Cinta Belum Selesai

Cinta Belum Selesai
BAB 135 : Mami and Papi


__ADS_3

Setelah pintu gerbang terbuka, mobil Bram masuk ke dalam melewati pepohonan dan taman yang indah.


Terlihat dari jauh pilar-pilar tinggi rumah Bram dan di hiasi lampu-lampu pijar yang syahdu.


Mobil Bram berhenti tepat di halaman depan dekat teras. Terlihat Pak Tio menyambut kita berdua dan di temani pelayan yang lain.


"Hallo Non Zanu, selamat datang kembali," sambut Pak Tio.


"Hallo juga Pak, apa kabar?"


"Baik Non, silahkan," Pak Tio dan pelayan membuka jalan untuk kita lewati menuju pintu utama.


Aku dan Bram melangkah masuk ke dalam. Ternyata orang tua Bram sudah menunggu kedatangan kita berdua di ruang tengah. Perasaanku mulai tidak karuan saat melihat kedua orang tua Bram yang datang menghampiriku.


"Selamat malam Om, Tante," ujarku sambil menyalami keduanya.


"Malam juga," jawab kedua orang tua Bram dengan singkat tanpa menyambut salamku.


"Mom, ini Zanu. Yang pernah aku ceritakan ke Mommy and Papi waktu di telpon," ujar Bram.


"Yes, I know. Because hanya dia yang berani kamu bawa kemari," ujar Maminya Bram dengan datar. Tidak terlihat wajah ramah di sana.


Aku berusaha tersenyum, walau aku tau kedua orang tua Bram tidak menyukaiku. Aku berusaha menahan perasaan sedih demi Bram.


"Kamu kuliah Fakultas apa?" tanya Mami Bram.


"Fakultas hukum Tante,"


Maminya Bram memperhatikanku dari atas sampai bawah. Ia mengernyitkan dahi saat melihat perhiasan yang kukenakan. Aku merasa tidak enak dan sungkan.


"Come on Mom, ajak Zanu ke dalam. Kita makan malam bersama," ajak Papi Bram sambil menggandeng tangan istrinya.


Papinya Bram terlihat ramah dan tersenyum kepadaku.


"Yok Zanu, kita ke dalam," Bram menggandeng tanganku juga.


Aku mengikuti mereka dan mengambil posisi duduk di dekat Bram. Aku tidak mau berjauhan dengan Bram, apalagi melihat situasinya seperti ini.


*********


"Bagaimana besok sidangmu Bram? Are you ready?" tanya Papinya.


"Yes. Semua sudah aku persiapkan Pa, semoga lancar," jawab Bram.


Sambil menunggu menu makan malam disajikan, Mami Bram memainkan ponselnya. Ia sedang menghubungi seseorang sambil berdiri agak jauh dari meja makan.

__ADS_1


"I hope so," ujar Papinya.


Tidak berapa lama kemudian, para pelayan datang sambil membawa nampan yang berisi makanan. Mereka menatanya di atas meja dengan rapi.


Sekali-kali aku melihat ke arah Maminya Bram yang tengah sibuk menelepon. Dan aku juga beberapa kali memergoki Maminya sedang memperhatikanku.


"She's beautiful," ucap Maminya dengan pelan.


Aku tidak tau, kalimat itu ditujukan untuk siapa.


Para pelayan sudah melaksanakan tugasnya, mereka pergi keluar dari ruang makan. Sekarang hanya tinggal kita berempat.


"Ma, sudahi dulu nelponnya. Kita mulai makan, Papi lapar. Rindu masakan di rumah ini," ujar Papinya.


"Sudah dulu ya. Nanti Mommy telpon kamu lagi,"


Klik!


Mami Bram mematikan hpnya dan ia duduk sambil memperhatikanku dengan Bram silih berganti. Sedangkan Papi, menaruh piring dan langsung mengambil salah satu makanan yang sudah disediakan.


"Mom, it's Audry?" tanya Bram.


"Yes. She misses you,"


"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya,"


"Ayo nak Zanu, silahkan makan. Papi duluan, perut ini sedang bernyanyi minta di isi," guyonan Papi.


Aku tersenyum. Perasaan grogiku sedikit berkurang karena Papi Bram mulai ramah dan mau menegurku.


Kita berempat makan dengan menu kesukaan masing-masing.


"Sudah berapa lama kalian jadian?" tanya Mami secara tiba-tiba.


"Sekitar empat bulan Mom," jawab Bram sambil mengunyah.


"Oya?! Baru seumur jagung. Jadi dia yang kamu inginkan?" tanya Mami lagi.


Deg! Jantungku mulai bergemuruh, aku merasakan suasana yang tidak baik malam ini. Lagi-lagi aku harus menahan perasaan.


"Yes Mom. Dia alasanku untuk bertahan dan menyelesaikan semuanya. But, Iam not sure,"


"Mommy harap dia memahami situasi kamu. Apa kamu sudah memberitahukan semuanya?" tanya Mami Bram serius.


Ada apa ini? Apa yang mereka bicarakan? Apakah di keluarga Bram diskusinya seperti ini? Langsung bicara di depanku?

__ADS_1


"Not yet Mom. Aku akan memberitahukan Zanu besok sebelum kita berangkat. Aku tidak mau melihat ia sedih dan syock," Bram menoleh ke arahku dengan pandangan yang entah apa itu.


"Yah, semoga kalian berdua bisa menyelesaikannya dengan baik," ujar Papi.


Aku diam dan diam. Mengapa mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan. Apa ini yang dimaksud Bram, jika orangtuanya terpaksa tidak menyukaiku. Atau lebih tepatnya menghindari sesuatu?


"Zanu, nanti setelah makan selesai, Mami mau bicara denganmu," ucap Mami kepadaku.


"I..iya Mi," jawabku dengan gugup.


Aduh! Bagaimana ini? Pasti Bram tidak diperbolehkan untuk menemaniku.


Kita berempat sudah selesai makan. Papi dan Bram berjalan ke ruang tengah, sedangkan aku di ajak Mami ke taman belakang.


"Sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu. Dengar saja apa yang disampaikan Mami, aku menunggumu di ruang tengah," bisik Bram sebelum aku pergi.


Aku menggangguk dan tersenyum kecut, seakan berat ditinggalkan Bram untuk menghadapi Maminya seorang diri.


**********


Taman belakang.


Taman yang indah dan dihiasi lampu-lampu pijar tidak mengurangi sedikitpun rasa takutku, grogi dan khawatir. Aku menundukkan kepala, tidak berani melihat langsung ke arah Maminya Bram, seakan aku sedang menghadapi sidang.


"Zanu, apakah kamu benar-benar mencintai anakku?" tanya Mami langsung to the point.


"I..iya Mi," jawabku singkat.


"Apa yang kamu lihat dari anakku?" Mami makin serius dengan pertanyaannya.


"Di..dia baik dan juga menjaga Zanu dengan baik,"


"Hanya itu? Apa bukan karena yang ia miliki?"


Pertanyaan macam apa ini? Mengapa Maminya Bram bertanya seperti itu? Apakah Maminya berpikir aku menyukai anaknya karena harta?


"Dia juga selalu berusaha membuat Zanu bahagia Mom. Walau akhir-akhir ini terlihat posesif, tapi tidak mengurangi rasa diantara kita berdua,"


"Kamu tau, Bram adalah penerus utama untuk semua perusahaan yang di kelola keluarga kita. Dari remaja, ia sudah menjalani waktu yang sangat sibuk. Dari sekian banyak perempuan yang menginginkannya, hanya kepadamu, anakku luluh. Tapi, saat ini ada hal yang sangat penting untuk ia selesaikan demi keluarga ini dan perusahaan. Besok, Bram akan ceritakan semuanya ke kamu. Mommy harap, jika Bram kembali kepadamu, kamu harus menjadi perempuan yang setia. Tapi jika Bram tidak kembali, kamu harus lupakan dia. Kita tidak bisa memastikan itu, semua tergantung Bram dan resikonya sangat besar," ujar Mami panjang lebar.


"Iya Mi, Bram sudah menyampaikan itu. Tapi tentang apa, dia belum beritau,"


"Mommy tidak bisa menjelaskannya ke kamu. Hanya Bram yang berhak menyampaikannya karena ini bersangkutan dengan hubungan kalian. Mommy tau, Bram pasti sangat sedih kehilanganmu,"


"Iya Mi. Zanu akan tunggu penjelasannya besok. Apapun keputusannya, Zanu sudah siap,"

__ADS_1


Tiba-tiba Mami memelukku dengan erat. Terlihat air mata mengalir di pelupuk matanya. Berlahan tanganku ikut memeluk Mami. Aku tidak menyangka, ternyata Mami memperhatikanku sedari tadi. Tidak seperti yang kuduga sebelumnya.


...****************...


__ADS_2