
Sabtu, hari yang kutunggu-tunggu.
Bukan hari yang senang menurutku, tapi hari deg-degan. Hari yang membuat hidupku saat ini menjadi teka-teki. Karena ke dua orang yang sedang singgah dalam hidupku, akan datang kerumah, di hari yang sama.
Walau aku sudah menyiapkan jawaban, tapi rasanya kurang sreg kalau kita bertiga ngumpul. Aku juga tidak akan konsen melihat Bram, ceilee....
Nanti juga akan bingung, aku mau dengar cerita siapa dulu? Trus antara Bram dengan Vincent pasti ada rasa canggung yang bisa jadi bubar dan keduanya cepat pulang, hadeh...!
Ribet amat Zanu! Resiko orang cantik, weekk...!
Pagi ini aku mau ke pasar. Iseng mau cari accesories. Sudah kebiasaan dari kecil selalu singgah ke tempat langgananku. Walau tidak butuh, asal accesoriesnya unik dan bagus, aku pasti beli. Endingnya semua accesoriesku numpuk, tapi walau begitu tetap ada rasa kepuasan tersendiri bisa memiliki.
"Ma, Zanu beli accesories dulu ya," ujarku.
"Perlu di antar nggak?" tanya Mama.
"Nggak usah Ma, Zanu naik bendi saja," jawabku.
Bendi sama seperti Delman. Yang menggunakan tenaga kuda untuk menjalankan keretanya.
"Oke, hati-hati ya. Jangan lama, Mama sama Papa siangnya mau kondangan,"
"Baik Ma,"
Aku bergegas keluar rumah. Zuri adikku sedang Sekolah. Siangnya di jemput Mama sambil pergi kondangan. Aku berjalan ke gang depan untuk menunggu bendi lewat.
Tak pakai lama, bendi berhenti di depanku. Aku langsung naik dan cusss berangkat.
Hanya butuh waktu lima belas menit, aku sampai juga di pasar. Pagi itu terlihat pedagang sibuk menjajakan dagangannya. Terutama yang paling rame itu tempat jual ikan.
Lokasi pasarnya dekat pantai, jadi jangan heran, tempat jual ikan di sini lebih dominan dan bahkan ada tempat khusus ikan yang sediakan.
Tapi tujuanku kali ini bukan membeli ikan atau bahan masakan. Aku langsung naik tangga, ke toko accesories langgananku.
Terlihat Mang Dedi sedang menyusun accesoriesnya yang baru datang. Mang Dedi melihatku dan tersenyum.
"Eh Zanu, sudah lama mamang tidak lihat? Banyak barang baru yang datang, silahkan dilihat-lihat dulu," ujar Mang Dedi sumringah.
"Iya Mang, sibuk urus kuliah, jadi nggak sempat mampir ke sini. Ih lucu-lucu ya accesoriesnya," jawabku sambil memegang accesories yang bergelantungan.
"Iya Zanu, di pilih saja,"
Aku mengangguk. Mang Dedi tetap mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan aku sibuk bolak-balik memilih. Setelah sekian menit, akhirnya aku sudah selesai memilih dan tinggal hitung jumlah plus harganya ke Mang Dedi.
Setelah semuanya di bayar, aku langsung balik kanan turun ke bawah menuju pedagang pensi atau remis. Ini termasuk jajanan kesukaanku.
__ADS_1
Setiap aku ke pasar, aku tidak pernah lupakan untuk membeli pensi atau remis.
********
Aku berjalan ke tempat pedagang buah-buahan. Biasanya di dekat situ ada yang jual pensi. Dan memang iya, ternyata mbok yang jualan pensi masih ada di sana.
Kali ini aku beli enam bungkus kecil. Cukuplah segitu untuk jadi cemilan hari ini. Setelah selesai bayar, aku berjalan ke arah tempat mangkal bendi. Biasanya kalau naik bendi, aku suka milih. Cari yang kudanya besar karena suka nggak tega kalau kuda kecil narik kereta isinya banyak orang.
Akhirnya ketemu bendi yang aku mau. Langsung saja aku naik tapi harus menunggu penumpang dulu.
Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat mobilnya Bram!
Ternyata Bram sudah ada di Prn? Secepat itukah? Atau dia ada urusan di sini ya?
Aku kok terasa deg-degan. Rasa mimpi kalau bisa bertemu Bram lagi. Apalagi ketemunya di rumahku nanti malam.
Eh tapi, bagaimana dengan Vincent? Dia datang malam jugakah?
Ya Tuhan, ini bagaimana ceritanya? Dahlah, pusing aku.
Tak pakai waktu lama, akhirnya penumpang bendi sudah terisi penuh, saatnya cus pulang.
*********
Setelah Mama dan Papa pergi, aku tinggal sendirian di rumah. Rasanya kok sepi dan membosankan.
Tiba-tiba di teras depan ada yang ketok pintu. Sepertinya ada tamu. Aku mengintip di jendela dan ternyata itu Vincent! Syukurlah Vincent bertamu tidak di waktu malam.
Waduh! Papa sama Mama tidak ada di rumah. Ngobrolnya di luar ajalah, nanti tetangga berfikir yang bukan-bukan, berduaan di dalam sama cowok.
Aku bukakan pintu dan terlihat Vincent senyum dengan tatapan penuh kerinduan, ahaiiii....!
"Hallo Zanu, apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa," ujar Vincent sumringah.
"Alhamdulillah baik. Oiya, kita ngobrol di teras saja ya, biar santai," alasanku.
Vincent mengangguk dan kita berdua duduk di kursi teras depan. Sekilas teringat Abang yang sering duduk di kursi tersebut sambil bercerita bersamaku, hiks..
"Bagimana kuliahmu Zanu?" tanya Vincent.
"Alhamdulillah lancar. Ada kabar apa nih?" jawabku langsung to the point.
"Kabarnya aku senang bisa lihat kamu lagi Zanu. Seperti yang pernah aku bilang waktu terakhir kita bertemu di restoran, kalau aku akan menjelaskan ceritaku selama ini. Termasuk cewek yang pernah kamu lihat bersamaku," jawab Vincent mulai serius.
Aku diam saja dan menunggu Vincent melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Aku sudah putus dengan pacarku yang lama Zanu. Dia banyak tuntutan begini begitu, sedangkan waktuku tidak bebas seperti dulu. Dan cewek yang bersamaku itu adalah orang yang dijodohkan Papa. Aku tidak bisa menolak Zanu. Tapi...,"
Vincent berhenti sejenak, terlihat raut wajahnya yang sedih.
"Tapi aku hanya ingin bersamamu Zanu. Aku berusaha menolak perjodohan ini, Papa tetap bersekukuh untuk mempercepatnya. Aku masih muda dan belum kepikiran untuk menikah Zanu," terlihat Vincent semakin terpuruk dengan ucapannya barusan.
Aku kasihan lihat nasib Vincent. Kenapa orang tuanya terlalu mengatur kehidupannya di saat Vincent mulai dewasa? Lagi pula terlalu cepat Vincent memutuskan untuk menikah.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena itu keputusan orang tuanya Vincent. Sedangkan aku bukanlah siapa-siapanya Vincent.
"Yah, aku tidak bisa berbuat apa-apa Vincent. Mungkin itu sudah difikirkan matang-matang sama orang tua kamu, demi kebaikan kamu juga ke depannya, mungkin," jawabku.
"Entahlah Zanu. Andai saja kita bisa berjodoh ya.. Aku jadi terpaksa menikahi cewek itu,"
"Vincent, jika dia sudah jadi istrimu, kamu harus sayang sama dia. Walau kamu merasa terpaksa itu bukan bearti kamu tidak menerima sepenuhnya. Cinta atau sayang itu bisa datang sendiri bahkan bisa juga pergi. Kalau kamu sayang sama aku, tidak menutup kemungkinan rasa sayang itu bisa hilang kedepannya. Jadi, menikahlah karena Allah, bukan karena dijodohkan orang tua. Percaya deh, kamu akan bahagia," ujarku panjang kali lebar dan sok bijak.
"Iya Zanu. Semoga aku bisa menerima dia dalam kehidupan aku. Kamu kecewa nggak Zanu?" tanya Vincent.
"Ngapain kecewa kalau jalannya sudah begini. Kan aku sudah pernah bilang sebelumnya, kalau kita berjodoh pasti ketemu. Nah, sekarang jalan kamu di jodohkan, ya bearti memang dialah jodohmu. Lagi pula, aku belum kepikiran buat menikah, aku mau selesaikan kuliah dulu dan jadi pengacara," jawabku datar.
"Andai kamu tau Zanu, aku sebenarnya sedih dengan nasibku seperti ini. Aku sebenarnya ingin juga kuliah dan bisa menikahi kamu. Tapi ternyata beda dari yang ku inginkan. Malah harus cepat menikah dengan usiaku masih muda," ucap Vincent kembali sedih.
Ya Tuhan, memang sedih cerita Vincent. Bagaimana tidak, dia yang serba berkecukupan dan menjadi idola di Sekolahku, tapi nasibnya tergantung orang tua.
"Ya sudahlah Vincent, jangan bersedih. Semua pasti ada hikmahnya nanti. Calonmu itu cantik juga lho.. Semoga dia orang yang baik dan terbaik buat kamu Vincent,"
"Iya Zanu, semoga. Ku do'akan semoga kamu juga mendapatkan pendamping yang sayang dan bisa menjaga kamu dengan baik. Dan cita-citamu bisa terwujud. Aku dari jauh pasti bangga juga kalau kamu bisa jadi pengacara yang sukses," ujar Vincent.
"Aamiin.. Vincent, setelah menikah kamu tidak bisa bertemu denganku, menemuiku dan mengobrol. Jaga perasaan istri kamu. Aku juga tidak mau mendekat dengan orang sudah memiliki pasangan," aku menegaskan ini ke Vincent.
"Iya Zanu, aku mengerti. Terima kasih ya saran dan nasehatmu untukku Zanu. Aku permisi dulu ya, tidak bisa lama-lama karena harus mengurus toko. Jaga dirimu baik-baik ya Zanu, nanti kalau undangan sudah ada, aku antar ke sini langsung,"
"Baik Vincent. Kamu juga jaga diri dengan baik. Terima kasih sudah mampir,"
Vincent mengangguk dan melihatku sejenak. Pasti Vincent berat meninggalkan dan melupakanku.
Semoga kamu bahagia ya Vincent, do'a dalam hatiku.
Vincent menaiki motornya dan melambaikan tangan ke padaku. Lalu Vincent pergi membawa kenangan dan luka.
Vincent, kasihan kamu harus mengikuti sesuatu yang tidak kamu inginkan.
Aku masuk ke dalam dan mengunci pintu.
...****************...
__ADS_1