
Mentari sudah bersinar naik perlahan ke atas.
Setelah sholat subuh aku tidur kembali. Semalam, di antar Bram sudah menunjukkan pukul sepuluh. Karena hatiku sedang lelah, aku langsung tidur.
"Zanu, bangun nak. Sudah jam sembilan ini," Papa memanggilku dari bawah tangga.
"Iya Pa, bentar," aku bergegas mencuci muka, sikat gigi dan turun ke lantai bawah.
"Kenapa kesiangan bangunnya nak? Kamu masih ngantuk ya?" tanya Papaku.
"Iya Pa, sekalian mau menikmati liburan. Oiya, Mama sama Zuri kemana ya?"
"Mama ke pasar dari tadi, bentar lagi pulang. Ditemani adekmu. Sekarang ikuti Papa, kita ke garasi. Papa mau memanasi mobil baru kamu, nanti dilihat cara Papa menghidupkannya, ayo," ajak Papaku dengan semangat.
Aku mengikuti Papa dari belakang. Setelah membuka garasi mobil, aku dan Papa masuk ke dalam mobil. Papa menghidupkan mesin, menarik tuas ke R untuk memundurkan mobil keluar garasi. Setelah itu Papa menarik tuas lagi ke gigi 1, sambil menginjak kopling. Mobil diparkirkan Papa di dekat rumah. Semua yang Papa lakukan tadi, aku lihat dan terus mengingat setiap fungsinya.
"Nah, sekarang tuasnya tarik ke N atau netral, kita tunggu beberapa menit untuk memanasi mobil. Nanti, saat Zanu sudah mulai bisa bawa mobil sendiri, panasin mesinnya harus setiap hari," penjelasan Papa.
Aku hanya mengangguk-angguk saja setiap mendengar keterangan Papa. Walau sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali sebelum benar-benar pegang setir dan menjalankan mobilnya sendiri.
Setelah beberapa menit, Papa mematikan mesin dan keluar dari mobil.
"Ayo turun nak, kamu mandi dan bersiap-siap untuk privat. Belajarnya dimajukan menjadi jam sebelas siang,"
"Lho, bentar lagi dong Pa. Kenapa dimajuin sih Pa? Aku kan belum siap," aku turun dari mobil.
"Yah, mungkin pelatihnya ada urusan lain. Lagipula Zanu tidak ada kegiatan lain kan jam sebelas ini?" tanya Papa.
"Iya sih," jawabku sedikit cemberut.
Aku dan Papa masuk ke dalam rumah. Aku langsung menuju ke kamar di lantai dua, bersiap-siap untuk mandi dan menunggu pelatihnya datang.
Setelah bersiap-siap, aku sarapan dulu sambil nonton berita di televisi. Tidak lama kemudian Mama dan Zuri datang membawa belanjaan keperluan dapur.
"Lho? Baru sarapan nak? Bangunnya kesiangan ya?" tanya Mama sambil bolak balik membawa kresek ke dapur.
"Iya Ma, ngantuk berat dari semalam," jawabku sekenanya.
"Kamu nungguin siapa, kok udah rapi gitu?" tanya Mama lagi.
"Papa bilang, belajar nyetirnya dimajukan jadi jam sebelas,"
"Oh, ya nggak apa-apa. Mungkin waktu kosongnya jam segitu atau ada keperluan lain setelah ngajarin kamu nyetir. Positif thinking ajalah,"
"Iya Ma," aku menghabiskan makanku yang bersisa sedikit lagi.
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Assalammu'alaikum,"
Ada tamu menghampiri rumahku. Aku meletakkan piring bekas makan di atas meja. Lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat seorang pemuda sedang menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Waa'alaikum salam. Ada apa ya Bang?" tanyaku.
"Apa benar ini rumahnya Zanu ya?" tanyanya balik.
"Iya, saya sendiri Zanu," aku mulai bingung.
"Oh, syukurlah. Saya Bayu, yang ngajarin dek Zanu nyetir," terlihat dia merasa lega bisa bertemu denganku.
"Silahkan masuk dulu Bang, saya mau minum dulu, abis makan. Sekalian mau izin keluar sama Papa dan Mama," aku membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkannya masuk.
Dengan sedikit malu-malu, Bayu masuk dan duduk di kursi tamu. Aku bergegas masuk ke dapur untuk cuci tangan dan minum. Kebetulan ada Mama di dapur.
"Ma, yang ngajarin Zanu nyetir udah datang,"
"Mana? Udah kamu suruh masuk?" tanya Mama sambil menyusun belanjaan dalam kulkas.
"Sudah Ma, lagi duduk di ruang tamu. Zanu langsung pergi ya Ma,"
"Iya, hati-hati belajarnya, harus fokus. Jangan lupa bilang sama Papa,"
Aku pergi ke lantai atas, Papa ternyata sedang menyusun alat pancingnya.
"Ada apa nak?" tanya Papa.
"Pa, yang ngajarin Zanu nyetir udah datang, sekarang ada di ruang tamu. Zanu langsung pergi ya," jawabku.
"Bentar, Papa ikut ke bawah," Papa melepaskan alat pancingnya begitu saja.
Aku dan Papa turun ke bawah. Bayu memperkenalkan dirinya ke Papa dan sekalian ia menjelaskan rute mana saja yang akan di lalui nanti. Papa memberi pesan untuk berhati-hati dan pulang tepat waktu. Bayu dan aku mengangguk.
Papa mengantarkan aku sampai ke luar pagar dan tetap menunggu sampai mobil Bayu hilang dari pandangan.
*********
Bayu langsung mengajariku di lapangan bola. Ia mempersilahkan aku untuk memegang kemudi sambil memberi arahan, dari menghidupkan mesin sampai mengenali apa itu kopling, gigi dan gas.
Tahap awal masih membuatku sangat takut, tapi lama-lama mulai terbiasa, walau banyak kesalahan yang aku lakukan. Dengan sabar Bayu mengarahkan aku kembali. Begitu seterusnya sampai tidak terasa aku belajar selama tiga jam.
"Kita sudahi dulu belajar nyetirnya hari ini Zanu. Besok dilanjut lagi," ujar Bayu.
"Besok nggak bisa Bang, saya kuliah. Bisanya sabtu sama minggu depan," jawabku.
__ADS_1
"Oh. Baiklah, sabtu sama minggu depan kita belajar lagi. Sekarang saya antar kamu pulang,"
"Aku haus Bang, singgah dulu nanti ya beli minuman," ujarku.
"Oke,"
Bayu mengambil alih kemudi dan menjalankan mobilnya ke jalan besar. Sekitar sepuluh menit kemudian, Bayu menghentikan mobilnya ke depan warung-warung yang ada di pinggir pantai. Banyak yang menjual kelapa muda di sana.
Kebetulan hari ini hari minggu, banyak pengunjung pemuda pemudi yang nongkrong di pinggir pantai atau di warung.
Aku turun diikuti Bayu, kita mencari warung yang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Aku memesan es kelapa muda dua, di bungkus dan di bawa pulang.
Sambil menunggu, sekali-kali Bayu menanyakan tentangku. Tidak terlalu banyak yang kita obrolkan, hanya sekedar tentang kuliahku dan mengenai kegiatan Bayu sebagai guru privat khusus menyetir mobil.
Plak!
Plak!
Tiba-tiba datang seorang perempuan menampar Bayu. Sontak saja, aku, Bayu dan pengujung lainnya terkejut melihat aksi tersebut.
"Oh! Jadi gini ya! Kamu bilang hari ini off, taunya jalan sama perempuan lain!" ujar perempuan itu ketus sambil menunjukkan jarinya ke depan wajah Bayu.
Dan Bayu hanya diam, tertunduk malu atau takut.
"Heh! Kamu siapanya Bayu? Kamu nggak tau ya kalau dia ini tunangan aku, berani-beraninya kamu mendekati dia!" ujar perempuan itu kehadapanku.
Aku kaget dan merasa geram dengan tindakan perempuan tersebut.
"Hati-hati bicara ya Mbak, saya sama Bang Bayu lagi belajar nyetir," jawabku tidak mau kalah.
"Alah, aku tau jam ngajar dia dan tidak pernah jam segini!" ujarnya lagi tidak kalah sewot.
"Ya tanya saja sendiri sama orangnya! Ngapain anda menuduh saya seenaknya," aku makin geram.
"Kalau memang kamu lagi belajar nyetir, ngapain kamu ke sini? Bukannya langsung pulang! Dasar perempuan genit!" jawab perempuan itu makin nyolot.
"Perempuan tidak tau malu!" aku mulai tidak bisa mengontrol emosi.
Perempuan itu mendekati dan hendak menamparku.
"Stop!" teriak seseorang dari belakang kerumunan orang-orang. Ternyata baru aku sadari sudah banyak yang menonton pertengkaran yang sedang berlangsung.
Semua orang yang berada di sana melihat ke arah sumber suara dan mereka langsung membuka jalan untuk orang yang bersuara tadi.
Begitu melihat sosok itu, aku langsung lega.
...****************...
__ADS_1