Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 27 : Siapakah Bram?


__ADS_3

Setelah beberapa menit berjalan.


Banyak mata melihat kedatanganku dan Bram beserta rombongan yang mencariku. Mungkin banyak yang bertanya, kenapa aku sampai hilang? Kenapa aku harus dibopong? Dan siapakah yang mengambil pakaianku?.


Semoga saja tidak ada yang bilang, "Senangnya Zanu di bopong Ketua yang cakep" ha..ha..ha...


Semuanya memberi jalan, aku di bawa Bram ketendanya yang tidak begitu besar. Terlihat senior menghampiri Bram.


"Tria, tolong kamu panggilkan medis dan langsung periksa lukanya. Setelah selesai ganti pakaian," ujar Bram tegas.


"Baik Ketua,"


Senior bernama Tria langsung bergegas mencari medis yang di maksud. Bram langsung masuk tenda dan membaringkanku pelan-pelan. Dengan sigap dia mengambil selimut dan menyelimutiku.


Apa karena takut aku kedinginan atau untuk menutupi tubuhku. Di mana kain sarung yang aku gunakan terlihat pendek dan sobek. Robekannya sudah digunakan untuk membalut luka dikakiku.


"Zanu, tunggu di sini, aku panggilkan Resa dulu untuk menyuruh Prita ke sini dan sekalian membawa teh panas untukmu. Ini roti, kamu langsung makan biar kuat, oke," ujar Bram penuh perhatian.


Aku mengambil roti dari tangan Bram. Sebelum Bram keluar tenda, dia mengusap kepalaku dan tersenyum.


"Kamu akan baik-baik saja Zanu, selama aku ada di sini," ucap Bram lirih.


Aku hanya bisa mengangguk. Karena malu atau karena debaran jantungku berdetak kencang. Aku tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar ini kecuali dari orang tuaku sendiri.


Bram keluar tenda. Aku langsung makan roti yang diberikan Bram. Ternyata roti ini sama seperti roti sebelumnya. Aku penasaran, dari mana Bram mendapatkan roti ini ya? Enak benar dan terasa masih baru dibuatkan. Aroma rotinya juga masih kuat.


Terdengar ada suara langkah kaki yang datang. Aku yakin itu pasti Prita.


"Zanu! Aduh Zanu, kamu tadi kemana sih?" gerutu Prita langsung masuk tenda.


Nah, betul kan dugaanku.


"Hai Prita. Duduk sini dulu, jangan ngomel-ngomel. Maaf ya jadi bikin kamu khawatir," jawabku tenang.


"Bagaimana aku tidak khawatir Zanu. Kamu tadi bersamaku, bisa-bisanya hilang. Kamu tau tidak, semua yang ada di sungai di introgasi sama Ketua. Termasuk aku! Tau sendiri kan Ketua itu bagaimana garangnya?" ujar Prita sedikit ngegas.


"Iya Prita. Maaf, tadi aku mencari bajuku yang hilang. Karena sibuk mencari ke sana kemari, ternyata aku sudah ada di hutan. Kakiku tiba-tiba ketusuk kayu, aku tidak bisa jalan. Mana gelap lagi. Jadinya aku pasrah, untung saja Bram menemukan aku terlebih dahulu. Lihat kainku robek dan kedinginan," jawabku panjang lebar.


"Yang penting sekarang kamu sudah ditemukan Zanu. Ketua tadi sangat marah ke senior karena tidak memperhatikan tugasnya. Dia sangat-sangat khawatir dengan kehilanganmu. Dia sibuk mengerahkan semua senior cowok untuk mencarimu. Luar biasa aku melihat Ketua, sesayang itu sama kamu Zanu," ujar Prita melunak.


"Iya Prita, aku merasakan perhatian itu kok. Dia memang baik walau di sisi lain orang melihatnya berbeda,"


"Sudah, sekarang kamu ganti baju. Aku sudah bawakan ranselmu Zanu. Orang medis sudah ada di luar menunggumu selesai. Kalau sudah siap, beritau aku ya. Aku menunggu di luar tenda ini,"


"Baik Prita, terima kasih ya,"


"Sama-sama,"


Aku mengambil ransel yang diberikan Prita. Lalu aku bergegas menggambil baju kaos dan celana panjang. Kubuka jaket pemberian Bram. Kuperhatikan di bawah jaket Bram ada bordiran nama Ibram AS.Ox.


Aku buka pelan-pelan kain sarung, masih terasa sakit dan nyeri dikakiku. Tapi aku tahan.


Setelah siap, aku memanggil Prita. Tidak berapa lama, masuklah Prita, Bram dan Medis.


Orang medis langsung memeriksa kakiku. Pelan-pelan dia menarik kain bekas balutan tadi. Darah di kaki mulai mengering, orang medis membersihkan lukaku dengan alkohol. Mengoleskan obat dan membalut lukaku dengan kain kasa.

__ADS_1


Sekali-kali Bram memperhatikanku. Terlihat diwajahnya raut lelah. Lelah mengurus semuanya.


Maafkan aku Bram, selalu merepotkanmu. Tapi kenapa, kamu yang selalu hadir menolongku? Apakah kamu memang ditakdirkan untuk menjagaku?


Bram dan orang medis keluar dari tenda. Mereka seperti membicarakan sesuatu perihal kondisiku saat ini.


"Bagaimana Zanu, udah enakan?" tanya Prita.


"Alhamdulillah Prita, mulai sedikit fit. Dan lukaku sudah di obati, jadi tidak perlu dicemaskan," jawabku.


"Syukurlah.., maaf Zanu, aku tidak bisa lama-lama di sini, aku mau makan malam dulu terus tidur. Tidak apa-apa kan Zanu? Kalau kamu butuh aku, tinggal panggil saja melalui Ketua. Tadi Ketua sudah berpesan padaku," ujar Prita.


"Prita, apa karena Ketua yang suruh, kamu mau?" tanyaku.


"Ya tidaklah Zanu. Aku tetap peduli sama kamu. Kita kan teman dan satu rumah kost. Jangan kamu berpikir yang bukan-bukan, oke," jawab Prita tegas.


Aku mengangguk. Prita lalu keluar tenda. Sekarang tinggal aku sendirian. Sebenarnya masih ada yang mengganjal dikepalaku.


Nanti yang menemani aku di sini siapa ya? Apakah Bram?


Kalau Bram tidak di sini, dia tidur di mana? Dan aku tidurnya sendirian gitu? Aduh...! Ini bagaimana ceritanya.


********


"Zanu, ini aku bawakan teh panas," ujar Bram tiba-tiba masuk tenda.


Aku kaget dong. Bisa-bisanya dia masuk tanpa suara.


"Kakak ini bikin kagetlah. Kalau mau masuk itu, permisi dulu kek, ada bunyi-bunyian dulu kek. Ini main nyelonong saja," gerutuku.


Aku mengambil cangkir yang diberikan Bram. Dan langsung meminumnya. Bram membuka sebagian penutup tenda dan meletakkannya ke atas, supaya penutup tenda terlihat terbuka. Lalu dia duduk di sana, tidak terlalu dekat denganku.


"Kenapa di buka penutupnya Kak? Oiya, Kakak nanti tidur di mana? Apa di sini? Kan tidak boleh..," tanyaku dengan nada khawatir.


"Aku buka tenda ini, supaya orang luar tidak berpikir macam-macam tentang kita. Kamu tidak keberatan kan aku tidur di sini dekat denganmu?" tanya Bram sambil melirikku.


Mulai deh dia menggodaku.


"Apa?!! Mau tidur di sini? Nggak! Nggak! Ogah!! Aku pindahlah dari sini. Cepat bawa aku ke tenda sana!" ujarku sedikit teriak. Aku panikan dan takut.


"Zanu.., tenang. Aku tidurnya di luar dekat pintu masuk tenda ini. Aku bisa pakai matras sleeping bag. Jadi kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil dari dalam," jawab Bram sambil tertawa kecil melihat tingkahku barusan.


"Terus, apa tidak digigit nyamuk di luar sana? Kakak tidak takut?" tanyaku lagi.


Tiba-tiba dia bergeser ke arahku. Aku mulai dag dig dug dengan reaksinya.


Aduh!! Dia mau ngapain sih dekat-dekat begini?


Tangan Bram menyentuh kepalaku dan langsung ke pipi.


Deg! Tuhan..., dia mau ngapain lagi ini?


"Zanu..., apapun akan aku lakukan untukmu. Jangankan nyamuk yang menggigit, kamu yang gigitpun aku rela..,"


Bram menyeringai, lagi-lagi menggodaku.

__ADS_1


"Apaan sih! Mulai lagi. Sudah ah, jangan dekat-dekat aku!!"


Aku mendorong-dorong Bram agar menjauh dariku.


"Dengar Zanu! Kamu harus jadi milikku. Sekarang hingga sampai saatnya tiba nanti, aku akan menjagamu sebaik mungkin. Jadi, aku harap kamu bisa menjaga diri sebaik-baiknya," ujar Bram tegas sambil menatap mataku.


Aku diam dan seperti terhipnotis dengan ucapan dan tatapannya. Aku dan Bram terdiam sekian detik. Tatapannya itu seperti ada harapan besar terhadapku.


"Sudah, sekarang kamu tidur dan istirahat. Besok, aku banyak kegiatan yang harus di urus. Tapi sekali-kali akan mampir ke sini melihat perkembangan kakimu, goodnight," ujar Bram dengan reaksinya kelabakan atau salah tingkah setelah menatapku barusan.


"Goodnight too," jawabku sambil mengangguk.


Bram bergegas keluar dan menutup kembali penutup tendanya. Suasana hening dan aku mulai menutup mataku. Agak sulit kali ini aku tidur karena nyeri di kakiku masih terasa walau tidak sesakit tadi.


********


"Bos! Kita akan bergerak untuk mencari siapa pelakunya,"


Samar-samar aku mendengar suara yang agak keras dari luar tenda.


Siapakah Bos yang di maksud ya? Aku penasaran.


Aku menggerakkan tubuhku sedikit demi sedikit ke arah pintu tenda. Beraninya aku, mengintip sedikit melalui celah pembatas pintu tenda dan ingin melihat apa yang terjadi di luar.


Aku melihat Bram duduk di bangku kecil ke arah luar pagar, jadi kemungkinan dia tidak bisa melihatku yang sedang mengintip dibelakangnya.


Terlihat ada tiga orang berbadan besar menghadap Bram.


Siapa ya orang-orang itu? Mereka sepertinya bukan senior atau mahasiswa. Bukan juga seperti pemuda di sini. Pakaian mereka mirip semua berwarna hitam. Dan ada pin kecil berwarna emas di dada mereka.


"Ssttt..! Kamu jangan keras-keras bicaranya. Sekarang kalian bergerak dan cari tau di mulai dari sungai itu. Kalian pantau dari jauh, jika ada obrolan atau tingkah yang mencurigakan dari semua yang ada di sini, segera usut," ujar Bram dengan nada yang sangat tegas.


"Siap Bos! Nanti dikerahkan anggota lain untuk memata-matai di perkemahan ini. Dengan berpura-pura menjadi mahasiswa atau panitia,"


"Cerdas kamu! Aku tunggu hasil penyelidikan kalian, harus ditemukan siapa pelakunya. Aku tidak ingin orang tersebut mencelakakan Zanuku kedepannya, paham!"


"Paham Bos!" jawab mereka serempak.


"Baik, sekarang kalian pergi dari sini. Jangan ada kata gagal untukku!" perintah Bram.


Mereka pergi dengan berlari-lari kecil. Aku langsung menutup celah Tenda. Dan bergegas bergerak menuju tempat tidurku tadi.


Aku diam dan memejamkan mata. Tapi otakku yang berfikir.


Kenapa barusan aku seperti melihat film mafia yah...?


Siapakah Bram? Orang tadi siapanya Bram ya? Yang mereka selidiki itu siapa?


Bram mengatakan "Zanuku". Aku seperti sudah benar-benar menjadi miliknyakah?


Entahlah.. Terlalu banyak drama hari ini, otakku tidak sampai ke sana, langsung ngelag.


Aku lelah dan langsung tertidur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2