Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 71 : ICU


__ADS_3

Yup! Lora!


Senior yang pernah dimarahi Bram waktu ospekku, temannya Sari.


"Iya, sekarang saya ingat. Dia adalah senior yang bergabung sebagai anggota BEM," ujarku.


"Gilang sakit hati mendengar cerita Lora dan ingin membalasnya. Saat demo berlangsung, Gilanglah yang menembak Bos dari jarak dekat saat itu. Gilang ingin menjatuhkan Bos, agar nama baik Bos sebagai ketua BEM bisa sirna. Tapi untungnya dengan sigap, kita membawa Bos secepatnya ke rumah sakit. Dan demo tersebut membuahkan hasil. Karena Paman Bos langsung bergerak. Jadi para pelaku dosen sudah dijadikan tersangka dan yang membantu mereka semua sudah di pecat," Atif berhenti sejenak.


"Tapi tidak berhenti sampai di situ. Gilang tidak terima Non dekat dengan Bos. Karena sepertinya Gilang menyukai Non. Dia terobsesi untuk menjatuhkan Bos lagi. Tadi Gilang ingin menyerang saat pesta Vincent berlangsung. Tapi dengan sigap bisa kita amankan. Gilang meminta berduel dengan Bos dan Bos menyetujui, walau kita sudah melarang. Karena kesehatan Bos belum pulih seratus persen. Sebenarnya bukan itu penyebab Bos mau berduel, tapi karena Gilang mengatakan akan selalu mendekati dan terobsesi dengan Non. Bos tidak terima jika ada yang menyinggung tentang Non, apalagi didekati. Begitulah cerita sebenarnya. Bos selalu memikirkan Non," ujar Atif dengan lancar.


Deg! Bagaimana mungkin Gilang secepat itu bisa menyukai aku? Apakah dia jatuh cinta saat pertama kali bertemu denganku? Ini menurutku bukan dikatakan suka, tapi terobsesi untuk memiliki apa yang di miliki orang lain. Ini semacam "sakit" kejiwaan yang bisa dialami siapa saja.


Pantaslah, akhir-akhir ini Bram terlalu posesif karena kecemburuannya, takut aku merespon Gilang. Atau lebih tepatnya mungkin takut akan tindakan Gilang dari obsesinya tersebut.


Sepertinya ceritaku bersama Bram akan semakin rumit. Kejadian hari ini bisa dikatakan selesai, tapi belum tentu kedepannya. Apa sebaiknya aku mundur dari kehidupan Bram? Tapi, hatiku tidak tega melihat harapan Bram kepadaku.


Kecuali Bram sendiri yang ingin menjauhiku.


"Oke Atif, terima kasih keterangannya. Sekarang saya jadi sedikit lega dan tau apa yang sebenarnya sudah terjadi," ujarku.


"Iya Non. Sebaiknya Non sekarang lebih berhati-hati. Saya minta Non, jangan tinggalkan Bos. Karena jika itu terjadi, semua yang sudah di handle Bos akan hancur berantakan,"


Responku hanya diam setelah mendengar perkataan Atif barusan. Karena aku belum bisa memastikan apapun.


"Oiya, saya lupa. Gilang punya adik perempuan dan sekarang dia kost bersama kita. Apakah aman menurutmu?" tanyaku.


Atif kaget dengan ucapanku barusan. Aku juga baru menyadarinya. Aku ingat Prita! Ya, Prita sekarang ada di kost!


"Aduh Non, bagaimana ini? Bisa jadi Gilang sama adiknya bersekongkol dan sengaja menempatkan adiknya di kost. Prita sekarang ada di kostnya. Sebaiknya saya hubungi Prita supaya berhati-hati," ujar Atif.


Atif terlihat cemas, aku juga ikut kepikiran Prita.


"Saya hubungi Prita dulu ya Non, permisi," izin Atif.


Aku mengangguk. Aku melihat jam tangan, waktu operasi Bram sudah berlangsung satu setengah jam. Tinggal setengah jam lagi.


Sebaiknya aku masuk ke dalam. Semoga operasi Bram lancar dan sudah siuman.


*********


Aku duduk di sebelah Bibi Bram. Terlihat jelas Paman dan Bibi cemas, gelisah menunggu operasi Bram.

__ADS_1


Tidak banyak yang kita bicarakan, karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tiba-tiba muncul Kak Resa dari pintu masuk. Dia tergopoh-gopoh menghampiri kita.


"Ma, bagaimana Bram? Mama sama Papa lagi ngapain di sini? Kok tidak ada yang memberitauku? Semuanya pergi ke sini," banyak pertanyaan yang dilontarkan Kak Resa.


"Bram sedang di operasi, bentar lagi juga selesai," jawab Mamanya dengan sedih.


"Hah! Beneran nih? Bukannya tadi baik-baik saja pas acara?" tanya Kak Resa lagi.


"Iya beneran nak. Sudahlah, sekarang kita tunggu saja hasil operasinya," jawab Mamanya lagi.


Kak Resa termangu, tapi terlihat wajahnya menyimpan rasa penasaran. Kak Resa menoleh ke arahku.


"Zanu, kita keluar sebentar yuk," ajak Kak Resa.


"Mau ngapain Resa? Bram sebentar lagi selesai operasi," larang Mamanya tegas.


Kak Resa terdiam. Aku tidak tega membiarkannya dihinggapi rasa penasaran. Aku menghampiri Kak Resa dan menariknya beberapa langkah tidak jauh dari Ibu Rektor.


"Kakak mau menanyakan apa?" tanyaku sedikit berbisik.


"Bram mengalami luka dan lebam di seluruh tubuhnya Kak. Tulang rusuknya juga patah dan mengenai organ dalam, sehingga harus segera di operasi," jawabku.


"Hah! Separah itu? Ya Tuhan..., Padahal baru saja kemaren operasi pengambilan peluru," ujar Kak Resa ikut merasakan kesedihan.


"Ya begitulah Kak..,"


*********


Plek!


Terlihat lampu di atas pintu operasi mati. Menandakan bahwa operasi selesai dilaksanakan. Aku, Kak Resa, Ibu dan Bapak Rektor berjalan ke arah pintu. Berharap dokter segera mengabarkan sesuatu.


Klik!


Suara pintu terbuka. Ternyata itu hanyalah seorang perawat yang keluar.


"Bagaimana Sus keponakan saya?" tanya Ibu Rektor tak sabar.


"Operasinya sudah selesai Bu. Biar nanti Dokter saja yang menjelaskan, saya permisi dulu," ujar Suster dan langsung menuju koridor lain.

__ADS_1


"Tenang Ma, sabar. Kita tunggu Dokternya dulu," ujar Pak Rektor.


Tidak berapa lama, dokter akhirnya keluar dari pintu operasi. Seakan tau apa yang kita inginkan, dokter mengarahkan kita keruangannya tadi.


"Begini Pak, Ibu, Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Luka bekas jahitan juga sudah ditangani. Luka-luka yang lain juga sudah. Tapi, sementara waktu kita menempatkan Pak Bram di ruang ICU. Karena peralatan di sana lengkap, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Selanjutnya kita hanya menunggu Pak Bram siuman. Tadi Pak Bram sempat menggigau memanggil nama Zanu. Setelah itu diam saja. Siapa Zanu Pak?" tanya dokter.


Deg! Bram sempat memanggilku? Namaku sampai kebawa ke alam bawah sadar Bram..


"Ini Dok, nak Zanu. Dia calon istrinya Bram," ujar Pak Rektor sambil menunjukku.


Hah! Kok aku di bilang Pak Rektor calon istrinya Bram? Kan belum ada lamaran, tunangan. Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan, jika Bram dan keluarganya tau kalau Papa tidak mau adanya lamaran apapun di saat aku masih kuliah. Help me...


"Oh, mbk ini. Begini mbk, untuk sementara waktu mbk harus berada di sini sampai Pak Bram siuman. Karena kehadiran mbk sangat penting untuk psikolognya. Pak Bram butuh semangat untuk bertahan setelah operasi. Saya harap mbk berkenan dan mau mengerti keadaan," ujar dokter.


Aduh..., bagaimana ini ya. Aku belum pulang kerumah, pasti Mama nyariin. Apalagi Papa, bisa marah-marah kalau aku keluar rumah terlalu lama. Mana aku belum makan siang lagi. Lapar...


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku bisa melewati ini, semoga Papa mau memberiku izin.


"Nak, Bapak minta tolong, temani Bram. Nanti semua keperluan nak Zanu, biar Bapak yang urus. Termasuk izin ke kedua orang tua nak Zanu. Biar nanti selama di rumah sakit ditemani Resa," ujar Pak Rektor sedikit memelas.


Alhamdulillah.. Akhirnya ada jalan keluarnya. Aku yakin Papa akan mengizinkanku untuk menginap di rumah sakit. Jika Pak Rektor sudah bertindak, semua bisa di atasi.


"Baik Pak, saya akan menemani Ketua selama di sini," jawabku.


"Terima kasih nak," ujar Pak Rektor.


Semua merasa lega dengan kesediaanku.


"Baik, itu saja yang bisa saya sampaikan untuk saat ini. Semoga Pak Bram lekas sembuh. Untuk perawatan selanjutnya, saya sudah sediakan para suster dan perawat yang selalu standby. Ada pertanyaan Pak, Ibu?" tanya dokter.


"Tidak ada Dok. Terima kasih banyak sudah menangani Bram dengan sangat baik," jawab Pak Rektor.


"Sama-sama Pak. Oiya, lain waktu saya mengundang Bapak sama Ibu kerumah saya, jika bersedia,"


"InsyaAllah kita bisa hadir. Nanti kabari saja kapan undangannya ya nak Danang,"


"Baik Pak. Yuk mari silahkan kita melihat kondisi Pak Bram," ujar dokter mengajak kita untuk keluar ruangan.


Kita semua mengikuti dokter. Terlihat hospital bed Bram di dorong oleh empat perawat menuju ruang ICU.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2