Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 78 : Belum Muncul


__ADS_3

Sreett...!


"Hai Zanu, Bram. Lama nunggu nggak? Maaf ya, tadi antriannya panjang sekali," ujar Kak Resa.


Alhamdulillah, Kak Resa menyelamatkan kegundahanku. Jadi pertanyaan Bram tadi bisa di tunda dulu.


"Nggak apa-apa Kak. Ini juga masih pagi," jawabku sambil berdiri dan mengambil bungkusan dari tangan Kak Prita.


"Eh, tapi seru juga lho.., ngantri sambil ngobrol. Ternyata tempat yang aku kunjungi tadi, tempat jual sarapan terenak di daerah ini. Jadi nggak heran antriannya bejibun gitu," ujar Kak Resa, duduk di dekat Bram.


"Wah.., aku pengen coba jugalah kalau gitu," ujar Bram antusias.


"Eitss! Mana boleh. Kamu harus makan makanan dari rumah sakit ini. Belum boleh makan sembarangan, mau cepat sehat kan?" tanya Kak Resa ke Bram.


"Yah.., aku kurang selera kalau makanan di sini. Bisa bikin mual," Bram protes.


Aku mengambil piring, mangkok dan sendok di dalam lemari. Lalu aku meletakkan makanan tersebut satu persatu ketempat yang semestinya. Aku menghampiri Bram.


"Tetap tidak boleh Kak. Makanan di sini sudah di sesuaikan dengan kondisi pasien masing-masing. Tunggu Kakak sembuh dulu, nanti kita beli sarapannya di sana. Gampang itu ah," ujarku ke Bram.


Bram cuma tersenyum dan tidak berani lagi membantah.


"Tadi ada yang lucu. Pas lagi antri, tiba-tiba ada perempuan norak turun dari mobil barunya. Eh, malah menerobos antrian. Aku nggak terima dong, langsung ku labrak itu perempuan. Dia ngoceh-ngoceh menyombongkan diri dan pamer. Aku dibilangnya kampunganlah, miskinlah. Aku tenang aja," ujar Kak Resa.


"Terus?" tanya Bram singkat.


Belum tau si perempuan itu, mereka ini keluarga apa. Habislah perempuan itu. Gumamku dalam hati.


"Tiba-tiba dia mau menampar aku. Untung bodyguard menahan tangannya. Jangan sekali-kali kamu menyentuh Nona kami, bilang bodyguard. Perempuan itu langsung diam seketika. Apalagi pas dia lihat bodyguard-bodyguard langsung berbaris di dekatku. Langsung lemeslah itu perempuan. ha.ha.ha...,"


Apa kubilang, kesombongan perempuan tadi akan mereka libas sampai tidak berkutik lagi. Paling endingnya bikin nyesek.


"Terus, salah satu bodyguard membisikkan sesuatu ditelingaku. Kalau mobil yang di pake perempuan itu atas nama Bapak Kusgoro, karyawannya salah satu perusahaan Bram. Perempuan itu selingkuhannya Pak Kusgoro. Ya, aku sampaikanlah info tersebut ke perempuan itu didepan banyak orang. Dia menangis, ha.ha.ha..," ujar Kak Resa.


Tuh kan, tamatlah riwayat perempuan itu. Ternyata Kak Resa kejam juga ya. Tapi lebih kejam lagi kalau sampai Kak Resa melaporkan perselingkuhan tersebut ke istri sah Bapak itu. Atau si Bapak di pecat sama Bram, nah lho?

__ADS_1


"Kamu nggak boleh begitu Resa.. Dia jadi dipermalukan di depan umum. Lain kali kamu harus perhatikan situasi dan kondisi," ujar Bram bijaksana.


"Biarinlah, dia yang mulai duluan. Aku juga nggak terima dia merendahkanku begitu saja. Dasar dia sendiri yang kampungan, merasa wow di daerah sini. Coba kalau dia ke kota besar, nggak ada apa-apanya. Orang-orang di sana juga pada bilang, kalau si perempuan itu memang suka seenaknya sama pedagang. Sekali-kali dia di beri pelajaran biar tidak semena-mena sama orang lain," balas Kak Resa yang mulai sedikit kesal dengan peristiwa yang dialaminya tadi.


Perempuan itu emang harus digituin sih. Aku jadi penasaran, perempuan itu siapa ya? Apa asli orang sini? Kalau asli sini, bisa taulah aku sedikit-sedikit. Kenapa tiba-tiba aku jadi penasaran.


"Ya sudah, lupakan saja itu dulu. Sekarang kamu sama Zanu sarapan, nanti kalian lapar. Aku mau istirahat sejenak. Jangan lupa beritau aku kalau Atif sudah berada di sini," tegas Bram.


"Oke,"


Aku dan Kak Resa beranjak dari tempat tidur Bram. Kita menuju ke sofa di ruangan ini dan mulai sarapan. Di sela-sela obrolanku bersama Kak Resa, aku makin was-was dengan belum datangnya Atif dan Prita ke sini.


Apa mereka sarapan dulu ya? Atau terjadi sesuatu lagikah? Duh...


*********


Aku dan Kak Resa sudah selesai sarapan. Terasa perutku kenyang dan ingin duduk sebentar di dekat Bram.


Ternyata Bram sudah tertidur pulas. Kuperhatikan wajah Bram yang tenang dan syahdu. Dia memang lelaki yang tampan, baik dan peduli. Tapi jika aku ingat lagi waktu Bram marah ke Gilang, terasa amat menyeramkan.


Oiya, aku lupa menghuhungi Papa dan Mama. Aku ingat ponsel Bram. Dengan pelan-pelan aku beranjak dari kursi dan mengambil ponsel di dalam tas.


Aku keluar ruangan dan Kak Resa tidak tau sama sekali karena fokus menonton TV.


Setelah di luar ruangan, aku langsung mencari nomor Atif dan menekan tombol. Lagi-lagi hanya terdengar bunyi pesan dari operator.


Haduh! Bagaimana ini? Atif harusnya sudah ada di sini sebelum Bram bangun. Ya Tuhan, ada kejadian apa lagi ini.


Dahlah, sebaiknya aku telepon ke rumah aja dulu.


Aku menekan nomor telepon rumahku. Dan kebetulan yang angkat telepon adalah Mama. Syukurlah..


"Hallo, selamat pagi," ujar Mamaku di seberang telepon.


"Pagi juga Ma. Ma, ini Zanu," jawabku.

__ADS_1


"Hai nak, ada kabar apa nih telepon pagi-pagi? Bram sudah siuman ya? Kamu minta jemput ke sana?" tanya Mama.


"Satu-satu Ma pertanyaannya. Bram sudah siuman Ma, tapi aku belum bilang kapan pulang. Rencana Zanu sore ini saja. Tapi kalau seandainya Bram minta ditemani lagi, bagaimana ya Ma?" tanyaku.


"Yah, lihat kondisi di sana dulu nak. Sekiranya memang perlu kamu menemaninya sehari lagi, tidak apa-apa," jawab Mama bijak.


"Tapi kalau Papa tidak mengizinkan bagaimana Ma?" tanyaku lagi.


"Kamu jangan bilang dulu ke Papa, kalau Bram sudah siuman. Entar Mama yang nutupin,"


"Jadi, aku terpaksa berbohong ke Papa dong Ma,"


"Ya, itu memang tidak baik. Tapi, kalau menurutmu kondisi Bram lebih penting saat ini untuk kesehatannya, Mama akan beri toleransi sedikit. Urusan Papa biar Mama yang atur. Lagi pula Papa kan belum tau kalau Bram sudah siuman," ujar Mama.


"Oke, terima kasih Ma. Maaf kali ini Zanu terpaksa berbohong. Sudah dulu ya Ma, nanti kalau ada keperluan lain, Zanu akan telepon lagi ke rumah,"


"Iya nak, baik-baik di sana dan jaga diri kamu. Salam buat Bram dan Mama do'akan semoga lekas sembuh," ujar Mama.


"Baik, bye Ma,"


"Bye"


Klik...!


Aku menutup telepon dan terdiam sejenak. Pikiranku kembali ke Atif dan Prita. Aku mulai was-was dan khawatir.


Aku keluar dulu ah, mana tau mereka lagi di luar. Atau nanti aku bisa tanyakan ke bodyguard yang sedang berjaga-jaga.


Aku melangkahkan kaki keluar melewati ruang IGD. Di pintu gerbang aku menemukan dua bodyguard yang sedang berjaga-jaga sambil mereka ngobrol.


Mereka menoleh ke belakang dan terkejut melihat kehadiranku. Sepertinya mereka panik dan takut.


Aku jadi semakin was-was, ada apa??


...****************...

__ADS_1


__ADS_2