Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 74 : Masalah Bertambah


__ADS_3

Atif mengambil ponselnya.


"Atif, tunggu kabar selanjutnya dari Prita dan nanti bawa dia ke sini. Sekalian pesan hotel untuk Prita menginap, nggak enak kalau dia ikut nginap di sini," ujarku.


"Baik Non," jawab Atif.


"Oiya, nanti kamu jelaskan semuanya ke Prita termasuk ancaman adik Gilang. Biar saya tidak panjang lebar menjelaskan karena waktu sudah keburu malam. Dan tolong pesankan makanan untuk malam ini, bagikan ke seluruh bodyguard dan kita yang berada di sini. Uangnya saya ambil dulu di ATM," ujarku.


Walau anggota Bram sangatlah banyak, tapi uang tabunganku lebih dari cukup. Melihat kondisi Bram yang belum bisa mengatur pengeluaran untuk bodyguardnya saat ini, nggak etis rasanya itung-itungan uang, apalagi hanya untuk makan.


"Tidak usah Non, semua pengeluaran Bos dan kita sudah ada yang mengaturnya. Bos tidak mau menerima bantuan dari siapapun selagi Bos masih punya uang. Itu pesan Bos ke kita semua. Apalagi Non yang bayar, pasti Bos marah besar dan saya tidak mau menerima resiko itu,"


Hah..?! Keren juga Bram, memanjakan semuanya. Wajar sih, semua bodyguard benar-benar sayang dan hormat ke Bram. Bukan hanya semata-mata mereka mendapatkan gaji saja, tapi Bram benar-benar memperlakukan mereka dengan sangat baik.


"Baiklah Atif. Sekarang kamu boleh keluar, saya mau menemani Ketua," ujarku.


"Permisi Non,"


Aku mengangguk. Atif beranjak keluar ruang ICU.


Aku menutup kembali ponsel Bram. Tidak perlu lagi aku periksa-periksa ponsel ini. Kecuali mungkin nanti jika aku penasaran, ya di buka lagi, he..he..he..


*********


Sreett...!


Pintu ruang ICU berbunyi, aku kaget! Aku terbangun dari tidur. Aku ketiduran di dekat Bram. Ternyata yang masuk Kak Resa.


"Zanu, sudah magrib. Kakak sudah sholat, gantian kita jaga Ketua. Sekarang Zanu sholat," ujar Kak Resa.


Aku mengangguk dan beranjak menuju kamar mandi untuk wudhu. Setelah selesai aku langsung sholat.


"Za... Za.. Zanu...,"


Terdengar suara rintihan samar-samar di telingaku. Aku sedang berdoa di atas sajadah. Aku diam sejenak dan mendengarkan lagi sumber suara tadi.


"Zanu...,"


Aku mendengar lagi suara yang memanggilku.


"Zanu! Ketua sadar! Ayo ke sini cepat!" ujar Kak Resa ketar ketir antara cemas dan senang.


Tanpa ba bi bu, aku bergegas menghampiri Bram, masih dengan memakai mukena.


"Kak! Kak! Ini Zanu...," ujarku dengan cepat.

__ADS_1


Detik demi detik aku menunggu respon Bram. Tapi Bram diam kembali.


"Kak! Bangun! Ini Zanu, ayolah bangun..!" ujarku sedikit teriak sambil menggoyangkan tangan Bram.


"Sudahlah Zanu, mungkin Bram menggigau. Sabar ya.., yang pasti sekarang Bram sudah sadar walau belum membuka matanya," ujar Kak Resa.


Yang dikatakan Kak Resa barusan ada benarnya. Aku amati lagi Bram, tapi masih diam. Terasa hatiku kecewa dan sedih.


Aku menuju sajadah yang kutinggalkan tadi, kulipat bersama mukena. Setelah meletakkan peralatan sholat, aku menarik kursi dan duduk di dekat Kak Resa dan Bram.


Kuperhatikan Bram dan berharap memanggilku lagi.


Sreett...!


Pintu ICU kembali terbuka, seperti ada yang masuk. Dan itu ternyata Atif.


"Non, ini makan malamnya. Buat Non Resa juga," ujar Atif sambil memberikan bungkusan berisi makanan kehadapanku.


"Yang lainnya sudah dibagikan? Bagaimana Prita? Apa jadi ke sini?" tanyaku sambil mengambil bungkusan dari tangan Atif.


"Sudah dibagikan Non. Prita dalam perjalanan ke sini. Sekitar satu jam lagi sampai," jawab Atif.


"Oke. Terima kasih makanannya Atif,"


"Sama-sama Non. Mari Non Resa, permisi dulu,"


Aku dan Kak Resa mulai makan. Disela-sela makan kita mengobrol hal yang ringan-ringan. Kak Resa juga sempat cerita kalau dia lagi dekat seseorang di luar kampus.


Aku tidak terlalu detail bertanya. Hanya sebagai pendengar saja saat ini. Karena aku tidak mau pikiran bertambah banyak nangkring diotakku.


Sreett...!


Pintu ruang ICU kembali terbuka. Dan ternyata yang masuk adalah dokter Danang dan dua orang perawat.


"Permisi mbk, maaf mengganggu makan malamnya. Saya sama suster mau melihat kondisi Pak Bram sekalian mau memberi obat," ujar dokter dengan sopan.


"Oiya, ya, silahkan Dok. Tidak apa-apa, bentar lagi kita selesai makannya," jawabku.


Perawat mulai memberikan suntikan obat dalam infus Bram. Perawat satu lagi mencatat apa saja yang dibicarakan dokter untuk data hari ini.


"Mbk, tadi Pak Bram ada bergerak atau bersuara?" tanya dokter ke kita berdua.


"Ada dokter, tadi sempat menggigau memanggil nama Zanu. Tapi setelah itu diam," jawab Kak Resa.


"Bagus. Bearti perkembangan Pak Bram mulai terlihat sedikit demi sedikit. Nanti jelang tidur, mbk bisa mengajak ngobrol Pak Bram atau sekedar memanggil namanya. Semoga ada respon balik dari Pak Bram," ujar dokter.

__ADS_1


"Alhamdulillah.., iya Dok, nanti saya ajak ngobrol dan bercerita,"


"Baiklah. Saya permisi dulu ya mbk Zanu dan mbk Resa. Besok pagi saya ke sini lagi. Nanti malam, kalau ada apa-apa bisa beritau perawat yang jaga malam di luar pintu ruang ini. Kalau semisalnya ada yang mendesak, perawat bisa langsung menghubungi saya," ujar dokter.


"Baik Dok, terima kasih," ucapku.


"Sama-sama,"


Dokter dan dua perawatnya langsung melangkah keluar dari ruang ICU.


*********


Aku dan Kak Resa mencuci tangan. Tidak berapa lama Atif masuk sambil tergopoh gopoh masuk ke dalam ruangan.


Aku kaget! Ada apa ya? Sepertinya penting sekali.


"Non, Non Zanu, saya izin keluar sebentar," ujar Atif dengan raut wajah kecemasan.


"Ada apa Atif? Kok seperti terburu-buru?" tanyaku.


"Ini Non, mobil yang ditumpangi Prita bannya pecah. Pas diselidiki, banyak paku yang berserakan di jalan, seperti ada yang sengaja menaruhnya. Untung Prita langsung menghubungi saya dan sekarang bersama drivernya di dalam mobil," jawab Atif.


"Lokasinya di mana?" tanyaku lagi.


"Tidak terlalu jauh dari sini Non. Saya mau ke sana sekarang juga," jawab Atif.


"Ya udah Atif, kamu hati-hati. Bawa yang lainnya ke sana,"


"Baik Non, permisi,"


Atif bergegas keluar dan mengurus Prita.


"Aduh.., bagaimana ini ya Kak? Belum selesai masalah Ketua, sekarang ada lagi yang lain," ujarku ke Kak Resa.


"Sabar Zanu, Atif pasti tau apa yang akan dia lakukan. Semua anggota Bram sudah yang terpilih untuk menangani hal seperti ini. Sekarang kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka," jawab Kak Resa.


"Iya Kak, semoga Prita baik-baik saja. Dan Atif segera ke sana tepat waktu. Takutnya ada yang mencelakai Prita. Salahku juga yang menyuruh Prita ke sini," ujarku dengan rasa penyesalan.


"Nggaklah Zanu. Ini memang sudah keputusan yang terbaik. Kalau Prita masih dikostnya, dia akan sulit mendapatkan bantuan. Karena tidak ada yang tau kejadian sebenarnya selama dia masih di dalam kost. Kan bodyguardnya berjaga-jaga hanya di luar kost saja," ujar Kak Resa.


"Semoga perjalanan ke sini, bodyguard Prita juga ngikutin. Biar ada yang jagain Prita,"


"Aamiin... Oiya, sambil menunggu kabar dari Atif, kita nonton TV aja yuk," ajak Kak Resa.


"Ayuklah..,"

__ADS_1


Prita, semoga kamu selamat sampai ke sini.


...****************...


__ADS_2