
"Apa kabar nak Bram? Sudah beberapa minggu tidak mampir ke sini. Apa lagi sibuk nak?" tanya Pakgub.
"Iya Pak, sibuk menyusun skripsi dan mengurus yang lain," jawab Bram.
"Apa termasuk yang disampingmu? He..he..he.., siapa nama temanmu ini?" tanya Pakgub lagi.
"Saya Zanu Pak," potongku memperkenalkan diri.
"Pak, ini Zanu temannya Prita," Bram langsung to the point menjelaskan.
"Ohya? Jadi, kamu tau tentang Prita? Prita sekarang ada di mana?" tanya Pakgub kepadaku.
"Begini Pak, biar saya saja yang jelaskan. Karena ini urgent dan secepatnya harus ditangani," Bram mengambil alih jawabanku.
"Ada apa nak? Langsung saja, perasaan Bapak sepertinya tidak enak,"
"Pak, Prita kecelakaan kemaren. Prita sedang koma dan dokter butuh informasi mengenai keluarganya. Tidak ada yang tau siapa keluarga Prita kecuali Zanu ini. Makanya saya langsung ke sini Pak," ujar Bram.
__ADS_1
"Hah?!! Apa benar yang kamu katakan Bram?" tanya Pakgub kaget, seakan tidak percaya dengan info yang diberikan Bram.
"Benar Pak, secepatnya kita harus ke rumah sakit,"
"Kamu tau darimana Bram?" tanya Pakgub penasaran.
"Dari bodyguard saya Pak. Namanya Atif, kemarin mengantarkan Prita ke kota ini, abis besuk saya sakit di kota Prn," jawab Bram.
"Hah?! Kamu sakit apa? Kenapa tidak beritau saya?"
"Maaf Pak, saya tidak mau merepotkan," jawab Bram.
"Tidak ada yang repot nak Bram. Oiya, jadi begini. Bapak minta tolong nak Bram urus Prita langsung selama di rumah sakit. Orang tua Prita berada di Amerika dalam kondisi yang tidak perlu saya beritaukan. Dan saya juga tidak bisa ke rumah sakit untuk melihat Prita demi keselamatan semua keluarga. Bapak harap nak Bram paham. Nanti saya akan beritau ke orang tuanya," jabar Pakgub.
Ada tersimpan kesedihan di balik tegasnya Pakgub, karena tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi saat ini. Aku tau betul apa yang di maksud Pakgub. Semua demi keamanan keluarga besar mereka yang sedang terancam. Sewaktu-waktu keadaan bisa berubah jika rahasia terbongkar.
"Oh, jadi Bapak tidak bisa kesana ya? Baiklah Pak, saya akan urus dan kebetulan ini termasuk tugas saya sebagai ketua BEM di kampus. Saya memerlukan data-data mahasiswa yang mengalami kecelakaan atau sakit keras,"
"Iya nak Bram, terima kasih banyak. Saya percaya seratus persen Bram bisa melaksanakannya dengan baik. Nanti tolong hubungi saya mengenai perkembangan Prita, apapun itu,"
"Baik Pak. Saya dan Zanu permisi dulu. Kita langsung ke rumah sakit," ujar Bram.
"Iya Pak, InsyaAllah saya akan menemani Prita. Permisi ya Pak," jawabku.
"Iya silahkan. Terima kasih kalian sudah memberitau saya dan mau membantu,"
"Sama-sama Pak,"
Aku dan Bram keluar dari ruangan, diikuti Pakgub dan dua ajudannya.
Setelah pamit dan salaman, aku dan Bram masuk ke dalam mobil. Akhirnya mobil melaju keluar dari rumah Gubernur menuju rumah sakit.
*********
"Kak, bagaimana nanti mengurus semua izin di rumah sakit?" ujarku memecah keheningan dalam perjalan ke rumah sakit.
"Tenang sayang, semuanya aku akan urus. Oiya, kita belum makan siang. Apa kamu mau roti?" tawar Bram.
"Mau. Nanti abis urus Prita kita makan di luar," pintaku.
__ADS_1
"Lihat situasi di sana ya sayang, kalau kita tidak bisa meninggalkan Prita, makannya di rumah sakit saja minta bantuan Atif untuk membelikan makanan," jawab Bram.
"Oke. Rotinya dimana Kak?" tanyaku.
"Itu di jok belakang dalam plastik warna putih,"
Aku menoleh ke belakang, kulihat ada plastik hitam, putih dan tas Bram. Aku langsung mengambil plastik yang di maksud. Tidak pakai lama, aku langsung membuka bungkusan roti dan melahapnya. Terasa sekali perutku mulai keroncongan karena lapar.
"Suapin aku Zanu, aku juga lapar," pinta Bram.
"Ini, buka dan makan sendiri," aku menyodorkan satu bungkusan roti kehadapan Bram.
"Jangan begitulah sayang, aku lagi nyetir. Disuapin saja sama kamu, biar bisa konsentrasi bawa mobilnya,"
"Bilang saja mau dimanjain kan?" tanyaku sambil menyuapi satu sobekan roti kemulut Bram.
"Nah betul! Kalau bukan ke kamunya aku manja, aku mesti kesiapa? Kamu nggak mau kan aku manja ke perempuan lain?" tanya Bram.
"Yah.., kalau merasa cocok dan suka sama perempuannya, aku bisa apa? Nggak mungkin aku melarang Kakak, sedangkan Kakak udah nggak cinta lagi," jawabku.
"Kamu nggak ada cemburu gitu kalau aku sama perempuan lain?" tanya Bram.
Sepertinya arah pembicaraan ini sudah keluar jalur. Tapi, apakah ini maksud Bram dengan penjelasan dia nanti selepas wisuda?
Ada apa Kak? Perasaanku semakin takut setiap mendengar suara Bram yang membahas tentang hubungan dan perempuan.
Rasanya tidak mungkin dalam waktu yang cepat Bram mengkhianati aku. Pasti ada sesuatu!
"Udahlah Kak, kita jangan bahas ini lagi. Lebih baik secepatnya Kakak beritau aku, apa yang terjadi? Menunggu wisuda buatku itu waktunya terlalu lama. Apakah sudah ada perempuan lain selain aku?" tanyaku.
"Maafkan aku Zanu. Aku hanya bisa membahas ini selepas aku wisuda. Karena aku harus bicara dulu bersama kedua orang tuaku. Mereka akan ke sini sebelum aku wisuda. Sebelum datang, aku ingin menikmati waktu bersamamu," jawab Bram.
Lagi-lagi selalu itu jawaban Bram. Serumit itukah yang sedang dihadapi Bram? Biasanya Bram selalu cepat mengambil tindakan dan keputusan. Tapi kali ini Bram seakan lemah menghadapi orang tuanya.
Mungkin ada alasan lain.
Aku dan Bram diam, bingung mau bicara apa lagi. Hanya mulutku dan Bram yang bergerak memakan roti. Aku masih menyuapi roti ke mulut Bram hingga habis.
...****************...
__ADS_1